Perjalanan Berduri

Perjalanan Berduri
Calon mertua datang


__ADS_3

Deghhhhh...


Yana bisa mendengar suara percakapan antara mereka, Yana tidak mau lagi kembali pada Faizal, apa akan terjadi pada Yana dan anak-anaknya jika Yana rujuk lagi dengan Faizal.


"Saudara Yana apa anda mau rujuk lagi dengan Faizal?" Pak penghulu mencoba bertanya pada Yana yang berada di hadapannya.


Faizal diam sebentar di tempat, Pak penghulu mencoba mencari jalan keluar untuk Yana dan Faizal. Mak Yana yang turut serta berada di tempat tersebut merasa berang setalah mendengar ucapan dari Pak penghulu.


Sebab karena Yana terlalu lama mendiam kan diri, Pak penghulu pun angkat bicara soal pendapatnya sebagai orang tua.


"Sebagai orang tua saya berpendapat lebih baik rujuk lagi bersama Ayahnya anak-anak, walau bagaimanapun Faizal tetap lah Ayah kandungan mereka." ucap penghulu yang tidka tahu apa-apa dengan cerita hidup Yana.


Dengan sopan Yana menjawab ucapan Pak penghulu.


"Saya akan menerima Faizal kembali, tapi bisa kah dia menyediakan mahar yang akan saya minta." ucap Yana lagi.


Mau menolak ngak sopan lebih baik Yana menolak dengan cara baik-baik, agar hati semua bisa terjaga, Yana juga tidak mau ucapan yang keluar dari mulutnya akan menyakiti hati seseorang.


Pak penghulu lanjut membritahu kan pada Faizal akan keinginan Yana, Faizal menyanggupi permintaan Yana, Faizal meminta Yana memberitahu berapa yang Yana inginkan.


"Baiklah saudara Yana silakan beritahu berapa yang anda inginkan, mantan suami anda akan menerima jika dia sanggup menyanggupi permintaan anda." lanjut penghulunya lagi.


Sontak Yana terkejut, dia berpikir Faizal akan menolak mentah-mentah keinginan Yana.


"Baiklah...saya mahu mahar saya di naikan lima kali lipat dari mahar kami menikah dulu." tegas Yana pada penghulu.

__ADS_1


Penghulu yang tidak tahu berapa angka yang Yana minta langsung memberikan pada Faizal akan keinginannya Yana.


Faizal menolak mentah-mentah permintaan Yana, Faizal tidak sanggup menuruti permintaan Yana, dengan itu Yana langsung bisa menikah dengan Munzir pilihan hatinya.


Ngak henti-hentinya Yana mengucapkan syukur di dalam hatinya, dari tadi Yana sudah tidak enak hati, Yana takut jika Faizal menuruti permintaannya, maka Yana harus menikah dengan Faizal lagi.


Perbincangan hangat mereka usai dengan keputusan Yana akan menikah dengan Munzir, waktu dan tanggalnya belum bisa dipastikan lagi.


Beberapa hari setelah kejadian itu Munzir dan Yana makin lengket, apa lagi pesta pernikahan akan di adakan tidak lama lagi, biarpun Mak Yana tidak setuju tapi dia tetap harus menerima keputusan anak dan suaminya.


Malam harinya Munzir dan orang tuanya datang lagi ke rumah Yana, kali ini untuk menetapkan tanggal mereka akan menikah.


"Dek...kamu ada di rumah?" tanya Munzir lewat panggilan suara.


"Ada...memangnya kenapa Abang?" sahut Yana lagi.


Munzir tidak sabar lagi menikah dengan Yana, banyak orang-orang yang menghina Munzir karena menikah seorang janda beranak dua, tapi Munzir tidak peduli semua itu, baginya Yana adalah segala-galanya.


"Iya Abang...Yana akan tunggu ya." sahut Yana yang masih malu-malu dengan Munzir.


Saat malam datang, orang yang di tunggu pun tiba, Munzir datang bersama dengan Mamaknya, dengan membawa buah tangan berupa kueh dan buah untuk anak-anak Yana.


Yana sedikit gelisah, langit yang begitu cerah di siang hari berubah gelap gelita saat malam tiba, Yana sesekali melihat ke arah langit yang gelap tanpa sinaran cahaya bintang.


"Jadi ngak ya Abang Munzir datang, kelihatannya sebentar lagi akan turun hujan ini." ucap Yana sendirian di dalam kamarnya.

__ADS_1


Begitu Yana selasai berbicara sendirian hujan pun turun dengan derasnya, Yana makin susah hati, dia takut jika Munzir dan Mamaknya di perjalanan, mereka pasti akan kebasahan.


Tidka berapa lama kemudian bunyi motor yang tidak asing lagi di pendengaran telinga Yana pun terdengar.


"Assalamualaikum?" ucap Mamaknya Munzir pas motornya sampai di teras rumah.


Munzir dengan sengaja memparkir motornya di atas teras, sebabnya mereka datang di saat hujan turun dengan derasnya, Mamaknya Munzir dan Munzir habis kebasahan air hujan.


"Waalaikum salam...basah semua ya?" tanya Abah Yana begitu melihat calon besan dan menantunya kebasahan.


"Iya...padahal dari rumah tadi masih belum mendung, setengah perjalanan sudah turun hujan, mau tidak mau kami tetap teruskan perjalanan." ucap Mamaknya Munzir sambil terus mengering kan kain sarungnya.


Munzir yang tidak lepas dari di timpa hujan turut membuka bajunya, lalu Munzir keringkan bajunya dengan memerahnya dengan tangan.


Setelah agak kering Munzir memakai lagi bajunya, Munzir dan Mamaknya di persilahkan masuk oleh Abahnya Yana.


"Silakan duduk dulu." ucap Abah Yana pada kedua tamunya.


Mak Yana datang dengan membawa teh hangat dan juga cemilan pisang goreng yang sengaja di bikin untuk menyambut tamunya datang.


"Pas banget ni, hujan-hujan makan panas-panas." ucap Mamaknya Munzir sambil terkekeh geli.


Srulpp...Srulpp


Munzir menghirup teh panas, rasa dingin yang di rasakan tadi sedikit hangat setelah minum teh tersebut.

__ADS_1


Yana masih belum keluar dari kamarnya, rasa malu dan segan jika bertemu langsung dengan calon mertuanya, Yana mendiamkan diri di dalam kamar.


"Munzir apa kamu sudah benar-benar serius ingin menikahi Yana?" tanya Abah ke sekian kalinya.


__ADS_2