
"Kamu ni Munzir, ngak ada aba-aba langsung minta tolong, ada apa sih?
"Kami di usir oleh orang tuanya Yana dari rumah, aku tidak memegang uang sepersen pun untuk mencari kontrakan." lanjut Munzir lagi.
"Lalu apa yang bisa aku tolong Munzir, kalau uang aku bukan ngak mau kasih, kamu tau sendiri kan keadaan aku gimana." Mawardi jadi serba salah dengan ucapannya sendiri.
"Aku tahu keadaan mu teman, bahkan akui kita sudah berteman sejak kecil lagi, aku tahu jika kamu mampu kamu pasti akan menolong ku." Munzir akui selama ini hanya Mawardi tempatnya berkeluh kesah.
Apa lagi sekarang dalam keadaan yang begitu berat, Munzir pernah di hina orang sebab menikahi seorang janda beranak dua, tapi Munzir tidak peduli omongan orang, yang lebih penting dirinya sendiri bahagia dengan pilihannya, hanya Mawardi yang tidak pernah menghina Munzir, malah Mawardi yang selalu ada di belakang Munzir dan Yana.
"Jadi ngomong aja apa yang perlu aku tolong kamu, jika aku bisa aku pasti akan menolong mu." sambung Mawardi lagi pada Munzir.
"Aku mau meminta mu menolong ku agar bisa meminjam mobil seseorang untuk mengangkut barang-barang ku ke rumah mak aku Mawardi...
....Aku tidak tahu harus kemana lagi, apa lagi malam-malam begini, anak ku masih kecil tidak mungkin kan aku harus menumpang tidur di jalanan." suara Munzir seolah-olah sedang menangis.
Dengan cepat Mawardi langsung mengiyakan permintaan Munzir, dia tahu sahabatnya tersebut tidak ada tempat untuk di tuju selain ke rumah orang tuanya, kebetulan Munzir dan Mawardi berasal dari kampung yang sama.
"Baiklah...kamu kemaskan barang-barang kamu cepat, sebentar lagi aku sudah sampai." Mawardi memutuskan panggilan telpon dari Munzir.
__ADS_1
Munzir yang berada di rumah Yana dengan singgap membuka ranjang mereka, pakaian sudah Yana masukan dalam koper sejak sore tadi, sekarang tinggal membuka ranjang dan kasur, lemari ngak bisa di buka.
"Sudah siap Dek? bentar lagi Mawardi sudah sampai." pekik Munzir dari arah dalam kamar.
Yana yang sedang membicarakan sesuatu dengan anak-anaknya bisa mendengar dengan jelas suara Munzir.
"Sudah Abang, kalau Abang sudah siap tinggal gerak aja lagi." sahut Yana lagi.
Anak-anak Yana dengan Faizal memang tidak menangis, tapi Yana tahu anak-anaknya pasti menangis di dalam hati, Yana tidak bisa membawa mereka apa lagi Yana harus menumpang di rumah mertuanya lebih dulu, anak-anak Yana harus sekolah, tidak mungkin Yana bisa membawa mereka dengan mudah, Yana harus mencarikan solusinya lebih dulu.
"Azham...Hafiz...Umi janji akan kembali lagi membawa kalian, tapi bukan sekarang ya nak, nenek dengan Atok tidak mengizinkan Umi membawa kalian sekarang." ucap Yana sambil menagis.
tit...tit...tit...
Klakson mobil berdering hebat di arah luar, Mawardi sudah sampai di halaman rumah Yana, Yana masih berharap orang tuanya bisa menarik lagi ucapannya pada Yana, tapi itu sesuatu yang tidak mungkin, orang tua Yana begitu menyayangi adik Yana, jika Yana masih tinggal di rumah maka akan terjadi sesuatu antara Yana dan Raizal adiknya.
"Gimana...kalian sudah siap?" tanya Mawardi pada Munzir yang sudah keluar dari rumah.
"Sudah ni...tinggal angkat aja barang-barangnya." sahut Munzir yang berlalu masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Mawardi ikut mengekori Munzir masuk ke dalam rumahnya, mereka mengangkat satu persatu barang dan di masukan ke dalam mobil pikap yang di supir sendiri oleh Mawardi, semua barang sudah di masukkan, orang tua Yana tidak berada di rumah, mereka sejak tadi sudah keluar membawa cucu mereka.
"Sudah...yok Dek?" Munzir mengajak Yana menaiki mobil pikap yang sudah siap untuk pergi.
"Aku naik motor aja ya Abang? biar Mawardi pulang sendiri, ngak enak naik mobil berdua dengan Mawardi." ujar Yana pada Munzir.
Munzir menyutujui permintaan Yana, Mawardi pun bergerak perlahan-lahan meninggalkan halaman rumah Yana, Gisya yang sudah terlelap segara di bawa ke dalam gendongan Yana, seolah-olah Gisya bisa merasakan kesedihan orang tuanya, Gisya hanya menuruti Uminya tanpa bergerak dan menangis.
Motor buntut Munzir berlalu pergi meninggalkan halaman rumahnya yang selama ini tinggal bersama anak-anaknya, banyak kenangan indah selama Yana tinggal di sini, motor Yana terus berlalu ke depan, tapi pandangan mata Yana masih di tuju ke arah rumahnya tanpa berkedip.
Sepanjang jalan Yana tidak henti-hentinya menangis mengingat nasib anak-anaknya yang kini tinggal bersama orang tuanya, selama ini Yana tidak pernah tinggal berpisah dengan anak-anaknya, ini tentu sulit sekali untuk Yana.
Di rumah orang tua Munzir sudah terparkir mobil pikap yang di kendarai oleh Mawardi, tapi dia belum bisa mengangkat barang-barang yang berada dalan mobil, Mawardi masih menunggu Munzir yang masih di jalan.
"Mereka belum sampai ya?" tiba-tiba orang tuanya Munzir nonggol di balik pintu rumahnya.
"Belum Mak, sebentar lagi mungkin, biasa lah naik motor lambat dikit sampainya." canda Mawardi sambil tersenyum sumbing menanggapi pertanyaan orang tua Munzir.
Orang tua Munzir bersama kakak-kakaknya sudah menunggu di depan rumah, meraka tidak sabar menunggu kedatangan Yana dan anaknya.
__ADS_1
"Itu...mereka sudah sampai Mak...