Perjalanan Berduri

Perjalanan Berduri
Masih di kampung Faizal


__ADS_3

Sampai di rumah perangkat desa Abah Yana memberhentikan motor nya tepat di halaman rumahnya yabg yang segar dengan pohon-pohon yang berjejer di kanan dan kiri jalan setapak menuju ke arah pintu rumah, Yana yang duduk berboncengan di belakang segera turun dari motor, Yana berlahan-lahan berjalan beriringan dengan Abah menuju ke depan rumah perangkat desa kampung tersebut, Yana menyimpan dulu rasa takut dan rasa groginya, dia tidak mau terlihat lemah di mata musuhnya, apa lagi perangkat desa tersebut selalu memandang Yana yang bersalah atas kejadian ini, dia mengira Yana yang merekayasa kejadian yang terjadi sebenarnya.


tok...tok.... tok...


" Assalamualaikum...?" salam Abah dari luar pintu rumah, rumah yang terlihat megah dari luar begitu sepi penghuni, itu terlihat dari balik kaca jendela yang di intip Yana dari luar, dalam rumah terlihat kosong tidak ada penghuni sama sekali, Abah merapat kan lagi tubuh nya ke arah pintu, mengetuk lagi pintu depan untuk kedua kali, rumah nya yang besar tidak melambangkan sebuah kebahagiaan, itulah yang seringkali Abah tanamkan dalam diri Yana.


"Waalaikum salam...sebentar ya?" ucap seseorang dari arah dalam rumah, Yana masih menunggu dengan berdiri di depan pintu, Abah yang capek berdiri, mencari tempat yang bisa di duduki nya untuk menghilangkan rasa jenuh setelah lama menunggu.


Keadaan suasana di sekitar rumah begitu nyaman, taman yang di penuhi banyak tanaman hias yang penyejuk kan mata, Yana sampai terkesima dengan suasana di rumah perangkat desa tersebut, kehadiran Yana ke sini tidak di kabari lebih dulu sama orang berkenaan, itu yang membuat Yana harus menunggu waktu nya yang agak lengang.


" Waalaikum salam... sebentar ya?" suara seorang perempuan dari dalam rumah, Yana berpikir itu pasti suara istri perangkat desa tersebut. Yana bisa mendengar dengan jelas suara tapak kaki yang berjalan ke arah nya, semakin lama semakin dekat dengan nya.


klekkkk..


Pintu rumah di buka dengan lebar, terlihat seorang wanita berdiri di depan pintu, seorang wanita yang berusia tidak berapa jauh dari Yana, istri perangkat desa tersebut mengunankan kain sarung, benar-benar alam sebuah kampung, itu di terapkan dengan cara istri perangkat desa berpakaian. Rumah yang sangat luas dan tersedia banyak ruang, pertama mereka masuk terlihat kursi tamu yang diperbuat dari kayu yang bisa di kira-kira harganya yang mahal,

__ADS_1


mereka di persilahkan masuk dan di duduk di kursi yang ada di ruang tamunya.


"Oh ini Yana ya?" ucap istri perangkat desa tersebut dengan santai. Yana sendiri belum kenal dengan wanita yang kini sudah berada di depan nya, wanita tersebut yang bernama Nani begitu asing di mata Yana, belum pernah dia melihat wanita ini sebelumnya bagaiman bisa wanita ini bisa mengenal Yana.


" iya saya Yana, kita pernah bertemu sebelum ini ya?" ujar Yana pada Nani yang merasa aneh, Yana merasa seperti tidak mengenal sosok yang sekarang berada bersama nya


" Kita ngak pernah kenal ataupun bertemu sebelum ini, tapi aku pernah melihat foto mu di alat pintar bang Faizal ketika dia kesini bertemu dengan Bapak, maka nya aku bisa mengingat wajah mu." ujar Nani lagi, tanpa menunggu lama akhir nya Pak perangkat desa menyusul dari arah belakang .


Abah Yana dari tadi terus berbicara serius dengan perangkat desa, apa lagi suasana dalam keadaan baik, tidak seperti umumnya tegang, di sini tidak terlihat sedikit pun sikap yang telah bersengketa lebih dulu di talian telpon dengan Yana, mereka terus mencari topik untuk berbincang, sore ini perbincangan hangat ini harus cepat selesai, Kalau tidak mereka bakalan kemalaman pulang.


" Kalau begitu baiklah, kami pulang dulu, terima kasih banyak atas waktu luangnya yang sudah menerima kami bertamu di sini dan kami ucapkan terima kasih sudah menerima kami di sini." ucap Abah sambil bangkit dari duduk nya, aku pun mengikuti gerak Abahnya, mereka pun berjalan beriringan menuju ke arah pintu depan, sudah cukup lama mereka sudah berada di sini.


" Kapan-kapan ada waktu bisa ke sini lagi." suara perangkat desa seakan meninju hati mereka.


"Siapa juga yang mau kesini jika tidak mempunyai urusan penting." batin Abah sendiri di dalam hati.

__ADS_1


Abah tahu sikap perangkat desa tersebut yang bernama Bukhari tidak suka pada Abah dan Yana, Pak Bukhari meyuruh Abah dan Yana menerima keputusan yang di ambil oleh bang Faizal, nanti jika dia pulang ke sini dia pasti baik lagi.


" Yok pulang Yana, bentar lagi sudah sore ni, kamu ngak mau kan sampai kita kemalaman di jalan." ucap Abah terus memusingkan mata kanan nya mencari keberadaan kunci motor yang lupa tadi di taruh di mana.


Yana terus mengekor Abah nya dari belakang nya, Yana bangun dari duduk nya sampai lah abah berdiri, tapi takut juga jika sesuatu akan terjadi pada mereka, sebelum pulang mereka pamit izin pulang dulu pada keluarga mereka.


Motor Abah yang masih berdiri depan halaman rumah mereka dari tadi, mereka menuju ke arah motor yang akan membawa mereka lagi pulang ke rumah. Abah mengunakan helem nya kembali dan mereka melanjutkan lagi perjalanan mereka yang jauh. sepanjang jalan pulang mata Yana terus menatap ke arah kampung bang Faizal, Yana tidak menyangka keluarga mereka akan seperti ini


" Abah ngak mau beli apa-apa untuk di rumah, nanti pas sampai jadi teringat ngak beli apa-apa lagi." tanya Yana yang masih duduk berboncengan dengan Ayah nya di belakang.


Motor yang membawa Yana dan Abah nya terus berjalan meninggalkan kampung halaman Faizal jauh di belakang, di tengah jalan Yana bertanya sesuatu pada Abah nya, Abah tahu sampai aja di rumah pasti cucu nya mencari sesuatu yang Abah dan Yana bawa, itulah anak-anak.


" Kamu mau beli apa untuk mereka?" tanya Abah lagi di tengah perjalanan mereka menuju ke rumah.


" beli ayam goreng aja Abah, itu pun suah cukup bahagia untuk mereka." ucap Yana santai, walau hati ya susah bergejolak dari tadi, Yana tahu masalah ini takkan sampai di sini saja, pasti banyak lagi akan datang setelah ini.

__ADS_1


__ADS_2