
Motor Abah semakin lama semakin tidak terlihat lagi, Abah sudah jauh berjalan meninggalkan halaman rumah Yana, Yana menatap kepergian Abahnya, ingin sekali Yana mengikuti Abahnya pulang, tapi Yana masih punya tanggung jawab pada pekerjaannya.
Hari ini anak-anak Yana seperti biasa akan tinggal di rumah Tantenya, setelah menghantar di bungsu ke sekolah Yana melanjutkan perjalanannya menuju ke tempat kerja.
"Mpok Neng ada kabar bagus hari ini, Mpok Neng mau dengar ngak?" Eni sengaja menunggu Yana di depan warung.
Entah angin apa yang bertiup ke tubuh Eni, tiba-tiba Eni hari ni bersikap baik dengan Yana, Yana hanya pikir Eni sudah berubah.
"Kabar apa Eni?" sahut Yana singkat sambil menolak standar motornya dengan kaki kanannya.
Yana sebenarnya malas sekali ngobrol dengan Eni, disebabkan dia bos Yana terpaksa seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
"Mulai besok akan ada karyawan baru yang masuk kerja di sini, Mpok Neng bisa santai besok, sudah ada teman yang akan membantu perkejaan Mpok Neng, tapi gaji Mpok Neng harus di potong ya?" ucap Eni sambil tersenyum sumbing.
"Loh, kok di potong gaji ku Eni...emangnya siapa yang nyuruh orang bantu aku?" Yana sudah merasa ada sesuatu tidak kena pada Eni.
"Iya lah Mpok Neng! kalau ada karyawan baru yang enak kan Mpok Neng, jadi gaji Mpok Neng lah yang di potong." sahut Eni lagi sambil berlalu masuk ke dalam rumah.
Tanpa peduli jawaban dari Yana, Eni langsung pergi begitu saja masuk ke dalam warung, Yana sibuk menyapu lantai warung dan juga perkarangan warung. Sedangkan Mas Bambang masih di belakang membersihkan
ayam dan juga ikan untuk di jual.
Sambil menyapu Yana terus bicara sendiri, mulutnya tidak henti-hentinya bergerak, Yana masih tidak percaya tentang masalah pemotongan gaji, padahal Yana sendiri tidak pernah meminta begitu.
__ADS_1
"Kalau sudah siap di depan, Mpok Neng bisa pergi ke belakang ya...di belakang masih banyak lagi pekejaan." ucap mas Bambang pada Yana yang masih memotong tempe di belakang.
Yana mengangguk setuju dengan ucapan bosnya tadi, kadang kala Yana juga berasa bosan setiap hari harus melakukan perkejaan yang sama, Yana juga ingin seperti Ibu rumah tangga yang lain, duduk di rumah tinggal tunggu suaminya pulang, tapi takdir hidup Yana tidak seperti orang lain.
malam hari...
Yana terus mencuci piring-piring kotor dan juga peralatan memasak, suara guntur berdetuman di langit, kadang kala ada petir yang menyambar membelah langit-langit yang sudah berganti gelap, pertanda sebentar lagi hujan akan turun.
Yana terus mencuci piring dengan gerak cepat, dia ingin siap sebelum hujan turun, dia ingin segera pulang malam ini, malam ini tidak ada yang akan menjaga anak-anaknya di rumah, mengingat kan Mak Yana tidak lagi berada di sisinya seperti malam-malam kemarin.
"Mas Bambang nanti aja aku nyuci ya? hujan deras ni." ujar Yana memperlihatkan hujan sudah turun dengan derasnya.
"Eh jangan manja deh! bisa kok di cuci piringnya, hujan dikit aja sudah repot, pasti ngak akan basah jika tidak di cuci sekarang." ucapan Eni masih juga sama-sama tidak suka pada Yana.
Tangan Yana terus bergerak menyuci piring, sedangkan keadaan yang masih dalam keadaan hujan membuat tubuh Yana semua kebasahan, air hujan yang jatuh beriringan dengan air mata Yana yang jatuh membasahi pipinya, Eni dan mas Bambang masih enak-enak berbual-bual kosong di bangku depan warung.
"Mas... sudah siap ya?" ucap Yana sambil berdiri dengan seluruh badannya sudah basah di guyur hujan.
"Sudah ku bilang tadi jangan nyuci dulu, Mpok Neng sih ngak dengar, kalau gini kan aku yang susah, kalau Mpok Neng sakit gimana?" kesel Mas Bambang pada Eni.
Tadi Mas Bambang tidak mengizinkan Mpok Neng cuci piring, kamar mandi yang ngak beratap pasti akan buat Yana basah di guyur hujan, besoknya pasti Yana demam, kalau Yana demam sudah pasti dia libur kerja, Mas Bambang juga yang capek kerja sendiri, tapi Eni tetap meyuruh Yana mencuci piring.
"Alah...basah dikit aja, lagipun jika Mpok Neng ngak cuci piring malam ini siapa yang nyuci? aku ngak mau." ujar Eni lagi pada suaminya.
__ADS_1
Yana masih berdiri menunggu gaji dari Mas Bambang, Eni dan suaminya terus tidak mau mengalah, masing-masing mempertahankan egonya sendiri.
"Mas! aku pulang dulu ya?" Yana sekali lagi mengulangi ucapannya.
"Ya sudah! besok jangan lupa masuk kerja lagi ya Mpok Neng." Mas Bambang tetap berharap agar Yana tidak kenapa-kenapa.
Tangan Yana terus mengambil bungkusan nasi yang sudah Mas Bambang siapkan untuk Yana, dengan tubuhnya yang menggigil Yana memaksakan langkahnya menuju ke parkiran motor. Sebelum berlalu Yana sempat menoleh pada Eni dan Mas Bambang sambil memberikan senyum, hati Yana sakit di perlakukan seperti ini oleh Eni, dia menganggap Yana tidak lebih dari seorang babu.
"Kok basah semua Yana, perasaan ngak hujan deh." ujar Tante Yana pas melihat ke arah luar yang tidak menunjukkan turun hujan.
"Tadi kan hujan Tante, ni baru aja berhenti." sahut Yana yang tidak mau Tantenya tahu kejadian yang sebenarnya terjadi pada Yana.
Tante mendekati Yana sambil menyentuh tubuh Yana, dari atas sampai ke bawah semua basah, tidak ada yang tidak basah, seolah-olah Yana seperti sengaja mandi hujan.
"Tapi kok basahnya parah banget ya? seperti kamu sengaja mandi hujan." ujar Tante Yana lagi yang ngak percaya dengan ucapan keponakannya.
"Sudah Tante, jangan di bahas lagi, aku mau pulang dulu, mau mandi ni, takut demam lagi." ujar Yana sambil masuk ke dalam rumah Tante nya.
Azham dan Hafiz yang sudah terlelap di kejutkan oleh Yana, dengan mata yang masih mengantuk mereka berjalan mengekor Uminya, Yana mengendong Hafiz sedangkan Azham Yana memegang tangannya.
Sejak subuh Yana sudah menyiapkan semua keperluan dan kebutuhan anaknya ke sekolah, hari ini Yana harus melakukannya sendiri, sudah lama Mak Yana di sini, Yana hanya bangun mandi dan terus ke tempat kerja, urusan rumah dan anak semua di bantu Maknya, hari ini tugas itu kembali Yana kerjakan.
Begitu sampai ke tempat kerja Yana melihat ada orang lain yang mengerjakan tugasnya selama ini.
__ADS_1
"Siapa ya?" tanya bertanya sendiri, matanya terus menatap ke arah sosok seseorang yang asing bagi Yana, sosok tersebut terus menyapu warung dan mengerjakan semua pekerjaan Yana.
"Eh Mpok Neng! kenapa ngak masuk?