Perjalanan Berduri

Perjalanan Berduri
Faizal kirim uang


__ADS_3

Malam yang di tunggu pun datang, Yana berkeinginan pulang cepat malam ini, seperti janji nya pada anak-anak nya tadi pagi, Azham kasih tahu Yana malam ini Ayah nya kan mengirim uang untuk mereka, Ayah nya sudah mempunyai kerja yang layak dan berpenghasilan lumayan setiap bulan.


Di rumah anak mereka sudah menunggu kepulangan yang Yana, sejak sore tadi anak Yana mondar mandir rumah Tante mereka, Tante Yana sampai naik pusing melihat tingkah kedua cucu nya.


" Azham! jangan mondar mandir terus, Nenek pusing lihat tingkah kalian seperti gosokan ngak panas. anak-anak nya langsung duduk setelah mendengar ucapan Nenek mereka.


" Lama kali Umi pulang Nek! Umi sudah janji malam ini kita mau makan sama-sama di sini, tapi sampai sekarang Umi belum pulang lagi, kan kami lama tunggu nya." sahut Azham menanggapi ucapan Nenek mereka.


" Umi kalian pasti pulang jika kerjaan nya sudah beres, percaya lah Umi kalian pasti ingat akan janji nya, dia takkan melanggar janji nya dengan kalian, ayok duduk di sini sama Nenek, kita tunggu aja di sini." ucap Tante Yana sambil menarik tangan kedua cucu nya untuk duduk di samping nya di lantai.


Tante Yana juga gelisah melihat Yana belum pulang walaupun sudah berganjak waktu magrib, mau bilang kelamaan jalan kaki, Yana sudah membeli motor bekas untuk memudah kan perkerjaan nya sehari-hari, Tante Yana akan berpikir yang baik-baik tentang Yana sambil mata nya terus menatap ke layar tifi.


Faizal sudah mengirim kan uang untuk anak-anaknya melalui rekening abang nya Faizal, uang nya sudah ada di tangan Azham, sebelum Pakde Azham pulang dari menghantarkan uang untuk nya, Pakde nya sudah meminta nombor alat gawai Azham, nanti malam Ayah nya akan menelpon ke nombor tersebut.


" Ayah kamu sudah menelpon Azham?" Tante membuka obrolan antara mereka di sela acara nonton tifi, Yana yang belum tau tentang kiriman uang belum juga pulang seperti janji nya.


" Belum Nek, mungkin sebentar lagi akan menelpon, Pakde bilang tadi Ayah pulang kerja setelah sholat insya, mungkin telpon nya agak lewat dikit." jelas Azham pada Nenek nya lagi, sebenarnya bukan Nenek sih, tapi Nenek ini adik kandung Atok nya, jadi tetap di panggil Nenek juga.


brummmmm...

__ADS_1


" Bunyi motor Umi tu, ayok keluar?" ajak Hafiz mendengar bunyi motor Umi nya sudah berhenti di halaman rumah Nenek, Hafiz berserta Azham melaju berjalan ke luar rumah.


Yana segara parkir motor nya pas di depan rumah nya, langkah Yana di gerakan menuju ke rumah Tante yang anak-anak nya sudah menunggu di depan rumah. Melihat senyuman anak-anak capek dan lelah semua hilang seketika dari raut wajah Yana.


" Kok duduk di luar sih kalian?" tanya Yana sambil terus berjalan ke arah mereka berdiri, kursi plastik yang ada di depan teras rumah Tante nya menjadi tempat pertama Yana menghilang kaki yang keletihan akibat mondar mandir di dalam warung seharian.


" Umi pulang nya lambat banget sih? capek Azham tunggu." terlihat wajah Azham yang kurang ramah dengan Umi nya, wajah Azham dan Adik nya sebelas dua belas ngambek nya.


" Kan Umi harus siapkan kerja Umi dulu, kan sekarang Umi sudah pulang ni." Yana memujuk anak nya yang masih marah pada diri nya, Yana bukan sengaja pulang lambat, tapi memang sudah jadi satu kebiasaan juka mas Bambang akan keluar setiap sore, jika anak nya cepat minta pulang, dia akan pulang, jika seandainya anak nya belum puas bermain, harus jadi seperti ini pulang lambat.


" Sudah lah Umi! ayok ke dalam dulu, suruh om Rifki aja ke warung beli makanan atau apa yang Umi mau makan." ucap Azham tersenyum senang, bungkusan yang Yana bawa pulang di letakkan di atas meja, makanan Yana tidak ada yang merebut nya hari ini, biasa nya anak-anak nya akan berebutan meminta kantong kresek yang ada isi di tangan Yana.


Yana bergegas masuk ke dalam sesuai keinginan anak nya, uang yang ada di tangan Azham si keluarkan dari tas Azham, uang yang bernilai lima lembar daun kertas merah di serah kan pada Yana, Yana pun mengambilnya dari tangan Azham.


Anak-anak Yana berpandang-pandangan sesama sendiri, mereka harus memilih makanan yang mereka mau, sebelum ini anak-anak Yana dan juga Yana hidup dalam serba kekurangan, sekarang hidup Yana sudah bisa di bilang layak, ada penghasilan sehari-hari untuk mencukupi kebutuhan anak-anak nya, ada kendaraan untuk Yana menghantar atau untuk Yana pergi berkerja, Yana bersyukur karena bisa hidup seperti sekarang ini.


Di saat mereka lagi berbincang mau membeli apa, tiba-tiba hape Azham yang ada di tangan nya berbunyi. Azham memang menunggu panggilan dari Ayah nya.


drrrrrtttt.... drrrrrtttt...

__ADS_1


" Azham, tu hape nya berbunyi." tegur Yana pada anak nya Azham yang lagi serius membicarakan makanan yang akan di beli sama om nya Rifki.


Di layar hape di terpampang jelas nombor yang tidak di simpan, Azham tahu ini pasti nombor Ayah nya, sesuai yang Pakde nya bilang tadi sore Ayah Azham akan menelpon nya sesudah sholat insya.


" halo! Ayah ya?" sapa Azham melalui panggilan telpon dengan Ayah nya, hanya itu yang Lisa dengar dari mulut Azham, lebih nya lagi Azham ngak dengar lagi kerena Azham ngak terlalu mengerti buka spiker.


Entah berapa lama Azham berbicara dengan Ayah nya, sampai lah Azham memberikan hape nya pada Yana, semula Yana ngak mau menerima hape dari anak nya, tapi Azham tetap memaksa Umi nya mengambil hape tersebut.


" Umi ngak mau nak, ngak ada yang Umi bicara kan dengan Ayah mu." jujur Yana pada anak nya, tapi anak nya tetap memaksa yana mengambil hape tersebut yang masih tersambung dengan Faizal.


" Ambil aja Umi, Ayah sendiri kok yang minta ngomog sama Umi, bukan yang memberikan pada Umi suka-suka." balas anak nya lagi, Yana pun terpaksa mengambil hape yang ada di tangan anak nya.


Kemudian hape di tempel ke telinga Yana, hati Yana berdebar-debar menunggu kelanjutan suara dari arah telpon yang masih tersambung.


" Assalamualaikum...?" Yana memberi salam sebelum mula kan pembicaraan mereka.


" Waalaikum salam..." jawab Faizal di sebrang telpon.


Hening seketika, mereka sama-sama tidak tahu mula dari mana harus mulakan perbualan meraka.

__ADS_1


" Uang nya sudah Pakde anak-anak kasih tadi, baru mau beli makanan ni." sahut Yana polos, Yana sekedar basa basi dengan suami yang sudah lama tidak bertemu, Yana sudah tiga tahun tidak bertemu lagi dengan Faizal, Faizal pun tidak pernah mengirim kabar atau berita pada Yana.


" Jangan kau sentuh uang anak-anak ku...


__ADS_2