
Pandangan mata Yana kosong tanpa ekspresi, sebelumya ini lah yang selalu di nanti-nantikan bisa makan berdua bersama suami di luar, tapi ketika Yana mendapatkannya malah ngk ada semangat, walau bagaimanapun Yana tetap lah seorang Ibu, pikirannya pasti fokus ke anak-anaknya.
Pesanan datang, Yana malah bengong memandang ke arah jalan yang penuh dengan kendaraan yang lewat melintas di depannya.
"Makan dulu Dek, jangan melamun terus" tegur Munzir pada istrinya.
Munzir tahu ini tentu berat untuk Yana, tapi Munzir tidak ada cara lain selain membawa Yana pulang ke rumah orang tuanya, mau ngontrak rumah yang berdekatan dengan orang tua Yana Munzir tidak mempunyai uang yang cukup.
"Iya Abang" sahut Yana singkat sambil terus mengambil nasi dalam piringnya.
Nasi di piring Yana belum juga habis di jamahnya, sedangkan Munzir akibat kelaparan nasinya habis tidak tersisa, masa terus berjalan menuju ke tengah malam, Munzir mengajak Yana untuk pulang saja ke rumah, jalan-jalan pun tidak ada artinya jika Yana muram terus.
"Yok pulang Dek?
"Ayok" sahut Yana tanpa bantahan.
Begitu sampai di rumah keadaan rumah sudah sepi, orang tua Munzir memang selalu tidur lebih cepat, maklum mereka orang kampung, pekerjaan mereka sehari-hari ke sawah membuat mereka selalu dalan keadaan kelelahan, berbeda dengan suasana rumah Yana, sampai tengah malam pun seperti tengah hari.
"Mamak kemana Abang...kok rumahnya sepi?" tanya Yana yang baru sehari tinggal di rumah mertuanya.
"Mereka selalu tidur cepat Dek, makanya rumah sepi." jawab Munzir yang terus masuk ke dalam rumah sambil memegang tangan Yana agar ikut dengannya.
Begitu sampai ke kamar Yana sampai kaget melihat anaknya Gisya sudah terlelap pulas di kasur mereka, berbeda jika tinggal di rumah Mak Yana selama ini, Gisya akan tidur jika jam sudah menunjukkan pukul tiga malam.
Tanpa basa basi Yana dan Munzir langsung saja menuju ke kamarnya, dia tidak mau suaranya bisa membangun keluarganya yang sudah di alam mimpi.
"Dek...Abang bisa minta jatah ngak malam ini?" Munzir tiba-tiba mengeluarkan suaranya yang pelan agar tidak terdengar orang tuanya fi balik di dinding kamarnya.
__ADS_1
"Ngak mau ah Bang, malu kalau besok subuh-subuh sudah mandi pagi.
"Mereka pasti mengerti Dek, Abang pingin banget ni.
"Tahan aja dulu Abang, aku ngak mau keluarga Abang melihat aku mandi subuh besok...
...Atau gini aja, setalah kita olah raga malam, aku langsung mandi ya?" tiba-tiba usul Yana pada Munzir.
Munzir yang tahu Yana punya penyakitan asma yang ngak bisa kedinginan jika malam hari, langsung menolak keinginan istrinya tersebut.
"Sudah lah...kamu tidur aja, siapa tahu besok-besok kita sudah punya uang untuk ngontrak baru kita olah raga malam." Munzir pun terus membelakangi istrinya, Munzir tidur dalam keadaan kecewa.
Yana merasa terlalu bersalah karena menolak keinginan suaminya, antara rasa bersalah dan berdosa, tapi Yana tidak mempunyai pilihan lain, selain takut di lihat mandi malam, Yana juga takut jika erengan kenikmatan yang di keluarkan olehnya akan kedengaran oleh mertuanya yang tidur tidak jauh dari kamar mereka, jika Yana tidak mengeluarkan erangan Munzir tidak bisa melepaskan kenikmatannya.
Pagi ini Yana sudah terbiasa bangun lebih awal di rumah mertuanya, rumah mertuanya yang memang selalu ramai membuat tidur Yana tidak bisa melanjutkan tidurnya lagi.
Di rumah mertuanya Yana bisa duduk santai dari mengerjakan pekerjaan rumah, sebab di sini Yana mempunyai dua kakak ipar yang sudah biasa memasak dan melakukan pekerjaan lainnya di rumah, makin lama Yana makin betah tinggal di rumah mertuanya, sampai lah seminggu berlalu, tiba-tiba Yana dihubungi oleh Pamannya yang merupakan adik kandung dari Abahnya yang bungsu.
"Ngapain Paman mau ke sini...ada masalah emangnya?
"Mana Abang tahu, tunggu aja Paman sampai, baru kita sama-sama tahu." potong Munzir yang tidak mau ada pertakaian dengan istrinya Yana.
Tidak berapa lama Paman Yana datang dengan mengendarai motor matic berwarna putih, keluarga Munzir menyambutnya dengan senang hati, turut juga Abang kandung Munzir yang bernama Jalal yang ikut gabung dalam pertemuan tersebut.
Paman Yana langsung saja ke pokok tujuannya untuk datang ke rumah keluarga Munzir.
"Paman ke sini mau jemput kamu dan Yana pulang Munzir, mungkin Abang Paman khilaf dari bicaranya, maklumi aja yang namanya orang tua pasti bicara banyak ngelantur." ucap Paman dengan hati-hati.
__ADS_1
Yana yang berada dalam dilema antara sudah betah tinggal di rumah mertuanya dan anak-anaknya yang tinggal bersama keluarga Yana.
"Iya Paman, aku ikut apa yang Yana pikir baik, jika Yana pikir dia akan pulang lagi ke rumah aku ikut, jika sekiranya Yana sudah betah di rumah ini aku juga ikut." sahut Munzir pasrah akan keadaan.
Jika di ikutkan sakit hati ya pasti sakit, gimana Yana dan Munzir di usir dari rumah, tapi Munzir harus memikirkan jika berada di posisinya Yana, dia pasti berat harus berjauhan dengan anak-anaknya, walaupun mereka anak tiri kasih sayang Munzir melebihi Ayah kandung.
Yana masih berdiam diri tanpa menjawab apa-apa yang di tanyakan Pamannya. Paman lanjut lagi membuka obrolannya.
"Yana...Abah kamu sakit, sekarang aja keadaan Abah kamu seperti kapas di langit, yang di bawa angin kemana angin bertiup." sambung Paman Yana lagi.
"Tapi sebelum ini Abah baik-baik saja kan Paman?" tanya Yana yang dia tahu Abahnya Yana selalu sihat-sihat saja sebelum ini.
"Baik Paman, tunggu beberapa hari lagi aku akan pulang.' ucap Yana yang mengalah dengan keadaan.
Yana tahu sebagai seoarang anak Yana harus sentiasa mengalah dengan orang tuanya, apa lagi Mak Yana yang selalu tidak adil dengan adiknya Raizal.
Obrolan mereka bubar setelah Yana membuat keputusan untuk pulang lagi ke rumah orang tuanya, tapi Yana juga tahu pasti harga Munzir sebagai suami Yana tidak ada harganya, setelah di usir mereka harus pulang lagi ke rumah keluarga Yana, Yana tidak bisa berkeras jika melibatkan anak-anaknya dengan Faizal, jika bisa Yana harus membuat anak-anaknya tidak berpisah dengan satu sama lain, apa lagi Azham begitu menyayangi adiknya, anak Yana bersama Munzir yaitu Gisya.
Sudah seminggu berlalu Yana belum juga mengambil keputusan harus kemana, harus menetap di sini atau harus pulang ke rumah orang tuanya.
"Yana?" panggil mertuanya Yana.
"Iya Mamak...
"Kamu harus mengambil keputusan, bukan maksud Mamak mau mengusir kamu nak...
...tapi coba lihat baju-baju kamu yang masih berada dalam kardus" sambil menunjuk ke arah tumpukan kardus yang tersusun rapi di sudut dinding rumah mertua Yana.
__ADS_1
....Lama-lama bakalan jadi kain lap dapur Mamak itu jika kamu tidak membukanya." walaupun setengah bercanda tapi Mamak mertuanya Yana serius dalam ucapannya.
"Kamu harus ambil keputusan malam ini juga, jika kamu mau tetap tinggal di sini buka baju-baju kamu dan susun di lemari, jika kamu berencana mau pulang ke rumah kamu, malam ini juga kamu angkut barang-barang kamu naik mobil pikap" ancam mertuanya Yana.