
Lama terdiam tanpa sepatah kata keluar melalui corong di telpon, Rifki masih menunggu jawaban dari Faizal, detik kian berlalu Faizal masih membisu di corong telepon, Rifki semakin lama semakin terasa gelisah dan pasti ada sesuatu yang tidak kena akhirnya Rifki menyuara kan kata hati nya.
" Kalau bang Faizal mau pulang, silakan pulang sekarang, kalau ngak mau ya sudah kami akan tetap terima, yang penting aku sudah memberitahu kan tentang ini pada bang Faizal." sahut Rifki dengan suara yang agak tegas.
Rifki melanjutkan pekerjaannya mengurus kakak sepupu nya yang sudah tidak berdaya, masih untung tadi mama nya datang bersama tetangga mereka, sedikit membantu pekerjaan Rifki dan Yana.
" Gimana Rifki, Faizal jadi pulang ngak?" tanya tetangga pada Rifki yang masih mengucek-ngecek alat gawai di tangan nya.
Yana yang sudah tidak berdaya lagi, hanya terbaring lemah, sejak di nyatakan anak nya meninggal Yana langsung pingsan sampai sekarang belum sadar kan diri lagi, apa lagi anak nya hilang tiba-tiba di pangkuan nya sendiri, sudah pasti batin nya terpukul hebat, ini lah ujian untuk Yana yang paling berat, harus kehilangan di saat masih kecil.
Faizal yang di beritahu kan tentang kematian anak nya ternyata sudah sampai ke rumah sakit, di mana nama rumah sakit nya sudah di beritahu kan Rifki melalui telpon tadi, Yana masih terbaring di ranjang pasien, batin nya tidak bisa menerima kepergian anaknya, Yana dengan tegas mengatakan pada dokter anak nya cuma tidur bukan meninggal.
" Rifki gimana administrasi nya sudah di beres kan?" tanya Faizal ketika sampai ke ruangan di mana mereka berkumpul di rumah sakit tersebut.
Rifki menggeleng-menggelengkan kepala nya menanggapi pertanyaan Faizal, Faizal beralih ke ruang administrasi, segala pembayaran sudah Faizal selasai kan, Faizal tadi datang bersama abang kandung nya, mereka langsung menyiapkan keperluan untuk membawa jenazah Rasya pulang.
__ADS_1
Rasya sudah terbujur kaku di ranjang pasien, sudah di bersihakan, sekarang hanya menuggu membawa jenazah nya pulang, Yana yang masih lemah sudah sadar dari pingsan nya, tubuh Rasya anak nya di tatap sepenuh hati, penuh kasih sayang, ini lah tubuh yang selalu memberi nya semangat untuk tetap terus hidup, tubuh ini lah yang selalu membuat abang-abang nya selalu tersenyum, dan tubuh ini lah juga yang membuat hari -hari mereka penuh warna, kini tidak ada lagi canda tawa nya, yang ada sekarang tubuh yang terbujur kaku tidak lagi bergerak, di belai lembut rambut anak nya, Yana tidak menyangka akan berpisah secepat ini dengan anak nya, entah apa yang akan Yana rasakan setelah ini, hidup Yana seolah-olah hancur dengan kepegian anak nya.
" Kamu Kenapa Rasya? kenapa tinggalkan Umi dalam keadaan begini?" lirihan pilu Yana membuat orang yang berada di ruangan tersebut menagis kesegukkan.
Tante Yana mendekat memujuk Yana agar selalu bersabar, air mata Yana sudah tidak terlihat lagi yang ada hanya tangisan kering tanpa air mata, air mata Yana sudah habis tidak tersisa, tenggorokan Yana terasa berat menelan ludah, hati nya terlalu sakit menerima kenyataan ini.
" Kenapa harus anak ku yang pergi tante? tante lihat sendiri kan tadi dia baik-baik saja, kenapa dia bisa meninggal tante, dia masih tidur nyenyak tante kan?" ocehan Yana tidak ada henti nya.
sesiapa pun yang mendengar pasti hiba melihat keadaan Yana saat ini, Yana masih tidak berdaya, dia harus di papah ramai-ramai untuk di bawa pulang ke rumah. Faizal sesudah mengurus segala keperluan anak nya, langsung Faiza keluar dari ruangan menuju ke arah keberadaan abang nya yang datang bersama nya tadi.
Abang nya masih berpikir dulu untuk menjawab, dia ngak mau ambil keputusan yang gegabah. Mobik ambulans memang di sediakan di rumah sakit tersebut, tapi faizal tidak mampu membayar ongkos ambulans.
" Ya sudah! kalau kamu pikir sanggup mengendong nya di belakang abang mau aja, lagipula Rasya kan masih kecil." sahut abang nya Faizal yang sudah mengambil keputusan untuk membawa pulang jenazah Rasya menaiki motor.
motor berjalan pelan di jalan yang sedikit gelap, Faizal yang berbonceng di belakang duduk mematung Sambil meletakkan jenazah anak nya yang sudah terbujur kaku, hati laki-laki dan perempuan memang jauh beda, Yana terlihat sekali kelukaan hati nya karena di tinggal kan anak nya, sedang Faizal masih terlihat tenang.
__ADS_1
di tempat lain....
Di rumah Yana sudah ramai yang menunggu kedatangan jenazah anak Yana, segala persiapan sudah di siapkan tetangga Yana, Yana hidup sederhana, segala keperluan yang tidak cukup akan di bantu di ambil dari rumah tetangga nya, kampung mereka yang mati lampu sejak magrib tadi, kini sudah bercahaya terkana suluhan lampu yang sudah hidup dari tadi, sejak kepergian Yana ke rumah sakit.
" Ya Allah Yana, miris sekali nasib mu, baru tadi sore dia bercekerama dengan anak nya, sekarang sudah ngak ada!" luah hati seseorang di antara orang-orang yang berkumpul.
Di ruang tamu tempat biasa dipakai Yana bermain dengan anak-anak nya, di bentang kan kasur single untuk meletakkan jenazah Rasya, tepat jam sepuluh malam jenazah Rasya sampai ke rumah nya, di sambut dengan tangisan tetangga nya.
" Pegang Yana kuat-kuat jangan sampai dia jatuh, dia masih lemah itu!" suara tegas Rifki terdengar saat melihat kakak sepupu nya sudah agak oleng.
Yana belum sepenuhnya sadar, badan nya juga masih terlalu lemah, Yana hanya tahu menangis sejak tiba di rumah sakit tadi, tidak ada yang bisa memujuk Yana untuk berhenti menagis.
" Rifki telpon bude mu cepat, lupa dari tadi kasih tahu mamak nya Yana!" ucap tante Yana Sambil terus memegang pundak Yana yang sudah duduk di lantai, dekat dengan jenazah anak nya.
Yana terus menatap ke wajah anak nya yang sudah tidak bergerak lagi, Yana sentuh pipinya yang masih bulat, Yana sentuh tangan bayi nya yang bikin Yana selalu gemes, jari-jari Yana turun ke bawah, Yana suka sekali mencubit paha Rasya seperti potongan ayam goreng, Yana setiap hari akan mencubit paha itu, bahkan Rasya ngak pernah menangis ketika Yana mencubit nya, bagi Rasya itu sudah biasa.
__ADS_1
Sudah cukup dulu menulis nya, mengingat kan kejadian ini membuat Thor sedih teingat kembali pada saat itu, waktu yang paling menyakitkan adalah kehilangan orang tersayang.....besok sambung lagi