Perjalanan Berduri

Perjalanan Berduri
pesanan banyak


__ADS_3

angin masuk ke dalam rumah ketika pintu di buka, rumah menjadi lebih segar sebab pertukaran udara, ruang tamu yang tadi pengap tiba-tiba berubah udara.


"ada apa ya dek? cari siapa ya?" yana menatap orang tidak kenal yang berada di depan nya.


adek tadi yang masih agak kaku menjadi ngak enak, dia berpikir kedatangan nya ke rumah yana tidak tepat waktu.


" ngak kak, aku mau pesan brownis sebanyak sepuluh cup, kalau bisa besok aku ambil ya?" yana terpingkal-pingkal mendengar ucapan perempuan muda tadi.


rezeki datang ngak ada siapa yang tahu, gegas yana membuka bekas kaleng yang di gunakan yana menyimpan uang jualannya di kios, kaleng yang di tutup dengan rapat segera di buka, isi yang ada dalam kaleng tersebut ngak cukup dengan yang harus di belanja kan hari ini, uang nya hana sisa beberapa ribu sahaja, itupun sisa jualan kios kemarin, hari ini yana tidak membuka kios sebab yana ke sekolah tadi pagi.


" aku pinjamin dulu sama tante ya, besok bang faizal bawa uang, pasti aku bisa ganti uang tante sekalian uang Riki yang ngak sempat aku bayar" batin yana sendiri.


anak-anak yana sejak tidur siang sampai sekarang belum bangun lagi, yana mengambil kesempatan pergi ke rumah tante nya, rencana yana mau pinjam uang sana tante nya untuk modalnya dulu.


tok... tok...tok...


" assalamualaikum..." salam yana dari luar pintu.


pintu rumah tante yana jarang sekali terbuka, sesekali jika riki di rumah baru terbuka, biasa nya tertutup rapat ngak kenal waktu siang atau pun malam, yana masih juga mengetok pintu rumah berulang kali.


" assalamualaikum..." masih terdengar suara yana dari luar rumah.


yana sudah berputus asa menghadapi ujian bertubi-tubi atas hidupnya, anak-anak lah penguat yana untuk menerus kan hidupnya.


" waalaikum salam..." sahut tante dari arah dalam rumah.


" sebentar ya?" sahut tante lagi.

__ADS_1


dalam hati kecil yana, " masih untung ada tante di rumah, kalau tidak ngak tahu nasib aku gimana lagi." batin yana terus bicara sendiri.


yana masih menunggu tante nya membuka pintu, tidak ada saudara lain yang bisa yana minta bantu, mamak yana tidak mempunyai ramai saudara, tante bukan adik kandung mamak, tante adik sepupu mamak.


klekkkk...


pintu rumah tantenya terbuka, di celah pintu yang terbuka terlihat wajah tante nya masih berdiri heran menatap yana sudah duduk di teras.


tante mendekat ke arah yana, yana sigap bangkit melihat tante mendekat, sebenarnya yana malu sama tante nya, tapi yana tidak mempunyai tempat lain yang bisa di tuju, hanya tante satu-satunya yang bisa yana minta bantuan.


" eh! anak-anak mana yana? kok datang sendiri ke sini?" ucap tante melihat yana bengong menatap ke langit.


walaupun matanya menatap ke langit tapi pikiran yana kosong ngak tahu arah tujuan, mau bekerja di tempat lain yang bisa menghasilkan uang gaji yang cukup untuk kebutuhan nya, yana tidak ada tempat menitip kan anak-anak nya yang masih kecil, mau ngak mau yana harus sabar.


" anak-anak di rumah tante, mereka masih tidur siang!" ucap yana polos


" ooo, maaf yana, tadi tante sholat, makanya tante ngak dengar tadi kamu panggil!" ucap tante nya seolah-olah merasakan perasaan bersalah sebab yana kelamaan menunggu di luar.


" ngak apa-apa tante...


....tante aku sebenarnya mau ke sini mau minta bantuan dari tante!" ucap yana dengan nada segan bercampur takut.


suara yana terpotong setengah, yana ngak bisa melanjutkan kan lagi kata-kata nya, padahal tante merupakan saudara yana satu-satunya, entah mengapa suara yana seakan tersekat di kerongkongan nya.


" bantuan apa yana? minta saja, mana tahu tante bisa bantu!" ucap tante dengan rasa kasihan.


kasihan dengan nasib yang menimpa keponakan nya, jika bisa di beri kelebihan tante pasti akan membantu yana semampunya.

__ADS_1


" aku....aku...aku mau pinjam uang sama tante, buat modal tante?" ucap yana dengan lancar sambil menutup matanya.


tante tersenyum dengan sikap yana, tante menanyakan berapa yang yana butuh, yana pum menerima pinjaman dari tante nya, bahkan tante nya memberi yana gratis tanpa meminjam, yana pulang dengan wajah yang semuringah menyusuri lorong menuju ke rumahnya.


" umi mau bikin kue banyak ya?" ucap azham melihat uminya masih sibuk bergulat dengan tepung di dapur.


yana belum menceritakan pada azham bahwa dia menerima pesanan yang banyak besok, yana belum sempat menceritakan tentang pesanannya tadi, yana buru-buru ke rumah tantenya untuk meminta bantuan pinjaman modal.


cup yang sudah di isi adonan brownis yana kukus dengan api yang sederhana, yana menunggu beberapa menit sebelum adonannya mengembang, sambil menunggu adonannya mengembang, yana bikin saos coklatnya, selang satu jam semuanya siap, azham yang masih di kamar tidak sempat membantu umi nya bikin toping, azham harus menjaga adik-adik nya yang masih kecil di kamar.


" Alhamdulillah ya umi, umi dapat pesanan yang banyak, mudah-mudahan dagangan umi makin laris..amin!" ucap azham sambil mengaminkan ucapan nya tadi.


" besok ayah mu pulang ya azham?" tanya yana pada azham.


azham yang duduk santai di samping uminya sontak terkejut, azham tidak pernah sekalipun menyebut nama ayahnya sejak ayah nya izin pamit kerja seminggu yang lalu, azham langsung lupa akan sosok ayahnya, tidak ada ikatan batin antara azham dan ayahnya.


malam berlalu dengan cepat, badan lelah yana belum hilang, dari sore sampai ke malam, terus setia di dapur sederhananya, kaki yana sampai tidak bisa di gerakan lagi sebab mondar-mandir terus di dapur, semoga saja pelanggan yana berpuas hati dengan hasil kerja yana.


kuuu..uuu..uuukkkk..suara ayam di mana-mana sambung menyambung bersahutan di pagi hari, pagi yang cerah secerah matahari menyinari bumi, yana masih menggosok-gosok mata nya di samping ranjang, mata yana masih terlalu berat untuk di buka, perasaan yana, yana baru saja memejam kan matanya, baru sebentar tidur sudah pagi, jam di dinding yana berjalan dengan cepat sekali.


badan yana di bawa berjalan melangkah mendekati kamar azham, yana mengintip anaknya melalui tirai pintu yang tersangkut di pintu kamar anaknya.


" azham...azham! kamu sudah bangun nak?" suara yana sedikit keras.


yana terkejut melihat ranjang anaknya azham kosong melompong, entah kemana anaknya pagi-pagi begini.


seluruh pelosok rumah yana cari azham, tidak ada yang tertinggal dari bola mata yana..

__ADS_1


__ADS_2