
[ Itu lah sebab nya kenapa saya menelpon Bapak, untuk memberi tahu kan pada Bapak, untuk sepengetahuan Bapak bang Faizal sudah mencerai kan saya pada malam kemarin melalui panggilan telpon, saya hanya ingin konfirmasi sama Bapak tentang status saya, jika suatu hari dia pulang ke sini lagi sudah tidak bisa menerima nya lagi, saya bukan istri nya lagi ] jelas Yana pada perangkat desa tersebut.
[ Oh! memang bisa cerai tanpa saksi mendengar nya ya? ] tanya Bapak itu lagi.
[ Saksi nya cukup hati kita sendiri Pak, apa Bapak tidak tahu soal itu? ] tanya Yana lagi yang sudah tersalut emosi.
[ Oh! jelas ngak bisa donk, sebelum dia ceraikan kamu, kamu harus ada saksi yang mendengar nya, tanpa saksi atau tanpa saya, cerai tersebut tidak sah ] ucapan Bapak tersebut bertambah ngelantur.
[ Jadi maksud Bapak, sebelum bang Faizal mencerai kan saya, saya harus panggil Bapak dulu sebagai saksi mendengar bang Faizal mencerai kan saya, gitu maksud nya? ] Yana makin berang dengan tingkah perangkat desa tersebut.
[ Itu terserah anda, lebih baik kamu diam-diam aja di kampung, besok-besok dia kirim uang yang banyak menyesal kamu nanti ]
[ Kalau benar-benar dia kirim uang pada saya, saya akan kasih untuk Bapak semua uang itu ] bentak Yana langsung menutup panggilan nya, hati Yana panas, kok bisa-bisanya diri nya di anggap tidak berharga langsung sebagai seoarang perempuan.
Alat gawai yang berada di tangan Yana di hempas kan ke atas kasur tempat nya berbabring, bukan menyelesaikan masalah malah menambah masalah, Yana terus berputar otak mencari cara gimana agar Bang Faizal ngak bisa kembali lagi pada Yana, biasa nya Faizal akan kembali lagi jika tidak mempunyai tujuan lain.
" Ah..aku baru keingat, aku harus memberi tahu kan pada Abah tentang masalah ini, Abah pasti lebih mengerti tentang agama." Yana bermonolog sendiri di dalam kamar nya, kamar yang sebelum ini di huni bertiga bersama anak dan suami nya. Sekarang Yana harus tidur sendirian, anak nya Hafiz tidak mau tidur bersama Yana, Hafiz lebih memilih tidur bersama Abang nya Azham.
__ADS_1
Pagi datang dengan wajah yang sangat cerah, aktivitas Yana yang sehari-hari yang sibuk membuat Yana tidak berpikir dengan pembicaraan Yana tadi malam, hati yang sakit di lupakan begitu saja oleh Yana, anak-anak yang baik dan mengerti akan keadaan Yana membuat nya beruntung memiliki anak-anak seperti mereka.
Hari ini tempat Yana jualan sedikit lengang, keadaan yang sepi di gunakan baik-baik oleh Yana, sambilan menunggu pelanggan Yana terus menggerak kan jari tangan nya untuk membuat pekerjaan, Yana tidak mau duduk santai, ibarat nya kata orang, makan gaji buta. Bawang merah dan putih sudah siap Yana kupas, tinggal cabe rawit dan cabe merah yang belum Yana kerjakan.
" Mpok Neng! aku pergi sebentar ya?" pamit mas Bambang pada Yana yang masih santai dengan cabe yang bertumpuk di depan nya. Yana duduk di atas bangku dari kayu yang sengaja di tempah oleh mas Bambang untuk warung nya.
" Iya Mas!" jawab Yana, mata Yana langsung tidak menoleh ke arah mas Bambang yang sudah lewat di depan nya, pandangan mata Yana fokus pada cabe yang bertumpuk-tumpuk di depan wajah nya.
Mata Eni ngak henti-hentinya menatap ke arah Yana yang tidak peduli dengan kehadiran Yana, Eni selalu aja mencari masalah dengan Yana, apa lagi dengan mas Bambang yang terlalu percaya dengan Yana, setiap Eni mengambil uang di meja kasir Yana selalu akan melapor pada mas Bambang, itu karena Yana tidak mau di salah kan jika uang jualan hari itu tidak sesuai target nya.
" Iya ni Tante, hari ni sepi, maka nya mas Bambang cepat tutup warung." sahut Yana yang sedang berjalan ke arah Tante nya duduk, Tante Yana duduk menghadap ke jalan, anak-anak nya belum pulang lagi dari mengaji, biasa Yana pulang lewat, sejak akhir-akhir ini Yana selalu pulang malam, tubuh Yana sudah seperti ngak bisa bertahan seperti ini terus menerus.
" Anak-anak belum pulang lagi Yana!" Tante nya Yana memberi tahu sebelum Yana bertanya lebih dulu.
" Iya Tante aku tahu, Tante aku mau ngomong masalah kemarin." ucapan Yana terhenti sampai di situ.
" Mau ngomong apa Yana, kasih tahu aja, siapa tahu Tante bisa bantu." jelas Tante nya lagi pada Yana, Yana yang duduk berdampingan dengan Tante nya di teras merasa lega dengan jawaban Tante nya.
__ADS_1
" Gini Tante, Tante kan tau kemarin tentang masalah bang Faizal tiba-tiba mencerai kan aku tanpa alasan dan sebab yang jelas." jelas Yana pada Tante nya lagi dengan perasaan yang ngak keruan.
" Jadi kamu belum hubungi perangkat itu lagi?" Tante Yana mencari kepastian dari Yana keponakan nya sendiri, barang yang di tenteng Yana di tangan nya tadi segera di keluar kan dari plastik nya lagi.
" Sudah Tante, tapi perangkat desa tersebut tidak mau bertanggung jawab pada warga nya tersebut, dia mau lepas tangan aja." balas Yana dengan wajah yang sesedih mungkin, bergelar janda begitu membuat Yana jadi serba salah, Yana takut akan pandangan mata dan cibiran tetangga nya pada Yana.
" Peduli kan aja, lebih baik kamu harus sendiri yang datang ke sana, tapi lebih bagus lagi pergi dengan Abah." ucapan Tante nya Yana sambil pergi ke dalam rumah nya.
Rumah Tante Yana yang mempunyai lima buah kamar membuat anak-anak Yana bisa beristirahat dengan tenang di sana, sebelum Yana menjemput anak-anak nya, mereka terlebih dulu akan tidur di rumah Tante nya. Apalagi si kecik Hafiz yang selalu suka bisa tidur di rumah Tante Yana.
Setelah perbincangan hangat di teras rumah tadi, Yana baru terpikir akan mengajak orang tua nya di untuk datang ke rumah perangkat desa yabg tidak jauh dari rumah mereka tempati. Kini Yana sudah berbaring di kamar nya, kesempatan ini di gunakan sebaik mungkin untuk Yana istirahat. Anak-anak Yana sudah masuk ke kamar masing-masing.
drtttt... drtttt... drrrrrtttt
" Assalamualaikum...?" ucap seseorang dari arah rumah, rumah yang belum kelihatan siap membaut yang berkunjung harus ke ruang keluarga terlebih dahulu, rumah nya yang masih belum siap hanya berdinding batu bata.
" Waalaikum salam..." jawab Abah di talian telpon, Abah gembira anak nya akhirnya bisa menghubungi nya, Yana tidak tahu harus menghubungi siapa jika bermasalah seperti ini di rumah nya.
__ADS_1