
Sepanjang perjalanan Yana bisa melihat aktivitas yang di adakan di hari ini, dari dalam mobil Yana bisa melihat acara yang di adakan untuk hari kemerdekaan hari ini, sepanjang jalan ramai pengunjung yang datang melihat acara yang di adakan setiap kota untuk menyambut hari kemerdekaan.
Setengah jam kemudian mereka pun sampai di rumah sakit, Yana yang dari tadi mencoba menahan kesakitan yang teramat sangat di bahagian perutnya, sebisa mungkin Yana mencoba untuk bersabar dan berharap mereka akan sampai secepatnya ke rumah sakit.
Begitu sampai di ruang menunggu Yana terus di dudukan di atas kursi roda yang sudah di sediakan, sementara kak Mira langsung saja pergi ke bahagian adminitrasi untuk memberitahu keadaan Yana yang sebenarnya.
"Perawat...tolong tangani cepat adek yang kakak bawa tadi, segala data yang di perlukan biar kakak yang isi." Mira memohon pada perawat agar segera melakukan tindakan atas Yana.
Pembukaan Yana berjalan dengan lancar, Yana yang tidak bisa duduk diam di ruang bersalin terus meminta Munzir untuk menghantar nya ke kamar mandi, Yana merasa sedikit lega begitu tiba di kamar mandi.
Yana terus berjongkok jika merasakan kesakitan nya datang, jika sudah mendingan Yana akan bangkit dengan di bantu suaminya, itu terus di lakukan Yana sehingga lah.
"Apa ni Dek...kamu buang air kecil atas celana Abang ya?" pekik Munzir begitu melihat air keluar dengan banyaknya dari alat inti Yana.
Yana tidak bisa menjawab apa-apa melainkan terus menahan rasa sakit yang di rasakan dari pagi tadi, bertambah sakit hingga sekarang.
Perawat datang untuk cek pembukaan Yana, Yana yang merasa sakit yang teramat sangat, terus bertanya pada perawat tersebut.
"Perawat...kalau boleh tau dokternya masuk jam berapa ya?
"Habis magrib kak..emangnya kenapa kak?
"Aku rasa mau keluar sesuatu ni, bisa ngak banti tanpa harus menunggu dokter datang?" tanya Yana sambil menahan sakitnya.
__ADS_1
Perawat tadi pun mengangguk setuju, begitu bawah Yana disingkap, ternyata kepala bayi sudah berada di hujung, dengan sekali erangan pelan anak Yana lahir dengan selamat.
Teman-teman yang masuk sekalian bersama Yana kaget, begitu mudah jalan kemudahan yang Allah bagi untuk Yana melahirkan.
Sedangkan di rumah Mak Yana menggerutu hebat setalah mendapatkan telpon dari Munzir, Mak Yana masih kepingin berada di toko bersama anak laki-lakinya.
"Besok-besok kan bisa pergi lagi Mak, jika Yana tidak sakit dia juga masih menjaga anaknya di rumah...
...Doa kan saja agar Yana di beri kemudahan untuk melahirkan anaknya." ucap Abah yang begitu sayang pada Yana.
"Kenapa ngak kasih tahu dari pagi yang dia mau melahirkan, kan Mak ngak usah ke toko, kalau gini kan capek ulang-alik toko rumah." ucap Mak Yana dengan mulutnya satu meter panjang ke depan.
Abah terus melajukan motornya untuk pulang ke rumah, dalam pikiran Abah cucunya sekarang yang sudah di tinggal dari tadi di rumah.
"Bang...lebih baik bawa pulang dulu ari bayinya." tegur perawat yang melihat Munzir hanya sendiri yang menjaga istrinya.
Tidak seperti orang yang lain melahirkan, ruangnya penuh dengan saudara yang datang, sedangkan Yana hanya berdua bersama suaminya Munzir.
"Dek...bagaimana ni? Abang harus bawa pulang arinya dulu untuk di tanam, sedangkan kamu sendiri di sini." Munzir tidak dapat menyembunyikan kesedihannya.
"Abang pulang aja...tapi jangan lama-lama ya?" pinta Yana pada suaminya.
Dia tidak habis pikir kenapa Mak Yana tega sekali pada Yana, apa sebab Yana menikah dengan Munzir makanya Mak Yana tidak menyukai mereka.
__ADS_1
"Abang ngak tega meninggalkan kamu sendirian Yana, sebentar ya? Abang telpon Mak dulu." ujar Munzir pada Yana di raungan mereka.
"Untuk apa Abang?
"Untuk meminta tolong pada adik kamu agar menghantar Mamak Abang ke sini, untuk menjaga kamu." jelas Munzir.
Yana mengangguk setuju dengan ucapan suaminya, walaupun Mak Yana tidak menyukai Yana dan suaminya sekurangnya adek Yana bisa membantunya untuk menghantar mertua Yana ke rumah sakit.
"Mak...bisa minta tolong bentar?" tanya Munzir melalui panggilan telpon dengan Mak Yana.
"Bantu apa?
"Tolong bilang sama adek untuk menghantar Mamak ke sini bentar, aku mau pulang untuk tanam ari, tapi Yana sendirian di rumah sakit, makanya aku tolong bantu hantar kan Mamak aku ke sini sebentar." Munzir menyusun kata-katanya agar Mak Yana bisa memahami keadaannya.
"Dia baru pulang dari toko, dia capek, aku ngak berani bangun kan dia...kasihan." Munzir tidak habis pikir dengan pemikiran mertuanya tersebut.
Tanpa pikir panjang akhirnya Munzir menelpon temannya di kampung untuk menghantar orang tuanya ke rumah sakit, Munzir pun menceritakan tentang hal Yana yang sudah melahirkan.
Dengan mudah temannya Munzir siap membantunya untuk menghantarkan Mamak Munzir ke rumah sakit, dalam hitungan menit mertua Yana sudah berada di sampingnya, Munzir pun bisa pulang sebentar untuk menanam ari anaknya.
Tiga hari Yana di rumah sakit di temani mertua yang selalu menjaga Yana dan anaknya, tepat hari ke empat Yana sudah di izinkan pulang ke rumahnya.
"Dek...apa sebaiknya kita pulang ke rumah Mamak ku aja ya?
__ADS_1