
"Seperti biasa, emangnya kenapa Eni?" Bambang bertanya pada Eni istrinya
"Ya ngak... aneh aja kamu selalu sembunyikan gaji Mpok Neng ke dalam plastik, aku kan ngak tahu jumlahnya berapa." sahut Eni sambil memuncung kan bibir nya di depan suaminya.
"Jangan kamu pikir yang bukan-bukan, sebab kenapa aku sembunyikan, itu kemauan dari Mpok Nengnya sendiri yang ngak mau orang lihat dan tahu gaji di berapa Mpok Neng di sini." ucap Mas Bambang tegas pada istrinya
Eni ngambek langsung pergi ke dalam kamarnya lagi, warung Mas Bambang hanya ukuran kecil, di warung Mas Bambang membuat sebuah kamar untuk dirinya bersama istri.
Yana sudah pergi jauh dari arah warung, Yana sudah tidak bisa melihat lagi sosok Eni dan Mas Bambang melalui kaca spion motornya. Di rumah Yana Maknya dari tadi ngak bisa diam, di rumah di terus aja berjalan ngak tentu arah, apa lagi hanya tinggal Mak Yana sendiri di rumah, Abah yang sejak magrib tadi ke musalla belum pulang-pulang lagi, sedang cucunya sudah pergi ke tempat mengaji, tinggal Maknya sendirian di rumah sambil mondar mandir di dalam rumahnya.
"Baru pulang Yana? kok magrib tadi ngak pulang sih? ngak capek apa dari pagi berkeja sampai malam begini baru langsung." tanya Mak Yana yang sedang berdiri di muka pintu menunggu kepulangan Yana sejak tadi.
"Mas Bambang ngak pulang tadi, makanya aku ngak sempat pulang." sahut Yana sambil berlalu masuk ke dalam rumahnya, Mak Yana mengekor dari belakang badan Yana, Mak Yana bisa melihat kelelahan anaknya selama ini, begitu besar perjuangan dan pengorbanan Yana untuk menafkahi anaknya.
"Yana..sini duduk dulu, Mak mau bicara tentang hal yang serius dengan mu." ucap Mak Yana padanya sesaat Yana pulang ke rumah.
"Nanti aja ya Mak, aku lagi capek ni, mau mandi dulu sebentar, badan aku pun bau keringat Mak." sahut Yana sambil menghirup bau badannya melalui hidungnya.
__ADS_1
"Baiklah.. Mak tunggu kamu selasai mandi dulu, Mak akan duduk di sini." Mak Yana tetap memaksa Yana duduk berbincang sesuatu dengannya.
Kali ini Mak Yana bertekad akan membicarakan sendiri pada anaknya tentang Yana harus mengikuti Abah nya, tidak mungkin Yana di biarkan tinggal sendirian di rumah, Mak Yana ngak tega meninggalkan anak dan cucunya tanpa ada yang mengawasi, jika sebelumnya mereka tidak peduli, bukan kemauan mereka, tapi Yana yang tidak mau, yana lebih rela mengikuti suaminya yang tidak pernah bertanggung jawab.
"Ada apa sih Mak...serius amat wajah Mak ni?" oceh Yana melihat wajah Mak yang begitu serius menatap ke arahnya
Abah Yana pergi dari magrib belum pulang lagi musalla, anak-anak juga belum pulang lagi dari mengaji, Yana yang sudah kelihatan segar setelah mandi duduk di lantai ruang tamu mengikuti perintah dari Mak Yana.
"Mak sebenarnya mau ngomog apa sih, kok aku jadi deg-degan ya?" Yana mengulangi lagi kalimatnya yang masih belum di jawab.
"Kali ini Mak ngak main-main lagi, hari ini Mak mau bicara serius sama kamu, kamu kan sudah dewasa sudah tau mana yang baik dan mana yang tidak untuk hidup mu, apa lagi setelah kamu di ceraikan Faizal, sudah pasti hidup kamu akan lebih susah lagi menghadapi hari-hari berikutnya...
Selama ini Mak Yana mendiam kan diri, Mak Yana mau Yana sendiri yang akan meminta akan mengikuti mereka pulang tapi kenyataannya Yana malah makin betah tinggal di sini, akhirnya Mak sendiri yang menyuarakan keinginan Abah tersebut.
"Apa ngak bisa aku memilih tinggal di sini Mak, aku ingin hidup di sini bersama anak-anak ku Mak, percaya lah padaku, aku bisa menjaga diri dan menjaga anak-anak ku." pinta Yana pada Mak nya.
Bukan maksud Yana untuk membantah keinginan orang tua, tapi Yana sudah nyaman tinggal di rumah peninggalan Nenek Yana, walaupun sebelum ini Yana bersuami tapi Yana tetap tinggal sendiri bersama anak-anaknya tanpa suami di sisi, Yana sudah terbiasa hidup mandiri.
__ADS_1
"Itu terserah kamu Yana, Mak cuma saran kan saja, jika kamu memang kekeuh untuk tinggal di sini Mak tidak bisa membantah keputusan dan kemauan mu, tapi jika suatu hari nanti kamu ingin ikut tinggal bersama kami jangan lupa hubungi Abah mu ya?" ujar Mak Yana dengan nada sedih.
"Sudah Mak...jangan sedih, selama ini pun aku tinggal sendiri juga biar pun ada suami, nanti sesekali aku libur kerja aku pulang rumah Mak ya?" Yana memang selalu pandai mengambil hati orang tuanya.
Mak Yana menghapus air mata yang mengalir di pipinya, dia masih tidak bisa menerima keputusan jika Yana tetap mau tinggal di sini, namanya juga kemauan anaknya, Mak Yana tidak bisa melarang keinginan anaknya. Yana sudah pasti tahu mana yang baik untuk dirinya dan anak-anaknya
Pagi besoknya Abah dan Mak Yana mau pulang lagi ke tempat tinggalnya, pagi-pagi lagi mereka sudah menyiapkan semua keperluan mereka, Abah masih tidak tega meninggalkan cucunya, akibat sering bersama cucu membuat Abah berat hati meninggal kan mereka.
"Kamu ni Yana, kok keras hati banget sih ngak mau ikut Abah pulang ke rumah." Abah masih berharap anaknya Yana berubah hati untuk ikut dengan Abah.
"Bukan keras kepala, tapi aku belum siap untuk ikut Abah, jika nanti aku sudah siap mu ikut, aku sendiri yang akan menghubungi Abah untuk menjemput ku." ujar Yana memujuk Abahnya.
Yana belum siap untuk ikut Abah pulang, Yana tidak mau berpindah terburu-buru, Yana harus mengatur semuanya dengan baik, termasuk perpindahan sekolah anak-anaknya.
Motor Abah si depan rumah sudah di panaskan mesinnya, hanya tinggal Abah aja lagi yang mengendarai motornya. Abah ke luar dari rumah dengan membawa barang yang akab Abah bawa pulang.
"Yana! Abah pulang dulu ya...jangan lupa jaga cucu Abah dengan baik, jaga juga kesehatan mu ya Yana?" jika ikut kan hati Abah, Abah ngak mau berpisah dengan anak dan cucunya, tapi Abah ada warung yang harus Abah jaga.
__ADS_1
"Iya Abah... hati-hati di jalan ya Abah..