Perjalanan Berduri

Perjalanan Berduri
Yana mau buang air kecil


__ADS_3

Yana makin kaget mendengar ucapan suaminya, apa sebenarnya yang sudah terjadi pada suaminya, apa suaminya melakukan kesalahan yang fatal.


"Kenapa Abang begitu terpuruk ya...apa dia melakukan kesalahan yang tidak bisa di maafkan." lirih Yana sendiri di dalam hatinya.


Mata Yana terus menatap punggung suaminya dari belakang, Munzir duduk di tepi ranjang, sementara Yana duduk di belakang suaminya, perasaan Yana bercampur aduk, apa sebenarnya yang sudah terjadi pada suaminya, Yana dan Munzir sudah lama kenal, apa Munzir mempunyai masa lalu yang kelam.


"Apa sih sebenarnya yang terjadi...coba Abang beritahu dulu? kalau keg gini masalahnya takkan selasai Abang." ujar Yana dengan nada sedih.


Hati Yana bagaikan di teriris melihat suaminya menangis tanpa sebab yang Yana sendiri tidak tahu, sebagai seorang istri Yana sudah pasti bisa menjadi tempat suaminya mencurahkan segalanya bukan seperti ini.


"Abang sudah tua Dek." itu yang keluar dari mulut Munzir.


Sontak saja Yana terkekeh geli mendengar ocehan suaminya, baru tadi menangis sekarang sudah mengeluarkan ocehan lucu.


"Abang ni...kalau mau bikin lucu siang Abang, bukan malam seperti ini, nanti di pikir orang yang bukan-bukan lagi kalau aku ketawa terbahak-bahak." seloroh Yana lagi.


"Abang serius ni Yana, jangan di bawa canda donk." rajuk Munzir pada istrinya yang duduk di sampingnya dengan mengenakan baju dinas malamnya.


Yana sejak menikah dengan Munzir sudah tahu memakai baju dinas, bahkan Yana mempunyai baju dinas lebih dari satu, berbeda ketika bersama suaminya bang Faizal dulu, Yana hanya tahu masuk keluar, sejak jadi istri Munzir Yana sudah menjadi istri yang sebenarnya.


.....Flash back....

__ADS_1


Malam pertama Yana yang di perkirakan akan batal di sebabkan kipas anginnya rosak tiba-tiba berjalan lancar setelah Munzir sendiri yang berusaha pulang secepatnya ke rumah Yana dengan terus ke toko elektronik di tengah malam.


"Masih untung Abang sempat pulang tadi, kalau tidak ngak tahu malam ini kita bisa tidur apa ngak?" ucap Yana begitu membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Munzir yang terus menatap Yana tersenyum sendiri mengingat kan bagaimana Yana mencegah karyawan toko agar jangan menutup tokonya sebelum Munzir sampai.


"Apa senyum-senyum, ada sesuatu di wajah aku ya Abang?" ucap Yana sambil meraba-raba wajahnya.


"Ngak...Abang lucu aja tadi, kok bisa-bisanya adek bisa cegah mereka menutup toko, perjuangan yang sangat besar tu." kata Munzir pada Yana yang masih senyum sendiri.


"Ya iya lah...emangnya Abang mau kita tidur dalam keadaan kepanasan malam ini? aku mah ogah Abang." sahut Yana lagi sambil membalikkan badannya membelakangi suaminya yang masih terduduk di kepala ranjang.


Tangan Munzir menyentuh bahu Yana dari belakang.


"Dek...ganti bajunya dulu donk, Abang tidak suka adek tidur dengan memakai sarung seperti ini." keluh Munzir begitu melihat Yana mengganti bajunya dengan kain sarung.


Yana yang memang biasa tidur dengan memakai kain sarung ketika bersama bang Faizal dulu, Yana berpikir semua laki-laki sama, ternyata mereka mempunyai pandangan mereka masing-masing.


Bergegas Yana bangkit lagi, lemari yang berwarna hitam terbuat dari kayu jepara segara di buka, terlihat beberapa baju dinas sudah di beli oleh Munzir beberapa hari sebelum mereka menikah, baju dinas Yana berwarna, merah, ungu,pink dan juga hitam, pilihan Yana jatuh pada warna merah menyala, padan dengan kulit Yana putih bersih.


Kelakian Munzir langsung berdiri begitu Yana sudah memakai baju dinas tersebut, tubuh Yana yang masih berada di pintu lemari langsung di terkam oleh Munzir, Munzir sudah seperti kucing kelaparan, gunung Yana tidak di lepas, mulut Munzir terus bergelayut di gunung Yana, Yana yang tidak pernah merasakan sensasi panas yang sedang di lakukan oleh Munzir, tubuh Yana bergetar hebat.

__ADS_1


Munzir yang sadar tubuh istri bergetar dengan hebat, tersenyum bangga, ternyata Yana tidka bisa di pancing, begitu di sentuh di bahagian intinya langsung saja sontak sinyalnya.


Munzir membawa tubuh istrinya yang sudah di penuhi nafsu ke ranjang pengantin mereka, Munzir terus memainkan jemarinya dengan lincah di tubuh istrinya, Yana tidak bisa mengontrol suaranya yang sudah di tahan sejak tadi, sehingga keluar lah suara ******* yang begitu indah terdengar di telinga Munzir.


Tiba-tiba...


"Abang...kok aku sudah buang air kecil ya di kasur ya?" ucap Yana begitu merasakan ada sesuatu keluar dari bahagian intinya.


"Itu bukan air kecil sayang, tapi air kamu yang sudah keluar." sahut Munzir di suasana kamar yang remang-remang.


"Maksudnya...kok aku ngak mengerti Abang." sontak saja Yana bangkit dari posisi di bawah suaminya.


Munzir merasa aneh dengan sikap istrinya...


"Kok bisa Yana mengatakan itu, apa dia belum tahu bagaimana seorang istri yang sudah pernah menikah belum merasakan apa-apa seperti ini." batin Munzir melihat tingkah aneh istrinya.


"Seumur hidup kamu pernah ngak kamu merasakan seperti ini sebelumnya?" usut Munzir lebih jelas lagi pada istrinya.


"Belum." sahut Yana, "Pantesan...tapi kok bisa ya dek." ucap Munzir lagi.


"Sudah lah besok-besok kita bahas, sekarang kita lanjutkan lagi pertarungannya ya?" ucap Munzir yang terus saja menempelkan bibirnya di bibir Yana.

__ADS_1


__ADS_2