
.... Flash back....
Yana tersentak kaget mengingatkan bagaimana pertama kalinya dia merasakan kenikmatan yang di rasakan sebelum ini, Yana tidak tahu bagaimana seorang istri merasa puas ketika berhubungan badan dengan suami, sejak kejadian keluar air dari bahagian intinya, itulah untuk pertama kalinya Yana merasakan kenikmatan surga duniawi yang tidak pernah di rasakan sebelum ini.
"Abang tidak akan mempunyai anak lagi Dek." ucapan pilu tiba-tiba keluar dari mulut Munzir.
Yana yang merasa aneh langsung menggenggam tangan suaminya dengan penuh kasih sayang.
"Emangnya kenapa Abang bicara seperti ini?
"Kamu keguguran Yana, setelah ini kamu pasti tidak akan bisa hamil anak Abang lagi." Munzir terus meracau sendiri.
"Yang aneh-aneh aja Abang...
....Aku lebih tua dari Abang, Abang harus ingat kita baru saja menikah dua bulan, perjalan kita masih panjang lagi Abang, coba Abang lihat pasangan lain yang sudah menikah berpuluh-puluh tahun belum di kurnia anak, mereka masih baik-baik saja, mereka tidak apa-apa, mereka masih bahagia, anak itu bukan sesuai kemauan kita Abang, anak itu satu amanah yang harus kita jaga, jika kita sudah layak di berikan amanah kita pasti di kurnia anak." jelas Yana panjang lebar pada suaminya.
Di dalam hati Yana yang Munzir tidak tahu.
"Baru mau tunda dulu mempunyai anak, ngak jadi lah, setelah ini aku langsung harus hamil lagi, aku tidak mau melihat air mata keluar lagi dari mata suamiku." batin Yana sendiri sambil mengelus-elus pundak suaminya.
__ADS_1
Malam pun larut, Yana kembali terlelap di alam mimpinya, begitu juga Munzir yang sudah merasa lega setelah di jelaskan oleh Yana. Mereka tidur saling berpelukan sepanjang malam.
"Abang ngak kerja hari ini?" tanya Yana begitu melihat jam sudah menunjukkan pukul lapan pagi, sedangkan Munzir masih berada di dalam selimut tebalnya.
Darah yang keluar dari inti Yana sudah ngak ada lagi, tadi malam saja keluar dengan banyaknya, itu yang membuat Munzir berpikiran terus dengan nasibnya yang begitu menginginkan seorang anak lahir dari istrinya.
"Abang kurang sehat hari ini... Abang libur aja ya?" ucap Munzir pada istri yang berada di sampingnya.
Yana mengikut saja kemauan suaminya, lagipula suaminya buka dosmer sendiri, bisa buka kapan saja yang Munzir mau, tanpa Yana tahu ternyata Mak Yana tidak menyukai Munzir yang di rasakan pemalas.
"Apa Munzir ngak kerja Yana, Mak ya paling tidak suka melihat laki-laki asyik tidur di kamar." tegas Mak Yana lagi.
"Bang Munzir sakit Mak, kan baru kali ini dia libur, mungkin sebentar lagi juga di bangun." bela Yana pada Mak nya yang masih mengomel tidak bisa di ajak kompromi.
"Alah...alasan aja itu, lihat aja setelah ini dia akan libur lagi dan lagi, dia mau kamu bekerja seperti dulu lagi, dia pikir toko yang kamu kelola itu punya kamu apa?
...Kamu itu perempuan Yana, kamu masih punya adik laki-laki yang bisa meneruskan toko Abah kamu itu, jika sebelum ini kami berharap sama kamu sebab kamu tidak mempunyai suami, sekarang Mak akan menyuruh adik kamu pulang untuk meneruskan bisnis Abah kamu itu." kata-kata yang keluar dari mulut Mak Yana memang begitu menyakitkan.
Yana mengelus dadanya supaya bisa lebih bersabar lagi, Yana memang mempunyai seorang adik laki-laki, tapi dia tidak pernah ada di kampung, dia selalu merantau, dia mau mencari rezeki dengan usahanya sendiri, tapi Mak Yana selalu berat sebelah, Mak Yana terlalu menyayangi adiknya banding Yana sendiri.
__ADS_1
Selama ini hanya Abah yang selalu sayang pada nasib Yana.
Demi meredamkan suasana yang begitu menyakitkan hati, Yana kembali masuk ke dalam kamarnya, air mata yang sudah menetes di pelupuk matanya segara di hapus, Yana tidak mau sampai Munzir tahu akan nasibnya selama ini.
"Dek...kok termenung sih?
"Abang ngak apa-apa, jangan kuatir ya?" ucap Munzir lagi.
Munzir berpikir Yana kuatir dengan keadaan Munzir, tanpa dia tahu Yana sudah makan hati dengan ucapan orang tuanya.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, keadaan Abah tidak seperti dulu lagi, setelah Yana menikah kesihatan Abah semakin menurun, dengan keadaan Abah seperti inilah yang membuat Mak Yana menghubungi anak laki-lakinya untuk pulang, agar bisa mengelola toko Abahnya.
Yana sedikit pun tidak pernah berkecil hati dengan sikap orang tuanya, Yana berpikir adiknya lebih layak mengelola toko Abahnya di banding kan Yana, dengan rezeki dari Munzir sudah cukup memenuhi kebutuhan Yana dan suaminya sehari hari, sedang kan anak-anak Yana di tanggung sepenuhnya oleh Abahnya, lagipula setiap bulan bang Faizal mengirimkan uang untuk anak-anaknya.
"Yana...kamu pergi ambil uang di kirim Ayah anak-anak sama adiknya, tapi ingat kamu jangan sentuh uang itu, kamu haram makan uang dari mantan suami kamu itu." bentak Mak Yana suatu hari pada Yana.
Dengan perut yang sudah membuncit Yana berusaha kuat untuk pergi ke rumah mantan adik iparnya untuk mengambil uang kiriman dari bang Faizal untuk anak-anaknya.
Iya... Yana sudah hamil enam bulan, selama itu juga Yana merasakan lain dengan Maknya, Mak Yana semakin hari semakin benci sama Yana, begitu juga Munzir, Munzir seolah-olah di anggap musuh oleh Mak Yana sendiri.
__ADS_1