
Belum apa-apa mata Yana sudah memerah menahan sebak, air mata mengalir deras di pipi nya, Yana mengenang kembali lika liku kehidupan nya bersama Faizal, setiap hari penuh kesedihan, tapi Yana tidak pernah mengeluh, itu semua demi anak-anak nya agar tidak kehilangan sosok figur seorang Ayah di masa kecil nya.
" Dulu setiap hari dia pulang Abah, tapi sejak dia berkerja di kampung nya dia ngak pulang lagi." jujur Yana pada Abah nya.
Hari berganjak sore, matahari semakin menenggelamkan sinar nya, rumah Yana yang gelap kini sudah terang terkena cahaya suluhan lampu yang sudah di hidup kan anak nya Azham, Yana masih di rundung kesedihan tidak mempedulikan keadaan sekeliling nya, apa lagi anak nya, apa sudah makan atau belum, yang Yana tahu duduk melamun sepanjang hari sambil menangis berjam-jam.
itulah aktivitas Yana sekarang.
di lain tempat....
Faizal masih seperti biasa, seperti tidak ada kejadian apa-apa, dia setiap hati duduk nongkrong di warung kopi di pojok ujung kampung, dari pagi sampai malam.
"Faizal ! kamu ngak pulang lagi ke rumah nya istri nya, kamu ngak mikir apa istri mu itu gimana, kamu kuat kan lah semangat istri mu itu!" tutut teman nya Faizal di warung kopi yang biasa di buat nongkrong.
warung kopi tersebut berada di ujung kampung, segala aktivitas di warung tersebut tidak mengganggu warga lain nya, apa lagi jika musim bola seluruh isi warung menjerit - jerit kesetanan, begitu juga dengan Faizal.
" biar lah, selama ini pun aku bertahan sama Yana sebab anak ku yang kecil, sekarang dia sudah ngak ada, tidak ada yang bisa aku pertahan kan lagi." ujar Faizal lagi pada teman nya.
Di warung yang tak berdinding tersebut memiliki fasilitas WiFi gratis, Faizal bisa duduk berjam-jam memainkan game nya di sana, kalau lapar dia akan pulang ke rumah saudara nya di kampung.
" Jika kamu tidak suka lagi pada ank orang lebih baik lepas kan saja Faizal, biar lah dia cari kebahagiaan dia sendiri." nasihat teman nya lagi pada Faizal.
Faizal yang sedang fokus ke arah alat gawai nya mendongak kan kepalanya ke arah teman nya tadi, dengan wajah yang marah, lantas Faizal bangun sambil menunjuk jari ke arah nya.
__ADS_1
" Apa urusan mu? apa kamu suka pada Yana ya?" bentak nya di dalam warung.
orang yang berada di dalam warung sontak terkejut dengan kelakuan Faizal, sudah seperti orang mabuk, tidak tahu arti tata karma sopan, temannya tadi cuma diam, dia tidak menyangka akan jadi seperti ini.
" aku cuma kasih tau aja, ngak tahu sampai kamu marah begini."ucap teman nya sambil tertunduk malu.
Dia malu pada warga yang ada di warung tersebut, Faiza yang sudah di salut emosi langsung keluar dari warung, kaki nya berjalan laju menuju ke arah jalan.
" sibuk aja urusan rumah tangga orang lain, urusin bini sana? dasar laki-laki mulut lemes." Faiza berkali - kali mengerak kan mulut nya.
Rumah Faizal yang berada di ujung kampung sebelah nya lagi mengambil masa yang lama untuk pulang, motor Faizal yang di parkir di depan rumah nya di biarkan saja, faizal meluru masuk ke dalam kamar nya, Faizal berencana akan pulang ke rumah Yana hari ini, Faizal ingin menyelesaikan masalah mereka berdua, Faizal ngak mau di anggap suami yang tidak bertanggung jawab, Faizal berpikir perbuatan nya selama ini sudah benar sebagai seoarang suami dan seorang Ayah, hanya saja faizal tidak menafkahi keluarga nya sebagai kepala rumah tangga lain nya.
" Aku akan bikin perhitungan sama kami hari ini Yana, jangan kamu anggap aku suami tidak bertanggung jawab." kesal Faizal sendiri sambil terus berjalan ke arah motor nya yang sudah siap membawa nya pergi ke rumah anak dan istrinya.
tok...tok....tok...
" assalamualaikum...?" Faizal mengetuk pintu rumah Yana berkali-kali.
Seluruh halaman rumah Faizal cek keberadaan anak dan istri nya, tidak ada yang terlihat, akibat kelelahan Faizal masuk ke rumah dengan kunci yang selalu ada pada nya. Dulu Faizal mengambil kunci rumah Yana satu agar mudah untuk Faizal membuka pintu rumah jika dia pulang tiba-tiba tapi Yana tidak ada di rumah.
klekkkk....
pintu rumah di buka Faizal secara pelan-pelan, terlihat di dalam rumah yang sepi, isi rumah sudah rapi tersusun di rumah, pintu rumah di buka satu persatu, di buka kamar nya bersama Yana, masih terlihat ayunan anak nya yang masih di gantung di loteng rumah, Yana masih belum bisa menerima kepergian anak nya.
__ADS_1
Kasur Yana yang tergeletak di lantai masih terlihat rapi, seperti tidak pernah tersentuh oleh manusia.
Selanjutnya Faizal beralih ke kamar anak nya, masih terlihat sama seperti kamar Yana, rapi tidak tersentuh.
" Kemana agak nya mereka ini pergi, kok semua nya ngak ada, kemana ya mereka pergi?" batin Faizal sendiri.
Faizal duduk di lantai ruang tamu, mata nya mendongak ke atas, mata Faizal berkelip-kelip sambil pandangan nya terus menatap ke atas.
kruk..kruk...kruk...
Faizal memegang perut nya yang sedang demo, di bawah tubuh lelah nya ke bahagian dapur, dapur yang sebelum ini terlihat kosong kini perlengkapan dapur sudah penuh tersusun rapi di atas meja dapur.
" kok ngak ada apa-apa sih di sini? berapa hari mereka tidak ada di rumah, kok kosong semua di sini, ngak pernah Yana pergi dari rumah seperti ini." ucap Faizal sendiri di rumah yang sudah tidak berpenghuni.
" Mbak...Mbak... lihat Yana ngak kemana?" tanya Faizal pada tetangga nya yang kebetulan lewat di depan rumah mereka.
Tetangga tadi yang bernama Maryati berada tidak berapa jauh dari rumah mereka, Faizal yang berdiri jauh dari jarak tetangga tersebut mendekat ke arah nya.
" Oh ngak lihat! kebetulan kakak tadi ngak ada di rumah, emangnya Yana ngak ada di rumah ya?" tanya Maryati lagi pada Faizal yang masih berdiri tidak jauh dari nya.
" Oh kakak ngak tahu ya! sudah lah kalau begitu, mau menunggu Yana pulang pun mungkin lama."ucap Faizal dengan nada sedikit kecewa.
Langkah Faizal bergerak ke arah motor nya yang di parkir di halaman rumah Yana yang di penuhi rumput, baru saja kaki nya menaik kn kaki nya ke atas motor tiba-tiba...
__ADS_1
" Ayah....