
" Kok ngomong gitu sih bang Faizal, emang nya kenapa?" tanya Yana kaget dengan sikap suami nya, Yana ngak nyangka Faizal bisa berubah seperti ini, Yana bertanya dalam hati sendiri, " Kenapa ya bang Faizal,kok bisa berubah gini sih?".
" Kamu masih ada di sana ngak ni? kamu masih bisa mendengar aku kan?" suara Faizal begitu tegas. Yana seakan-akan tidak kenal lagi dengan suami nya, sudah bertahun ngak bertemu dan ngak pernah memberi nafkah, ternyata Faizal lebih parah dari yang Yana sangka.
" Aku masih di sini, kamu kenapa gitu bang Faizal, kan kamu kirim uang untuk anak-anak, habis untuk aku mana? aku kan istri kamu lagi?" tanya Yana lebih jelas lagi pada suami nya, Yana masih belum mengerti maksud dari ucapan suami nya tersebut.
" Riza Yana kamu dengar baik-baik ya? kamu bukan lagi istri ku, kamu tidak ada hak lagi atas uang ku biar pun hanya seribu, uang yang ku kirim kan itu untuk anak-anak ku, kamu haram memakan nya, kamu mengerti." ucapan ketus Faizal sampai bisa di dengar oleh anak dan Tante Yana.
" Kamu ceraikan aku bang Faizal?" tanya Yana serius pada Faizal yang masih ada di layar hape nya.
" Iya! sekarang terserah kamu, mau lon***, mau menikah lagi atau mau apa terserah kamu." jelas Faizal lagi pada yana, tanpa mengucap salam Yana langsung mematikan hape nya, hati nya begitu sakit dengan ucapan Faizal, Yana bisa menerima jika Faizal tidak mau bersama Yana lagi, tapi jangan sampai di haram kan uang yang di kirim kan ke anak-anak nya, gimana Yana mau memasak makanan kesukaan anak-anak nya jika Yana sendiri ngak bisa menyentuh nya.
anak-anak Yana tidak menjawab sepatah kata pun lagi, cuma yang Yana bisa lihat kesedihan di mata anak-anak nya. anak-anak ngak tahu harus seperti apa, sebelah kanan Umi nya sebelah kira Ayah nya. anak-anak nya yang menjadi korban jika keadaan sudah seperti ini.
__ADS_1
Yana terdiam terpaku, ngak pernah terpikir kan oleh Yana begini akhir nya rumah tangga nya, Yana tidak pernah menuntut apa-apa dari Faizal tapi ini balasan nya pada Yana, anak-anak yang gembira langsung berubah sedih, Yana tidak terlalu sedih jika Faizal tidak pulang lagi, Yana memang sudah menerima status nya janda dari awal Faizal pergi dulu, yang Yana sesalkan adalah ucapan Faizal yang terlalu menyakitkan sampai masih terngiang-ngiang di telinga Yana.
" Ya sudah, malam ini ngak usah beli makanan ya? makan aja nasi Umi bawa pulang ni, makan nya di sini aja sama om Rifki dan nenek, Umi sudah makan tadi." ucap Yana pada anak-anak nya mereda kan suasana yang kurang enak tadi, anak-anak Yana mengikuti ucapan Umi nya, nasi yang Umi nya tenteng dalam kantong plastik tadi langsung di ambil kemudian di buka, ada tiga kotak nasi di dalam Azham pun bertanya pada Umi nya.
" Kok banyak amat Umi? ngak salah ngambil ni Umi?" ucap Azham kaget melihat isi kotak dalam plastik, ngak biasa nya Umi nya bawa sebanyak ini, kemarin-kemarin hanya satu bungkus, ayam nya saja yang banyak, kadang dua potong pernah juga tiga potong.
" Umi ngak salah ambil kok, di makan aja, sudah rezeki Nenek dan om Rifki mungkin!" sahut Yana dengan wajah tersenyum, di hati Yana yang tuhan yang tahu, hati nya sakit banget, pingin kali Yana berteriak sekencang mungkin untuk menyembuhkan luka di hati nya.
Kotak nasi di buka satu persatu, Azham bertambah kaget, ternyata dalam kotak nasi tersebut setiap kotak nya berisi dua potong ayam, ada tiga kotak jadi jumlah nya ada enam potong ayam, sebenarnya Yana ngak tahu jumlah ayam tersebut, itu pasti kerjaan mas Bambang.
" Hafiz makan satu potong aja dulu, kalau mau lagi, ambil aja Nenek punya, nenek ngak mau, yang lain Hafiz simpan buat makan besok pagi ya nak?" ucap Tante Yana lagi, sebenarnya bukan nya Tante ngak mau makan ayam, cuma Tante kasihan sama Yana, besok pagi pasti Yana pusing memikir kan lauk untuk anak-anak nya.
" Makan aja Tante, aku masih punya lauk lagi di dalam bagasi motor, tadi mas Bambang masuk ayam gulai, bisa aku panas kan untuk besok, makan aja ayam ini, itung-itung buat makan kita yang ngak jadi tadi
__ADS_1
Tante Yana tersenyum menanggapi ucapan ponakan nya, Tante juga pasti tahu hati Yana bagaimana, pasti Yana hancur berkeping-keping mendengar ucapan suami nya tadi, tapi semua yang ada di rumah seolah-olah tidak mendengar ucapan Faizal tadi, menganggap nya seperti angin berlalu.
Selesai acara makan-makan Yana pamit izin pulang ke rumah nya, anak-anak Yana sudah mengantuk dari tadi, besok anak-anak akan ke sekolah, Azham pergi ke sekolah dengan sepeda sedang Hafiz hantar jemput oleh Yana, pagi di hantar sambil Yana berangkat kerja, pulang nanti Yana izin sebentar menjemput anak nya, mas Bambang tidak masalah asal Yana bertanggung jawab pada pekerjaan nya.
" Umi! kok bisa-bisanya Ayah ngomog gitu ya? habis nya uang ini aku apa kan Umi? Umi kan ngak bisa sentuh uang nya." ucap Azham pada Yana, Yana saja bingung mau di apakan uang nya, mau di ambil bang Faizal sudah mengingat kan jangan sentuh uang nya.
" Umi pun ngak tahu nak...
" Atau gini aja! aku pulang kan aja uang nya ya Umi?" sahut Azham lagi pada Umi nya di rumah.
" Jangan Azham! ngak baik menolak rezeki dari orang tua." ujar Yana pada anak nya, walaupun Faizal sudah bersikap buruk pada Yana, Yana tetap akan meminta anak-anak nya menghormati dan menghargai Ayah mereka.
" Jadi gimana donk Umi?" tanya Azham dengan polos nya.
__ADS_1
" Oh, gini aja, besok Umi bawa kalian semua ke pasar, nanti kalian beli apa yang kalian butuh kan, kayak buku, alat tulis atau lain-lain, gimana setuju?" ucap Yana serius, Yana tidak mau anak-anak nya tidak menghargai pemberian orang tua nya.
" Oke, aku setuju Umi, kebetulan keperluan aku banyak, aku juga mau beli minyak rambut sudah habis, mau kasih tau Umi kemarin tapi aku lupa, sekalian aja beli besok, uang Umi bisa di simpan kan?" oceh Azham panjang lebar, Yana cuma bisa ketawa dengan pemikiran anak nya biarpun masih menduduki kelas satu SMP anak nya sudah dewasa sebelum waktu nya.