Perjalanan Berduri

Perjalanan Berduri
faizal ngojek


__ADS_3

yana masih belum menyanggupi permintaan pelanggannya, yana ngak percaya bisa bikin kue ulang tahun, brownis anak-anak aja ada saja yang salah, apalagi kue ulang tahun, pasti berat banget tangung jawab nya.


" kakak bikin aja apa yang kakak pikir enak, mohon terima pesanan nya kak, aku akan menerima apapun bentuk yang kakak buat." pelanggan tadi masih juga memaksa yana menerima pesanan.


yana jadi nggak enak, di terima takut salah, ngak di terima sepeti menolak rezeki, yana masih diam memikirkan apa yang akab di lakukan.


" umi terima aja, umi pasti bisa kok!" jawab azham yang keluar dari rumah.


azham sebenarnya mau membantu uminya menutup kios, azham terdengar obrolan umi dan pelanggan tadi, azham ikut menjawab keputusan yang harus umi nya ambil.


" iya, benar tu, seharusnya umi mu terima pesanan kakak, kan sama untung, kakak dapat kue nya, umi kamu dapat upahnya!" timpal pelanggan tadi bernama asni.


yana pun akhirnya menyetujui pesanan kue tadi tapi dengan syarat, enak ngak enak, atau cantik ngak cantik jangan komplain, yana akan berasa malu jika kue nya ngak enak.


*****


faizal sudah keluar dari pagi, entah kenapa sejak akhir-akhir ini dia menjadi malas, sikapnya yang dulu mau dia buang jauh-jauh kini datang lagi bertamu di tubuhnya, faizal seperti seorang yang tidak tau tanggung jawab pada anak dan istri, faizal tidur dari pagi ke pagi nya lagi, kalau berasa lapar dia akan bangun sebentar untuk makan, setelah itu dia akan tidur lagi, begitu sikapnya sejak kebelakangan ini, sikapnya berubah total, faizal pulang kepada keluarganya bukan meringankan beban tapi malah memberatkan beban yang di pikul yana lagi.


" hai, pagi-pagi sudah ngopi, ngak ngojek kamu?" teman faizal ikut aneh melihat gelagat faizal saban hari.


makin hari makin aneh, yang di pikirkan cuma untungnya saja, nasib anak dan istri nya faizal langsung ngak mau tahu.


" sudah ramai yang ngojek sekarang, jadi jatah ku berkurang donk, itu yang aku malas!" tutur faizal dengan tenang.


warung kopi memang sentiasa ramai pengunjung nya jika pagi hari, kadangkala orang ngak sarapan di rumah, lebih memilih sarapan di warung, sambil mangkal ojek, sebagai seorang ayah dan suami pasti bersemangat mencari rezeki kecuali faizal yang memang dari dasarnya orang yang pemalas.

__ADS_1


kue-kue tersusun rapi di meja warung kopi yang di datangi faizal, masing-masing ngobrol tentang dapur sendiri, faizal cuma diam mendengarkan ocehan teman-teman nya, faizal ngak tahu betapa susah nya mencari rezeki sehari-hari, tanggung jawab menafkahi keluarga semua di letakkan atas pundaknya yana.


" faizal kamu diam aja, kebutuhan keluarga kamu selalu cukup ya?" teman-teman faizal aneh melihat faizal cuma tersenyum menanggapi keluhan teman sama-sama ngojek.


" iya cukup lah, kalau ngak cukup aku pasti seperti kalian, mengeluh, iya kan?" sahut faizal santai sesantai di pantai.


mereka yang ada di warung berpandangan sesama sendiri, mereka juga merasa heran, bagaimana bisa faizal bilang cukup padahal mereka ngak cukup, perkerjaan mereka sama-sama ngojek.


"ngojek..?" pelanggan yang pertama datang.


Meraka di sini ngak rebutan, masing-masing sudah tau aturannya.


srulpp...


faizal menghirup kopi yang masih panas, hawa enaknya bisa di dengar teman yang duduk berdekatan dengannya.


" hai...faizal! kamu di sini?" seseorang menepuk bahu faizal dari arah belakang badannya.


ternyata teman sekampung faizal melewati tempat faizal mangkal ngojek, teman tadi yang penasaran dengan faizal oun turun dari motor nya, lalu menegur faizal yang lagi santai menghirup kopi panas.


" eh.. kamu ramli, dari mana kamu tahu aku di sini?" tanya faizal kaget.


Ramli duduk dekat dengan faizal, ramli ngak nyangka akan bertemu faizal di sini, sudah lama faizal ngak pulang ke kampung halamannya, bahkan sampai berbulan-bulan, orang tua faizal sudah lama meninggal, adik dan abang-abang nya sudah pindah ke rumah istri atau suami masing-masing.


" kamu apa Khabar faizal? kerja apa sekarang?" tanya Ramli basa basi.

__ADS_1


" bos! kopi panas yang mantap satu ya?" teriak ramli memesan kopi dari jarak jauh.


"ok siap!" sahut bos warung kopi sambil menunjukan jempolnya ke arah Ramli.


" kok kamu belum jawab pertanyaan ku tadi?" ramli merasa aneh dengan faizal sekarang.


faizal melamun ngak tahu sudah sampai kemana, pertanyaan yang di layangkan teman sekampung nya ngak di jawab, suara temannya di anggap seperti angin lalu, masuk sebelah kanan keluar sebelah kiri.


" eh faizal! kegiatan kamu apa sih sekarang?" pertanyaan memang berbeda tapi mempunyai maksud yang sama.


" di sini lah, mangkal ojek!" sahut faizal datar.


mereka diam seketika, pesanan kopi yang ramli pesan sudah datang, dari aroma kopinya aja sudah nikmat, apa lagi meminumnya, bos punya warung meletakkan kopi tadi pas di depan ramli, ramli mengangkat gelas kopi dan menghirup nya pelan-pelan.


" cukup ngak pendapat nya sehari-hari jika mangkal di sini!" ramli terus aja mengajak faizal bicara.


Ramli kasihan dengan anak-anak dan istri faizal, ramli tahu dari orang-orang bahwa istrinya faizal bikin kue untuk di titip kab di sekolah anaknya, untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. rencananya Ramli akan mengajak Faizal berkerja di kampung mereka.


" ngak cukup pun di cukupkan aja ramli, ngk ada kerjaan lain!" faizal sengaja membuat cerita sedih.


yang sebenarnya faizal ngak pernah kasih uang belanja untuk istrinya sejak beberapa bulan ini, istri faizal tidak pernah meminta apa darinya, jika di kasih di ambil, berapa pun jumlahnya yana tidak pernah mengeluh. yana pernah di kasih uang belanja sepuluh ribu, yana ambil tanpa mengeluh, bagi yana berapa pun yang di kasih asal berkah pasti cukup.


" begini faizal, di kampung kita ada proyek besar, bikin jalan menebus ke kota, kebetulan kampung kuta di rombak semua, yang kerja di proyek tersebut orang kampung kita semua, semua ada jatahnya masing, dalam seminggu kita bekerja dua hari, jadi kamu bisa ambil jatah abang mu juga, dia kan ada di kampung sekarang!" jelas ramli lagi lebih terperinci.


faizal tertarik dengan pekerjaan tersebut, Faizal pun setuju akan pulang ke kampung besok untuk mendaftarkan namanya di proyek tersebut.

__ADS_1


" ok, aku mau, besok aku pulang ke sana ya, kita bahas lagi besok!" jawab faizal dengan wajah tersenyum manis menatap temannya tersebut.


Ramli pun pamit izin pulang, setelag kepergian ramli, faizal ngak mangkal lagi menunggu pelanggan nya, dia langsung pulang membritahu kan pada yana rencananya yang akan di kerjakan besok.


__ADS_2