
Yana masih memikirkan alasan apa yang harus di beritahukan pada Mas Bambang nanti kalau dia mau berhenti kerja di warung nya, Yana sudah biasa kerja di warung mas Bambang, mas Bambang seorang bos yang baik dan perhatian, istri nya aja yang kurang sopan, terlalu angkuh sebagai bos.
"Entah lah Abah....aku pikirkan dulu ya Abah, aku juga ngak tahu mau kasih alasan apa untuk berhenti kerja di sana, jika dipikir-pikir kasihan juga sama Mas Bambang yang harus bekerja tanpa ada yang membantunya" jelas Yana pada Abah nya.
"Kasihan kan dirimu dulu, baru kasihan kan sama orang lain, emangnya sampai kapan kamu mau berkeja sama si Bambang itu, apa lagi mengingat istrinya, dengar kamu cerita aja pingin Abah penyet-penyet itu si Eninya." kemarahan Abah terlihat pada Eni, Abah sering mendengar dari cerita istrinya Mak Yana, Mak Yana dia sendiri yang menceritakan pada Maknya.
Dengan mengendarai motor nya Yana berangkat ke tempat kerja, anak-anak Yana sudah duluan hantar sama Abah pergi ke sekolah, di warung pekerjaan Yana seperti biasa dari mulai menyapu seluruh ruang di dalam warung dengan bersih berlanjut lagi menyusun piring dan perkakas jualan sampai lah membersih kan ayam dan juga merapikan rak jualan, semuanya Yana kerjakan sendiri.
Di siang hari yang begitu terik Yana duduk di bangku depan sambil makan siang, lauk siang Yana sepotong ayam penyet dan juga sayur pelengkap nasi, tidak lupa Yana selalu bikin teh hangat untuk minumnya, Yana yang duduk menghadap ke jalan, bisa melihat dengan jelas setiap kendaraan yang lewat melintas di depannya, Eni istrinya mas Bambang juga kebetulan duduk makan siang di bangku barisan belakang Yana, sama-sama menghadap ke jalan, Eni juga makan siang bersama anak nya, tanpa disengaja Eni menjatuhkan segelas tisu yang ada di atas setiap meja, tisu yang sudah dilipat dan di susun dalam gelas oleh Yana tanpa sengaja tersentuh siku tangan Eni, Yana sempat melirik ke arah Eni dibelakang di mana tisu sudah berselerakan di lantai, Eni malah seperti tidak terjadi apa-apa, dia masih santai tanpa menoleh ke arah tisu yang berselerakan di lantai.
"Eh Mpok Neng kenapa tisu nya bisa tumpah semua ni? kenapa ngak di kutip dulu Mpok Neng." tegur mas Bambang ketika lewat di depan Yana dan Eni.
Eni masih bersikap cuek sambil menyuap anaknya makan, Yana juga lagi makan siang bersama Eni di bangku yang terpisah.
"Bukan aku buat Mas, itu Eni yang buat." sahut Yana membela diri nya sendiri, Yana tidak terima di salah kan, sebab memang bukan Yana yang bikin tisu jatuh.
__ADS_1
"Terserah siapa yang buat, Mpok Neng kan kerja di sini, jadi Mpok Neng seharusnya kutip tisu tu" sakit hati Yana mendengar mas Bambang membela istri nya, seharusnya sebagai bos dan majikan yang baik tidak seharusnya mas Bambang merendah kan Yana seperti itu.
"Aku pikir Eni yang bikin, jadi dia sendiri yang beresin Mas" sahut Yana lagi, nasi yang masih sisa di dalam piring nya langsung di letak kan ke samping, ngak nafsu lagi untuk makan.
"Anggap aja itu bukan Eni yang bikin, anggap aja itu anak ku yang bikin, jadi Mpok Neng harus kutip dulu tisu yang ada di lantai." ucapan mas Bambang membuat Yana sedih, air mata Yana sudah jatuh, tapi bukan ke pipinya melain kan ke dalam hati nya, segitu rendah menjadi babu orang.
Dengan sigap Yana mengutip tisu yang berselerakan di lantai, Yana bisa melihat Eni sesekali melirik tersenyum ke arah Yana, Yana tahu sebagai karyawan harus patuh pada perintah bos, tapi bukan menjadi babu untuk istri dan anak nya, sebelum ini sudah banyak kali Yana di perlakukan kurang adab, pernah Eni makan nasi di atas meja, nasi yang dia makan tumpah berselerakan, dengan santai Eni pergi berlalu begitu saja meninggalkan piring kotor di atas meja.
"Mpok Neng aku pergi keluar dulu ya?" seperti biasa mas Bambang setiap sore akan jalan bersama anak dan istrinya, warung yang padat pelanggan Yana sendirian mengurusnya.
"Mas Bambang kebiasaan, kalau aku ngomong selalu aja hilang." guman Yana sendiri sambil tangan nya terus menggores ayam di kuali.
Sore berlalu begitu cepat, pelanggan yang antri sore tadi kini sudah hilang, magrib akan datang sebentar lagi, mas Bambang belum muncul lagi sampai sekarang, padahal Yana sudah memberitahu pada mas Bambang jangan lambat pulang.
Di rumah..
__ADS_1
"Yana sudah pulang Mak...kok lambat kali pulangnya hari ini?" tanya Abah pas melirik jam di dinding sudah mendekati waktu magrib, biasa nya Yana akan pulang dulu sebentar untuk mandi dan menunaikan sholat magrib.
"Belum pulang lagi Abah...mungkin sebentar lagi dia pulang." sahut Mak Yana sekadar mengambil hati seorang Abah yang kuatir dengan keadaan anaknya.
"Abah sudah suruh Yana berhenti aja kerja di warung Bambang itu, tapi Yana tetap keras kepala." ucap Abah pada istrinya, Abah kasihan dengan nasib Yana dari mulai menikah dengan Faizal sampai sekarang hidup Yana selalu menderita.
"Mana bisa berhenti kerja begitu saja Abah...pasti ada alasannya donk." sambung Mak yang duduk santai di teras rumah, waktu sore hari depan rumahnya Yana ramai yang orang yang lewat menuju ke pasar, satu kecamatan yang mempunyai beberapa kampung harus melewati jalan di depan rumah Yana untuk menuju ke pusat kota.
"Yana tu memang seorang yang keras kepala...di cerai kan aja sama si Faizal masih bisa dia tenang-tenang aja." ocehan Abah Yana makin menjadi-jadi.
"Abah nya mau bagaimana? mau Yana menjerit-jerit, memohon sama Faizal jangan cerai kan dia begitu." Abah dan Mak Yana jadi bertengkar hebat sebab mempertahan kan egonya masing-masing.
Tiba-tiba terdengar suara azan magrib berkumandang di mana-mana sambung menyambung bersahutan di antara satu kampung ke kampung lainya, Mak dan Abah Yana oun diam seketika mendengar suara azan yang sudah sampai ke musalla kampungnya, Abah Yana gegas bangun mempersiapkan di pergi ke musalla untuk sholat jamaah bersama warga lainnya di mushalla tidak jauh dari rumahnya.
Allah hu Akbar allah hu Akbar....
__ADS_1
"Sudah-sudah, masuk...sudah sholat magrib ni, mau bertengkar besok kita sambung lagi." sindir Mak Yana sambil bangkit dari duduknya bersama dengan suaminya tadi.