
Yana semakin menjaga jarak dengan kekasihnya Badaruddin, Yana tidak mau kecewa suatu hari nanti apa lagi dengan penolakan dari orang tua Badaruddin sendiri.
Badaruddin yang tahu dengan perubahan Yana berusaha untuk membuat situasi mereka seperti biasa, Badaruddin tetap mengirim pesan pada Yana walaupun lambat di balas, tidak seperti sebelumnya pesan Badaruddin itulah yang Yana tunggu setiap hari.
"Assalamualaikum Yana?" sapa Badaruddin lewat pesan di aplikasi biru. Di mana mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk membalas pesan masing-masing.
Hari ini tidak lagi, pesan Badaruddin tidak langsung di balas, malahan akun aplikasi biru milik Yana tidak aktif.
Setelah menunggu beberapa menit tidak ada juga jawaban, akhirnya Badaruddin berhenti berharap dan kembali melakukan aktivitas pekerjaannya seperti biasa.
Yana yang sudah tahu setiap jam istirahat akan mengirim pesan, hal ini tentu membuat Yana sedih, Yana sengaja menutup aplikasi birunya untuk mengelak dari berhubungan dengan Badaruddin.
Kira-kira Badaruddin sudah bekerja semula Yana mengaktifkan kembali aplikasi birunya, benar saja Badaruddin mengirimkannya pesan, tapi Yana tidak berniat untuk membalasnya.
Malam hari Yana menutup kios Abahnya yang sudah menjadi tanggung jawab Yana, dengan di bantu Azham anaknya, pekerjaan Yana terasa cepat dan mudah untuk di tutup.
"Umi...apa besok kita perlu belanja, barang kita banyak yang habis?" tanya Azham yang sudah melihat banyak stok barang mereka sudah habis.
"Iya Azham, besok aja Umi tulis barangnya, sekarang Umi sudah terlalu lelah, lagipula sudah terlalu lewat ni, lebih baik kita pulang saja." sahut Yana sambil membersihkan kiosnya sampai bersih.
Jarak antara rumah dan toko tidak terlalu jauh, mereka bisa berjalan kaki jika pulang ke rumah Abahnya, sekarang Abah Yana sering sakit-sakitan akibat pengaruh umur yang sudah tidka muda lagi.
Begitu sampai di rumah alat pintar Yana yang berada dalam tasnya langsung berdering hebat, seperti tahu aja Yana sudah sampai ke rumah.
Yana meraih alat pintar tersebut, ternyata pemanggilnya bertulis 'Abang Bada' Yana tidak mempunyai cara lain selain harus menjawab panggilan tersebut.
Yana menggeser tombol hijau ke atas layar.
'Assalamualaikum Abang?' jawab Yana begitu panggilan terhubung secara langsung.
__ADS_1
'Waalaikum salam Yana.' sahut Badaruddin yang tersenyum begitu panggilannya di angkat.
'Kamu kenapa sih ngak balas pesan Abang tadi?' Badaruddin terus saja menghujam pertanyaan pada Yana yang masih kelelahan sepulang dari tokonya.
Yana terus mencari alasan agar Badaruddin tidak merasa sakit hati dengan jawaban yang akan Yana berikan.
'Tadi banyak pekerjaan Abang, barang di toko banyak yang habis makanya ngak sempat balas pesan dari Abang tadi.' Yana sengaja mengambil alasan yang anaknya katakan tadi.
'Tapi setalah Abang masuk kerja kembali kamu aktif kan?' tanya Badaruddin lagi.
'Iya.' sahut Yana singkat. 'Kan kamu bisa balas pesan Abang tadi.' sahut Badaruddin dengan wajah yang sudah berubah jadi sedih, Yana tidak bisa melihat wajah Badaruddin tapi Yana tahu kekasihnya tersebut sudah sedih dengan mendengarkan suaranya.
'Aku berpikir tadi ngak guna juga aku balas, kan Abangnya sudah masuk kerja, sudah jangan di bahas lagi ya, sekarang kan kita lagi bicara ini, kan sudah lebih dari cukup.' Yana sengaja membuat Badaruddin jangan berkecil hati dengan sikapnya dinginnya kini.
Yana akan membuat Badaruddin menjauhkan diri darinya sedikit demi sedikit, Yana tidak mau Badaruddin menjadi anak yang durhaka, sebelumnya Yana tahu Badaruddin adalah seorang anak yang sangat patuh pada perintah orang tuanya.
'Iya Abang.' sahut Yana datar.
Dalam hati Yana sudah bisa di simpulkan bahwa Yana tidak mau lagi melanjutkan lagi hubungan mereka, Yana akan mencari jalan hidupnya sendiri untuk hidupnya, baginya Badaruddin akan menjadi kenangan yang pernah hadir dalam hidupnya.
Talian telpon pun terputus, Yana larut dengan pikirannya sendiri sementara Badaruddin terus mencari jalan agar orang tuanya bisa menerima Yana sebagai menantunya, yang jelas Badaruddin tidak pulang ke kampung seperti yang sudah mereka rencanakan sebelumnya.
Menjelang pagi Yana mulai bersiap menuju ke warung Abah, sebelum berangkat ke toko Yana akan menyiapkan anak-anaknya duluan, mereka akab bersekolah, sebelumnya Abah Yana yang hantar, sejak kesehatan Abah menurun Yana mengambil alih menghantar kan anaknya sendiri ke sekolah.
Pas sampai di pintu toko tiba-tiba alat pintar Yana berbunyi, menandakan ada pesan yang masuk di alat pintarnya tersebut.
Yana cuma melirik sekilas, ada pesan dari seseorang yang Yana tidak kenal, tapi Yana mengabaikan terlebih dahulu, rencananya Yana akan membalas setelah tokonya du buka.
'Apa saya kenal dengan anda?' balas Yana pada pesan yang masuk.
__ADS_1
Pesan itu sudah Yana baca dengan tulisan yang singkat.
'Hai!' hanya itu yang Yana baca.
Tanpa menunggu lama pesan tersebut langsung di balas lagi oleh si pengirim.
'Kamu tidak kenal dengan saya, tapi saya sangat mengenal siapa anda dan di mana anda berada sekarang ini.' balasnya lagi.
'Jika bisa tahu, kamu kenal saya dari mana ya?' balas Yana
'Itu rahasia saya, akan tetap menjadi rahasia saya.' balas si pengirim itu lagi yang Yana pikir adalah seorang laki-laki.
Selanjutnya Yana tidak lagi merespon laki-laki yang merahasiakan identitasnya tersebut, Yana menghapus pesan tadi.
Hubungan Yana dengan Badaruddin semakin hari semakin hambar, tidak ada tanda-tanda Badaruddin akan mendapatkan restu dari orang tuanya, itu Yana simpulkan dengan sikap Badaruddin yang sudah cuek dengan hubungan mereka.
Badaruddin hanya meminta pada Yana agar lebih bersabar lagi menunggu restu dari orang tuanya, dan Badaruddin berjanji akan menepati janjinya pada Yana, yaitu Badaruddin akan tetap menikah dengan Yana walau apapun yang terjadi.
Lain lagi dengan komunikasi Yana dengan si pengirim pesan yang sudah ketahui bernama Munzir, Munzir adalah teman dekat Badaruddin sendiri, mereka tidur sekamar bahkan kadang kala sebantal, Badaruddin tidak tahu antara sahabat dan kekasihnya terjalin sebuah komunikasi yang baik antara keduanya.
'Jadi kamu seorang janda ya Yana?' tanya Munzir pada Yana.
Mereka setiap hari melakukan komunikasi melalui pesan, Munzir tidak pernah menelpon Yana begitu juga sebaliknya, meraka hanya sebatas mengirimkan pesan.
'Iya...aku janda anak dua, anak-anak ku keduanya laki-laki.' lanjut Yana lagi pada pesannya.
'Apa sebab itu orang tua Badaruddin tidak merestui hubungan kalian?' Yana melongo melihat pesan yang Munzir kirimkan.
"Ternyata sudah ramai yang tahu orang tua Abang Badaruddin tidak suka pada ku" batin Yana sendiri.
__ADS_1