
Di kamar Munzir sudah menunggu istrinya sejak tadi, biarpun Yana seorang janda, tapi itu tidak membuat Munzir menjadi seorang yang biasa-biasa saja, Munzir tetap merasa deg-degan dengan malam pertamanya.
Pintu kamar di ketuk berulang kali oleh Yana, Munzir yang masih melamun kaget dengan suara pintu yang sudah terbuka, terpampang jelas Yana berada di depannya.
"Kenapa melamun Abang?" tanya Yana begitu masuk ke dalam kamar pengantinnya.
Seprei yang di pakaikan waktu pesta sudah Yana ganti dengan seprei nya sendiri, seprei berwarna merah menyala menjadi favoritnya kali ini.
"Ngak kok, cuma Abang agak mengantuk tadi, sekarang sudah ngak lagi...
...Apa perkerjaan mu di dapur sudah beres Dek?" tanya Munzir begitu Yana duduk di ranjang nya.
"Sudah... orang-orang pun sudah pada pulang semua." ucap Yana datar.
Sebenarnya hati Yana merasa deg-degan dengan suasana malam ini, ini pertama kalinya Yana akan sekamar dengan orang yabg di dicintainya.
Yana terus merebah kan dirinya di atas ranjang mereka, Munzir yang masih menatap ke arah istrinya begitu terpesona dengan kecantikan janda anak dua tersebut.
Mata Yana terpejam seketika, tiba-tiba mulut Yana langsung dibekap oleh mulut Munzir, lidah Yana langsung di lahap habis, Yana sampai kehabisan nafas melayani kerenah suaminya tersebut.
Tangan Munzir terus bergerak ngak beraturan ke dalam baju yang masih menempel di badannya, Yana sampai tidak bisa berkata apa-apa menahan kenikmatan yang di dapatkan dari suaminya.
******* Yana makin di tahan di kerongkongan nya, dia tidak mau sampai suara Yana terdengar sampai ke luar kamar, Munzir terus bergerak-gerak ke bahagian tubuh Yana yang di bawah, Yana belum pernah mendapat kenikmatan surga duniawi sebelum ini.
__ADS_1
"Apa Abang tidak menyesal menikah dengan ku?" tanya Yana di sela-sela pergumulan di antara mereka.
"Menyesal kenapa emangnya?
"Abang takkan pernah mendapat kan rasanya perawan." lirih Yana lagi pada suaminya.
"Satu malam aja dapat merasakan perawan, besok-besok kan sudah seperti yang lainya...
...untuk Abang perawan atau tidak sama aja, asal nama perempuan rasa saat masuk sama aja Dek." ucap Munzir yang terus bermain di gunung kembar Yana.
Sekali hentak Yana menjerit kecil, sempat Munzir menutup mulut Yana, akibat kerasnya hentakan membuat Yana tidak bisa mengontrol suaranya.
Pergulatan panas antara mereka terus berlanjut sampai berkali-kali, ternyata Munzir mempunyai tenaga ekstra, tidak cukup satu kali, bahkan sampai berkali-kali, sehingga Yana tidak bisa tidur malam itu.
________
"Abang...hari ini izin ke tempat teman sebentar ya?" pamit Yana pada suaminya.
Munzir yang mempunyai usaha dosmer sendiri membuatnya selalu tidak ada di rumah, itu yang membuat Yana selalu bosan di tinggal sendiri setiap hari.
"Pergi aja, tapi jangan pulang kemalaman ya?" peringatan Munzir pada istrinya sebelum dia berangkat ke tempat kerjanya.
Sesaat Munzir pergi, Yana pun ikut pergi ke rumah temannya bernama Nabila, di rumah Nabila, Yana ngobrol banyak, sejak menikah Yana sudah tidak bisa bertemu dengan Nabila seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Mau minum Yana." tanya Nabila ketika Yana ke rumahnya.
"Boleh." sahut Yana, "Mau minum apa Yana?" tanya Nabila lagi sambil membuka kulkasnya.
"Apa saja yang penting dingin." balas Yana lagi sambil terus bermain alat pintar yang berada di tangannya.
Lalu Nabila mengambil dua botol air dingin yang berwarna hitam, mata Yana langsung terpana melihat botol yang di bawakan Nabila ke hadapannya.
"Sudah lama aku tidak minum air ini beb." ucap Yana kegirangan melihat air yang sudah berpindah pemilik ke tangan Yana.
Dengan rakus Yana terus meneguk air tersebut sampai tuntas, sejak menikah Yana sudah tidak bisa ikutan nongkrong dengan Nabila lagi, inilah masanya Yana membalas kan semua itu.
Mereka larut dalam obrolan satu topik ke topik lainnya, banyak yang di bincang kan oleh mereka, sehingga tidak terasa waktu sudah berganjak sore, Yana meminta izin pada Nabila untuk pulang.
"Hei sudah telat ni, aku pulang dulu ya, besok-besok ada waktu luang kita bisa ketemu lagi." ucap Yana sambil terus bangkit dari duduknya.
Nabila seakan berat melepaskan kepulangan sahabatnya Yana, tapi Nabila sadar, Yana sekarang sudah berstatus istri orang, bukan seperti dulu lagi.
"Hati-hati di jalan ya Yana? kalau sudah sampai ke rumah jangan lupa telpon aku." ujar Nabila melepaskan kepulangan sahabatnya tersebut.
Di atas jok motor yang di kendarai Yana, dia terus-menerus senyum sendiri, rindunya pada sahabatnya kini terbayarkan dengan lunas, Yana mengendarai motor nya dengan kecepatan sedikit kencang, dia tidak mau ketika Munzir pulang dirinya belum sampai ke rumah.
"Baru pulang Yana?" sapa Mak nya begitu Yana masuk ke rumah.
__ADS_1
"Iya Mak." sahut Yana singkat.
Sejak Yana menikah toko yang sebelumnya yang Yana kelola sudah di ambil kembali oleh Abah nya, Mak Yana berpikir Munzir menikahi Yana hanya semata-mata karena Yana mempunyai tokonya sendiri, makanya Mak Yana bersikeras memaksa Abahnya mengambil kembali tokonya dari tangan Yana.