
Sore harinya setelah Yana menutup tokonya dia segera pulang ke rumah, rencana Yana hari ini, sepulang dari toko Yana akan mengirim pesan pada penelpon yang menelponnya tadi malam, rasa penasaran nya terhadap penelpon tadi malam terasa begitu berat.
"Assalamualaikum Mak?" ucap salam Yana sambil terus berlalu masuk ke dalam rumahnya.
"Waalaikum salam...kamu sudah pulang Yana." sahut Mak Yana yang berada di ruang tengah sedang menonton sinetron kegemarannya.
"Iya Mak, aku masuk ke dalam dulu ya Mak." sahut Yana lagi sambil terus berjalan menuju ke arah pintu kamarnya.
Begitu sampai di rumah Yana langsung saja menuju ke kamar mandi, badan Yana terlalu gerah dengan cuaca yang begitu panas dari pagi sampai sore harinya, aroma tubuh Yana begitu kuat sehingga Yana sendiri terasa ingin muntah ketika menciumi area ketiaknya yang basah.
"Uwek...kok bau banget sih ini ketiak? padahal aku sudah kasih deodorant tadi pagi, masih juga bau." ucap Yana sendiri pas mencium ketiaknya.
Guyuran demi guyuran air membasahi tubuh Yana, bau yang menyengat di kulit tadi berubah menjadi bau harum yang keluar dari sabun yang Yana gunakan. Tubuh Yana kembali segar setelah aktivitas mandi Yana selasai.
Rumah yang semula riuh dengan suara anak-anak Yana kini sudah berubah menjadi sepi, anak-anak Yana sudah berangkat pergi ke tempat mengaji, mereka akan pulang sesudah sholat insya nanti.
"Gimana jualannya hari ini Yana...apa jualannya lancar?" Mak Yana membuka obrolan setelah Yana ikut gabung duduk bersama Maknya di ruang tengah.
"Alhamdulillah...pagi tadi ramai sekali Ibu-Ibu yang belanja, makanya aku selalu usahakan buka toko pas waktu anak-anak masuk sekolah Mak, Ibu-ibu akan datang berbelanja sekalian menghantar anaknya sekolah." ucap Yana lagi sambil matanya terus menatap ke layar tifi yang berada di depan matanya.
Acara di layar tifi tidak sedikit pun membuat Yana betah berada di ruangan tersebut, pikirannya masih tertuju pada di penelpon tadi malam yang terus menganggu pikirannya.
"Mak...aku izin masuk dulu ke kamar ya, badan aku sedikit lelah hari ini." alasan Yana agar bisa pergi dari ruangan tersebut.
__ADS_1
Mak Yana sempat menoleh ke arah anaknya yang bangkit dari duduknya, pandangan matanya terus tidak berkedip dari melihat anaknya sampai lah anaknya sampai ke pintu kamar, barulah mata Mak Yana beralih lagi menatap tifi.
Yana tidak berhenti dari terus menatap ke layar alat pintarnya, dia masih berharap orang yang menelponnya tadi malam akan kembali menghubunginya.
Di masa yang sama Munzir terus menatap ke layar alat pintarnya, dia jadi serba salah mau menghubungi Yana lagi atau mengurungkan saja niatnya.
Alat pintar yang berada di tangannya segera di gesekan layarnya ke atas, terpampang wallpaper yang selama ini menemani hari-harinya, foto Yana yang sengaja di ambil dari akun milik Yana dari aplikasi berwarna biru masih setia menjadi penyemangat selama ini.
"Aku kirim pesan aja dulu." ucap Munzir sendiri yang langsung memainkan jemarinya mengetik kata demi kata untuk di kirim ke Yana.
[Ngapain aja? ] itu tulisan kata yang sudah di kirim ke Yana.
Tings....
[ Lagi santai-santai aja. ]
[ Aku ngak ganggu kan? ] balas Munzir lagi.
[ Ngak lah, lagi kosong ngak ada kegiatan apa-apa ini ]
[ Gimana kabarnya sekarang...apa baik-baik saja? ] tanya Munzir lagi.
[ Alhamdulillah, masih baik-baik aja kok ] balas Yana sambil menampilkan emoji senyum di ujung pesannya.
__ADS_1
[ Cicici...sudah ada yang bisa move one ni.] tulis Munzir lagi dengan emoji ketawa.
Balasan pesan terus saja mereka kirim, hingga tidak terasa malam pun semakin larut, Yana semakin menjauh dari bayang-bayang wajah Badaruddin yang selalu bermain di kepalanya.
Sikap yang Yana ambil sudah pasti melukai hati Badaruddin, tapi hati Yana juga terluka, Yana jug merasa terhina dengan penolakan yang Yana terima, buka kemauan Yana untuk menjadi seorang janda.
[Sudah dulu ya Yana...kamu pun butuh istirahat, kalau ada waktu besok-besok kita sambung lagi.] ucap Munzir dengan sopan dengan Yana.
[Iya, kalau ada waktu luang besok-besok kita sambung lagi.] balas Yana lagi.
Yana kepingin mau mendengarkan suara Munzir, namun Yana sadar diri, mungkin Munzir tidak ada merasa apa-apa dengan Yana, Yana sudah bisa menerima kehadiran Munzir yang selalu perhatian padanya.
Dengan meletakkan tangan di atas jidatnya, Yana terus terbuai di alam mimpi, Yana mencoba bermimpi suatu hari nanti ada laki-laki yang bisa menerima Yana dan anak-anaknya kelak.
________
Alat pintar Yana berdering hebat di atas meja di samping ranjangnya, Yana segera meraih alat pintar tersebut, sontak saja Yana kaget ternyata nombor tersebut yang di tunggu-tunggu selama seminggu ini.
"Telpon juga dia, sudah lama aku tunggu kamu tahu ngak sih?" ucap Yana sendirian sudah seperti orang kehilangan akal.
'Iya...halo, assalamualaikum?' ucap Yana setelah menekan tombol warna hijau.
'Waalaikum salam...Yana aku ni.' ucap Munzir di hujung talian telpon dengan Yana.
__ADS_1
'Kamu Munzir, kemarin-kemarin aku pikir siapa yang menelpon aku sampai tiga puluh kali, ternyata kamu Munzir." lanjut Yana lagi terlihat kaget mendengar suara Munzir di sebrang telpon.