Perjalanan Berduri

Perjalanan Berduri
Perkenalkan Yana


__ADS_3

Tings...bunyi sms masuk ke alat pintar Yana.


Yana sudah bisa menebak siapa yang mengirimkan pesan kepadanya, tidak lain pasti yang bermain-main sms-an tadi malam.


Yana meraih alat pintar yang di letakkan tidak jauh dari ranjangnya, segera Yana membuka kotak pesanannya.


'Selamat pagi buaya?' isi tulisan yang Yana baca.


Senyum terukir di bibir Yana, Yana merasa lucu selalu di panggil buaya, Yana membalas pesanan tersebut dengan wajah bahagia.


'Emangnya wajah aku mirip buaya ya?' balas Yana lagi.


'Mirip sih ngak, cuma kan aku ngak tahu nama kamu siapa?'


'Nama akun ku itu nama asli ku' balas Yana singkat.


'Jadi nama kamu Yana ya?'


'Iya...nama ku Riza Yana, nama kamu sendiri siapa?' balas Yana lagi.


'Penting emangnya nama aku?'


'Penting lah, emangnya kamu mau aku panggil kamu buaya juga' tulis Yana lagi sambil terkekeh ketawa sendiri tanpa bisa di lihat lawannya di sebrang sana.


'Nama ku Badaruddin, kamu percaya kan itu nama aku?' tulisnya lagi.


Yana tersenyum sendiri membaca tulisan yang terpampang jelas di layar alat gawainya.


"Kok masih ada nama seperti itu di zaman sekarang ini ya?" guman Yana sendiri.


Yana merasa lucu dengan nama seperti zaman Nenek Yana dulu, mungkin orang tuanya sengaja memberinya nama seperti itu.


'Kamu masih ada di sana?' tulisnya lagi.


Gegas Yana membalas lagi isi pesan yang masuk.


'Masih' sahut Yana singkat.


Hari berganti hari, bulan berganti bulan, Yana sudah bisa menerima kehadiran orang baru dalam hatinya, Badaruddin seorang laki-laki bujang jatuh cinta melalui sosmed dengan Yana seorang janda anak dua.


Badaruddin tidak peduli dengan itu semua, Yana pun sudah larut dengan dunia maya yang membuat hari-harinya bahagia.

__ADS_1


Sedang asyiknya berselancar di dunia maya tiba-tiba alat gawai Yana masuk pesan dari akun yang asing di aplikasi biru.


Tings....


Alat gawai yabg yang sudah ada di tangan dengan sigap di buka pesan yang masuk.


'Hai...kamu pacarnya Badaruddin ya?' isi pesan yang Yana baca.


'Iya... emangnya kenapa ya?'


'Ngak sih...cuma bertanya, Badaruddin tetangga ku di kampung' sambungnya lagi.


'Oh... Iya-iya'


'Aku lihat di akun kamu ada foto anak kecil, apa itu anak kamu atau anak saudara kamu ya?' tanyanya lagi.


Yana pun berterus-terang padanya, tidak ada yang perlu di tutup-tutupi, tidak ada pernah ada niat untuk menipu mereka apa lagi orang yang sekampung dengan Badaruddin.


'nama aku Yana, aku sudah menjanda 3 tahun yang lebih lalu dan aku mempunyai tiga orang anak, anak nombor dua meninggal dunia, sekarang cuma tinggal dua orang anak.' jelas Yana terperinci, tidak ada yang Yana sembunyikan, Yana tidak mau jika keluarga Badaruddin menolaknya kerena berbohong statusnya.


Setelah sejam percakapan mereka, akhirnya mereka mengakhiri perbualan panjang mereka.


Teman yang mengaku orang kampungnya Badaruddin mengaku tidak enak jika tidak memberitahu tentang hal yang sebenarnya pada kelurganya, mereka harus tahu akan hal yang sebenarnya tentang calon menantu mereka.


Berbeda lagi dengan Badaruddin semakin frustasi dengan keadaan percintaannya yang tidak direstui, ternyata ada orang yang sudah memberitahu akan rencana mereka untuk menikah, yang membuat orang tua nya tidak merestui hubungan mereka, orang tua Badaruddin menolak mentah-mentah jika yang menjadi calon istri Badaruddin seorang janda.


"Badaruddin kapan kamu mau menikah, ulat-ulat dalam perut kamu sudah menjamur di mana-mana tu?" ucap teman Badaruddin mengusilnya.


"Tak lama lagi aku akan menikah, calon sudah ada ni, tinggal pulang kampung terus menikah." sahut Badaruddin dengan serius.


"Siapa...Yana ya? yang sering kamu komen di aplikasi biru tu." Badaruddin menggangguk sambil tersenyum ke arah temannya.


"Kapan rencana kamu pulang ke kampung?" tanya temannya lagi.


"Puasa ini aku akan pulang, habis lebaran nanti baru menikah." jawab Badaruddin lagi.


"Emangnya orang tua kamu setuju kamu nikah sama Yana...apa orang tua kamu ngak tahu status Yana?" temannya masih juga bertanya pada Badaruddin.


"Kamu tahu status Yana?" Badaruddin mencari tahu pada temannya yang bernama Munzir.


"Tahu lah...kan aku berteman juga dengan Yana di aplikasi biru tu." sahut Munzir dengan senyum sumbing.

__ADS_1


Perbincangan mereka terputus setelah alat pintar yang berada di tangan Badaruddin berbunyi, dia menjauh dari temannya.


Ternyata Yana yang menelponnya, mereka pun berbual kosong sampai sore hari, jam-jam biasanya Badaruddin akan menghubungi Yana, akibat terbawa obrolannya dengan Munzir sampai terlupa kebiasaannya setiap sore.


'Abang kemana...kok ngak kirim pesan apa-apa sih?' ucap Yana melalui panggilan telpon.


'Maaf ya...Abang lupa tadi.' sahut Badaruddin sambil terkekeh geli mendengar ucapan Yana yang sudah merajuk.


Percakapan mereka berlanjut dari satu topik ke topik lainnya, mereka sudah tidak dapat di pisahkan lagi, antara Yana dan Badaruddin tidak pernah bertemu, mereka hanya berbicara melalui telpon, tapi cinta antara mereka sudah bersemi di hati mereka masing-masing.


Hubungan yang di awali dengan sebuah komentar siapa sangka bisa berlanjut sampai sejauh ini, Yana sehari-hari membantu Abahnya berjualan di toko grosir. Setiap hari Yana akan meluangkan waktunya untuk berkomunikasi dengan Badaruddin.


Lain lagi dengan keluarga Badaruddin, orang tuanya Badaruddin menghubunginya setelah mendapat berita yang tidak mengenakkan bagi keluarga Badaruddin.


'Assalamualaikum Mak?' ucap Badaruddin setelah menekan tombol hijau ketika Maknya menghubunginya.


'Waalaikum salam...kamu sehat nak?' tanya Mak Badaruddin bernama Rukiah.


'Alhamdulilah..sehat Mak!' sahut Badaruddin datar.


'Apa benar kamu akan menikah setelah kamu pulang nanti?' Rukiah langsung menyerbu anaknya pertanyaan yang berhubungan dengan Yana.


'Insyaallah Mak...jika Mak izinkan.' jawab Badaruddin dengan jujur.


Sebagai seorang anak tentu restu orang tuanya paling penting, tanpa restu orang tua pasti hidup takkan bahagia.


'Kalau bisa Mak tahu siapa calon istri mu Badaruddin...apa Mak kenal dia?' Rukiah masih mencari sosok yang akan jadi calon menantunya nanti.


'Mak tidak kenal, suatu hari nanti jika aku sudah pulang pasti aku akan bawa bertemu dengan Mak ya?' Badaruddin masih menyembunyikan siapa calonnya.


'Namanya siapa Badaruddin?' Rukiah sudah sampai ke pokok tujuannya.


'Aku kasih tahu pun Mak ngak kenal.' celah Badaruddin lagi.


'Mak cuma mau tahu namanya aja...apa tidak boleh Mak mau tahu nama calon menantu Mak.' rayu Rukiah lagi.


Badaruddin yang sudah terpengaruh dengan bujukan Maknya langsung saja berubah pikiran, dari menyembunyikan nama calon istrinya, Badaruddin dengan cepat mengatakan nama calonnya tersebut.


'Namanya Yana Mak, dia beda kecamatan sama kita, tapi Mak jangan takut dia satu bangsa dengan kita kok.' ucap Badaruddin setengah bercanda dengan Maknya.


Badaruddin tidak tahu wajah Maknya sudah memerah menahan amarahnya, seperti yang di perkirakan Yana adalah orangnya yang anaknya akan lamar.

__ADS_1


__ADS_2