
Hari-hari berikutnya Yana semakin menjauh dari Badaruddin, Yana tahu hubungan mereka tidak bisa kemana-mana tanpa restu dari orang tua Badaruddin.
Aktivitasnya yang sibuk membuat Yana bisa melupakan kekasih hatinya biarpun tidak sepenuhnya Yana bisa melupakan.
Beda lagi dengan Munzir makin hari makin sering berkomunikasi dengan Yana, walaupun tidak hadir rasa cinta di antara mereka, tapi Yana merasa terhibur dengan cara Munzir membalas pesannya setiap hari.
Tiba-tiba suatu hati munzir meminta nombor hape Yana.
"Yana...kirim kan nombor hapenya donk." Munzir menulis pesan pada Yana.
Yana yang berpikiran polos tanpa bertanya untuk nombor hape terus saja memberikan nombor hapenya pada Munzir.
"Kalau mau telpon jangan siang ya...aku banyak kerjaan kalau siang, telponnya harus malam oke." ujar Yana tanpa ada rasa malu pada Munzir.
Munzir yang memang terkenal suka bercanda langsung saja menjawab.
"Aku bukan untuk menelepon Yana, aku sengaja meminta nombor hape kamu, siapa tahu suatu hari nanti paket data ku berlebihan, jadi aku bisa telpon kamu." ucap Munzir terkekeh geli setengah bercanda dengan Yana.
Yana yang mendengar juga ikut terkekeh geli mendengar ocehan Munzir, biarpun Yana tidak berapa kenal dengan Munzir yang super cuek tapi komunikasi mereka lancar setiap hari, apa lagi dengan keadaannya seperti ini yang lagi frustasi dengan hubungannya dengan Badaruddin.
Setelah beberapa hari Yana kasih nombor alat pintarnya pada Munzir, suatu malam alat pintarnya tersebut berdering hebat.
"Eh...siapa sih yang nelpon malam-malam begini? kurang kerjaan apa?" gerutu Yana sendirian di kamarnya sambil meraih alat pintar di samping ranjangnya.
Yana melihat nombor yang tertulis di layar alat pintarnya sebuah nombor yang begitu asing, nombor yang tidka pernah Yana simpan.
"Malas ah angkat...bukan aku kenal pun orangnya." batin Yana lagi.
__ADS_1
Lalu Yana menyimpan alat pintarnya semula ke tempatnya setelah sebelumnya sudah di diamkan.
Entah berapa kali pemanggil menelpon lagi Yana sendiri tidak tahu, Yana sudah bermimpi yang indah sambil merebahkan tubuhnya yang kelelahan karena seharian bekerja di toko Abahnya.
Munzir yang terus menerus menelpon Yana sepanjang malam, rencana Munzir akan memberitahu pada Yana yang dia akan ke rumah Yana.
Di sebabkan Yana tidak pernah menjawab akhirnya Munzir membatalkan rencananya akan ke rumah Yana.
"Besok-besok aja aku kasih tahu lagi rencana aku ke rumahnya, mungkin dia capek makanya dia ngak angkat telpon." ucap Munzir sendirian.
Munzir masih berpikir yang baik-baik tentang Yana, Munzir tahu walaupun Yana seorang janda tapi Yana tidak seperti yang orang-orang selalu pikirkan.
Yana terkejut melihat panggilan telpon sampai tiga puluh kali, rasa menyesal Yana tidak angkat telpon tadi malam, mungkin penting, kalau tidka mana mungkin sampai bisa telpon tiga puluh kali.
"Yana...kamu sudah bangun nak?" panggil Abah Yana dari balik pintu kamar.
tok...tok...tok...
"Yana...Yana...kamu sudah bangun nak?" panggil Abah lagi tidak berputus asa memanggil anaknya.
"Iya Abah...aku sudah bangun ni." sahut Yana dari dalam kamar.
"Kalau sudah siap, keluar cepat, kita sarapan dulu ya nak." ucap Abah sambil berlalu dari pintu kamar anaknya.
"Iya Abah." sahut Yana setengah berteriak.
Anak-anak Yana sudah duluan ke sekolah, meraka pergi dengan mengendarai sepeda, sejak Abah sakit Yana membelikan sepeda untuk kedua anaknya, agar mereka bisa pergi sendiri jika sudah kepepet.
__ADS_1
Di meja makan semua diam, masing-masing menyuap makanan kedalam mulut, nasi goreng kampung dan telor mata sapi menjadi menu pagi ini, Abah duduk di kursi utama, mulut Abah terus saja menguyah nasi yang ada dalam mulutnya.
"Kamu mau teh panas Yana... kalau mau Mak tuangkan?" ucap Mak membuka obrolan di kala-kala suasana hening.
"Boleh juga Mak." jawab Yana singkat.
Setelah acara makan selasai Yana bergegas bangun ingin segera pergi ke toko, Yana takut terlambat membuka tokonya, biasanya pagi selalu ramai dengan Ibu-ibu yang menghantar anak ke sekolah sekalian belanja.
"Aku pergi dulu ya Mak, Abah, takut terlambat nanti buka toko." ucap Yana izin pamit pada orang tuanya sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Iya nak hati-hati di jalan ya?" sahut Abah yang sudah duduk di kursi yang berada di teras rumah.
Yana sebentar melupakan siapa yang menelponnya terus menerus tadi malam, tapi di dalam hati kecil Yana, dia ingin tahu siapa yang terus saja menelponnya.
Suasana toko begitu ramai di pagi hari, dengan di bantu seorang karyawan toko Yana terlalu berisik dengan Ibu-ibu yang belanja sambil bergosip.
Yana tidak peduli dengan pembicaraan mereka, Yana hanya fokus pada meja kasirnya.
"Kamu jadi janda mapan sekarang tapi kok ngak ada yang bisa di jadikan calon Yana." ucap seorang Ibu-Ibu yang sedang ngantri membayar.
Sambil tersenyum Yana membalas dengan wajah yang sangat manis.
"Belum ada yang mau Bu." sahut Yana tersenyum menampakkan sebaris giginya yang kurang rapi.
"Kalau ada uang untuk apa laki-laki ya Yana?" sela Ibu yang lainnya lagi.
"Walaupun ada uang butuh juga seorang suami untuk menjaga kita Bu, cuma belum ada yang mau." sahut Yana lagi seperti merendah kan diri.
__ADS_1