Perjalanan Berduri

Perjalanan Berduri
Yana mau melahirkan


__ADS_3

Yana sudah membawa pulang uang jajan yang Faizal kirimkan untuk anak-anaknya, begitu sampai ke rumah Mak Yana terus menanyakan akan uang tersebut.


"Mana uangnya Yana?


Yana segara menghulurkan uang kertas berwarna merah sebanyak empat lembar ke arah Maknya.


"Ini Mak!


"Ingat Yana, kamu haram menyentuh atau memakan uang yang mantan suami kamu berikan...


... Kamu tidak mempunyai hak lagi atas rezeki yabg datang dari mantan suami kamu, sebab kamu sudah mempunyai suami lain." jelas Mak Yana lagi.


Yana manut dengan permintaan Maknya, Yana tidak mau memperkeruh kan suasana lagi.


Setiap bulan selalu begitu, uang jajan memang di tanggung sepenuhnya oleh Abah Yana, tapi untuk kebutuhan sekolah anak-anaknya di tanggung sendiri oleh Yana dari hasil rezeki pemberian dari suaminya Munzir.


Mak Yana sendiri yang meminta langsung pada Yana, alasannya sudah tanggung jawab Yana sebagai orang tua kepada anak-anaknya.


Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan semakin berjalan ke depan, kehamilan Yana sudah pun menginjak sembilan bulan, Yana tinggal menghitung hari untuk menyambut cahaya cintanya yang pertama bersama Munzir.


Pas tanggal tujuh belas agustus Yana merasakan sakit perut yang teramat sangat, Yana tidak merasakan akan melahirkan hari ini, sesuai yang sudah di prediksi kan oleh bidan Yana akan melahirkan hujung bulan atau awal bulan depan.


"Abang...kok perut aku sakit banget ya?


"Hah... jangan-jangan kamu mau melahirkan Dek.

__ADS_1


"Mana mungkin aku melahirkan sekarang, Abang sendiri kan tahu aku akan melahirkan hujung bulan atau awal bulan depan." Yana tetap bersikeras dengan kependiriannya.


"Apa kamu tidak mau memberitahu kan pada Mak Dek?


"Ngak mau ah...biar aja, kalau tahu pun bukan Mak peduli dengan keadaan ku." lirih Yana sambil menahan perutnya yang kesakitan.


Munzir sudah sebulan tidak berkeja lagi, dia menjaga Yana di rumah, dia takut jika sewaktu-waktu istrinya mau melahirkan tidak ada orang yang akan menghantarkan Yana ke rumah sakit.


Sore hari sakit Yana makin parah, seolah-olah seakan ada yang ingin keluar dari tubuhnya.


"Dek...Yok kita ke rumah sakit, Abang jadi kuatir melihat keadaan kamu dalam kesakitan begini." ucap Munzir yang selalu setia mengelus-elus pinggang istrinya yang selalu sakit.


"Kita ke rumah bidan aja ya Abang." ucap Yana yang tidak mau ke rumah sakit.


Yana berpikir jika ke rumah sakit harus mengambil masa yang lama, sedangkan di rumah tidak ada orang yang akan menjaga kedua anaknya, Mak Yana sudah pergi ke toko bersama adik dan Abahnya, tinggal Yana bersama anak-anak di rumah.


Walaupun dalam keadaan genting seperti ini, Yana masih memikirkan kedua buah hatinya bersama Faizal.


Munzir mempersiapkan semua kebutuhan yang harus di bawa ke rumah sakit, sebelum berangkat Munzir pesan pada anak-anak agar tetap di rumah, sebentar lagi Munzir akan menjemput mereka.


Lalu dengan mengendarai motornya mereka menempuh perjalanan yang agak dekat dari rumah Yana, tanpa menunggu lama Yana terus masuk ke rumah bidan langganan biasa Yana pakai untuk melahirkan anak-anaknya.


"Kenapa Yana...sakit perut ya?


"Iya kak, perasaan kok mau melahirkan ya.

__ADS_1


"Berbaring di sini dulu, biar kakak periksa dulu kandungan mu." balas bidan bernama Mira.


Yana pun berbaring sambil membuka kakinya untuk di periksa oleh bidan bernama Mira, sambil memeriksa keadaan kandungan Yana Mira menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kenapa kak...ada sesuatu kah yang terjadi pada istriku?" tanya Munzir yang merasa aneh dengan sikap bidan Mira.


"Sepertinya Yana mau melihat, tapi tidak bisa melahirkan di sini, bayinya terlalu besar, takut jika terjadi sesuatu pada Yana di sini tidak ada peralatan nantinya, lebih baik kita bawa ke rumah sakit aja" penjelasan Mira bagaikan sambaran petir bagi Munzir.


Tidak bisa di bayangkan jika terjadi sesuatu pada istri dan anaknya, Munzir mengambil keputusan untuk membawa Yana ke rumah sakit bersama Mira yang menjadi petunjuk jalan.


Sebelum berangkat Munzir menelpon orang tua Yana terlebih dahulu, ini di sebabkan tidak ada yang menjaga anak-anak Yana di rumah, pergi ke rumah sakit harus mengambil waktu yang bukan sedikit.


tut...tut...tut...


Deringan ke tiga langsung di angkat telpon oleh Abah Yana yang masih berada di toko saat itu.


"Assalamualaikum Abah?


"Waalaikum salam...ada apa Munzir telpon Abah?


"Begini Abah...Yana mau melahirkan, tapi harus di bawa ke rumah sakit yang ada di kota Abah." jelas Munzir pada Abah Yana.


"Jadi kami harus bagaimana...apa kami harus ke rumah sakit juga?" tanya Abah Yana masih di talian.


"Ngak usah ke rumah sakit Abah, cuma Yana minta tolong pada Mak, tolong pulang sebentar ke rumah, anak-anak ngak ada yang jaga Abah, kami mungkin beberapa ke depan akan berada di rumah sakit." Munzir sebisa mungkin bicara lembut pada keluarga istrinya tersebut.

__ADS_1


"Baiklah... sekarang juga Abah akan suruh Mak Yana pulang." setelah itu Abah pun menutup panggilan telpon dari menantunya tersebut.


Yana sudah siap akan di bawa ke rumah sakit yang berada di kota, Yana di bawa dengan mengunakan mobil rental yang sudah disediakan oleh bidan Mira.


__ADS_2