Perjalanan Berduri

Perjalanan Berduri
azham deman


__ADS_3

pagi menampakkan sinarnya, rumah yang sebelum ini begitu meriah dengan suara riuh anak-anak ku hari ini semua berubah, azham seakan tidak mau bicara sejak kejadian kemarin, aku sendiri ngak tahu kenapa azham mogok bicara.


tok... tok....tok...


" azham buka pintu nak?" suara yana memecah kan hening sepi di dalam rumah, faizal masih ngak ada tanda-tanda mau bangun dari tidurnya.


tok....tok...tok.... pintu depan kamar azham yana ketuk berulang kali, tapi masih ngak ada terdengar suara menyahut azham dari dalam.


" Azham! kamu ngak sekolah hari ni?" melihat ngak ada juga jawaban dari azham yana berusaha mengetok kamar anaknya berulang kali.


perasaan yana jadi ngak enak, apa sebenarnya yang terjadi pada anak nya, gegas yana membuka pintu yang sudah yana cek tadi tidak di kunci, sebelum yana membuka nya yana mencoba menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan cara yang sama.


huuuufffff...


sudah siap dengan apa juga apa yang terjadi di dalam, apa azham masih tertidur atau sudah bangun.


klekkkk...


pintu kamar azham terpampang terbuka dengan lebar, dari arah pintu yana bisa melihat azham yang masih terbaring di dalam selimut yang tebal, sebelum ni azham begitu benci selimut, bahkan saat musim hujan aja dia jarang pakai selimut, badan azham sentiasa panas.


kaki yana berjalan dengan cepat ke arah sosok azham terbaring di ranjangnya. badan azham di tutup rapat dengan kain selimut, tidak ada yang terlihat kecuali hanya kepalanya sahaja.


" ish...kamu demam azham, kok ngak bilang sama umi kamu demam?" rupanya azham sudah bangun dari tadi, cuma badannya yang lemah yang membuat dia ngak bisa bergerak.

__ADS_1


" dikit aja umi, bentar lagi azham sembuh kok, azham ngak apa-apa?" nada suara azham begitu lemah.


kamar azham yang agak sumpek sebab kekurangan udara, gorden pintu yang menutup pintu kamar azham yana ikat kan ke atas, agar udara bisa masuk melalui pintu tersebut.


" azham tunggu dulu ya? umi mau cari om Riki dulu, bantu belikan obat demam untuk kamu!" ujar ku sambil terus berjalan menuju ke pintu kamar.


belum sempat yana keluar dari kamar nya, tiba-tiba suara azham menghentikan langkah yana dari berjalan.


" ngak usah beli obat umi, azham bentar lagi sembuh kok!" azham mungkin tahu yana tidak mempunyai uang untuk membeli obat untuk nya.


panas badan azham belum juga turun, yang bikin yana naik darah, dari tadi yana bersuara keras tapi tidak bisa membuat bang faizal bangun dari tidur nyenyak nya, seolah-olah di rumah tidak terjadi apa-apa.


" apa arti nya ada ayah kalau anak sakit aku tanggung sendiri?" umpat yana sendiri sambil terus mengecek badan azham yang masih juga belum turun.


sanggup yana melupakan semua perbuatan suaminya faizal ngak menafkahi yana dan anak- anak nya hanya demi untuk anak-anak butuh sosok seorang ayah, kalau keadaan begini ada tempat untuk kami bergantung, bukan dia yang bergantungan pada kami.


badan azham yang semula panas kini sudah mendingan, membuat yana sedikit lega, azham pun sudah bisa bangun, tapi belum kuat untuk berjalan. bayangan di luar rumah sudah agak miring, menandakan sebentar akan masuk waktu shalat ashar, faizal masih betah tidur di dalam kamar, makin lama sikapnya malah makin parah, yana nggak tahu apa yang membuat suaminya faizal kembali ke rumah.


" umi ngak jualan hari ni?" tanya azham ketika melihat kios ku masih di tutup walaupun sudah sore.


memikirkan keadaan azham aja yana sudah pusing, gimana mau buka kios, di tambah adik-adik nya lagi, kebiasaan sih kalau kita lagi susah hati anak-anak juga pasti merasakan.


" azham sudah pulang sekolah ya? pergi sekolah dengan siapa tadi?" bang faizal dengan wajah tenang nya menegur azham yang duduk santai di teras rumah bersama om nya om Riki.

__ADS_1


azham tidak menjawab, mata azham cum menoleh ke arah ayahnya dengan tatapan kosong, dari jauh yana hanya perhatikan sikap azham yang cuek dengan ayahnya, berbeda sekali dengan adiknya, azham memang kurang suka pada ayahnya, masih terlintas di benak yana saat ayahnya pulang setelah sekian lama menghilang, tidak ada aura kebahagiaan dari raut wajahnya, seolah-olah kehadiran ayahnya azham terima dengan terpaksa.


magrib datang dengan wajah merah garangnya, semua yang ada depan rumah masuk ke dalam sebagai menghormati masuk nya waktu magrib, Riki pulang ke rumahnya, azham masuk ke dalam untuk menunaikan shalat magrib, ayahnya pergi ke musalla, itu yang bikin yana salut sama bang faizal, walaupun seburuk-buruk apapun dia, soal shalat ngak pernah dia tinggalkan.


menu makan malam sudah yana siap kan di lantai ruang tamu beralas kan tikar plastik, menu yang begitu sederhana, hanya telur dua butir aku goreng dadar yana potong menjadi enam bahagian, sesuai dengan jumlah mereka di rumah, jatah adik maunya dua potong, yang lain cuma dapat sepotong saja.


" umi ngak bikin kue hari ni?" tanya azham ketika kami masih duduk di lantai sambil memasukkan makanan ke mulut.


makan dengan keluarga biarpun ngak berlauk tetap bahagia.


" rencananya sih umi bikin brownis hari ni, tapi brownis dalam cup tapi yang ekonomis aja azham, yang bisa di jual seribuan!" jelas yana lagi pada azham tentang rencana yana bikin jajanan baru.


semangat yana semakin berkobar-kobar mengingat ada perlu yang harus yana isi, ayahnya bahkan tidak peduli kami makan apa, sudah makan atau belum, ayahnya ngak mau tau.


si kecik dari tadi rewel ngak tau sebab apa, tiba-tiba menangis berteriak di dalam rumah, yana yang masih bergulat dengan bahan di dapur memanggil suaminya yang asyik tidur dari malam ke malam nya lagi.


" bang Faizal! ambil lah anak sebentar dari tadi asyik menangis?" suara yana yang lantang membuat bang faizal terpingkal-pingkal di ranjangnya.


" kamu ni ngak bisa kau pelan kan suara kau tu, masih untung aku belum mati jantungan tau ngak?" Bentaknya membuat si kecil yang bernama hafiz mendadak diam di tempat.


yana malah ketawa terbahak-bahak melihat tingkah si kecil yang tiba-tiba diam, dari tadi yana pujuk ngak mau diam, sekali dengar suara ayahnya langsung diam... hihihihihi


" kenapa berisik sekali umi?" azham tiba-tiba nongol di dapur yana yang sempit.

__ADS_1


pantasan adiknya dari tadi menangis, ternyata azham dan adik nya nombor dua bernama rasya sudah tertidur di kamar, hafiz di tinggal sendiri di ruang tamu, dasar anak-anak.


" umi kenapa umi ngak tinggalkan aja ayah, kan enak hidup kita sebelum ayah kembali lagi ke sini."


__ADS_2