Perjalanan Berduri

Perjalanan Berduri
Faizal muncul


__ADS_3

Yana pusing tujuh keliling mencari tempat dari mana sampah nya bisa jatuh tepat di atas kepala nya, sedang kan Yana duduk lebih dekat ke arah dinding kamar Eni, dinding kamar Eni yang di perbuat dari semi permanen ngak terlihat sampah dari sana, ngak mungkin juga dari kamar Eni.


Sampah di atas kepala Yana kutip satau persatu di buang, Yana pun melanjutkan lagi pekerjaannya yang tertunda tadi, hari ini rencana nya Yana mau pulang lebih cepat, mas Bambang bersama istri memang rutin jalan-jalan setiap sore, setiap sore juga Yana akan menjaga warung nya sendiri.


" Kok bisa ya kak bos kakak setiap sore jalan-jalan, malah seperti kakak yang jadi tuan punya warung di sini?" pelanggan Yana kasihan melihat Yana ke sana ke mari sendirian berjualan. pelanggan Yana lumayan ramai tapi Yana menghandle nya sendirian.


" Mau gimana lagi, nama nya aja kerja sama orang, sanggup kerja ngak sanggup keluar, kakak butuh uang untuk anak-anak, harus sanggup." ucap Yana sambil menyemangati dirinya sendiri.


Ayam di goreng dalam wajan bukan satu atau dua, Yana harus menggoreng sampai lima belas potong sekali goreng, ayam penyet mas bambang memang laris manis, sambal nya too banget. Yana terus membungkus nasi pesanan pelanggan hingga Yana ngak sadar sudah jam lima sore.


" Kok mas Bambang belum pulang juga ya?" ucap Yana sendirian sambil duduk istirahat di bangku di depan warung. sebelah kanan rak jualan, sebelah kiri bangku dari kayu di letakkan berjejer di samping dinding.


" Eh kak! jangan melamun donk, sudah di bungkus nasi nya?" tiba-tiba mas Bambang sudah ada di depan Yana, Yana sontak kaget melihat bos nya ada di depan mata, gegas Yana bangun dari duduk nya sambil berkata, " belum mas, aku pikir mas pulang kayak kemarin." Mas Bambang dengan sigap segera menuju ke arah dapur yang Yana guna kan untuk menggoreng.


Dua potong ayam di masuk kan ke dalam minyak yang memang selalu panas, tidak lupa juga mas Bambang masukan tempe dan juga terong, pelengkap ayam penyet yang makin laris.


" Sudah jangan melamun lagi di sana, bungkus nasi cepat!" sergah mas Bambang membuat Yana menjadi terpingkal-pingkal menurut perintah bos nya tadi.


" Iya mas." sahut Yana sambil terus membungkus nasi yang bos nya suruh, Yana membungkus nasi uduk, anak-anak Yana lebih suka nasi uduk, kata mereka nasi putih biasa ada di rumah, nasi uduk jarang mereka makan, sebab itu Yana selalu membawa pulang nasi uduk.

__ADS_1


" Loh ayam nya kok tiga mas?" tanya Yana melihat mas Bambang meletakkan tiga potong ayam ke dalam bungkusan nasi Yana, Yana akan meletakkan nasi yang sudah di isi di dalam cup di depan mas Bambang, nanti mas Bambang sendiri yang akan mengisi ayam ke dalam nasi nya.


" Ambil aja jangan protes!" sahut tegas mas Bambang.


" Iya mas!" jawab Yana sambil menutup mulut nya rapat-rapat, nasi yang sudah di isi dengan perlengkapan lain nya di tutup, Yana masuk kan ke dalam plastik.


" Pulang dulu ya mas?" ucap Yana pada bos nya sambil berlalu pulang.


" Alhamdulillah hari ni bisa pulang lebih cepat, kalau setiap hari seperti ini kan enak." ucap Yana sendiri sambil terus menyusur jalan dengan berjalan kaki, kaki Yana masih kuat menempuh perjalan menuju ke rumah nya.


Yana berkerja setiap hari untuk kebutuhan keluarga nya, suami Yana ngak tahu di mana, Abah Yana meminta Yana menyusul nya, tapi Yana ngak mau, Yana mau berdiri di kaki nya sendiri tanpa bergantung pada orang lain apa lagi pada keluarga.


" Oh, jadi Ayah gimana? dia sehat kan?" tanya Yana santai, Yana tidak menunjukkan sikap terkejut nya mendengar berita Ayah anak-anak menelpon nya, Yana sudah membeli alat gawai, tapi Yana tidak memakai nya, Yana hanya butuh ketika Abah Yana bertanya kabar keadaan Yana dan anak-anak.


" Sehat banget malah Umi." ujar Azham di sambut ketawa dari Yana dengan sikap anak nya yang lucu.


" Maksudnya sehat banget gimana ya Azham? kok Umi ngak ngerti sih." sambung Yana menanggapi ocehan anak nya. Hafiz yang belum mengerti apa-apa cuma tersenyum melihat tingkah abang yang ketawa terbahak-bahak.


" Umi tau ngak? Ayah telpon tadi lama banget, Ayah sudah tidak ada di kampung nya, Ayah sudah mempunyai perkejaan tetap di sebuah kota M." jelas Azham lagi lebih terperinci.

__ADS_1


" Bagus lah, Azham ngak minta Ayah kirim uang jajan untuk Azham dan adik." tanya Yana lagi pada anak nya, anak Yana yang bernama Hafiz sudah duduk di bangku sekolah taman kanak-kanak, Yana memang berharap bang Faizal bisa membantu nya untuk kebutuhan anak nya sehari-hari.


Yana mendengar yang anak nya cerita kan, Yana tidak berharap Faizal kembali lagi ke sisi nya, yang Yana harap Faizal dapat menjadi seorang Ayah yang bertanggung jawab pada anak-anak nya.


Karena terlalu ke asyik kan bercerita sampai tidak sadar melihat jam sudah menunjukkan jam sebelas malam, anak-anak seharusnya sudah tidur, mereka perlu bangun lebih awal besok pagi untuk pergi ke sekolah.


Pagi-pagi Azham sudah bangun, aktivitas Azham seperti biasa, Azham di wajib kan Umi nya untuk makan setiap pagi, anak Yana yang ke dua Yana hantar sendiri menggunakan motor bekas yang Yana beli, selama bekerja Yana sudah bisa membeli motor bekas untuk Yana pakai sehari-hari, Yana butuh motor untuk keperluan nya menghantar anak-anak dan untuk berkerja.


drrrrrtttt.... drrrrrtttt...


" Azham! lihat tu siapa yang telpon?" jerit Yana pada Azham yang berada di ruang tamu, sedang kan Yana berada di dapur, pekerjaan Yana belum siap, sejak pulang tadi Yana belum sempat mencuci piring kotor yang di pakai anak-anak untuk makan malam.


Di layar alat gawai Yana tertulis nama si penelepon, di layar tertulis nama ( Ayah ), Azham mengangkat telpon dari Ayah nya, Yana ngak dengar lagi apa yang mereka bincang kan, bang Faizal pun tidak meminta Yana mengobrol dengan nya, Yana menunggu sampai setengah jam baru lah anak nya selesai bicara dengan Ayah nya.


" Ayah ngomog apa Azham?" tanya Yana pada Azham yang sudah terbaring di lantai akibat kelelehan.


" Ayah bilang akan mengirim kita uang besok, jadi besok kita bisa makan-makan ya Umi." ucap Azham dengan wajah yang tidak bisa di gambar kan dengan kata-kata, Azham terlalu bahagia dengan perubahan sikap Ayah nya yang sudah berubah.


" Iya nak! malam besok kita makan-makan ya? tapi setelah Umi pulang kerja ya?" ujar Yana pada anak nya, Yana pulang kerja sebelum waktu magrib, syukur Yana sebab suami nya Faizal sudah berubah, Yana mulai bermimpi bisa menjadi keluarga yang bahagia.

__ADS_1


__ADS_2