Perjalanan Berduri

Perjalanan Berduri
Eni keterlaluan


__ADS_3

Di warung Yana masih sibuk membereskan pekerjaannya yang belum siap lagi, hari ini Yana ngak sempat pulang ke rumah, jadi Yana di beri kelonggaran waktu oleh mas Bambang untuk bisa pulang lebih cepat dari biasanya hari ni, perkakas dapur yang masih menumpuk di dapur semua di bawa ke kamar mandi oleh Yana, piring-piring kotor dari pelanggan yang sudah makan juga di kumpulkan oleh Yana, dia ingin hari ini pekerjaannya cepat selasai, perkakas tersebut di cuci semua sampai bersih, perkakas yang sudah di kumpulkan di kamar mandi, satu persatu Yana cuci sampai bersih, yang anehnya piring kotor ngak pernah berkurang, ngak pernah habis ada aja yang di hantar Eni pada Yana, Eni selalu aja menghantar piring kotor ke tempat Yana mencuci.


"Kalau gini terus kapan habisnya aku nyuci ni? makin parah aja si Eni ni." sebel Yana sendirian di kamar mandi sambil tangannya belum berhenti membilas piring satu persatu yang tertonggok di depannya.


Mulutnya terus bergerak-gerak begitu juga dengan tangan Yana terus bergerak mencuci piring yang semakin lama semakin banyak, piringnya masih juga belum habis-habisnya, datang lagi yang lain, yang ini belum di bilas, datang yang lain lagi, Yana yang sampai kewalahan mencuci, mau menegur Eni agar jangan membawa lagi peralatan kotor kamar mandi pasti ngak mungkin, akibat kelamaan duduk di bangku papan yang agak rendah dari tubuh Yana membuat pinggang Yana pun sakit, Yana bersiatif bangun dan melihat sendiri apa sebenarnya yang terjadi di depan sehingga piring kotor semakin lama semakin banyak, mengapa piringnya ngak pernah habis.


"Aduh...sakit kali pinggang aku, kenapa sampai ngak habis-habis sih piringnya?" oceh Yana sendiri saat bangkit dari duduknya sambil memegang pinggangnya yang sedikit membungkuk, setelah pinggangnya sedikit enakkan Yana terus berjalan menuju ke arah depan warung.


"Kalau gini kapan aku bisa pulang, sampai besok pun aku ngak bisa pulang." batin Yana dalam hati.


Yana sampai terpingkal-pingkal melihat jumlah manusia yang berada di dalam warung Mas Bambang, jumlah mereka begitu ramai, sehingga di dalam warung tidak mencukupi untuk kebutuhan mereka.


Apa tidaknya Yana sampai terkejut melihat ke arah depan warung yang sudah penuh dengan pelanggan, yang Yana heran kok bisa-bisanya Eni cuma duduk di bangku yang di letakkan di samping rak sambil goyang-goyang kaki, sedangkan mas Bambang hanya bekerja sendirian seperti yang Yana lakukan jika waktu siang.


Yana pun berlari menuju ke arah Mas Bambang yang agak kerepotan mengurus semuanya sendiri, Yana berencana akan membantu Mas Bambang di depan.

__ADS_1


"Lagi ramai ya Mas?" tanya Yana sambil menghampiri bosnya yang sudah kewalahan melayani pelanggan yang datang tiba-tiba dalam kondisi yang ramai-ramai.


"Iya ni Mpok Neng, entah dari mana datangnya tiba-tiba keg gitu aja terus, makanya piring ngak habis-habis dari tadi." bela Mas Bambang lagi pada Yana.


Setiap suami pasti akan membela istrinya tapi jangan sampai keterlaluan begini sampai harus mengorbankan orang lain, Yana pun bisa bersabar, tapi batas kesabaran pasti ada batasnya.


"Ya sudah...mari aku bantu Mas, Mas menggoreng aja biar aku yang bungkus nasi sekalian hantar pesanan ke setiap meja yang pesan." Yana memang ngak pernah makan gaji buta, sikap Yana seperti inilah yang membuat Eni selalu mengambil kesempatan atas sikap Yana selama ini.


Lauk dan nasi semua sudah habis terjual tidak ada lagi yang tersisa, Yana bisa bernafas dengan lega dengan keadaan seperti ini, ini tandanya Yana bisa mencuci piring sampai habis, setelah itu Yana bisa langsung pulang ke rumahnya tanpa alasan apapun lagi, badan Yana sudah terlalu capek hari ini, kasur yang ada di rumah sudah terbayang-bayang menunggu nya di pelupuk mata Yana, seakan-akan Yana sudah berada di sana.


"Mpok Neng jangan lupa bawa sekalian dandang dan kualinya, sekalian aja di cuci semuanya ya?"


perintah Eni pada Yana.


"Tapi itu kan biasanya Mas Bambang yang cuci sendiri Eni?" bela Yana pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Mas Bambang tidak membantah atau pun menjawab yang Eni perintah kan pada Yana, pandangan mata Mas Bambang menghadapi ke jalan, seolah-olah dia tidak mendengar obrolan antara Yana dan istrinya Eni.


"Oalah, kok bos di lawan sih Mpok Neng? jika aku suruh nyuci ya di cuci aja Mpok Neng, jangan banyak alasanya kenapa, masak sih bantah perintah bos." seloroh Eni.


Walau pun Eni hanya berniat seloroh atau pun bercanda pada Yana, tapi hati Yana tetap sakit mendengar ucapan Eni, bagaimana bisa Yana mengerjakan semua tugasnya sendiri, dandang dan kuali yang menjadi urusan Mas Bambang harus di kerjakan Yana juga. Apa lagi ukuran dandang ngak sesuai dengan ukuran tubuh Yana, jangan kan mencuci mengangkatnya aja Yana ngak sanggup.


Dengan linangan air mata yang mengalir di pipinya Yana terus mencuci piring yang terletak memenuhi ruang kamar mandi, semuanya Yana cuci bersih sehingga tidak ada yang tersisa satu pun, sesudah habis mencuci piring dan perkakas jualan selanjutnya Yana mencuci wajahnya agar mata Yana yang sudah membengkak sebab menangis tidak kelihatan.


"Mas Bambang! semua sudah siap, aku pulang dulu ya?" Yana pamit izin pulang.


Yana sengaja tidak menatap langsung mata bosnya, Yana tidak mau orang lain tahu bahwa sebenarnya Yana sendiri adalah seorang wanita yang begitu rapuh, Yana cepat tersentuh hatinya jika ada yang tidak di sukai terjadi.


"Iya Mpok Neng! ni nasi dan gaji nya untuk hari ini." Mas Bambang menghulur kan kantong kresek yang sudah di isi nasi dan gaji Yana hari ini, gaji Yana memang sengaja tidak di kasih langsung di kasih ke tangan Yana sendiri.


Eni tidak setuju Mas Bambang memberi Yana gaji dengan yang sudah Mas Bambang kasih tau, bagi Yana gaji segitu tidak sesuai dengan Yana seorang wanita yang tidak bisa bekerja sendiri, sedang kan gaji yang ingin Eni berikan tidak pantas kerena terlalu murah, makanya Mas Bambang selalu menyembunyikan gaji Yana di dalam kantong kresek.

__ADS_1


"Gaji Mpok Neng hari berapa Mas?" tanya Eni setelah kepergian Yana, tapi Yana masih bisa mendengar pertanyaan Eni, Yana seolah-olah tidak tahu dan terus berlalu pergi dari warungnya.


__ADS_2