Perjalanan Berduri

Perjalanan Berduri
ke kampung Faizal


__ADS_3

Selasai memesan minuman Yana memutar badan badan menuju kembali ke tempat duduk nya yang semula, Abah dari tadi hanya duduk melihat kiri dan kanan jalan yang berada di depan nya, mungkin ada yang Abah kenal, kerana Abah sebelum ini pernah ke sini, malahan Abah mempunyai saudara jauh di sini, tapi Abah tidak tahu rumahnya berada di mana.


" Abah! ada yang Abah kenal di sini?" tanya Yana pas sampai di depan Abah nya lagi.


Abah sontak kaget mendengar suara dari arah depan duduk nya, wajah anaknya tiba-tiba sudah ada di hadapan Abah, pandangan mata Abah langsung beralih kepada anaknya lagi, mata tua seorang Abah memndangi tepat ke wajah anaknya yang masih asyik memndangi sekelilingnya, matanya terus menatap ke arah langit yang sudah meredup, senja sebentar lagi akan datang menjenguk mereka yang berada dibawahnya.


" Sudah pesan minuman nya Yana?" tanya Abah mencari topik di obrolan kecil antara mereka, Abah sejak tadi hanya duduk melamun sambil memperhatikan keadaan sekeliling nya, sebagai seorang orang tua, Abah harus mencari jalan agar anak nya bisa hidup bahagia, gimana pun caranya Yana dan Faizal harus berpisah, Abah tidak mau anak dan cucunya mempunyai seorang Ayah dan suami yang tidak bertanggung jawab.


" Sudah Abah, sebentar lagi pasti akan di hantar ke sini, Abah apa Abah ada mengenal seseorang di sini?" tanya Yana lagi sambil memperhatikan sekeliling mereka, Yana tidak mengenal seorang pun di sana, orang yang berada dalam warung semua asing bagi Yana.


Abah mengeleng-ngeleng kepalanya mendengar ucapan Yana, Abah lanjut memerhati lagi sekeliling nya, Yana sudah tidak peduli lagi, tas yang di letakkan atas meja di ambil Yana, kemudian Yana membuka tas, isi di dalam tas yaitu alat pintar milik Yana di keluarkan oleh Yana, Yana ingin mengalihkan perhatian pada alat pintar tersebut, sejak tadi Yana belum melihat lagi kejadian yang terjadi di sosial media, ini lah teman Yana ketika sunyi dan menghabiskan waktu di kala bosan.


" Yana...jika sudah selasai aja kasus kamu dengan Faizal, kamu ikut Abah pulang ya?" Abah membuka obrolan lagi, walaupun Abah tahu sebelum ini Yana pernah menolak ikut dengannya, sebab Yana memilih ikut suaminya, kali ini Yana tidak mempunyai pilihan lain selain lagi, atau memang kemauan Yana sendiri tidak kau mengikuti Abah nya.

__ADS_1


" Tapi Abah, aku masih mempunyai pekerjaan di sini, apa lagi aku sudah lama banget bekerja di tempat Mas Bambang, kan sayang kalau berhenti gitu aja!" tegas Yana lagi pada Abah nya. dulu Abah pernah juga mengajak Yana untuk mengikut tinggal bersama Abah, tapi Yana lebih rela memilih hidup serba kekurangan bersama suaminya, Abah Yana bukan orang kaya ataupun berkemampuan tapi Abah Yana sanggup melakukan apa aja untuk keluarganya, bukan seperti Faizal yang hanya tau pentingkan dirinya sendiri. Bagi Yana suami istri itu harus saling melengkapi antara satu sama lain, harus saling hidup bersama walaupun dalam keadaan susah dan senang, sebab itu Yana memilih mengikuti suaminya.


" Kali ini, tidak ada alasan mu lagi, sekarang kamu sudah janda Yana, tidak mungkin kamu tinggal sendirian di rumah bersama anak-anak, apa kata orang...apa kata tetangga Yana?" Kali ini Yana tidak bisa membuat pilihan, keputusan Abah nya sudah tidak bisa di ganggu gugat lagi.


Pria yang bikin kopi tadi mendekat ke arah Yana sambil membawa talam berisi dua gelas, satu yang kecil untuk air kopi Abah dan satu lagi yang besar untuk teh manis dingin Yana, satu air kopi tanpa gula, satu lagi air teh manis dingin yang di pesan Yana tadi, Abah gegas minum kopi yang panas-panasnya , kopi panas di hirup Abah ke dalam mulutnya dalam-dalam, Abah menikmati kopi panas sambil santai di luar warung.


drrrrrtttt... drrrrrtttt...


" Angkat aja Yana, ngak usah di pandang terus dari tadi, kamu pikir dia bisa jawab sendiri apa jika kamu tidak menyentuhnya?" canda Abah membuat Yana sedikit tersenyum, lalu Yana menggeser tombol yang berwarna hijau


[ Halo kak! ini aku, tetangga yang rumahnya berdekatan dengan perangkat desa...aku cuma mau kasih tahu yang dia sudah pulang ya! ] ucap seseorang yang sudah Yana kenal.


[ Iya dek! terima kasih banyak, kakak segera ke sana sekarang ] balas Yana lagi.

__ADS_1


Abah yang duduk di hadapan Yana sudah tau siapa yang menelpon Yana, alat pintar tadi di simpan lagi ke dalam tas nya, Yana dan Abah tidak langsung bangun, mereka terus menikmati air yang di pesan tadi, angin sore yang berhembus sepoi-sepoi di pinggir warung membuat Yana dan Abah ingin duduk santai-santai di sini, apalagi suasananya memang bikin betah berlama-lama di sini.


" Yok Abah, jangan kelamaan nanti terlambat kita sampai pulang ke rumah lagi!" ucap Yana sambil bangun dari duduk nya, kopi dalam gelas abah sudah habis kandas di minum Abah dari tadi, tapi Abah masih ingin santai-santai lagi di warung ini.


" Kamu pergi bayar air kita dulu, Abah langsung pergi ke tempat parkiran motor duluan!" ujar Abah lagi sambil bangkit dan berlalu menuju ke arah luar warung, begitu berat rasanya bagi Abah meninggalkan warung ini, Abah begitu suka suasana di sini, damai dan tidak berisik, benar-benar suasana desa banget, Abah belum pernah menemukan tempat yang senyaman ini, apalagi jauh dari perkotaan.


Tas di atas meja yang tidak jauh dari arahnya di raih oleh Yana, kemudian di silangkan tas tersebut di tubuhnya, sambil berjalan Yana sempat melirik ke arah orang-orang yang melihat ke arahnya, pasti mereka mengira jika Yana punya sugar dady, mereka berpikir Yana seorang perempuan mata duitan sebab mau jalan-jalan dengan orang tua seperti Abah, tanpa mereka tahu itu orang tuanya, Yana terus ke meja kasir tanpa peduli pandangan mata orang yang memandang tepat ke arahnya.


"Sudah bayar Yana?" tanya Abah ketika Yana sudah duduk di belakang motor Abah yang berboncengan dengannya di atas jok motor.


" Sudah lah Abah, kita pergi ke rumah perangkat desa tadi ya Abah?" sengaja Yana mengingat kan Abah nya lagi, siapa tahu mungkin Abah terlupa pergi ke sana.


" Iya, emangnya mau kemana lagi kalau bukan ke sana, ngapain coba kita kesini Yana?

__ADS_1


__ADS_2