
Tante Yana masih merasa aneh dengan keponakannya, mau bertanya terus terang pada Yana Tantenya ngak punya keberanian, biasanya Yana akan bercerita sendiri tanpa di tanya, ruang tamu rumah Yana yang hanya ada sehelai tikar plastik membuat rumahnya terasa luas dan bersih.
"Ngak apa-apa Tante, cuma libur sehari kok, bukan selalu aku libur begini Tante." sahut Yana lagi menimpali pertanyaan Tantenya.
Perbincangan hangat mereka menjadi semakin lancar, apa lagi Yana tidak pernah bisa berbual-bual panjang seperti ini, akibat terlalu sibuk berkerja setiap hari membuat waktu Yana semakin terbatas dengan keadaan di rumah.
Siang hari berlalu dengan cepat, Yana yang sebelum ini hanya merasakan suasana di warung hari ini merasakan suasana yang begitu berbeda di rumahnya, Azham yang sudah pulang dari sekolah sedang makan siang, sebentar lagi mau bersiap-siap mau ke tempat mengaji.
"Azham...kalau Umi mau ikut atok, Azham mau ikut ngak?" tanya Yana pada anaknya yang sedang asyik menyuapkan makanan ke dalam mulut mungilnya
Azham tersentak dengan ucapan Uminya, sebelum ini Yana tidak pernah membicarakan perihal tersebut, tiba-tiba Yana memberi anaknya tentang kepindahan mengikuti Abah Yana.
Beberapa tahun ini menu andalan Yana adalah ayam, Yana sudah berkerja selama empat tahun dengan Mas Bambang, Mas Bambang memberi harapan untuk Yana untuk bertahan hidup di saat waktu Yana kesulitan, tapi sekarang Yana sudah tidak bisa bertahan lagi, dia sudah tidak sanggup menahan hinaan dari Eni istri dari Mas Bambang, yaitu bosnya sendiri.
"Azham akan ikut kemana Umi pergi, kalau Umi mau ikut Atok, Azham akan ikut juga." jawab anak Yana dengan penuh perhatian pada Uminya.
"Umi kenapa tanya begitu...Umi mau pindah ya?
"Bukan lah...Umi cuma tanya, siapa tahu besok-besok pintu hati Umi terbuka untuk ikut Atok, jadi kalian sudah siap ikut Umi kan?" Yana belum bisa berterus-terang pada kedua anaknya, Yana butuh waktu yang lebih tepat untuk membahas tentang rencana Yana.
Selasai acara makan, Azham pamit izin ke tempatnya mengaji, dengan mengayuh sepeda Azham berangkat pergi ke tempatnya mengaji, Yana masih betah mengeram di rumahnya, seharian ini kerajaan Yana hanya duduk dan berbaring di ruang tamu sambil menonton tifi, aktivitas yang selama ini Yana inginkan, ingin seperti Ibu rumah tangga yang lain, tapi Yana tidak pernah mendapat haknya sebagai istri yang hanya menunggu kepulangan suami di rumah.
Malam harinya selasai makan malam, masing-masing masuk ke kamar, Yana sekarang tidur sendirian, anaknya Hafiz memilih tidur bersama Abangnya, di ruang kamar Yana memilih tidur terlentang sambil memandang ke loteng langit, Yana masih memikirkan rencana yang akan di ambil, sehingga mata Yana masih tidak bisa di ajak kompromi lagi, akhirnya Yana tertidur.
Menjelang pagi yang dingin Yana masih juga belum mengambil keputusan untuk pindah mengikuti Abahnya, setelah anak-anaknya berangkat ke sekolah, Yana mengambil keputusan untuk meraih alat pintar di sudut ranjangnya, segera di cari nombor yang sudah di simpan di alat pintarnya.
__ADS_1
Tit...tit...tit...
Untuk ke tiga kalinya panggilan pun terhubung.
[ Halo Abah... Abah apa kabar? ] tanya Yana pada Abahnya.
[ Abah baik nak...Kamu lupa sesuatu Yana ] canda Abah Yana.
[ Lupa apa Abah...apa ada sesuatu? ] lanjut Yana lagi pada Abahnya.
[ Kamu lupa kasih salam pada Abah Yana ] balas Abahnya lagi.]
[ Ooo...maaf Abah... assalamualaikum Abah? ]
[ Waalaikum salam...gitu donk ] sahut Abah sambil terkekeh mendengar ocehan anaknya.
[ Pasti lah aku rindu sama Abah...Abah aku punya berita gembira untuk Abah ] lanjut Yana lagi.
[ Apa berita bahagia tersebut untuk Abah Yana? ]
[ Iya Abah...Abah mau tau ngak?kalau ngak ya ngak apa-apa ]
[ Mau lah Yana, malah mau tau banget ni ] lanjut Abah.
[ Aku akan menyusul Abah ke sana, aku akan ikut Abah untuk tinggal di sana ] sahut Yana.
__ADS_1
[ Benar ini Yana...Abah tidak bermimpi ini kan? ]
[ Ngak Abah...Abah ngak bermimpi, aku memang benar-benar ingin menyusul Abah ke sana, aku sudah tidak sanggup tinggal di sini lagi, tapi aku harus menyiapkan perpindahan sekolah anak-anak dulu ya Abah? ] timpal Yana lagi.
[ Baiklah...Abah akan tunggu kamu datang, jika nanti kamu sudah selesai bisa telpon Abah, Abah akan menjemput kamu. ] ucap Abah dengan nada kegirangan.
Hati Abah terlalu gembira setelah bertelepon dengan Yana satu-satunya anak Abah, apalagi dengan berita yang Yana katakan tadi, Yana akan pulang dan tinggal bersama Abah lagi, Yana sudah berpikir dengan jernih, Yana tidak mungkin tinggal sendirian dengan statusnya sebagai janda anak dua, Yana takut akan jadi cibiran orang-orang jika dirinya tinggal sendiri.
Sore yang redup tanpa sinaran matahari senja membuat Yana semakin mantap ingin ke warung Mas Bambang, rencananya Yana ingin ke tempat tersebut sebab Yana ingin izin berhenti kerja dari Mas Bambang, bagi Yana dia masuk kerja secara baik-baik, Yana ingin berhenti kerja pun dengan cara baik-baik juga.
"Assalamualaikum Mas Bambang?" ucap Yana ketika memasuki pintu warung.
Kebetulan ketika Yana masuk ke depan pintu warung, Mas Bambang sedang berada di dapur ayam penyet, tangan Mas Bambang begitu cekatan membolak-balik ayam yang berada di dalam kuali, akibat kurang fokus hampir saja ayam yang di goreng Mas Bambang hangus.
"Waalaikum salam...eh Mpok Neng." ucap Mas Bambang yang mata dan tangannya masih fokus ke dalam kuali.
"Duduk dulu Mpok Neng...aku ada hal mau bertanya sama Mpok Neng." ujar Mas Bambang lagi.
Tubuh Yana yang sedikit ngak enak di bawa duduk di bangku yang selalu jadi tempat favorit Yana, bangku kayu yabg yang sudah menemani Yana selama bertahun-tahun, mata Yana terus menghadap ke arah Mas Bambang yang telaten mengangkat ayam yang berada dalam kuali.
"Kamu sakit ya Mpok Neng...kok kamu ngak kasih tau kalau kamu sedang sakit!" ujar Mas Bambang yang masih menyusun ayam yang sudah di goreng di dalam tempatnya.
"Mas...duduk dulu, aku mau kita berbicara sebentar aja!" ucap Yana pada Mas Bambang yang masih berdiri di rak estelasenya.
"Sebentar ya Yana? mumpung dikit lagi mau siap ni." ucap Mas Bambang yang masih belum berhenti dari pekerjaannya.
__ADS_1
Mas Bambang terus menyusun pelbagai pelengkapan di dalam kotak nasi, rencana nya ayam-ayam tersebut harus di dingin kan terlebih dahulu sebelum akan di kemas.