Perjalanan Berduri

Perjalanan Berduri
Yana pulang kampung


__ADS_3

"Mas Bambang...rencananya aku mau beristirahat sejenak dari bekerja." ucap Yana pada Mas Bambang dengan perasaan masih ragu-ragu dan kuatir.


Mas Bambang belum mengerti maksud Yana, Mas Bambang kembali bertanya lagi pada Yana dengan jelas apa maksud Yana yang sebenarnya.


"Maksudnya apa ya Mpok Neng? aku belum mengerti." sahut Mas Bambang lagi.


huffffffffff...


Yana menarik nafasnya dalam-dalam dan melepaskannya dengan gerak yang sama, Mas Bambang masih menatap serius ke arah Yana.


"Hai Mpok Neng...berat amat nafasnya." canda Mas Bambang lagi pada Yana.


"Mas Bambang aku sedang serius ini, mulai hari ini aku mau beristirahat dulu dari bekerja, aku mau ikut Abah pulang dan tinggal di rumahnya, aku sudah capek Mas setiap hari bekerja" ujar Yana dengan nada lelahnya.


Sebenarnya Yana bukan lelah atau pun capek, itu cuma alasannya aja, tapi Yana tidak bisa memberitahu akan sikap Eni yang tidak bisa menerima Yana sebagai karyawan, Eni tidak bisa menghargai Yana sebagai manusia, bagi Eni, Yana hanya lah seorang babu di matanya, Eni tidak pernah menghargai dan menghormati Yana sebagai orang yang bekerja di warungnya.


Mas Bambang tidak bisa berbuat apa-apa lagi dengan keputusan Yana, keputusan Yana sudah bulat, wajah Mas Bambang menunduk terpaksa semua menerima keputusan Yana yabg berhenti kerja tiba-tiba. Mas Bambang juga ngak bisa menegur sikap istrinya untuk lebih menghargai orang lain.


"Kalau begitu aku tidak bisa ngomong apa-apa Mpok Neng, sudah Mpok Neng mau istirahat, aku bisa ngomog apa Mpok Neng...


...Cuma Mpok Neng harus ingat yang aku katakan ini, pintu warung ku ini sentiasa selalu terbuka luas untuk Mpok Neng kapan saja, aku harap Mpok Neng bisa beristirahat dan kembali bekerja dengan aku ya Mpok Neng." balas Mas Bambang lagi pada Yana.

__ADS_1


Lalu Yana pulang setelah membahas perbincangan tentang rencananya untuk beristirahat, besok Yana berencana akan pergi ke sekolah anak-anaknya untuk mengurus perpindahan sekolah anak-anaknya.


"Azham! mau ngak kalau kita pulang ke rumah Atok?" tanya Yana pada anaknya Azham.


Azham yang sudah siap ingin ke tempat mengaji, menghentikan dulu langkahnya dan berbalik lagi ke arah Yana yang masih berada di depan pintu, Azham belum belum tahu apa yang sudah Uminya rencanakan.


"Sekolah aku gimana Umi...apa aku harus pindah sekolah?" tanya nya lagi.


Yana menggangguk kan kepalanya tanda setuju ucapan anaknya tadi.


"Besok Umi akan ke sekolah kamu dan Adik, Umi akan minta surat perpindahan kamu pada guru mu besok!"


"Baik Umi." sahut anaknya yang pasrah dengan keputusan yang orang tuanya ambil.


Semua pakaian sudah di masukan ke dalam kardus, ada juga yang di masukan ke dalam tas, rencananya besok pagi-pagi Yana akan berangkat pulang ke rumah Abahnya, Yana sudah mengambil keputusan ini untuk tinggal bersama orang tuanya untuk sementara, setidaknya Yana tidak sendiri, ada orang tuanya yang mendampinginya dan masih berdiri di belakang Yana.


Rumah yang ditempati oleh Yana sekarang akan di tinggalkan untuk sementara waktu, Yana terpaksa mengikuti orang tuanya, tidak mungkin dia bisa hidup sendiri tanpa ada seorang laki-laki di dalam rumahnya.


Sore ini hujan turun dengan derasnya, membuat aktivitas Yana sedikit terhambat, Yana ingin ke rumah Tantenya dulu untuk izin pamit dari Tantenya.


Di teras rumah Yana duduk santai di atas bangku dari kayu sambil menunggu hujan akan berhenti, di hirupnya pelan-pelan segelas teh hangat yang berada di tangannya, ini lah suasana yang di mimpikan selama ini.

__ADS_1


"Umi...kapan kita akan berangkat ke rumah Atok?" si kecil yang sudah tahu akan kepergian mereka bertanya pada Ibunya yang masih di tempat yang sama sambil menghirup air teh hangat untuk menghilangkan sedikit rasa bosan dalam dirinya.


Rumah ini yang sudah lama Yana tempati, banyak kenangan yang masih tertinggal di sini, di mana rumah ini menjadi saksi bisu perjuangan untuk bisa terus hidup, di rumah ini juga Yana menjadi wanita yang tegar dan kuat, semoga aja di rumah Abah Yana bisa hidup lebih baik lagi.


Hujan sudah pun berhenti, halaman rumah yana banyak air hujan yang bergenang di mana-mana, tubuh Yana yang malas di angkat bangkit sebisa mungkin, Yana harus ke rumah Tantenya dulu sore ini, besok pagi-pagi Yana sudah ada yang menjemputnya


"Assalamualaikum Tante?" teriak Yana dari arah luar rumah Tantenya.


Rumah Tante yang tertutup rapat tidak ada menunjukkan ada orang di dalam, Yana tidka ingin lama-lama di rumah Tantenya.


"Aku pulang aja, besok pagi aku datang lagi pamit pada Tante." batin Yana sendiri sambil terus berjalan pulang.


Barang-barang Yana sudah siap di bungkus dengan rapi, Yana hanya membawa bajunya dan anak-anaknya, barang-barang lain di tinggalkan di rumah itu, rencananya Yana akan pulang ke sini lagi.


Di rumah Abah Yana lain lagi, mereka terlalu bahagia anaknya akan kembali tinggal bersama mereka, selama ini mereka selalu berharap Yana akan tinggal lagi bersama orang tuanya, tapi Faizal selalu menolak, dia lebih suka tinggal di rumah peninggalan nenek Yana di kampung.


"Mak tau ngak Yana besok berangkat jam berapa?" Abah yang sedang duduk di teras sambil menghirup kopi membuka obrolan mereka.


Suasana hari ini yang redup tanpa sinaran matahari membuat aktivitas sore Abah dan Mak Yana menjadi lebih leluasa duduk santai di depan rumah.


"Yana ngak bilang sih mau berangkat jam berapa... tapi setahu Mak angkutan dari kampung Yana tinggal biasanya akan berangkat pagi." sahut Mak Yana sambil memasukkan cemilan pisang goreng buatannya sendiri.

__ADS_1


Mak Yana sudah membersihkan kamar Yana yabg Yana tempati sebelum ini, termasuk kamar cucunya yang mendapat hak kamar masing-masing, rumah Yana yang besar dan mempunyai lima kamar membuat mereka bisa bebas mendapat kamarnya sendiri.


Ke esokan harinya toko grosir Abah sengaja di tutup hari ini, Abah mau menunggu anak dah cucunya di rumah, sudah lama Abah menunggu saat-saat seperti ini, Abah bukan mau memisah kan Yana dan suaminya tapi Abah mau Yana dan Faizal tinggal bersama mereka, tapi Faizal menolak dengan keras rencana Abahnya, dengan dalih Faizal dan Yana ingin mandiri.


__ADS_2