
Perjalanan ke rumah sakit seakan-akan begitu lama sekali, Yana yang berboncengan di belakang terus memanggil nama anak nya berkali-kali, tapi tidak ada reaksi apa pun, Rasya terus mendiam kan diri, seakan-akan Rasya sudah capek untuk bangun, dia mau tidur panjang.
" Lama sekali sampai ya Rifki?" ucap Yana pada Rifki yang terus fokus menatap ke depan.
Jalan yang sedikit gelap kerena mati lampu menyebab kan perjalan sedikit terhambat, Rifki terus mengendarai motor dengan kecepatan sederhana, Rifki tidak mau terburu-buru takut kaan terjadi sesuatu yang tidak bisa di elak.
" Sabar kak dikit lagi sudah sampai, lihat tu rumah sakit nya sudah sampai kan!" ucapan Rifki membuat hatinya sedikit tenang.
Anak dalam gendongan terus saja di tepuk seperti dia sedang terlena tidur, berkali-kali Yana mengatakan pada tante nya tadi anak nya terlelap sebab kecapean batuk, tapi di sebab kan hati nya ngak enak Yana membawa Rasya ke rumah sakit yang ada di kota tersebut.
Halaman rumah sakit yang agak luas membuat Rifki mudah mencari tempat parkir untuk motornya, sedang kan Yana terus membawa anak nya bertemu dokter, Yana ngak menunggu Rifki yang sibuk memarkir motor nya.
" tolong bantu kakak panggil kan dokter dek, anak kakak sakit ni?" Yana masih tenang ketika bertemu perawat tadi.
__ADS_1
Dalam pikiran Yana masih berpikir anak nya tidur sebab lelah batuk dari tadi magrib, Yana di suruh membaringkan anak nya yang mata nya sudah di tutup di letakkan atas ranjang pasien.
" kakak bisa mundur dulu, dokter akan cek anak kakak ya?" ucap perawat tadi dengan ramah.
Rasya anak Yana yang sudah terbaring lemah tidak berdaya, Yana hanya memerhati gerakan demi gerakan yang di lakukan dokter, makin lama perawat tadi semakin terlihat seperti orang kecewa, Yana semakin mendekat ke arah dokter dan perawat tadi.
" Anak saya ngak apa-apa kan dokter? dia cuma lelah saja tadi, batuk nya ngak berhenti sejak magrib tadi!" balas Yana dengan sikap polos nya.
" Anak saya Kenapa dokter? dia tidur saja kan?" Yana masih mengharap kan jawaban dari mereka.
Rifki yang tadi di luar sudah masuk ke dalam, Rifki tidak masuk sendiri, Rifki masuk membawa mama nya serta beberapa tetangga nya menemani tante Yana ke rumah sakit.
" Yana kenapa Rasya ngak bangun lagi? dia ngak apa-apa kan?" tante nya bertanya hal yang sama dengan Yana.
__ADS_1
Dokter yang bertugas ngak tahu harus bagaimana memberi tahu kan hal yang sebenarnya pada keluarga pasien, melihat Yana aja dokter sudah nggak sampai hati.
" Kak sabat ya, setiap manusia akab di beri ujian, dan kiya sebagai hamba nya harus menerima kenyataan ini dengan lapang dada...
.....Maaf kak anak kakak sudah meninggal dunia sejak di rumah tadi!" dokter terus diam tidak lagi membahas penyabar meninggal nya anak Yana.
Sedang kan Yana sudah ambruk di lantai, sudah ngak sadar diri lagi, tapi masih beruntung Rifki berdiri pas di samping Yana, jadi Yana ngak langsung jatuh, tapi masih di tahan dengan bobot tubuh Rifki yang sehat.
" Ya Allah Yana, miris sekali nasib mu!" ucap tante sambil meraung-raung meratapi nasibnya Yana yang tidak pernah habisnya, ada saja ujian datang pada Yana.
Rifki mencoba beberapa kali menelpon bang Faizal suami Yana, panggilan ke tiga baru tersambung, Rifki pun memberi tahu kan hal yang sebenarnya nya pada bang Faizal, tidak terlihat reaksi Faizal saat Rifki memberi tahu kan meninggal anak nya yang ke tiga.
" Kamu pulang kan?"....
__ADS_1