Perjalanan Berduri

Perjalanan Berduri
Pertemuan Yana dan Munzir


__ADS_3

"Kamu pikir ngak ada orang yang suka sama kamu Yana?


"Masih banyak orang yang mengharapkan kamu jadi istrinya, kamu aja yang buta tidak bisa melihat kehadiran mereka." ucap Mak Yana lagi dengan tegas.


"Jadi aku harus bagaimana sekarang Mak, aku juga tidak mau jika Mak tidak merestui hubungan ku dengan Munzir." Yana tetap mendengar ucapan dari mulut Maknya.


Bagi Yana pendapat orang tua paling penting, dia tidak mau pisang berbuah dua kali, sudah cukup dia membangkang pendapat orang tuanya dulu sewaktu masih bersama bang Faizal.


"Jika Munzir mencintai kamu dan menyayangi kamu dan anak-anak kamu, dia harus membawa mahar yang Mak sebutkan." ucap Mak Yana dengan tegas.


Selesai mengucapkan perkataan tersebut Mak Yana berlalu masuk ke kamarnya, Yana sendiri pusing dengan sikap Maknya sekarang, Yana juga tahu Munzir pasti tidak sanggup menuruti permintaan orang tuanya.


Segala persiapan sudah selesai lapan puluh persen, semuanya di tanggung sendiri oleh Yana, sementara maharnya Yana sendiri yang tambah tanpa sepengetahuan orang tuanya, Yana tidak mau rencana pernikahannya dengan Munzir hancur berantakan akibat ulah orang tuanya sendiri.


Sebelum mengambil keputusan untuk menikah lagi Yana terlebih dahulu sudah meminta pendapat dari anak-anaknya, anak-anak Yana semua setuju dengan pilihan yang Yana pilih.


"Dek...uang kamu cukup ngak untuk acara pesta kita nanti? Abang takut kamu kekurangan uang." ucap Munzir pada Yana yang sudah duduk di kursi yang mereka pilih.

__ADS_1


Yana dan Munzir janjian ketemuan disebuah kafe tidak jauh dari toko Yana, dia sengaja mengajak Munzir bertemu untuk berbincang rencana yang akan mereka lakukan di acara pesta mereka nanti.


Jika bertemu di rumah, Yana takut orang tuanya akan mendengar pembicaraan mereka yang sudah mereka rancang sebaik mungkin.


"Mahar yang aku kasih ke Abang, nanti kita jual lagi untuk biaya pesta nanti, asal Abang jangan cerita kan pada sesiapa rencana kita ini ya?" sahut Yana lagi.


"Abang...aku ingin bertanya sesuatu sebelum pernikahan kita terjadi, aku tidak mau Abang menyesal suatu hari nanti." ucap Yana dengan bertentangan mata dengan Munzir.


"Tanya lah...Abang akan jawab sebisa mungkin untuk kamu." sahut Munzir sambil tersenyum manis ke arah Yana.


"Apa Abang tidak menyesali dengan keputusan Abang ini? apa Abang terpaksa menikahi ku kerena Abang kasihan melihat ku di tanggalkan Abang Badaruddin?" mata Yana sudah berkaca-kaca menahan sebaknya.


"Abang benar-benar mencintai dan menyayangi kamu dan anak-anak kamu Dek, apa cinta Abang selama ini tidak cukup membuktikan bahwa Abang benar-benar sayang pada kamu Dek?" ucap Munzir sambil terus memegang tangan Yana.


"Aku cuma tidak percaya Abang benar-benar memilih ku sebagai istri Abang, Abang sendiri kan tahu aku seorang janda, apa Abang tidak ingin merasakan perawan, jika Abang menikah dengan ku seumur hidup Abang tidak akan pernah merasakannya." walaupun terdengar sedikit malu Yana tetap harus mengucapkannya.


"Untuk Abang perawan atau tidak sama aja, lagipun yang namanya hubungan suami istri rasanya sama saja kan? ngak mungkin punya Adek lubangnya di bawah, sedangkan punya perempuan lain lubangnya di atas." ucapan Munzir benar-benar membuat Yana terkekeh geli mendengar ocehan lucu dari kekasihnya tersebut.

__ADS_1


Munzir pria bujang yang berumur lebih muda dua tahun dari Yana, bermula dengan perkenalan singkat berbalas pesan dan komen akhirnya cinta berputik di hati Munzir untuk Yana, semula Yana tidak mencintai Munzir, tapi setelah pertemuan pertama mereka ketika Munzir ke rumah dengan membawa langsung orang tuanya, membuat Yana berpikir Munzir adalah benar-benar laki-laki yang tulus mencintainya tanpa memandang status Yana sebagai janda anak dua.


"Abang ini ada-ada aja ahhhh." oceh Yana sambil melepas kan tangan dari genggaman Munzir.


"Kamu sih Dek, tanyanya yang bukan." sambung Munzir lagi.


Yana benar-benar telah di buat jatuh cinta dengan Munzir, Yana yang selama ini tidak mengenal kasih sayang dari seorang laki-laki, kini dia dapatkan dari Munzir, Munzir memperlakukan Yana sebagai seorang wanita yang layak di puja dan di cintai.


Perbincangan hangat mereka menjadi semakin lancar, setelah mendapat keputusan yang telah mereka sepakati Munzir menghantar Yana kembali ke tokonya, Yana sengaja menutup toko lebih cepat hari ini, agar dia bisa bertemu dengan Munzir.


Di perjalanan Munzir terus memegang tangan Yana dengan lembut, ini sebagai bentuk bukti tulus kasih sayang Munzir yang benar-benar untuk Yana.


Sampai di depan teras toko, Yana segara turun dari jok motor Munzir yang berwarna biru gelap.


"Ngak ajak Abang mampir Dek?" tanya Munzir setelah melihat Yana terus berlalu masuk ke dalam tokonya.


"Ngapain mampir Abang, aku aja cuma mengambil barang sebentar ke dalam, lalu aku langsung pulang." jawab Yana yang sudah berdiri sejak mendengar suara pertanyaan Munzir tadi.

__ADS_1


Tanpa mendengar penjelasan Yana, Munzir langsung turun juga dari motornya, kini keduanya jalan bersamaan menuju ke dalam toko Yana yang lampunya masih menyala.


"Abang ini ngapain coba ikut-ikutan masuk kedalam, setelah masuk keluar lagi." oceh Yana menanggapi sikap Munzir yang tidak masuk akal.


__ADS_2