
Ambulans sudah menunggu jenazah Rasya memasuki mobil tersebut, Yana dan Mak nya sudah duduk di kursi depan, sedang Mak nya Yana dengan sigap duduk di kursi belakangan.
" Ikhlas kan kepergian Rasya Yana, tidak baik kamu menagis terus seperti ini, dia juga merasakan seperti yang kamu rasa, langkah kaki nya akan berat Yana." nasihat Mak Yana pada Yana yang masih belum berhenti menangis sejak tadi malam.
Hafiz di letakkan di pangkuan Yana, ambulans bergerak perlahan-lahan membawa jenazah Rasya ke tempatnya istirahat nya yang terakhir, Abah Yana mengubur kan jenazah Rasya tepat di depan rumahnya di kampung halaman Abah Yana.
" Rasya cepat sekali kamu pergi meninggalkan Umi nak, hiks...hiks...hiks....." ucap Yana di saat proses pengebumian berlangsung.
Yana melihat langsung bagaimana tubuh mungil anak nya di masuk kan ke dalam liang lahat, tubuh yang selama ini menghilang kab lelah nya, tempat Yana bermanja, tempat Yana bergurau senda, setiap malam Yana menatap wajah anak nya waktu anak nya menjelang tidur nya, tidak pernah Yana bayang kan anak nya akan pergi secepat ini, akan pergi meninggalkan Yana untuk selama-lama nya, jangan kan di alam nyata bermimpi saja Yana tidak pernah.
" Sudah Yana jangan menagis lagi, kamu tidak capek apa, dari tadi malam kamu menangis sampai sekarang belum berhenti-henti." ucap nenek sebelah Abah nya pada Yana.
Kuburan anak Yana berada di depan rumah nenek nya, setelah proses pengebumian Yana berangsur pergi menuju ke rumah nenek yang tidak berapa jauh dari arah Yana berdiri, orang-orang yang membantu proses gali kuburan masih berada di tempat, mereka di suruh pulang ke rumah Yana untuk makan terlebih dahulu, Yana mengambil keputusan beristirahat di rumah nenek nya.
Yana terlalap sebentar di teras rumah nenek nya, sepanjang malam Yana tidak tidur akhirnya Yana mengalah dengan keadaan Yana tertidur tanpa di sadari, anak yang di pangkuan Yana juga ikut tertidur.
Acara tahilan yang yana lakukan selama tujuh hari di rumah, selama tujuh hari itu juga Yana masih berharap anak nya akan bangun, yana setiap hari akan ke kuburan anak nya.
" Kamu dingin ngak Rasya, apa kamu lapar?" tanya Yana pada dirinya sendiri sambil terus memandangi kuburan anak nya yang ada di depan mata.
Nenek Yana yang melihat sikap Yana selalu beristighfar, Yana terlalu terpuruk dengan keadaan, ngak nisa menerima akan kehilangan anak di hidup nya.
__ADS_1
" Jangan begitu Yana, kamu lupa kalau kamu masih mempunyai Allah yang selalu ada di saat kamu butuh, sholat lah Yana agar kamu lebih damai dengan keadaan!" ucap seseorang yang sudah nggak sanggup melihat Yana terpuruk lebih jauh lagi.
acara tujuh hari pun selesai, walaupun Yana belum sembuh sepenuhnya setidaknya Yana tidak lagi menghantar makanan ke kuburan anak nya Rasya, atau Yana tidak lagi membawa payung ke kuburan ketika hujan turun membasahi kuburan anak nya.
Rumah yang sebelum ini riuh rendah dengan suara Rasya dan Hafiz bermain, sekarang sepi seperti tidak ada penghuni, hafiz walaupun dia masih kecil tapi dia juga tahu apa arti kehilangan.
" Yana kamu sekarang harus mengambil keputusan tegas untuk dirimu dan keluargamu." ucap Abah Yana di suatu sore.
Selama masa berduka Abah Yana tinggal bersama Yana di sini, yang Yana tempati adalah rumah nenek Yana sebelah Mak nya, nenek Yana sudah lama meninggal, dari kosong jadi rumah itu di tempati Yana dan suami nya.
Faizal setelah tujuh hari dia pulang ke kampung halaman nya sampai sekarang tidak terlibat lagi. Alasan kemarin sama Abah Yana, dia harus berkerja tidak di izinkan kan libur lama-lama.
di halaman rumah rumput sudah menjangkau, di sebab kan Yana mempunyai anak kecil seperti Rasya yang sakit sebelum ini, membuat Yana tidak bisa melakukan aktivitas nya sebagai ibu rumah tangga yaitu membersih kam rumah Yana.
" Abah! aku mau berpisah dengan bang Faizal, aku tidak bisa menerima dia menjadi suami ku lagi, sebab dia anak ku sampai meninggal Abah." Abah tersentak kaget mendengar ucapan yang keluar dari Yana sendiri.
. " Dia bukan malaikat Yana yang bisa menarik nyawa manusia." jawab Abah Yana mencoba menjadi orang tengah.
Abah Yana masih membela Faizal depan anak nya." ucap Abah pada anaknya Yana.
Faizal setelah kejadian tersebut jarang sekali pulang ke rumah, dia tidak ingat akan ada anak-anak lain yang sudah menunggu nya di rumah, anak-anak nya masih butuh sosok seorang ayah dalam hidup nya.
__ADS_1
" Tapi aku tetap membenci nya Abah, dia tidak peduli akan Anaknya yang sakit, tidak pernah memberi kan aku nafkah yang layak sehingga anak ku tidak bisa tertolong." ucap Yana di sela-sela tangisan nya.
Abah hanya mendengar keluhan Yana yang di pendam sendiri selama ini, Yana mencoba ikhlas menjalani hidup rumah tangga nya, Yana tidak mau anak-anak nya dari keluarga yang bercerai berai, tapi keputusan Yana mempertahankan rumah tangga nya ternyata salah.
" Jadi apa keputusan mu sekarang ini?" tanya Abah serius pada Yana.
Wajah Yana yang sembab akibat menangis beberapa hari ini tidak bisa membuat keputusan dengan hati yang sedang tidak baik-baik saja.
" Lebih baik di pikir kan dulu baik-baik Yana, jangan buat keputusan yang gegebah." timpal Mak Yana di antara perbincangan Yana dan Abah.
Rumah Yana yang sebelum ini di penuh sanak saudara kini sudah sepi, hanya yang tersisa Abah, Mak dan juga anak-anak Yana, Yana merasa kehilangan yang sesungguhnya sebab sebelum ini Yana tidal pernah jauh dari Rasya, setiap ibu pasti tidak sanggup jika harus kehilangan anak-anaknya, tapi kita harus berbalik lagi pada takdir yang sudah tertulis untuk hidup kita masing-masing.
" Benar itu Yana lebih baik sekarang pikirkan dulu gimana cara nya kami jangan seperti ini lagi, Rasya juga sedih melihat kamu seperti ini!" Abah tidak pernah lelah menasihati Yana.
Di usia yang begitu muda Yana harus mengalas beban yang sebegitu berat di punggung nya, Yana tidak pernah hidup berkecukupan seperti keluarga yang lain, tapi Yana tetap bersabar dan berharap suami nya suatu hari nanti akan berubah, tapi keadaan malah mrnjado seperti ini, Faizal makin terpengaruh dengan keadaan di luar, tidak pernah pernah ada sedikit pun rasa bersalah pada Yana dan anak-anak.
" Mau ke pasar Yana? kita belanja lauk siang?" Abah mengajak Yana ke pasar, agar kesedihan Yana sedikit hilang.
Yana dan Abah memang dekat, walau pun yana sudah menikah dan mempunyai anak, bagi Abah Yana, Yana tetap lah anak gadis yang yang masih kecil.
" Faizal memang selalu seperti ini ya Yana? ngak pernah pulang?
__ADS_1