Perjalanan Berduri

Perjalanan Berduri
Abah pulang


__ADS_3

Azham dan Hafiz berlari-lari kecil menuju ke arah Ayah nya berdiri, tangan Faizal terus terbuka lebar menunggu tubuh anak nya yang ingin memeluk nya, sudah lama Faizal tidak merasa kan suasana seperti ini, kehilangan seorang anak begitu berat di rasakan setiap orang tua, tapi seorang Ayah bisa menyembunyikan rasa kesedihan nya, tapi tidak untuk seorang ibu.


"Ayah kemana aja sih? sudah lama ngak pulang ke rumah lagi, Ayah ngak sayang kami lagi ya seperti adik Rasya yang sudah pergi?" tutut anak nya yang paling kecil meruntuhkan sifat keras jiwa laki-laki nya.


Tanpa Faizal sadari air mata nya jatuh di pipi nya, dia begitu kejam dengan anak nya selama ini, tapi jika ego nya selalu membantah kan keinginan nya untuk memberi nafkah yang cukup untuk keluarga kecil nya.


" Ayah kan harus berkerja nak, jadi Ayah ngak bisa selalu bersama kamu." sahut Faizal datar.


Yana dan orang tua nya cuma memerhati tingkah laku mereka dari jauh, mereka baru pulang menziarahi makam Rasya, Yana setiap hari menangis, akhir nya Abah Yana bersiatif membawa Yana ke makam anak nya, agar rindunya sedikit terobati.


" Masuk dulu Faizal?" sapa Abah nya Yana pada Faizal yang masih memeluk anak nya Hafiz.


Azham yang sudah sedikit sebanyak sudah mengerti keadaan hanya mendengar percakapan orang dewasa. Faizal mengendong Hafiz membawa nya masuk ke dalam rumah, Yana yang sudah duluan masuk hanya diam tanpa bertanya apa-apa pada suami nya Faizal.


Di ruang tamu sudah duduk berkumpul, Abah Yana mengambil kesempatan ini untuk bicara serius dengan Faizal, Abah tidak mau kejadian yang menimpa cucu nya akan terulang lagi, walau pun sudah tertulis waktu kematian menjemput tapi itu sebagai satu pengalaman agar lebih memerhatikan keadaan anak-anak.


" Faizal! Abah mau tanya sesuatu pada kamu?" suara Abah ngak sekuat bahu nya memikul beban yang ingin dipikul.


" Iya Abah! Abah mau bertanya apa?" sahut Faizal dengan suara lembut nya.

__ADS_1


Apa mungkin Faizal mau berubah setelah melihat keadaan anak dan istri nya yang di biarkan selama ini, bahkan Faizal menganggap mereka adalah beban bagi Faizal.


" Abah mau tahu dan bertanya sama kamu, apa kamu masih sanggup menjaga anak dan cucu Abah? jika kamu sudah ngak sanggup kembali kan mereka pada Abah, Abah akan menjaga mereka dengan baik." suara Abah terbata-bata mengucap kan keinginan nya.


Abah Yana sudah tahu keadaan Yana selama ini, Yana tidak pernah menceritakan tentang masalah keluarga nya pada Abah, sebab Yana tidak mau Abah nya tahu tentang Faizal yang tidak pernah menafkahi Yana dengan layak, yang lebih Yana ngak bisa maafkan, Faizal sanggup memotong jatah pembelanjaan di rumah, hanya untuk membeli obat untuk anak nya Rasya.


" Aku masih sanggup Abah, aku janji setelah ini, aku akan menafkahi Yana dan anak-anak dengan layak." ucap Faizal serius.


Abah Yana yang percaya pada Faizal sepenuh nya cuma manut dengan ucapan nya, sedang Yana yang tahu bagaimana sikap Faizal yang sebenarnya ngak bisa menjawab apa-apa.


Biar lah Faizal mau bicara apa pun pada Abah nya, hidup Yana tetap seperti ini, setelah ini Yana bisa bekerja, mencari uang sendiri untuk kebutuhan anak-anak nya.


Kepulangan Abah ke tempat tinggal nya begitu terasa, bagi Yana selama ini Yana hidup bersama Abah dan Mak nya di rumah, mereka sudah pulang lagi ke tempat selama ini keluarga Yana menetap.


" Yana! Abang keluar dulu ya? Abang mau mangkal dulu di tempat ngojek, nanti sore atau malam Abang pulang." ucap Faizal pada Yana.


Yana tidak memberi reaksi apa-apa, pandangan Yana kosong ke arah depan rumah nya, sejak anak nya meninggal Yana seolah-olah ngak ada semangat lagi untuk hidup, setiap hari kerjaan nya Yana duduk melamun sambil menangisi kepergian anaknya.


" Yana!" panggil Faizal lagi, " Kamu kenapa sih, sekarang kok dingin seperti itu?" Faizal tidak tahu bagaimana terpukul jiwa Yana dengan kehilangan anak di pangkuan nya sendiri.

__ADS_1


Yana sendiri bagaimana menyaksikan sendiri di depan mata nya bagaimana ketika anak nya sakaratul mau menjemput anak nya, Yana cuma berpikir anak nya hanya sendawa biasa, yang sering biasa anak nya keluarkan di hari-hari biasa, Yana tidak tahu itu adalah nafas terakhir yang anak nya keluarkan.


Kejadian itulah yang membuat Yana selalu menangis, tidak ada keluarga yang terdekat di samping Yana, di saat Yana mendapat ujian yang sangat besar, yang ada Ketika itu hanya tante nya yang sama-sama tidak tahu atau mengerti apa-apa.


" Kamu mau aku seperti apa bang Faizal? kamu mau aku tersenyum sepanjang hari, kamu mau aku ketawa tanpa alasan yang jelas, kamu mau aku yang bagai mana?" Yana berbicara begitu panjang.


Faizal sontak kaget dengan tingkah istri nya, sebelum ini Yana tidak pernah membantah apa pun ucapan Faizal, hari ni Yana mempunyai sikap yang berbeda dengan dirinya.


Faizal tidak peduli lagi dengan pertanyaan Yana, makin di jawab makin besar pertengkaran mereka nanti, Faizal menuju ke motor yang selama ini setia menemani nya ngojek, tidak mengira dalam keadaan panas atau pun hujan.


Yana melihat sekilas ke arah Faizal yang sudah pergi dengan mengendarai motor nya, semakin lama tubuh suami nya semakin hilang dari pandangan nya, kini perhatian Yana berlalih lagi ke arah anak nya yang bermain di depan nya.


" Kasihan kamu Hafiz, ngak ada teman main nya lagi, kamu sedih ngak adik Rasya sudah ngak ada?" walau pun anak Yana masih berumur empat tahun, tapi anak nya sudah bicara dengan lancar.


Hafiz yang asyik bermain mobil-mobilan berhenti sebentar menatap Umi nya yang selalu mengalir kan air mata di pipi, berat sekali hati Yana melepaskan kepergian anak nya yang tiba-tiba, apa lagi anak nya pergi untuk selamanya di dalam pangkuan nya sendiri.


" Atok bilang kan Umi, adik Rasya sudah bermain di surga, jadi Hafiz tidak sedih, Hafiz juga mau seperti adik Rasya yang bisa bermain di surga, Umi mau ikut?" ucapan anak Yana membuat Yana lebih sedih.


Segera di peluk dan cium anak nya, dalam hatinya Yana, " beri lah umur yang panjang untuk anak-anak ku, berilah kan juga kesehatan untuk buah hatiku, berikan aku kelapangan hati menerima ujian mu yang besar ini, lancar kan lah aku untuk mencari rezeki halal buat anak-anak ku." batin Yana terus memeluk anak nya sambil menangis.

__ADS_1


__ADS_2