Perjalanan Berduri

Perjalanan Berduri
Yana pergi


__ADS_3

[ Apa kabar Yana? kamu sehat kan? ] tanya Abah pada yang di talian yang sudah terhubung.


[ Sehat Abah, Abah gimana? jualan nya lancar kan Abah? jangan terlalu banyak bekerja Abah, Abah harus menjaga kesehatan Abah ] sahut Yana lagi basa basi pada Abah nya.


[ Alhamdulillah sehat, jualan Abah juga masih lancar, do,a kan saja jualan Abah selalu laris. ] ucap Abah lagi pada yang masih bisa mendengar suara Abah nya dengan jelas, apa lagi Yana sudah menyiapkan telinga nya malam ini untuk mendengar kan ucapan Abah nya. Yana ingin bercerita tentang kehidupan yang di tutup dengan rapat oleh Yana selama ini.


Yana sendiri tidak tahu apa yang membuat hati nya tergerak untuk menghubungi orang tua nya, Yana ingin meluah kan yang sudah bersarang di hati nya yang sudah sekian lama menghuni di hati nya.


[ Abah aku ada sesuatu ingin memberi tahu kan pada Abah! ] ucap Yana dengan lancar.


[ Ada apa Yana, cerita kan saja apa yang kamu mau cerita sama Abah.] ucap Abah Yana penuh harap.


Abah sedikit aneh dengan sikap Yana anaknya yang tiba-tiba menghubungi nya, sebelum ini Yana seorang yang pendiam dan selalu memendam dan menutup apa yang di rasakan, tiba-tiba hari ni Yana membuka hatinya ingin meluah kan segalanya pada Abah nya, Yana sudah tidak bisa menutup nya lagi, di masa-masa inilah Yana butuh sosok seorang Abah yang akan mendukungnya dari belakang.


[ Ini masalah bang Faizal Abah, bang Faizal sudah mencerai kan aku lewat talian telpon, aku hanya meminta hak ku sebagai istrinya, tapi dia malah menceraikan aku Abah ] Yana memberi tahu kan pada Abah nya dengan matanya yang berkaca-kaca, walau bagai mana pun bang Faizal pernah membahagiakan Yana, pernah hidup bersama melewati masa-masa susah dan senang ketika mereka bersama, Yana begitu menyayangi keluarganya, Yana sanggup mencari uang sendiri untuk menafkahi ketiga anaknya, hanya satu yang Yana harapkan, Yana tidak mau anak-anaknya hilang sosok Ayah di masa kecil mereka.

__ADS_1


" Miris sekali nasib mu nak, Abah tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu mu, kamu sendiri yang memilih jalan ini, Abah sudah meminta mu agar meninggalkan laki-laki yang tidak bertanggung jawab ini, kamu malah mempertahankan kan dia sebagai suami dan sekarang dia meninggalkan mu begitu saja tanpa alasan yang jelas" batin Abah sendiri yang ngak bisa dilihat oleh Yana, Abah sedih sampai mengalir kan air mata, sebagai orang tua Abah pasti tidak mau anak nya menjadi seperti ini, bagaimana seorang Abah membesarkan anak gadisnya dengan penuh kasih sayang dan perhatian, tapi suaminya malah berbuat semena-mena terhadap anaknya.


pembicaraan mereka terhenti setelah Yana sudah menceritakan semua tentang keinginan nya untuk pergi bertemu dengan perangkat desa yang berada di kampung halaman Faizal, Yana meminta pada Abah nya untuk menemani nya bertemu dengan orang tersebut. Abah menyutui permintaan anak nya, dalam masa dua hari lagi Yana akan pergi bersama Abah nya ke sana, Yana ingin memastikan statusnya kini, agar orang-orang di sana juga tahu Yana bukan lagi siapa-siapanya Faizal, Yana takut Faizal akan kembali lagi padanya jika tidak ada lagi tempat di tuju, sedangkan sekarang Yana sudah bukan siapa-siapa lagi Faizal.


[ Sudah ya Abah, besok-besok kita ketemu lagi ya? ] ucap Yana masih di talian telpon yang masih terhubung.


Hari di tunggu pun datang, Abah Yana datang ke rumah nya bersama Mak Yana, mereka sengaja datang berdua, jika Abah dan Yana pergi ke kampung Faizal, anak-anak Yana bisa tinggal bersama nenek nya sebentar, Yana sudah kasih tau pada Mak nya ada Tante yang bisa menjaga anak-anak, tapi Mak Yana tetap kekeuh ingin ikut Abah.


" Mak! Yana pergi dulu ya?" hati-hati di rumah." oceh Yana mengusik Mak nya yang belum begitu mengenali cucu nya, Yana takut aja Mak nya bisa bersabar dengan tingkah anak-anak Yana.


Sebelum Yana pergi ke kampung Faizal hari ini, Yana sudah izin libur selama dua hari pada Mas Bambang, walau pun agak berat Mas Bambang terpaksa mengizinkan untuk Yana libur, apa lagi ini urusan penting. Dengan berboncengan motor Abah Yana mereka pergi waktu masih pagi, mereka tidak mau sampai bisa kemalaman di jalan, apa lagi Abah yang penglihatan nya sudah agak berkurang.


" Assalamualaikum...?" salam Abah dari luar rumah, rumah yang terlihat besar dari luar rumah membuat Abah harus mengetuk pintu rumah berulang kali.


" Assalamualaikum Pak....?" salam Abah lagi, tetap masih belum ada jawaban.

__ADS_1


" Abah duduk aja dulu di sini, kita tunggu di sini aja dulu." ucap Yana pada Abah nya yang sudah mengetuk pintu rumah berulang kali, tapi masih tidak ada tanda-tanda keberadaan orang di dalam.


Abah menuruti Yana duduk di samping rumah, di samping rumah perangkat desa tersebut ada di sediakan sebuah pondok untuk keluarga nya santai-santai mungkin, kami pergunakan untuk beristirahat sejenak setelah menempuh perjalanan yang agak jauh tadi.


" Abah! capek ngak?" tanya Yana melihat nafas Abah nya yang sedikit turun naik dengan cepat, seperti ngos-ngosan. Yana merasa bersalah dengan keadaan Abah nya


" Ngak! Abah cuma haus aja Yana, apa kita ke warung kopi dulu untuk minum ya? nanti kita pulang lagi ke sini." ucap Abah menahan haus nya dari tadi, cuaca hari ini pun terik, pasti Abah kehausan sepanjang perjalanan mereka tadi.


Abah dan Yana mencari warung kopi yang tidak jauh dari rumah perangkat desa tersebut, agar mereka bisa memantau keadaan jika mereka harus segera pergi ke rumah tersebut, sebelum pergi dari rumah perangkat desa, Yana sudah pergi ke rumah tetangga untuk bantu di kabari jika orang di rumah pulang, mereka akan segara akan ke pulang ke rumah itu lagi.


" Abah mau pesan minum apa?" tanya Yana pada Abah nya.


" Seperti biasa aja Yana." sahut Abah, Abah pasti tahu Yana tahu apa yang Abah nya minum selama ini.


Yana segera pergi ke bahagian minuman, di sini ngak ada yang nama nya karyawan yang akan mengambil pesanan, kita sendiri harus ke tempat untuk memesan. Pria berusia agak-agak sebaya Yana berdiri di bahagian minuman. Yana langsung memesan pesanan diri nya dan Abah tadi.

__ADS_1


" Iya kak! mau pesan apa?" tanya ramah pria tersebut sambil tersenyum manis ke arah Yana.


" Kopi tanpa gula satu, teh manis dingin satu iya bang, ke tempat meja yang dekat luar itu ya bang." ujar Yana lagi.


__ADS_2