Perjalanan Berduri

Perjalanan Berduri
Yana mau berhenti kerja


__ADS_3

Eni tiba-tiba muncul di depan warung, melihat Yana yang tercegat di tempat parkiran sontak saja Eni memanggil Yana yang masih berdiri menatap tepat ke arah warung.


"Iya! baru mau masuk ni." alasan Yana pada Eni yang sudah melihat Yana di luar.


Yana terus melangkah menuju ke dalam warung, perempuan yang sedang sibuk menyapu terus saja memandang ke arah Yana tidak berkedip, seolah-olah Yana akan akan menjadi musuh nya, semua pekerjaan sudah di kerjakan oleh perempuan tadi, Yana yang ngak tahu lagi mau mengerjakan apa langsung beralih ke arah sambal yang belum di siap kan, sambal cabe merah dan cabe hijau yang sudah di masak di masuk kan Yana ke dalam plastiknya.


Waktu siang Yana yang sudah lebih dulu berpengalaman kerja di warung melayani pelanggan yang datang satu persatu, perempuan yang masuk kerja pagi tadi bernama Mira membatu Yana membungkus nasi, sedangkan yana tugasnya menggoreng ayam dan bahan lainnya, seperti tempe dan terong.


"Mas aku mau bicara sebentar." ucap Yana setelah waktu makan siang berlalu.


"Mau bicara apa Mpok Neng? seperti serius aja.


Mas Bambang kebetulan lewat di depan Yana, Yana pun mengambil kesempatan ini untuk bicara dengan Mas Bambang, Eni dan Mira sudah pergi ke supermarket yang ada di depan, Eni ngak pernah sedekat itu dengan Yana, bagi Eni, Yana adalah musuhnya.


Yana mengajak bosnya duduk di bangku depan, bangku yang jadi tempat favorit Yana selama ini, sebagai penjual dan karyawan warung Yana harus selalu ada di depan, untuk memudahkan pembeli mencari penjual.


"Ada apa sih Mpok Neng?" ujar Mas Bambang setengah bercanda dengan Yana.


Mereka pun duduk di bangku yang berada di depan warung, persisnya bersebelahan dengan rak ayam penyet.

__ADS_1


"Ada apa sih Mpok Neng...kok serius amat sih?" bos Yana masih bisa bercanda dengan sikap yang Yana tunjukkan.


"Apa Mas Bambang lupa janji kita Mas?


"Janji apa Mpok Neng...kok aku lupa ya, emangnya kita pernah janji sesuatu?" ucap Mas Bambang seolah-olah dia memang seperti orang yang kelupaan.


Yana pun menceritakan tentang janji mereka, sejak Abah Yana mengajaknya berpindah tinggal bersama Abahnya, Yana meminta untuk berhenti bekerja di warung, tapi Mas Bambang menolak mentah-mentah, dan lebih parahnya lagi Mas Bambang mengatakan pada Yana, bahwa Yana seorang yang tidak mempunyai perikemanusiaan, sebab Yana meminta izin berhenti dari kerjaannya di saat Mas Bambang butuh seseorang yang membantunya, dengan alasan anak akhirnya mereka membuat perjanjian, Yana harus mencarikan seorang karyawan yang baru dan siap di bimbing oleh Yana di warung, jika karyawan tersebut sudah bisa maka Yana bisa berhenti bekerja, sudah beberapa kali Yana tawarkan karyawan pada Mas Bambang, selalu aja Mas Bambang tolak, dengan alasan dia karyawan tersebut tidak bisa bekerja seperti Yana, setiap hari Yana menunggu kedatangan karyawan baru sehingga lah Eni sendiri yang mencarinya tanpa tahu ada perjanjian Mas Bambang dan Yana.


"Tapi itu bukan aku yang cari Mpok Neng, itu urusan Eni semuanya." Mas Bambang membela dirinya sendiri.


Mas Bambang sendiri tidak tahu tentang masalah karyawan baru, Eni tidak pernah memberitahu suaminya atau meminta pendapat suaminya, Mas Bambang tahu ada karyawan baru pas dia masuk kerja pagi ini.


"Tapi aku tidak setuju dengan karyawan baru masuk ke sini, besok aku langsung pecat dia, kamu jangan berhenti ya Mpok Neng?" Mas Bambang memohon pada Yana agar Yana tetap masih bisa berkerja dengannya.


Yana tetap bersikeras mau berhenti bekerja di warung, bagi Yana, Eni tidak menghargai Yana sebagai karyawan, yang Eni inginkan jika karyawan baru masuk maka suaminya tidak perlu lagi bantu Yana melayani pelanggan yang datang, cukup Yana dan karyawan baru tersebut yang berkerja, jadi Eni dan suaminya bebas kemana aja yang di inginkan, tanpa peduli keadaan di warung.


"Hari ini hari terakhir aku bekerja Mas." ancam Yana lagi.


Yana sudah lama ingin berhenti kerja di warung dan mengikuti Abahnya pulang ke tempat Abahnya, seperti Mas Bambang katakan jika Yana masih punya hati, Yana ngak bisa berhenti sesuka hati, dia harus memikirkan Mas Bambang yang ada anak kecil, sudah pasti Mas Bambang tidka bisa berkerja tanpa ada karyawan baru yang nasuk, Yana takut Mas Bambang tidak bisa berjualan jika belum ada keryawan baru yang masuk, Yana selalu menunggumu karyawan baru.

__ADS_1


"Aku bilang tidak bisa tetap tidak bisa Mpok Neng, besok juga aku akan pecat dia, kamu harus masuk lagi besok." setelah mengucapkan itu Mas Bambang bangkit dari duduknya.


Tinggal Yana yang masih gelisah akan keputusan yang akan di ambilnya, Yana tidak mau antara dia dan Mas Bambang menjadi tidak enak, atau yang membuat Mas Bambang membenci Yana, dia tidka mau itu terjadi, Mas Bambang sudah banyak membantunya.


Yana bekerja seperti biasa pada hari ini, dia terus menggoreng ayam pesanan pelanggannya yang berdatangan ke warung, sudah beberapa kali Yana meminta karyawan baru agar mencoba menggoreng ayam pesanan pelanggannya, tapi dia selalu menolak dengan alasan tidak bisa karena dia masih baru di sini.


Sore harinya...


"Mpok Neng aku keluar dulu sebentar ya?" ucap Mas Bambang pas berada di atas jok motornya yang akan membawanya entah kemana.


Eni yang berada di belakang suaminya cuma menatap ke arah lain, seolah-olah Yana tidak ada di hadapannya.


Yana hanya menoleh sebentar ke arah suara mas Bambang yang akan berpergian, Yana tidak menjawab ucapan Mas Bambang tadi, lalu dia melirik ke arah karyawan baru, dapat dilihat oleh Yana ketika karyawan baru menatap Eni dari jarak jauh dengan wajah tersenyum yang tidak dapat di artikan, apa lagi dia begitu dekat dengan Eni tidak seperti Yana yang di anggap sebagi musuhnya.


"Kamu harus belajar goreng ayamnya dek, mana tahu besok-besok kakak libur kamu ngak bisa goreng lagi." oceh Yana pada karyawan baru tersebut.


"Kalau kakak libur kan ada Mas Bambang yang bantu aku menggoreng." sahutnya santai.


"Kalau dia pergi seperti tadi gimana...kamu mau minta bantuan sama siapa?" lanjut Yana lagi dengan nada emosi.

__ADS_1


karyawan baru yang bernama Mira pun mengeyut kan bahunya, emosi Yana sudah berada di puncak ubun-ubun, sebisa mungkin Yana mencoba menahannya, apa lagi dengan keadaan yang sekarang ini.


__ADS_2