
Yana jadi serba salah, gimana bisa Abahnya tidak membolehkan Yana membawa anak-anaknya, sedangkan selama ini Yana tidak pernah berpisah dengan anak-anaknya, dimana letak naluri seorang Ayah yang memisahkan Yana dengan kedua anaknya, Yana jadi serba salah, ngak mau pergi dari rumah, tapi Yana sudah di usir oleh orang tuanya, jika pergi, gimana nasib kedua anaknya?
Tidak berapa lama Yana mengemas barang-barangnya Munzir pun pulang, dia kelihatan kaget melihat istrinya sudah bersiap, apalagi tas dengan ukuran yang besar sudah berada di depan istrinya.
"Ni kenapa Dek? kamu mau pergi kemana?" tanya Munzir dengan keadaan kelihatan agak aneh dengan sikap istrinya yang tiba-tiba mau keluar dari rumah orang tuanya.
"Kita sudah di usir dari rumah ini Abang...kemana kita harus pergi?
"Siapa yang usir kamu Dek?
"Abah dan Mak Abang, sebab ada sedikit salah faham dengan Rizal, jadi kita harus keluar dari rumah ini." sambung Yana lagi.
"Abang mau tanyakan dulu pada Abah." ucap Munzir sambil berlalu dari kamarnya.
Yana hanya memandang suaminya berjalan pergi dari kamar, Munzir segera mencari keberadaan Abahnya yang berada di depan teras, kebetulan pas Munzir pulang tadi, dia sempat melihat Abah mertuanya duduk di teras.
"Abah...kenapa Abah usir Yana dari rumah?" Munzir langsung ke pointnya tanpa basa-basi Munzir langsung bertanya pada mertuanya.
Abah yang duduk di teras sempat kaget dengan ucapan menantunya, tapi Abah sebisa mungkin untuk menjawab pertanyaan dari menantunya tersebut.
"Abah bukan usir kalian, tapi jika kalian tidak suka dengan sikap adik kalian sila keluar dari rumah ini, lagi pula rumah ini hak anaknya laki-laki bukan hak anak perempuan." tegas Abah lagi.
__ADS_1
Bukan membaik setelah bertanya, hati Munzir makin sakit, begini kah harga anak perempuan di pandangan kedua orang tua Yana, padahal selama ini mereka susah senang bersama Yana dan anak-anaknya.
"Abah ngak boleh berat sebelah, seharusnya Abah dan Mak berdiri di tengah-tengah, Yana anak kandung Abah juga kan?" Munzir masih bisa meredam emosi dengan sikap mertuanya.
Tiba-tiba dari arah belakang Mak datang ikut gabung membela Abah dari pertanyaan menantunya, wajah Mak Yana sudah ngak bisa di gambar lagi, kemarahan begitu terlihat di wajah Mak Yana.
"Istri kau tu keras kepala, jika di kasih tahu pun dia ngak mau dengar, makanya lebih baik kalian pergi aja dari rumah ini, tapi ingat cucu aku jangan kalian bawa, kalian aja aku yang kasih makan selama ini, gimana kalian mau kasih cucu aku makan nanti." ucapan Mak Yana begitu menyakitkan hati.
'Inikah yang kamu rasa selama ini Yana? makanya kamu sanggup mengikuti suami mu Faizal walaupun dia ngak bertanggung jawab' batin Munzir mengingat keadaan Yana yang selalu mengikuti suaminya walaupun dia tahu Faizal seorang laki-laki yang tidak pernah sekalipun memberikan nafkah padanya.
"Jika begitu, baiklah aku akan membawa Yana dan anak kami pergi dari rumah ini, tapi sebagai menantu aku sedih sebab kalian tidak pernah berlaku adil pada Yana dan adiknya." sesudah mengucap itu Munzir berlalu dari hadapan mertuanya.
Munzir kembali lagi ke dalam kamar yang mereka huni selama ini, Munzir tidak tahu harus membawa Yana kemana, sedangkan Munzir tidak memegang uang yang cukup untuk mengontrak rumah hari ini.
Pintu kamar di buka oleh Munzir, dia melihat Yana masih terbaring di ranjangnya yang masih terpasang, Gisya anak mereka tidur di dalam ayunan di kamar, Munzir segera mendekati Yana sambil tersenyum manis menatap ke arah istrinya yang masih menangis.
"Kita mau kemana ni Abang?
"Ntah lah Dek...Abang pun ngak tahu lagi harus kemana.
"Gimana nasib anak-anak jika kita pergi dari sini Abang, aku tidak pernah berpisah dari anak-anak ku selama ini, sampai hati Abah dan Mak mengusir ku." ucap Yana sambil menangis.
__ADS_1
Air mata seakan tidak mau berhenti mengalir di pipi Yana, makin lama makin deras, Yana sendiri tidak bisa mengontrol emosinya.
"Ingat Yana, seorang anak tetap akan mencari Ibunya, sekarang mereka masih kecil belum mengerti apa-apa, suatu hari nanti mereka tetap akan mencari kamu orang tuanya, bersabar lah." Munzir terus memujuk istrinya agar berhenti dari menangis.
Setalah keadaan agak mereda, Yana bangkit dari ranjangnya dan membuka sprei yang melekat di kasurnya, tanpa menunggu lama Munzir faham yang Yana maksudkan, Munzir pun segera membuka ranjang mereka, kasur di bawa keluar, ranjang satu persatu di buka.
"Kita mau kemana ni Abang?
"Kita pulang ke rumah mak dulu malam ini ya? besok kita pikirkan lagi jalannya." sahut Munzir yang terus merengguh saku celana jeansnya.
Munzir berencana menelpon teman yang bisa membantu Munzir mengangkat barang-barang mereka untuk di bawa ke rumah Mamaknya Munzir.
Tut....tut....tut....
Tiga kali berdering akhirnya telpon Munzir di angkat oleh temannya yang bernama Mawardi.
"Tumben telpon aku ni Munzir, ada masalah apa emangnya?" bekum ucap apa-apa teman Munzir terus menjawab di sebrang telpon.
"Salam dulu woi." seloroh Munzir pada temannya.
"Iya-iya... Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...ada apa Munzir?" canda Mawardi lagi.
__ADS_1
"Mawardi...bisa bantu aku ngak malam ini?