
Mata Abah terus menatap serius ke arah menantunya, Abah tidak mau pernikahan Yana terjadi lagi seperti kejadian yang sebelumnya, menikah bukan hanya untuk setahun dua tahun, kalau bisa sampai ajal menjemput.
"Aku sudah pikir masak-masak Abah, dan aku benar-benar serius ingin memperistri kan Yana untuk jadi istri ku." sahut Munzir tegas sambil di angguk setuju oleh Mamaknya yang berada di sampingnya.
"Jika kamu sudah serius Abah tidka bisa menjawab apa-apa lagi, itu terserah Yana...
...Urusan anak-anak Yana itu sudah tanggung jawab saya, Abah tidak mau memberatkan beban kebutuhan mereka pada kalian, semua yang menjadi kebutuhan anak-anak Yana menjadi tanggung jawab Abah." ucap Abah dengan mata berkaca-kaca.
Munzir mendengar ucapan Abah Yana, mereka pun mencari hari dan tanggal yang baik untuk pernikahan mereka.
Yana dan Munzir menikah seperti pengantin yang lainnya, walaupun Yana berstatus sebagai seorang janda, mereka tetap melakukan pesta besar-besaran.
Di hari pesta semua meriah, suasana yang cerah membuat pesta pernikahan mereka berlangsung lancar.
Malam harinya tamu yang datang semua sudah pulang termasuk Munzir sebagai pengantin laki-laki, Munzir bilang pada Yana akan kembali lagi setelah perkerjaan di rumahnya selasai.
Walaupun bergelar pengantin tidak membuat Yana mendiamkan diri, sesudah membuka baju pengantinnya Yana langsung ke dapur untuk membersihkan apa yabg ada di belakang, piring-piring kotor di cuci Yana sampai bersih.
"Lauk yang sisa di bagi saja pada tetangga ya kak, tinggal pun ngak ada yang makan lagi." ucap Yana pada tetangga yang sudah membantunya beberapa hari ini.
Merak yang duduk berkelompok menggangguk setuju dengan ucapan Yana, sambil terus mengambil plastik mengisi dengan lauk-pauk yang masih tersisa.
Yana lanjut masuk ke kamarnya, dengan keringat penuh di tubuhnya, baju yang menempel di badannya sejak tadi segera di buka, lalu Yana berlalu masuk ke kamar mandi.
Begitu air terkena tubuhnya, sontak saja Yana merasa segar kembali, air yang dingin menambah lagi semangat Yana untuk melayani suaminya sebentar lagi.
Tubuh Yana segara masuk lagi ke dalam kamar setelah aktivitas mandinya selasai, kipas angin yang menjadi teman Yana selama ini di tekan tombolnya agar bisa mendinginkan lagi tubuh Yana.
__ADS_1
"Eh...kenapa ngak bisa hidup ni?" ucap Yana setelah beberapa kali Yana menekan tombolnya tetap kipasnya tidak berpusing.
"Gimana ni, mau beli lain pasti tidak sempat ini, malam sudah terlalu lewat." ucap Yana sendirian di kamarnya.
Alat pintar yang berada di atas meja dia kamarnya segara di ambil, Yana ingin menghubungi suaminya Munzir, Yana akan memberitahu tentang kipasnya yang sudah rosak, Yana tahu mereka begitu butuh kipas nanti malam, apa lagi malam ini pasti akan jadi malam yang begitu panas untuk mereka.
tut...tut...tut
Akhirnya panggilan Yana terhubung langsung dengan suaminya Munzir.
"Abang...kipas Yana rosak, gimana ni?" Yana memberitahu suaminya dengan nada manjanya.
"Loh...kok bisa Dek?" sahut Munzir dengan wajah anehnya.
"Mana Yana tahu, tiba-tiba pas Yana buka sudah ngak bisa pusing lagi." sahut Yana lagi.
"Kamu ada uang ngak Dek?
"Ngak ada Abang, Yana mana ada uang, sudah lama Yana ngak buka toko, jadi ngak ada gaji." sahut Yana jujur.
Selama ini Yana di gaji sama Abahnya, jika Yana libur maka maka gaji Yana pun ngak jalan.
"Abang ada uang, tapi gimana ni Abang kan tinggal jauh dari rumah, toko pum sudah tutup ni Dek." sahut Munzir yang terus memutar otaknya mencari jalan.
"Coba Adek ke toko dulu, lihat buka ngak, Kalau buka cepat-cepat telon Abang lagi ke sini." perintah Munzir pada istrinya Yana.
Panggilan telpon pun terputus, Yana segara memakai baju untuk pergi ke toko yang di beritahu suaminya tadi, dengan hanya menggunakan daster serta jaket, agar tubuhnya ngak kedinginan.
__ADS_1
Perjalan yang dekat memudahkan Yana cepat sampai ke toko yang tuju, banyak toko-toko yang sudah tutup, hanya tinggal beberapa toko yang masih buka, Yana segara masuk ke toko yang di inginkan.
"Assalamualaikum?" salam Yana begitu masuk ke toko yang masih buka.
"Waalaikum salam...cari apa kak?" tanya karyawan dengan wajah setengah mengantuk.
Ada dua orang keryawan yang masih duduk di meja kasir di dalam toko, Yana segera mendekati ke arah posisi mereka duduk.
"Ada kipas di sini?" Yana langsung ke tujuannya aja.
"Ada kak...yok kita lihat mana yang kakak mau, ada banyak tipe di sini." sahut karyawan tadi dengan ramah.
Yana masih ragu-ragu untuk menceritakan hal yang sebenarnya, sebelum Yana masuk ke toko Yana terlebih dulu membritahu suaminya tentang toko yang masih buka.
Munzir begitu tahu ada toko yang buka langsung pulang ke rumah Yana, Munzir akan terus menyusul Yana ke toko tersebut, Yana tidak mempunyai uang sepeser pun di tangannya.
Lanjut lagi ke karyawan dalam toko.
"Kakak minat yang ini Dek." suara Yana langsung terpotong.
Setelah diam seketika Yana lanjut lagi membritahu hal yang sebenarnya pada karyawan yang terus menatap Yana dengan wajah yang aneh.
Yana tahu mereka heran melihat Yana yang keluar malam larut beginj dengan tangan dan kaki Yana masih berwarna merah, menandakan Yana masih pengantin baru.
"Gini dek, tadi kakak baru pesta, kebetulan kipas kakak rosak, kakak butuh banget kipas ini, tapi kakak ngak ada uang sekarang....
....bisa ngak tunggu suami kakak sampai dulu ke sini?
__ADS_1