
Yana merasa deg-degan dengan ucapan Abahnya dari luar, Yana bisa mendengar setiap perbualan di antara mereka, jujur saja Yana masih belum bisa membuka hatinya untuk menikah lagi, apa lagi dengan keadaan ekonomi Yana yang bisa mampu mencari nafkahnya sendiri.
"Ngak usah Abah, lain kali saja saya bertemu dengan Yana." ucap Munzir dengan wajah yang sudah memerah menahan malu.
"Kalau bisa di cepatkan saja pernikahannya, saya tidak mau anak-anak bergelimang dosa nanti." sela Mamaknya Munzir lagi.
Mak Yana tidak merespon apa-apa, dia hanya mendengar dan menyimak setiap perbincangan hangat yang terjadi sebentar tadi.
Mak Yana sudah menyediakan air teh dan penemannya hanya biskuit kering yang di bawa pulang Yana dari toko sore tadi.
Selasai perbualan panjang mereka izin pamit pulang, sebelum pulang Munzir tidak lupa mencium punggung tangan Abah dan Maknya Yana.
Besok pagi-pagi lagi Abah sudah memanggil Yana duduk berbincang tentang rencana tadi malam yang sudah Abah dan Mamaknya Munzir sepakati bersama.
"Jadi gimana Yana...kamu mau menerima Munzir sebagai suami kamu?" tanya Abah dengan jelas, tidak ada yang harus di sembunyikan.
__ADS_1
"Kenapa cepat sekali Abah, apa sebaiknya kita tunggu dulu sampai kami bisa mengenali hati masing-masing." ucap Yana pada Abahnya, Yana sengaja tidak menolak kedatangan Munzir ke rumah, Yana berpikir mereka tidak seserius begini.
"Kenapa kamu menolak menerima lamaran Munzir...apa kerena kamu sanggup mencari uang sendiri." ucapan Abah membuat Yana menundukkan kepalanya.
Memang benar apa yang Abahnya pikirkan, Yana berpikir tidak perlu laki-laki dalam hidupnya, Yana bisa mencari nafkah untuk anak dan dirinya sendiri.
"Apa tidak terpikir Yana...jika suatu hari nanti Abah sudah tidak ada lagi di dunia ini, siapa yang akan menjaga kamu dan anak- anak kamu Yana?jualan kamu tidak selalu laris seperti selalu nya, siapa yang akan bertanggung jawab pada kamu Yana?" ucap Abah dengan mata yang sudah memerah menahan air mata jatuh ke pipinya.
"Dia baik Yana, apa lagi yang kamu cari dan harapkan dari seorang laki-laki? kamu masih muda, masih butuh pendamping hidup yang akan menuntun kamu berjalan di dunia yang fana ini." tambah Abah lagi.
Mau tidak mau Yana terpaksa menerima keputusan dari Abah, mungkin Munzir jodoh Yana yang Yana tunggu selama ini, Munzir juga bisa menerima status Yana sebagai janda anak dua.
"Kan banyak yang lain Abah, kenapa dia sih yang jadi pilihan Abah? Abah sudah tahu perkejaan nya apa? jangan sembarang menerima menantu Abah, Abah tidak mau kan kejadian yang sama terulang lagi kembali?" tegas Mak Yana lagi pada suaminya.
"Jangan pandang seseorang dari pekerjaan nya Mak, asal rajin berusaha dan menerima anak kita sudah cukup, bukan mudah seorang laki-laki menerima anak dan cucu kita dengan tulus." sahut Abah Yana lagi.
__ADS_1
Cinta memang belum tumbuh di hati Yana untuk Munzir, sedangkan separuh hatinya masih milik Badaruddin yang sudah menjalin hubungan yang sudah cukup lama.
Yana tidak peduli lagi dengan keributan antara Mak dan Abah Yana, dia segera bersiap-siap untuk berangkat pergi berjualan seperti hari-hari sebelumnya.
Badaruddin tidak tahu hubungan yang sudah terjalin antara kekasih dan sahabatnya tersebut, bukan maksud Yana untuk mengkhianati cinta Badaruddin, tapi Yana butuh seseorang yang pasti bisa menerima Yana dan anak-anaknya.
"Yana! kalau bisa maharnya jangan terlalu mahal ya? bukan maksudku Abang merendah kan kamu tapi kamu kan tahu sendiri Abang orang miskin Yana." ucap Munzir suatu hari ketika bertandang ke rumah Yana.
"Ngak apa-apa Abang, aku ngak maksa kok, sekadar yang kamu mampu saja." sahut Yana pasrah menerima keputusan Munzir.
Mak Yana berbeda lagi pendapat, dia begitu bersikeras meminta mahar sesuai dengan mahar anak gadis, Yana yang semula membantah keputusan Maknya, tapi Yana kalah dengan keputusan yang sudah orang tuanya putuskan.
"Aku janda Mak, malu lah kalau mau mahar sama dengan anak gadis, Mak ini bagaimana sih?" Yana protes dengan keputusan Mak Yana menaikan harga maharnya.
"Kalau dia suka sama kamu, dia harus berusaha dan berkorban donk, jangan main-main minta anak gadis orang." sahut Mak Yana lagi.
__ADS_1
"Tapi aku janda Mak, orang mau melamar aku aja sudah bersyukur banget Mak." lirih Yana lagi.
Yana tidak habis-habisnya berpikir bagaimana cara untuk membuat orang tuanya bisa menerima Munzir apa adanya.