
yana tidak bisa berpikir lagi, kepala nya sudah pusing, baru pagi tadi kakak tu bilang nanti siang, pas yana datang siang, kakak tu sudah bilang lain lagi, penderitaan yana sekarang lengkap sudah, sekarang yana sudah ngak bisa berjualan lagi besok, modalnya sudah ngak ada lagi.
" tapi kak anak aku bilang belum kakak kasih, setiap pulang sekolah dia selalu lapor!" tegas yana lagi ngak mau mengalah.
kakak yang punya kantin tetap bersikeras mengatakan sudah membayar kepada anak yana, dengan alasan anak yana lupa kasih tahu yana yang kue nya sudah di bayar.
" mungkin dia lupa dek, sudah kakak bayar kemarin, ngak mungkin kakak menipu, ngak kaya kakak dengan duit kue kamu!" hati yana bagai di hiris-hiris hatinya, sakitnya sampai ke ubun-ubun.
" ya sudah lah kakak, mungkin iya anak aku lupa kasih tahu!" yana secepatnya mengalah.
yana ngak mau bikin masalah di sekolah, dia ngak mau kerena masalah sepele akan jadi keributan di sekolah.
" ini uang yang hari ni, jadi semua nya dua puluh cup, tinggal satu jadi uang nya semua lima belas ribu lima ratus, jadi kakak kasih enam belas ribu aja ya?" ucap kakak punya kantin tanpa rasa bersalah terhadap yana.
yana tidak membutuhkan orang bersedekah untuk nya, yana hanya mau uang haknya bukan belas kasihan orang, uang uang di kasih lebih enam belas ribu, yana hanya mengambil lima belas ribu saja, yana pun mengangkat kaki dari sekolah.
" aku pulang dulu ya kak?" yana masih juga bersikap sopan walaupun hatinya sakit.
kakak punya kantin hanya menatap tubuh yana menjauh dari halaman sekolah.
yana pulang dengan perasaan hampa yang bersarang di hatinya, yana berpikir kenapa nasibnya selalu berpikir kenapa musibah suka sekali datang ke kehidupan nya, kini pasrah akan keadaan yang datang, apapun yana harus kuat demi anak-anak nya.
__ADS_1
" yuk pulang nak?" ajak yana sesudah sampai ke rumahnya dnegan tangan kosong.
uang yang di dapat kan tadi sebanyak lima bekas ribu hanya cukup untuk membayar uang adik sepupunya riki, bahkan masih jauh dari kata cukup, yana meminjam uang riki sebanyak tiga puluh lima ribu rupiah.
" sudah dapat uang nya yana?" tanya tante nya datang dari arah dapur.
anak-anak yana bangkit saat yana mengajak nya pulang, mungkin anak-anak yana mau pulang akibat kecapean seharian menonton dari tadi pagi.
" sudah tante." ucap yana singkat
yana tidak mau tante nya tahu masalah uang kue yang ngak di bayar, yana ngak mau nanti menjadi masalah yang besar, cukup lah hanya dia yang tahu, yana bergegas mengajak anaknya pulang, air mata yana sudah dari tadi tertampung di pelupuk mata, memaksa mau di keluarkan semuanya, yana menahannya sekuat mungkin.
di rumah yana langsung menuju ke kamarnya, nasib yana baik hari ini, sejak pulang ke rumah anak-anak yana meminta terus tidur siang, padahal sebelum ini anak nya jarang sekali tidur siang.
sepemergian anak-anak ke kamar, yana menghempas badannya di atas kasur di kamarnya, bantal yang menjadi teman tidur nya kini harus menjadi tempat yana meluahkan segala kesakitan yang yana rasakan. bantal yang ada di kasur yana basah akibat di timpa air mata yana yang turun membasahi semua nya.
" kenapa kakak itu sanggup menipu ku? apa dia ngak tahu aku hanya mencari sedikit rezeki untuk memberi anak-anak ku sedikit jajan, apa nasib anak ku setelah ini." rintih yana sendirian di kamarnya.
kios sudah beberapa hari nggak di buka, hasil jualan kios sebelum ini yana pergunakan membeli bahan bikin brownis kemarin, tapi yana malah di tipu, ngak ada lagi yang bisa yana jual di kios nya, hanya tinggal beberapa mi instan dan sampo rambut, ngak ada yang bisa di harapkan lagi.
" azham! kalau boleh tahu hari ni hati apa ya nak?" azham yang belum mengerti apa-apa cuma tersenyum melihat tingkah umi nya tadi.
__ADS_1
tiba-tiba yana teringat kan suaminya yang sudah lama ngak pulang, yana tidak berniat menyusul suaminya ke kampung halamannya, yana cuma menunggu suaminya pulang seperti janjinya kemarin pada yana.
" hari ini hari rabu umi, emangnya kenapa umi?" azham masih belum tahu perjanjian antara ayah dan umi nya.
yang azham tahu ayahnya selalu menghilang, faizal akan pergi untuk waktu yang lama, jika sudah ngak ada tujuan dia akan pulang lagi ke rumah istrinya, yana selalu menerima nya, faizal ngak tahu kali ini yana sudah ngak mau lagi Seperti dulu, kali ini yana mau berubah.
" ngak apa-apa sih, cuma ayah janji kemarin ayah akan pulang setiap malam juma,at, jadi besok ayah sudah pulang ya?" terpancar keceriaan di wajah yana.
yana berharap dia bisa bertahan satu hari lagi sebelum kepulangan suami nya membawa rezeki untuk yana dan anak-anak.
" kalau begitu umi jangan susah hati lagi ya, besok azham ngak usah jajan, umi kasih adik aja uang jatah ku?" azham memang seorang anak dan abang yang baik
menu siang ini sudah kembali lagi seperti semula, hanya ini yang mampu yana sediakan untuk lauk siang anak-anaknya, mi instan dan telor dadar itulah menu andalan keluarga yana, anak-anak yana begitu perhatian dengan uminya, mereka tidak pernah mengeluh dengan keadaan hidup mereka, bagi mereka ada yang lebih parah lagi dari nasib mereka.
" assalamualaikum...?" suara salam daru luar rumah.
yana yang menidurkan anaknya di dalam gegas mengintip dari jendela kamarnya, siapa yang datang malam-malam begini.
"waalaikum salam..." jawab yana dari dalam kamar.
badan yana yang terlalu di bawa bangun menuju ke arah pintu depan, pintu yang sudah di tutup rapat mencoba untuk di buka.
__ADS_1
terpampang lah wajah seseorang yang yana tidak kenal berdiri depan pintu rumah. wajah seorang perempuan muda tersenyum manis menatap ke arah yana yang masih belum bisa memastikan kapan dia akan menjadi lebih baik.