Perjalanan Berduri

Perjalanan Berduri
Sudah tidak sanggup


__ADS_3

Yana meraba-raba kunci yang di letakkan di dalam tasnya, tidak berapa lama Yana segara membuka pintu toko yang ditarik ke samping kanan dan kiri, Yana hanya menarik samping kanan saja, sebab Yana berencana hanya sebentar masuk ke toko.


Munzir yang mengekor Yana dari belakang juga ikut masuk, begitu sampai ke dalam Munzir terus menempel kan tubuh Yana ke dinding toko, bibir Yana langsung di ***** rakus oleh Munzir yang sudah menahan nafsunya sejak tadi, Yana yang sudah lama tidak merasakan ciuman dari bibir seorang laki-laki turut merasakan kenikmatan yang luar biasa.


Yana sampai kehabisan nafasnya akibat ciuman dari bibir Munzir yang terus tidak berhenti ******* bibir Yana, dengan mata terpejam Yana merasakan nafsunya mengebu-ngebu, berbeda dengan yang suaminya lakukan, Yana tidak pernah merasakan apa-apa dari suaminya.


Dengan mulut masih terus bermain-main tangan Munzir juga terus bergerak ke dalam baju Yana, Yana sengaja memberi ruang untuk Munzir bergerak di tubuhnya, akhirnya ******* keluar dari mulut Yana, tubuhnya bergetar hebat ketika mendapatkan serangan dari tangan Munzir.


"Abang sayang padamu Dek, kamu harus percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut Abang." ucap Munzir setelah melepaskan bibir Yana.


Munzir terus memeluk tubuh Yana yang sudah tersipu malu dengan apa yang sudah mereka lakukan tadi.


"Dek, kamu percaya ngak? Abang tidak pernah menyentuh atau bernafsu pada seorang perempuan, kamu wanita pertama yang Abang cium dan Abang sentuh." jujur Munzir lagi.


Yana masih saja merangkul leher Munzir dengan mesra, walau pun pernah bersuami, ini kali pertama Yana bisa bebas melakukan apa saja pada tubuh seorang laki-laki, Yana bebas merasa benar-benar menjadi wanita yang di cintai dan berharga di mata Munzir.


"Masak sih...umur sudah tua begini Abang tidak pernah menyentuh perempuan." ucap Yana sambil melepaskan tangannya dari leher Munzir.


Yana segara merapikan bajunya yang acak-acakan akibat ulah Munzir tadi, Yana terbawa terbang melayang ketika Munzir bermain di gunungnya, tidak pernah Yana merasakan begitu nikmat permainan dari tangan laki-laki.


"Benar Dek, bahkan Abang berani bersumpah Adek orang pertama yang Abang sentuh dan Abang cium." ucap Munzir lagi dengan bersungguh-sungguh.


"Sudah-sudah...jangan main sumpah segala...

__ADS_1


...yok kita pulang, nanti Abah susah hati lagi, sudah jam segini aku masih belum pulang lagi." ucap Yana sambil menarik tangan Munzir keluar dari tokonya.


Keduanya mengendarai motor yang berbeda, tapi Munzir terlebih dulu menghantar Yana sampai di depan rumahnya, setelah Yana masuk ke dalam rumah barulah Munzir melanjutkan lagi perjalanan untuk pulang ke rumah.


"Baru pulang Yana?" tanya Abah begitu anaknya terlihat di balik pintu rumah.


"Iya Abah...hari ni sedikit terlambat sebab banyak barang yang harus di rapikan dulu." bohong Yana pada Abahnya lagi.


"Ya sudah... mandi dulu, baru keluar makan, kami semua sudah makan tadi." ucap Abah sambil matanya terus menatap ke layar tifi yang sedang membahas topik kebakaran di sebuah kota.


Yana bergegas masuk ke dalam kamar, baju yang di pakai tadi sudah di lepas dari tubuhnya, kamar mandi menjadi tujuan Yana yang selanjutnya, di kamar mandi Yana masih terbayang-bayang perbuatan yang di lakukan oleh Munzir tadi.


Dengan menyentuh kedua gunungnya Yana terus bicara sendirian.


Makin lama Yana makin ketagihan dengan permainan yang Munzir mainkan, Yana selalu mengajak Munzir ketemuan, kadangkala di tempat Munzir bekerja, ada juga di toko Yana.


Munzir yang seakan mengerti dengan kemauan Yana, dia selalu memperlakukan Yana sama seperti sebelumnya, Munzir selalu meraba-raba gunung Yana sampai Yana puas dan tubuhnya bergetar hebat.


"Dek...apa kita percepat kan saja pernikahan kita, Abang tidak mau kita terus bergelombang dosa setiap hari, Abang juga sudah tidak sanggup menahan nafsu Abang lagi." ucap Munzir suatu hari setelah mereka bertemu di sebuah cafe tidak jauh dari toko Yana.


"Ikut mana yang baik saja Abang." lanjut Yana lagi.


Yana menyampaikan keinginan Munzir untuk segera mengadakan pesta pernikahan mereka, Abah setuju saja dengan keinginan Yana dan Munzir.

__ADS_1


Persiapan yang sudah selesai sepenuhnya, mereka akan menikah beberapa hari lagi, dengan acara yang pernikahan yang sederhana, sebelum mengadakan acara pernikahan mereka terlebih dulu harus menelpon Faizal, itu di lakukan agar pihak pengantin laki-laki dan penghulu yakin dengan status sebagai janda Faizal.


tut...tut...tut....


Penghulu mencoba menghubungi Faizal yang tidak tahu di mana keberadaan nya, nombor hape yang ada di dapat kan dari adik perempuan Faizal.


[Assalamualaikum...apa ini Faizal? ]


[Iya..ini saya sendiri...ini siapa ya? ]


[Oh...ini saya saudara mantan istri anda Riza Yana ]


[Ada yang perlu sampai harus menelpon saya ke sini ]


[Begini...saya ingin bertanya...apa benar anda sudah mencerai kan istri anda Riza Yana? ]


[Itu benar...saya sendiri yang menceraikan nya lewat hape ]


[Sudah berapa lama anda mencerai kan istri anda Riza Yana? ]


[Sudah empat tahun Pak ]


[Apa ada niat untuk rujuk kembali padanya ]

__ADS_1


[Niat sih... tapi tergantung Yana mau atau tidak rujuk lagi dengan saya ]


__ADS_2