
Riki memanggil yana yang berada dalam rumah, rumah yana terlihat sepi dari luar, kios sudah di tutup sejak kepergian Riki mencari azham tadi, yana yang masih terisak-isak segera menyahut panggilan dari Riki tadi.
yana berlarian ke arah pintu masuk mencari sumber suara Riki.
Riki yang tercegat di depan pintu memandang wajah kakak sepupu nya tersebut tanpa expresi, Riki sudah berusaha mencari azham kemana mana, tapi tidak ketemu.
" gimana ki? apa kamu ada ketemu dengan azham? apa azham baik-baik saja?" meluru pertanyaan keluar dari mulut yana.
azham yang sudah duduk di bangku di teras terlihat lelah.
" tanya nya satu-satu kak?" mulas riki dengan wajah kelelahan.
yana yang ikut gabung duduk dengan riki di teras, hatinya sudah ngak bisa di tanyakan lagi, pikiran seorang ibu pasti akan memikirkan yang tidak baik terjadi pada anaknya.
" azham kemana Riki? ada kamu tanya teman-teman azham!" yana makin lama maki lain yang di pikirkan.
" kak yana bisa diam dulu ngak? tunggu aku istirahat dulu sebentar ya kak yana!" Riki yang masih duduk lemah kelelahan akibat kecapean mencari azham tadi.
" iya...iya...kak yana diam!" ucap ku lembut melihat situasi riki kecapean.
yana pun gegas masuk ke dalam rumah, anak-anak yana masih larut di alam mimpi, mungkin akibat kelelahan bermain air, membuat mereka tertidur dengan pulas.
Riki yang diam sejak pulang tadi memberitahu azham telah si jemput ayahnya sejak pulang sekolah tadi, gurunya azham bilang ayah azham menjemput azham pas waktu anak-anak pulang. yana sudah agak tenang setelah mendengar cerita Riki tadi, Riki pun izin pamit pulang.
brummmmm... brummmmm....
sayup-sayup terdengar bunyi motor yang tidak asing lagi di telinga yana, yana yang masih duduk bersandar di dinding ruang tamu mempertajam kan lagi daun telinga.
__ADS_1
" iya, itu bunyi motor bang faizal tu!" bisik ku sendiri, badan ku yang sudah lelah menunggu mereka pulang ku bawa berjalan menuju ke pintu depan rumah, pintunya sudah ku kunci dari tadi.
sebelum yana membuka pintu, yana coba mengintip dari balik jendela yang berada di samping pintu yana buka, apa benar mereka yang pulang.
motor sudah pun berada di teras rumah, pintu yang terkunci tadi yana pusingkan kontak nya agar bisa terbuka menyambut kepulangan azham, yang membuat yana semakin kuatir, azham harus bersekolah besok, kok bisa ayahnya membawa dia pergi terlalu lama, azham keluar pagi tadi ke sekolah, sudah larut begini baru pulang.
klekkkk..
bunyi pintu yana buka dengan rakus, geram yana bertambah melihat tingkah suaminya yang ngak ada rasa bersalah pada yana.
" kok lama sekali pulang azham?" tanya yana pada azham dengan baju sudah tidak rapi lagi, berbeda sekali dengan yang di kenakan di waktu pagi tadi, baju kemana, celana kemana.
" tadi ayah ajak azham ke rumah temannya umi, sekarang azham tidur dulu ya? capek!" wajah azham memang terlihat kelelahan, sejak pagi keluar, malam begini baru pulang, semua tenaga dalam badannya yang kecil habis terkuras tanpa istirahat.
azham berlalu melewati di depan yana, badannya yang masih kecil berjalan terombang-ambing melayang di depan yana.
" kok bisa-bisanya sih bang faizal bawa anak ngak pulang-pulang? bang faizal tau ngak dia sudah capek-capek sekolah, tolong lah kasihan kan anak dikit?" rayu yana pada faizal
suaminya yang sudah terduduk bersandar di ruang tamu, jarinya bermain-main dengan rokok yang ada di tangannya.
malam berlalu dengan suasana yang hening, bunyi katak bersahut-sahutan di luar rumah, tak lama lagi hujan akan turun, yana tidak bisa tidur malam ini, hati nya gelisah ngak menentu, yana melirik suaminya faizal yang sudah tertidur di samping yana.
klekkkk....
pintu kamar yana buka dengan lebar, badan nya membawa masuk ke kamar anak-anak, mereka tidur dengan nyenyak sekali, yana dekati ranjang mereka dan duduk di sampingnya, kadangkala yana memukul nyamuk yang hinggap menggigit mereka.
Pap... Pap...yana memukul nyamuk yang hinggap di badan anak nya berkali-kali, sehinga mereka mati seekor demi seekor terkena pukulan maut yana.
__ADS_1
" enak aja mau makan darah anak-anak ku, dengan susah payah aku memberi mereka makan, enak aja kamu mau menghisap darahnya." bebel yana sendiri dengan ulah nyamuk.
suara yang coba yana pelan kan tidak bisa membuat anak nya tidur dengan nyenyak, ternyata suara yana tadi mengganggu anak yana tidur, akhirnya si sulung terbangun dari tidurnya.
" umi masih belum tidur lagi ya?" tanya azham yang terkejut melihat ku duduk bersandar di samping ranjangnya.
"eh...azham sudah bangun ya? maaf ya umi ganggu, olnya tadi banyak nyamuk, makanya umi kesini!" ucap ku menyembunyikan resah ku dalam hati.
azham mencoba untuk bangun dari tidur nya tadi, yana yang masih duduk bersandar di samping ranjang membantu azham duduk.
"umi! bisa azham mengatakan sesuatu pada umi, tapi umi janji umi janji jangan kasih tau ayah ya?" ucap oli serius.
yana menganggap cuek aja ucapan anak nya tadi, bagi yana azham cuma masih berkhayal di alam mimpi, yana ngak menganggap serius pun.
" iya, ada apa nak? kami mau cerita apa, ceritakan aja umi dengar kok?" sahut yana tenang, setenang air di di dalam sumur.
kamar azham yang sempit membuat udara kurang nyaman, apalagi kamar azham tidak mempunyai jendela, membuat suasana kamar bertambah parah, baunya yang kurang enak berasal dari air ngiler adiknya bobok menambahkan lagi ketidaknyamanan kamar azham.
" umi! ayah sebenarnya tadi pergi ke tempat kawan nya yang berjudi, azham sudah mencegah agar ayah nggak ikutan bermain, tapi ayah ngak mendengar ucapan ku." suara azham sudah serak-serak basah menandakan dia lagi menangis.
" umi jangan terima bapak lagi ya? azham lebih baik makan nasi tanpa lauk daripada makan uang yang jelas asal usul nya!" lancar sekali kata-kata yang keluar dari mulut kecilnya, azham harus belajar bersikap dewasa sebelum sampai waktunya.
menganga mulut ku seakan tidak percaya yang yana dengar dari mulut anaknya sendiri, umurnya masih belum bisa menilai orang, tapi berbeda sekali dengan sosok azham yang membuat yana lebih bahagia mempunyai anak seperti dirinya.
" sudah...sudah...sekarang Sudah larut malam, azham tidur lagi ya?" ucap yana serius sambil terus mengeluarkan kata-kata semangat untuk anak-anak nya.
kali ini yana harus mengambil langkah dan keputusan yang kebaikan nya. rumah tangga yana dan juga masa depan anak-anak nya, langkah yana depan nya tidak perlu gegabah, yana harus memikirkan jalan keluar untuk masalah nya kali ini, masalahnya terlalu berat sampai harus membawa anak ke lapak judi tanpa memikirkan nasib anak kandungnya sendiri jika terjadi sesuatu.
__ADS_1