
Kakak-kakaknya Munzir bersama orang tua mereka melihat bayangan motor yang masuk ke halaman rumah mereka, sedang Mawardi yang sudah dulu sampai ke rumah Munzir segera membuka pintu belakang mobil pikapnya, Mawardi juga sudah menelpon beberapa temannya untuk membantu Munzir menurunkan barang-barangnya dalam mobil.
"Assalamualaikum Mamak" ucap Munzir begitu sampai di dapan orang tuanya, kakak Munzir segera mengambil keponakan yang berada dalam gendongan Yana.
"Waalaikum salam...masuk dulu Yana" ujar mertuanya Yana, dia yang sudah mencium punggung tangan mertuanya manut dengan permintaan mertuanya.
Bergegas Yana masuk ke dalam rumah, sedang Munzir tidak masuk dulu, dia menunggu teman-temannya untuk mengangkat barangnya dulu.
"Letakkan Gisya dulu di ruang tamu, tunggu Munzir masukkan barang dulu ke dalam kamar baru kalian bisa tidur di sana" ujar Mamaknya Munzir lagi.
Yana yang masih mengalirkan air mata terus saja diam tidak mengindahkan obrolan keluarga mertuanya, Yana masih tidak bisa terima orang tuanya berlaku tidak adil pada anak-anaknya, Yana berjanji pada dirinya sendiri tidak akan berbuat demikian pada anak-anaknya walaupun mereka berlainan ayah.
Barang Yana semua sudah rapi di susun di kamar mereka, Yana pun membawa anaknya masuk ke kamar yabg sudah di siapkan Munzir, mertuanya Yana berbaring di ruang tamu, antara ruang tamu dan kamar Yana tidak berapa jauh, hanya sekatan dinding.
Yana tidak bisa melelapkan matanya, pikiran Yana kasih terbayang-bayang anak-anak Yana yang sudah di tinggal di rumah Abahnya, selama ini Yana tidak pernah berpisah dengan anak-anaknya, ini pertama kali Yana berjauhan dari anaknya, Yana bertekad akan memujuk suaminya untuk pulang lagi ke rumah Abahnya, walaupun harus memohon pada Abahnya.
"Tidur lah Dek, nanti kamu sakit kalau menangis terus." Munzir dapat mendengar tangisan Yana, Munzir juga tahu hati Yana pasti sakit jika berpisah dari anak-anaknya, tapi Munzir tidak bisa berbuat apa-apa, mereka di usir dari rumah, mau ngak mau mereka harus keluar.
"Tapi aku rindu dengan Azham dan Hafiz Abang, mereka juga pasti akan merindukan kita juga." ucap Yana sambil terus menangis.
"Anak-anak pasti akan mencari Ibunya, mereka hanya butuh waktu, mereka masih kecil belum mengerti apa-apa, sabar aja ya?
__ADS_1
...Abang janji jika Abang sudah punya uang untuk bisa kontrak rumah, Abang akan membawa mereka ke sini." itu yang Yana begitu menyayangi Munzir, walaupun Azham dan Hafiz bukan anak kandungnya tapi Munzir benar-benar menyayangi anak-anak tirinya.
Meraka pun terlelap setelah perbincangan panjang lebar di dalam kamar, Gisya seolah-olah tahu ini rumah neneknya, dia bisa tidur dengan pulasnya tanpa banyak ragam, berbeda jika di rumah Abah Yana, Gisya susah sekali untuk tidur.
Pagi menampakkan sinarnya, matahari hari ini begitu cerah, Yana sampai bangun kesiangan pagi ini sebab tidurnya kemalaman tadi malam.
"Ngak sholat dulu Yana?" tanya mertua Yana begitu gorden kamar Yana di buka oleh mertuanya.
Yana yang masih segan dengan mertuanya sebab masih tidur langsung bangkit dari kasurnya.
"Sholat Mamak..
"Ya sudah, sana wudhu dulu, Gisya biar Mamak tengokkan" ujar Mamak Munzir.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul lapan pagi, rumah mertua Yana sudah ramai kedatangan tamu, mereka ingin melihat anak dan istrinya Munzir yang sudah di ketahui adalah seorang janda dengan dua orang anak.
Mereka penasaran dengan sosok Yana yang bisa menikah dengan Munzir yang masih bujang, bahkan umur Yana lebih tua dua tahun dari Munzir.
"Mau jalan-jalan hari ini Dek?" tanya Munzir melihat istrinya kurang semangat, Yana lebih banyak melamun berbanding berbicara dengan orang-orang sekitarnya.
"Ngak mau Abang, aku rindu anak-anak." lirih Yana lagi.
__ADS_1
Mertua yang bisa mendengar percakapan antara menantu dan anaknya langsung mencelah perbualan mereka.
"Sabar nak, sekarang masing-masing hatinya masih panas, besok-besok pasti ada jalan keluarnya." mertua Yana memang tidak pernah memperkeruh kan keadaan, beliau selalu membawa air, tidak pernah membawa api biarpun anaknya di usir oleh orang tua Yana.
Yana bersiap-siap mau keluar untuk mengikuti kemauan suaminya, sedangkan Munzir sudah siap menunggu di atas jok motornya yang terparkir di depan rumah.
Setalah memakai baju sesuai keadaan Yana beralih ke anaknya Gisya, Yana pun segara mengganti bajunya Gisya, tapi di cegah oleh mertuanya.
"Tinggalkan aja Gisya di rumah, ngak usah bawa, biar bersama kami di rumah" ujar mertuanya lagi.
Munzir yang mendengar percakapan mereka menganggukkan kepalanya tanda setuju, Yana yang sudah bersiap segara mendekati suaminya yang sudah menunggunya dari tadi.
Perjalan mereka tidak menemukan tempat yang membuat mereka bisa mampir, pikiran Yana masih tertuju pada anak-anaknya yang tinggal bersama Abahnya, Yana belum bisa berpisah dengan kedua buah hatinya, kadangkala terbesit di hati kecil Yana, kalau dia tahu keadaan akan begini dia tidak menikah, tapi yang namanya takdir tentu sudah tertulis semuanya, kita hanya menjalankan yang sudah di atur yang kuasa.
"Kita mampir di sini aja ya Dek?" ucap Munzir begitu melihat Yana tidak merespon apa-apa sejak mereka berangkat tadi.
Akibat tadi siang Munzir tidak sempat makan siang, perut Munzir sudah menunjukkan sinyal harus di isi, cacing yang bermukim di dalam perutnya sudah demo habis-habisan sejak tadi, Munzir segera memberhentikan motornya tepat di depan warung ayam penyet yang sedang viral.
"Iya Abang" jawab Yana pasrah.
Yana dan Munzir berjalan beriringan masuk ke dalam warung yang bangku di perbuat dari kayu, Yana mencari tempat duduk yang agak jauh dari posisi ramai orang, kebetulan ada bangku yang masih kosong yang berada di barisan belakang.
__ADS_1
"Mas ayam penyetnya dua ya?" pesan Munzir pada orang punya warung.