
Malam makin larut dalam kepedihan, Yana tidak bisa menutup mata nya walaupun hanya sebentar, fokus mata Yana terus memandang ke arah tubuh anak nya Rasya yang terbaring kaku di ruang tamu, Faizal entah kemana, sejak menghantar anak nya pulang ngak terlihat lagi batang hidung Faizal.
Yana masih duduk meratapi kesedihan karena kehilangan anaknya, Faizal bukan lagi jadi pemikiran Yana, sekarang Yana hanya ingin lepas dari suaminya tersebut.
" Yana! sudah lah jangan begitu terus, anak mu juga sedih melihat mu begini!" ucap tante nya yang sudah ngak sanggup melihat tangisan Yana lagi.
Yana tidak peduli apa pun sekarang, tangan Yana terus memegang tangan anak ny yang sudah dingin, mata Yana terus melihat perut anak nya berharap perut itu akan bergerak lagi, Yana masih tetap berharap anak nya cuma tertidur sebantar, dan berharap Rasya akan bangun lagi.
" Rifki kamu sudah telpon bude mu sampai mana dia sekarang?" tanya tante yana pada anaknya Rifki.
Rifki sibuk mengangkut tenda-tenda dan perlengkapan lainnya untuk kebutuhan orang berziarah besok, masalah mau di kebumikan di mana, ngak tahu lagi sebab Yana tidak bisa di ajak bicara, sedang Faizal ngak tahu rimba nya, sekarang hanya menunggu kedatangan keluarga Yana sampai.
" Sudah aku telpon, bentar lagi mereka sampai." sahut Rifki yang masih sibuk mengangkat barang di luar.
Halaman rumah sudah di penuhi tetangga yang datang, yang dekat mereka akan datang walaupun sudah tengah malam, Yana di dalam sudah mogok bicara sejak di rumah sakit tadi.
dia terus membisu, tidak bisa bertanya apapun padanya. Jam di dinding sudah pun menunjukan jam tiga pagi, cuaca dingin yang masuk dari pintu yang terbuka lebar tidak sedikit pun membuat tubuh Yana terganggu.
"Assalamualaikum...?" ucap salam dari arah luar.
" Waalaikum salam!" sahut semua serentak.
__ADS_1
Yana bisa mengenal suara yang tadi bagi salam, Yana segera bangkit dan berlari menuju ke arah suara yang berada di arah luar tadi, Yana terus mencari sosok yang baru memberikan salam sebentar tadi.
" Yana...!" panggil Abah Yana dari arah yang halaman rumah.
Yana yang melihat Abah nya segara berlari ke arah Abah nya sambil menangis kesegukkan, sejak tadi Yana tidak ada tempat untuk menumpahkan segala isi hatinya, di bahu Abah nya lah Yana melepas kan semua nya, Abah membawa Yana masuk lagi ke dalam, sambil memimpin tangan dan bahu Yana.
" Sudah! jangan menangis lagi ya? tidak baik menangis di depan malaikat, coba lihat anak kamu, dia sudah bahagia sisi nya, dia sudah bermain bidadari dari syurga." ucap Abah sambil menyapu air mata yang mengalir deras di pipi Yana.
tubuh anak Yana sudah di tutupi kain sampai paras leher, sedang wajah nya di tutup dengan selendang tipis berwarna putih, anak kecil tidak ada dosa walaupun hanya setitik.
" Kenapa ngak telpon Mak kalau Rasya sakit berat, kan bisa telpon kami Yana, apa kamu marah sama kami sebab itu kamu tidak memberitahu kami anak kamu sakit?" Mak Yana terus bertanya pada Yana.
pagi datang dengan cerah nya, matahari dengan bangganya menampak kan sinar nya, di ruang tamu rumah masih terlihat Yana di samping jenazah Rasya anak nya, Yana seakan-akan tidak mau berpisah dengan jenazah anak nya, bahkan Yana tidak sedikit pun berganjak dari duduk nya sejak tadi malam.
" bangun dulu Yana, kita mandikan Rasya dulu ya?" seorang yang tertua di antara mereka mendekat ke arah Yana, tidak ada yang berani menyuruh Yana bangun dari duduk nya tersebut.
Yana masih diam tidak menjawab atau pun membantah ucapan orang tersebut, sesekali Yana menoleh kearah sekeliling nya yang sudah di penuhi orang yang ramai. Faizal pun sudah terlihat sejak pagi tadi, mungkin dia tadi malam pulang ke kampung nya sebentar.
" Jangan seperti ini Yana, kasihan anak kamu, kamu sayang sama anak kamu ngak?" tanya Mak Yana pada Yana.
Yana menatap hiba ke arah wajah Mak nya, air mata mengalir deras di pipi nya, anak-anak Yana yang lain tidak bisa berbuat apa-apa, yang Azham tahu Umi nya selama ini seorang yang kuat dan sabar, tapi hari ini Azham melihat Umi seorang sosok yang begitu berbeda, hari ni Yana adalah seorang sosok Umi yang begitu lemah tidak berdaya.
__ADS_1
" Umi! kasihan adik Rasya, biarkan dia pergi dengan tenang, Umi tidak boleh begini, kalau Umi sedih adik Rasya juga merasakan hal yang sama, jangan biarkan adik Rasya menangis lagi Umi." ucapan yang keluar dari mulut Azham membuat semua orang yang ada di sana menghambur air mata, tidak ada yang tidak menangis, semua menangis, lebih-lebih lagi Yana.
Azham membantu Umi nya bangun dan menjauh dari jenazah adik Rasya, jenazah Rasya segara di bawa ke pemandian, orang yang memandikan sudah menunggu di sana, semula orang-orang menyuruh Yana pangku anaknya untuk mandi, tapi ada seseorang yang mencelah obrolan meraka.
" jangan kau suruh Yana meletakan anak nya dalam pangkuan nya, ngak cukup lagi kesedihan dia sejak tadi malam, dia takkan sanggup memangku anak nya, dia takkan bisa menghentikan air mata nya yang terus keluar tadi malam, belum berhenti sampai sekarang.
akhirnya semua orang menyutui meletakkan janazah Rasya seperti yang seharusnya, pemandian berjalan tertib, bahkan tidak menunggu lama, pemandian pun siap, jenazah Rasya di letakkan lagi di tempat semula yang sudah di sediakan kain yang sudah di potong.
" Mana ayah anak ini?" tanya seseorang yang ada di antara penziarah yang datang.
masing-masing mencari keberadaan Faizal, termasuk Abah nya Yana, ternyata Faizal dari tadi berada di belakang rumah, segera seseoarang memanggil nya ke depan, Faizal di Minta mengendong anaknya untuk di bawa di masukan ke dalam mobil ambulans, menuju tempat di mana anaknya akan beristirahat untuk terakhir kali nya.
Yana sedikit pun tidak melepaskan anak nya, kemanapun anak nya di bawa Yana pasti mengekor dari belakang, janazah Rasya di masukan ke mobil ambulans, Rasya akan di kebumikan di kampung Abah Yana, tadi malam pas Abah Yana sampai, Abah Yana bertanya pada Faizal.
" Rasya mau di kebumikan di mana Faizal?" tanya Abah pas sampai dari kampung nya.
Faizal malah menjawab enteng dan tenaga, seolah-olah ini bukan tanggung jawab nya sebagai seorang ayah.
"Terserah Abah saja, aku tidak mempunyai uang untuk acara pengubumian anak ku, jadi terserah Abah saja." jawab Faizal lagi.
makanya Abah mengambil keputusan mengubur kan jenazah Rasya di kampung nya Abah Yana.
__ADS_1