Perjanjian Cinta

Perjanjian Cinta
48


__ADS_3

***


Tidak terasa sudah genap 2 minggu fidira dan afkan menikah.


"Yaelah...masih 2 minggu...perasaan udah setaun gue di sini" gumam fidira kesal menatap kalender yg terpajang di samping dapur.


"Non bibi pulang dulu ya!?" pamit bi inah.


"Fidira anterin ya?" tawar fidira bangkit dari duduknya.


"Gak usah non..bibi udah di jemput!" jelas bi inah menujuk luar rumah.


Terlihat seorang pria paruh baya yg menunggu di depan gerbang.


"Kok gak di suruh masuk bi?" tanya heran fidira.


"Gak non...bibi kan udah selesai jadi langsung gaas aja!" jawaban bi inah berhasil membuat fidira melotot namun juga tertawa.


"Iya iya ..langsung gaaass ya bi?" ucap fidira terbahak bahak.


"Udah non...bibi pulang dulu assalammuallaikum!" pamit bi inah keluar rumah di ikuti fidira.


"Waallaikumssalam" ucap fidira melambaikan tangan.


Saat fidira berbalik beranjak masuk ke dalam rumah...


"Astagfirullahallazim" ucap fidira kaget mengelus dadanya.


"Hampir aja nabrak..." gumam fidira


"Yaallah pak bos..ngapain sih di depan pintu...ngagetin tau!? Untung saya gak nabrak...coba kalo saya jantungan kek apa!?" omel fidira panjang lebar di depan pintu,tak lupa dramatisnya.


"Hm" jawab afkan dingin.


"Hmmmm terus... Terserah" kesal fidira masuk rumah dengan kasar.


Afkan hanya tersenyum simpul melihat kekesalan fidira.


***


Di kantor....


"Yaallah...!" ucap fidira menguap.


Ting


'Kantin kuy?' pesan dari ian.


'Gass...otw pojokan ni!!' balas fidira bangkit dari duduknya.


"Selesai makan siang meeting!" teriak seseorang dari dalam ruangan afkan.


"Hm" jawab fidira berjalan keluar ruangan.


Di kantin...


Ian melambaikan tangan pada fidira yg berada di ambang pintu kantin.


"Gue udah pesen kayak biasanya" jelas ian diangguki oleh fidira.


"Siang bu bos" sapa seseorang dari belakang membuat fidira menoleh.


"Hm?" ucap fidira heran melihat seorang gadis cantik yg beberapa waktu lalu menjadi musuhnya,yaitu sahila.


"Saya mau minta maaf untuk kejadian beberapa waktu lalu... Maaf bu" ucap sopan sahila.


"Hm..iyeeee" jawab fidira tidak yakin sambil menoleh pada ian.


"Mau apa lo!?" ketus ian tiba tiba


"Yan yann...sabar" bisik fidira menenangkan.


" kamu kenapa sih yaann? sewot banget...niat ku kan baik...minta maaf"ucap sahila sedikit ngegas.


"Iya iya udah di maaf in" ucap fidira menenangkan.


"Terima kasih bu bos" ucap sahila menundukan badanya lalu pergi.


"Yan...lo apa apaan sih?" tanya fidira sedikit kesal


"Nggak tau.. Setiap ketemu dia...auranya pengen ngajak war deh" ucap ian menahan amarah.


"Lo harus sabar oke? Kalo marah marah ganteng nya ilang lo" ejek fidira merangkul ian.


"Paan sih? Norak tau!" ucap ian tertawa.


"Cieee merah ni merah pipi nya" ejek fidira menunjuk pipi ian.


***


Pukul 18.30 malam


Afkan turun dari atas menuju dapur tidak ada seorang pun di ruang tamu maupun dapur bahkan bi inah tidak terlihat.


Sedangkan fidira masih setia menonton drakor di kamarnya.


Terlihat afkan membuka laci laci dapur dan mengambil satu mie instan secara asal dan memasaknya.


Terlihat afkan sangat menikmati mie yg dibuatnya kali ini.


"Mie apa ni...? Baru makan" gumamnya menghabiskan mie nya.


Beberapa saat kemudian fidira keluar dari kamar langsung menuju dapur. Fidira terlihat mencari cari sesuatu di laci atas dapur. Afkan hanya cuek dan memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Kemana sih?" gumam fidira mengobrak abrik sambil mengingat ingat dimana ia menaruh barang tersebut.


Fidira kembali ke kamarnya beberapa saat kemudian ia keluar menuju dapur kembali dengan ponsel yg berada di samping telinganya.


"Hallo...yan...lo kemarin naro mie nya di mana sih?" tanya fidira


.........


"Di lemari atas gak ada... Beneran..."


..........


"Ya tpi ini gak ada yann...beneran deh" ucap fidira yg mulai kesal.


........


"Masak ada yg makan sih? Gak mungkin lah" ucap fidira tidak percaya.


Sedangkan afkan yg mendengar perbincangan fidira bersama ian di telpon,tersentak kaget.


*apa ini mie yg di cari fidira?* batinnya.


"Au aha yann...ikhlas gak ikhlas harus ikhlas sudah ilang juga" gerut fidira pasrah duduk di depan afkan.


...........


"Yaa...gue doa in aja...semoga yg makan mie gue tanpa izin...MULESS!!" Teriak fidira membuat afkan kaget tidak kepalang.


...........


"Huh...taudah bye!" fidira mengakhiri perbincangannya dan menutup ponselnya.


Afkan sedari tadi terlihat panik dan bingung,fidira yg melihat tampak heran.


"Pak bos kenapa?Panik banget!" ucap fidira beranjak meninggalkan meja makan masuk ke kamarnya.


"Huff...bisa diamuk gue!" gumam afkan segera membersihkan mangkok nya.


***


"Eh fi..besok kan weekend...hm...joging yuk!?" ajak ian menaik turunkan alisnya.


"Tumben banget lo!?" tanya fidira menyruput es jeruknya.


"Yaa olahraga lah dikit dikit jaga kesehatan...ya ya ya?" ajak ian memelas.


"Jam?"


"Setelah subuh gimana?"


"Ya kale...trus tidur gue gimana?" tanya fidira cemberut.


"Udah nebak deh gue...pasti masalahnya tidur" kesal ian mencebikan bibirnya.


"Sekali aja...biar sehat lah...tiap weekend lo harus mengorbanin tidur pagi lo! Please!! Gue jemput deh?" memelas ian.


"Yaa...weekend kan hari yg gue tunggu buat bangun siang...malah berenteken donk!" cemberut fidira.


"Eleh...sekele eje leh ye?" ucap ian cengengesan.


"Iyeee" jawab fidira memeyorkan bibirnya.


***


Pukul 04.15 pagi


Alarm fidira sudah berbunyi untuk ke 7 kalinya. Fidira mematikan alarm nya dengan malas dan duduk mengumpulkan nyawa.


10mnt mengumpulkan nyawa fidira pergi ke kamar mandi dan melaksanakan ibadah sholat subuhnya.


Pukul 05.00 pagi


Ting


Nontif ponsel fidira.


"Gue udah di depanšŸ¤—"


Pesan dari ian.


"Semangat banget dia..huff!" gumam fidira keluar kamar dengan penampilan khas olahraga.


Dengan hoodie tipis hijau tua,laging hitam panjang dan juga sepatu kesayangannya yg berwarna hitam putih serta tak lupa rambut yg di ikat tinggi khas fidira.


Saat fidira membuka pintu rumahnya berpapasan dengan afkan yg turun dari atas dengan pakaian olahraga juga.


Namun fidira tidak menoleh ataupun melirik hanya cuek dan terus berjalan menghampiri ian yg sudah menunggunya di depan gerbang.


"Aduh..yann...damage lo nambah banget tau gak" ucap fidira heboh melihat ian yg memakai baju basket.


"Bisa aja lo...lo juga makin oke aja" ucap ian mengedipkan satu matanya.


"Btw...gak dingin apa?" tanya fidira heran.


"Yaelah...gue malah kepanasan ni"


"Gue kok kedinginan ye!?" tanya fidira sendiri.


"Eh pak bos...mau olahraga juga?" tanya ian membuat fidira menoleh ke arah pintu gerbang.


"Iya..." dingin afkan sembari pemanasan.


"Yeee...kok pak bos olahraga sih!?" gerutu fidira cemberut.

__ADS_1


"Saya setiap minggu lari pagi" jawab afkan santai.


"Masak? Ahh...mending gue tidur aja!" kesal fidira.


"Mending kita joging bareng aja deh...lebih seru rame rame!?" ajak ian bersemangat.


"Boleh" jawab afkan singkat.


Sedangkan fidira cemberut dan tampak kesal.


"Ayok! Lah...cepetan!!" ajak fidira berlari meninggalkan afkan dan ian.


"Eh eh...lo belum pemanasan kan?". Teriak ian menyusul fidira.


" gak usah" teriak fidira terus berlari.


"Keras kepala" gumam afkan mengikuti ian dan fidira.


Fidira dan ian berlari bergitu cepat dengan di iringin canda dan tawa sedangkan afkan terlihat santai.


Sudah 2 km mereka berlari kira kira memakan waktu 30 menit.


"Huff...istirahat dulu ya!?" pinta fidira duduk di jalan aspal yg masih sepi.


Meluruskan kaki kakinya yg mulai pegal dengan nafas yg sudah ngos ngos an.


"Yaelah baru dikit fi" omel ian menjitak kepala fidira.


"Sok kuat lo!" ejek fidira menatap ian tajam.


"Ayo lah..dikit lagi! Liat!!! Pak bos udah nyalip kita ni" ajak ian bersemangat.


"Iya iya" kesal fidira berdiri dan mulai berlari


Namun....


"Awww!!! Kaki gue!!" ucap heboh fidira membuat ian dan afkan yg berada di depannya berhenti dan menoleh.


"Lo..kenapa fi?" tanya ian memghampiri fidira begitu juga dengan afkan.


"Gak tau...ini kaki gue kram deh kayaknya" ucap fidira memegangi kakinya.


"Belum pemanasan kan? Ngeyel" ucap afkan dingin menjitak kening fidira.


"Aww!! Malah gitu" kesal fidira memukul kaki afkan.


"Gue pulang aja deh yan...lo lanjut aja!" suruh fidira bangkit dari duduknya.


"Emang lo bisa jalan? Gue anterin deh" tawar ian.


"Gak usah gue bisa...jadi kalian lanjut aja...gue pamit. Assalammuallaikum" pamit fidira melambaikan tangan dan mulai berjalan pulang dengan agak pincang.


"Kepala keras emang lo fi!" gumam ian geleng geleng kepala.


"Huff...dasar keras kepala. Kamu lanjutin aja yan...saya mau bantuin tu bocah...ngeyel!" jelas afkan menepuk bahu ian dan berjalan mengikuti fidira.


"Andai itu gue fi" gumam ian tersenyum menatap fidira dan afkan yg beradu mulut saat berjalan pulang karena afkan menggendong fidira tiba tiba.


"Udah deh pak bos...saya tu bisa!" ucap fidira memukul dada bidang afkan.


"Saya jatuhin ni!" ancam afkan dingin.


"Jatuhin aja!" tantang fidira memanyunkan bibirnya.


"Oke" afkan meregangkang sedikit tanganya.


"Woi...jangan...jangan deh please!! Gak jadi pak bos!!" ucap fidira takut merangkul afkan sambil menyembunyikan kepalanya di dada bidang afkan.


"Jangan sok sok an kamu!" ucap afkan penuh kemenangan.


"Hmm iyee...saya cuma kasian sama ian...jadi sendirin kan?" ucap manyun fidira yg tangan nya masih merangkul afkan.


"Ian tu udah gede kale...sendiri gak taku dia" jelas afkan


"Iya juga sih" gumam fidira.


Di perjalanan fidira terus menatap afkan,tanpa disadari senyum mengembang terukir di wajahnya.


Afkan yg sedari tadi menyadari bahwa fidira menatap nya, konsetrasinya sedikit terusik.


"Kenapa liatiin saya kayak gitu?" tanya afkan menoleh pada fidira.


"Gak papa...cuma...ganteng aja!" jelas fidira blak blakan sampai membuat afkan jantungan.


"Gak usah baper pak bos ya...ini saya bilang sesuai fakta kok!" jelas fidira merasa ada yg aneh.


"Siapa juga yg baper?" tanya afkan membuang muka.


"Ya...alhamdullillah deh. Udah udah turunin nanti capek pak bos! Saya udah bisa jalan kok" jelas fidira diangguki oleh afkan.


"Bisa?" tanya afkan perhatian.


"Iya ini..udah bisa walau pincang dikit" jelas fidira


Akhirnya afkan membantu fidira...fidira pun dengan enaknya merangkul afkan. Namun karena afkan jauh lebih tinggi dari fidira, fidira agak sulit untuk merangkul afkan.


"Au ah" gumam fidira dengan kesal menelepas rangkulannya.


Afkan hanya tersenyum tipis dan merangkula fidira. Fidira tidak menolak hanya menatap heran.


"Kenapa? Kok liat nya gitu?" tanya afkan dengan pdnya.


"Gak papa...cuma...saya heran aja, pak bos bisa perhatian juga ternyata. Biasanya cuma hm..hmm doank" ucap fidira dramatis membuat afkan tertawa.

__ADS_1


"Ih..ketawa donk...baru kali ini lo saya liat pak bos ketawa sebahagia ini" jelas fidira heran tuju keliling.


__ADS_2