Perjanjian Cinta

Perjanjian Cinta
68


__ADS_3

Pukul 17.30 sore


Hujan turun dengan deras dari tadi siang, fidira yg sudah bosan di kamarnya beranjak pergi ke dapur untuk menghangatkan badan.


Fidira membuat teh hangat sendiri karena hari ini bi inah izin libur. Karena suasana rumah yg sepi fidira memutuskan untuk melihat balkon yg pernah di ceritakan bi inah berada di lantai atas. Fidira memang belum tau persis konsep rumah yg di sudah tinggalinya kurang lebih 2 bulan itu.


Fidira menaiki tangga dengan secangkir teh hangat di tangannya. Fidira menatap banyak pintu ruangan yg dilewatinya.


Besar juga, pikirnya. Fidira sudah menemukan balkon yg ditujunya, ia pun duduk di bangku yg di sediakan dan menaruh secangkir tehnya di atas meja.


Menikmati suara rintikan hujan yg sangat deras, membuat fidira mulai mengenang masa lalunya yg penuh semangat dalam mewujudkan mimpi, malah terjebak di drama konyol yg dibuatnya sendiri.


"Terserah deh" ucapnya pasrah akan keadaan yg di jalaninya sekarang ini.


Menyruput secangkir teh nya menikmati kehangatan yg ada.


"Ekhem!" Deheman seseorang membuat fidira sedikit tersentak.


"Aaaa... Pak bos!" Fidira menoleh "udah bosen ya? " Basa basi.


"Kamu ngapain? Tumben di sini? " Tanya nya datar.


"Emang gak boleh ya?" Fidira mengkerutkan dahinya..


"Ada masalah? "


"Gak sih cuma nyesel aja gitu" Fidira mengusap kasar wajahnya.


"Nyesel kenapa? "Afkan ikut mendudukkan dirinya di samping fidira.


" Ya..kenapa gitu hidup saya kek gini? Dulu saya udah konsep in semua,malah hancur" Ucap fidira dengan nada pasrah.


"Emang konsep kehidupan kamu dulu gimana?"


"Dulu tu sebenernya cita cita saya bisa berkeliling dunia sebelum menikah. Eh malah dadakan" Memelas


"Keliling dunia?" Tanya afkan terheran heran, ternyata besar juga mimpinya pikir afkan.

__ADS_1


"Iya... Kapan itu bisa terjadi ya? " Fidira menanyakannya kepada keadaan yg tidak mendukungnya saat ini. " Apa pak bos punya cita cita yg belum terwujud? " Fidira beralih bertanya.


"Semua dasarnya semua orang pasti punya mimpi dan cita cita yg banyak... Tapi tidak semua bisa terjadi sesuai keinginan kita"


"Ya kalo itu saya tau bos... Tapi... Kok gini banget sih kehidupan saya, nggak cinta nggak cita cita sama aja" Keluh fidira.


"Semua udah takdir" Afkan menghela nafas kasar.


"Ya mungkin kalo cita cita nggak tercapai setidak nya kehidupan pernikahan saya tu juga normal, bahagia gitu" Keluh nya


"Huff... " Afkan menghela hafas kasar.


Terdiam sesaat....


"Emm... Pak bos, boleh tanya gak sih? " Fidira memberanikan diri untuk bicara.


"Soal? "


"Tapi janji gak boleh marah ya? " Fidira mengacungkan jari kelingking nya.


Afkan menyinggung senyuman sinis "apa dulu pertanyaan nya? "


"Yaudah terserah! "


"Iiiihhh dasar emang bad boy! " Fidira ngambek dengan bersedekap dada.


Afkan tersenyum menyeringahi "gak usah gitu mukanya! " Afkan mencolek hidung fidira.


"Au ahh... Terserah deh! "


"Yaudah cepetan nanya apa? " Ucapan afkan membuat fidira berubah 380 derajat dengan ekspresi berbinar.


"Tapi janji gak marah ya? " Afkan pun mengangguk menanggapi.


"Emm... Kemarin... Pak bos kenapa.. Emm.... Kenapa pak bos marah gitu sama mama nanda? " Fidira lirih.


Raut wajah afkan yg awalanya sedikit hangat kembali menjadi datar.

__ADS_1


"Kenapa nanya? "


"Ya... Gak papa! setidak nya kalo ada masalah kita bisa saling curhat gitu... Kalo mau sih... Gak mau ya saya gak maksa" Fidira sedikit panik.


"Dia bukan mama kandung saya, mama kandung saya udah meninggal sejak saya SMA... " Afkan mulai bercerita


"Upss!! " Fidira menutup mulutnya


"Dia menikah dengan papa saya hanya untuk hartanya saja. Dia nggak tulus mencintai kami... Padahal dia adalah sahabat mama saya. Bisa bisanya dia menikah dengan suami sahabatnya.Dasar drama! " Afkan menjelaskan dengan kebencian yg mendalam.


"Mak-sud pak bos? Mama nanda mama tirinya pak bos? Trus siapa mama kandung pak bos? " Banyak pertanyaan terlontar dari mulut fidira.


"Mama kandung saya namanya sarah. Dia baik banget, pengertian, penyayang dan juga suka menolong. Pokoknya dia yg terbaik. Tapi... Sayang mama sudah meninggal waktu saya masih SMA... "


"Innallillahi..." Fidira menatap afkan dengan serius.


"Ya.. semua itu gara gara wanita yg kamu panggil mama. dia yg menyebabkan mama saya meninggal... Dia musuh dalam selimut yg menghancurkan keluarga kecil saya... " Afkan penuh kebencian.


*Yaampun pak bos! Segitunya pak bos membenci mama nanda. Andai pak bos tau betapa mama tersiksa dengan sikap pak bos selama ini* batin fidira sedikit berkaca kaca.


"Dasar wanita licik! " Kesal afkan dengan aura yg sangat menyeramkan.


"Tapi... Apa benar mama nanda yg telah mengakhiri mama sarah? " Fidira memberanikan untuk bertanya.


" saya nggak tau! " Ucap afkan frustasi.


" Jika itu salah... Apakah kau akan terus membencinya pak bos? " Lembut fidira bertanya.


"Terserah"


" Kau tau pak bos, rasa kehilangan itu sangat menyakitkan. Semua orang pasti merasakannya. Tapi kita tidak boleh terlarut dalam kesedihan itu. Mungkin ada alasan lain tentang mama nanda menikahi papa indra" Fidira mengelus pelan punggung afkan.


"Tenanglah... Mungkin ada alasan tersendiri dari mama. Jadi tetap be positif pak bos" Fidira berusaha menghibur afkan.


"Alasan apa? Yg sampai dia tega menikah dengan suami sahabat nya sendiri.. "


"Saya tau pak bos... Pakbos pasti tidak ingin posisi mama sarah tergantikan oleh wanita lain! Dulu saya juga begitu... Saya juga tidak ingin ibu saya menikah lagi. Jika ibu saya menikah lagi... Mungkin saya nggak ada di titik ini... "

__ADS_1


"Karena saya mungkin akan keluar dari rumah dan menjadi anak jalanan! " Afkan beralih menatap fidira yg tengah bercerita.


"Ahh... Jadi nangis ni saya pak bos!! " Fidira mengusap air matanya yg hampir menetes. "Udah gak boleh sedih sedih lagi! Kita harus bisa ngelewatin ini semua dengan baik." Fidira bertekad menggandeng tangan afkan.


__ADS_2