
Afkan pun ikut merebahkan tubuhnya, mereka tidur saling membelakangi. Beberapa saat kemudian....
"Bisakah kaki mu diam? " Afkan mulai mengomel.
"Hiiiss saya nggak bisa tidur pak bos" Fidira pun membalikan tubuhnya karena terasa pegal, berbarengan dengan afkan juga berbalik. Mereka saling berhadapan juga saling tatap.
*imut sekali* batin afkan saat menatap fidira.
*mempesona* batin fidira yg juga masih menatap afkan.
Deg deg deg
Jantung dari kedua kubu berlomba lomba untuk membuat mereka jantungan.
*kok jantung gue ngajak ribut sih? * batin fidira kesal
*kenapa aku sangat gugup? * batin afkan tak kalah kesal.
Tiba-tiba...
Ting...
Suara ponsel pertanda pesan masuk membuyarkan lamunan mereka. Secepat kilat mereka membuang muka. Malu! Ya perasaan itu yg tengah menghantui mereka berdua.
"Huuhhh hampir saja aku mati" Gumam fidira spontan.
"A-apa maksud mu? " Afkan terbata tanpa melihat fidira.
"Hah?... Owh! Maksud saya........" Fidira sedikit bingung harus berkata apa. "Maksud ku... Tatapan mu pak bos, seperti akan memakan ku saja " Fidira ngawur.
"Benarkah? " Tanya afkan kesal membalikan tubuhnya menghadap ke arah fidira kembali.
"Ya seperti itu" Fidira menunjuk wajah afkan. "Sudahlah pak bos... Wajah garang mu sudah tidak mempan ke saya" Fidira beralih duduk dan menyandarkan kepalanya.
"Huh" Afkan sedang malas berdebat memilih untuk diam. Dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Pak bos? " Panggil fidira lirih.
"Hemm? " Ucap afkan yg masih di bawah selimut.
"Apa pak bos pernah punya cita-cita? " Tanya fidira tiba tiba, membuat afkan membuka selimutnya.
"Apa maksudmu? " Afkan yg belum terlalu mengerti.
"Ya... Cita-cita dari masa sekolah mungkin, semacam impian gitu lah? " Fidira beralih menatap afkan.
"Hmm... Pada dasar nya semua orang pasti memiliki impian" Jawab afkan menjelaskan.
"Apa mimpi pak bos semua sudah terwujud? " Fidira kembali bertanya.
"Kenapa kau bertanya? " Tanya balik afkan.
"Ya gak papa... Cuma gabut aja. Dari pada cuma diem... Mending curhat, kalo mau aja sih" Ucap fidira santai.
"Huummm.... Impian saya... Belum ada yg terwujud" Afkan menatap kosong langit langit kamar fidira.
"Maksud pak bos? Jangan bilang pak bos tidak bersyukur ya? Pasti ada lah yg terwujud... Contoh nya pak bos udah jadi orang sukses sekarang" Fidira berceramah.
"Hemm... Kamu benar. Mungkin saya kurang bersyukur dengan hidup saya sekarang. Kamu tau.... Mimpi saya memiliki keluarga kecil yg saling peduli dan menyayangi" Ucap afkan yg sudah mulai curhat.
"Tapi pak bos sudah punya... Sayangnya pak bos aja yg nggak sadar tentang kepedulian mereka. Kau tau pak bos.... Kau ini terlalu dingin kepada semua orang" Fidira blak blakan.
"Jika saya dingin... Kenapa kamu mau menikah dengan saya waktu itu? " Afkan beralih menatap fidira.
"Emmm... " Fidira berfikir sejenak. "Saya juga nggak tau sih. Kau tau pak bos? Saat pak bos nglamar saya waktu itu..... Semua itu kelihatan tuluss banget. Entah mengapa mulut saya tiba tiba ngomong kayak gitu" Fidira beralih memegang kepalanya.
"Apa kamu menyesal melakukan pernikahan ini? " Tanya afkan lirih.
"Emmm tidak juga" Jawaban fidira membuat afkan membelalakkan matanya. "Pak bos tau... Sebenarnya menikahi orang seperti pak bos itu salah satu mimpi saya" Ucapan fidira yg kedua kali berhasil membuat afkan tertarik. Afkan pun beralih ke posisi duduk seperti fidira.
"Kenapa? Kok ganti posisi" Tanya fidira heran.
"T-tidak hanya capek saja" Afkan terbata.
"Ooohhhh" Fidira mengangguk angguk pelan.
"Lanjutkan! " Ucap afkan.
"Apanya? " Fidira bingung.
"Cerita mu yg tadi" Afkan singkat.
"Ooohhh..... Emmm.... Cieee... Pak bos penasaran yaa? " Fidira melah menggoda.
"A-pa? Ti-tidak seperti itu" Afkan menjafi gugup.
"Ya saya cerita ni ya... Tapi jangan baper! " Goda Fidira kembali sembari tertawa geli, sedangkan afkan malah berekspresi tidak suka untuk menutupi malunya.
"Gini.....pak bos tau kan Saya ini suka membaca novel? Ya karena kebanyakan baca novel, saya jadi punya cita cita konyol. Tapi ternyata semua itu terwujud, sekarang saya sudah menikah dengan seorang CEO sukses, sikap nya dingin dan juga.... Tampan! " Jelas fidira panjang lebar, padakalimat terakhir sempat membuat afkan GR.
"Tapi... Semua itu berbeda dari bayangan saya.... Waktu remaja dulu, saya berharap suami saya nanti adalah seorang CEO yg sukses, dingin tapi penyayang juga peduli. Ya seperti kisah di novel novel gitu. Tapi... Itu memang mustahil! Nyatanya saya emang dapet CEO yg dingin tapi...nggak penyayang sama sekali, boro boro sayang peduli aja enggak" Fidira blak blakan.
__ADS_1
"Ibuk saya juga berkata 'ingat! Fi kamu boleh baca novel tapi realita kehidupan sebenarnya tidak akan se mudah seperti cerita di dalam novel' Ya mungkin itu benar, tapi dari dulu di dalam hati saya entah kenapa... Tetep yakin suatu saat suami saya CEO yang saya harapkan. Ternyata bener walau mungkin gak seperti yg saya harepin dan...juga nggak selamanya" Fidira bercerita panjang lebar diakhiri kekehan pada kalimat terkahir.
Mendengar kata kata fidira yg terakhir membuat hati afkan seakan tertusuk. Ia baru ingat bahwa hanya akan ada kenangan 1 tahun mereka bersama.
"Jadi suami idaman kamu, seperti saya ini? " Tanya afkan sedikit heran.
"Iya begitulah...mata duitan banget ya gue" Fidira menggaruk-garuk kepalanya yg tidak gatal. "Tapi semua berubah setelah saya ketemu sama ian"
Ucapan fidira kali ini berhasil membuat afkan berubah ekspresi seketika, yg awalnya terlihat senang kini menjadi sedikit tidak suka.
"Ya setelah mengenal ian.... Saya sadar bahwa uang, jabatan,gaya hidup tidak selalu menumbuhkan cinta yg tulus. Hmmm... Andai saja ian tau perasaan ku padanya" Fidira menunduk.
*kenapa aku menjadi tidak suka saat dia membicarakan tentang ian* batin afkan bingung sendiri.
"Kenapa kamu nggak ngungkapin aja?" Tanya afkan semakin penasaran.
"Emm... Kalo saya ngungkapin saya takut persahabatan kami yg telah baik menjadi rusak" Jelas fidira.
"Beneran? Bukan karena malu karena kamu cewek" Tebak afkan berhasil membuat fidira memamerkan deretan gigi putinya.
"Itu juga masalahnya hehe" Fidira tertawa diikuti afkan yg sempat ikut terkekeh. "Kalo pak bos? Gimana tentang istri idaman? Jangan bilang kalo kayak saya ya? " Fidira cengengesan.
"Maybe" Ucapan afkan seketika membuat tawa fidira terhenti
"Lah? " Fidira menatap afkan bingung.
"Ya enggak lah... Mana mungkin saya mengidamkan gadis kayak kamu. Jorok, galak, kasar, cerewet, pendek, males, egois, tomboy, dan sedikit gesrek. Mana bisa ngurus saya dan anak- anak saya nanti" Ucap afkan panjang lebar plus blak blakan.
Fidira menatap afkan dengan tatapan membunuh "seenggaknya jangan di blak blakin ngapa? " Memutar bola matanya jengah. "Kalo itu saya sadar sih. Dan buat ngurus bocil jangan ngremehin ya!" Fidira memeluk bantal dengan kesal.
"Nice kalo kamu sadar" Afkan terkekeh, fidira hanya memanyunkan bibirnya. "Jadi... Saya semasa remaja dulu mengharapkan seorang gadis yg cantik, tinggi, anggun, putih, penyayang, pengertian,baik dan juga pinter." Jelas afkan sembari membayangkan.
"Ngayal teruusss! " Fidira sewot.
"Ya... Kamu benar semua memang khayalan semata" Perubahan nada bicara afkan membuat fidira bingung kembali. "Ya... Karena... Dapet nya kayak kamu" Afkan berkata dengan nada mengejek tapi versi pasrah diakhiri dengan helaan nafas kasar.
"Dasar! Brengsek"
BUGH
............
Sudah 3 hari afkan sakit, fidira sampai bingung harus melakukan apa karena tidak ada peningkatan dari afkan. Di tambah afkan sekarang begitu manja padanya makan harus di suapin, istirahat harus di temenin dan tidur harus di usap kepalanya. Ya sikapnya membuat fidira muak sampai sekarang.
"Haiss mengapa dia sangat manja saat sakit" Fidira mengoceh sendiri di dalam kamar mandi. "Gue harap dia nggak akan sakit lagi, huuhhh" Fidira beranjak membuka pintu, tapi...
Drttt drttt
"Bi inah" Gumamnya sembari menggeser tanda hijau ke atas pada layar ponsel.
"Hallo bi! Ada apa? "
..........
"Aduhh maaf bi fidira lupa nggak ngomong. Gini 3 hari yg lalu fidira sama afkan ke surabaya trus mampir ke rumah fidira"
..........
"Iya bi gak papa... Lagian kayak nya kita lama deh disini, soalnya afkan sakit"
..........
"Hehe... Waktu itu kehujanan, dan afkan sakit sampek sekarang belum sembuh. Padahal obat nya udah hampir habis"
.........
"Hmm? Di buatin sop ayam doank? " Fidira kaget
........
"Ohh... Oke makasih bi buat infonya"
Tut
"Gila apa? Masak gara gara sop ayam doank langsung sembuh" Gumam fidira tak yakin.
Drrtt drrrttt
Ponsel fidira kembali berdering. "Kok berasa jadi seleb gue, banyak yg nelpon gini" Fidira mengangkat telpon tanpa melihat namanya.
"Allo? " Ucap fidira santai.
"Hai sayang, kalian dimana? " Ucap seseorang dari sebrang telpon.
Fidira terkejut buru buru ia melihat nama yg tertera di layar ponselnya "mama" Fidira menepuk jidatnya.
"Hmm.. Iya maa... Maaf kita nggak ngabarin, sebenernya kita di sidoarjo dari 3 hari yg lalu" Jelas fidira sedikit bingung.
"Owh! Mama kira kemana, soalnya mama habis dari rumah kalian. Tapi pagernya tutup. "
"Iya ma maaf ya nggak ngabarin dulu, bi inah juga ada masalah dikit.jadi gak ada yg jaga rumahnya"
__ADS_1
"Nggak papa deh, Oiya kalian lagi ngapain? "
"Kalo fidira sih abis dari kamar mandi ma, kalo afkan tidur soalnya kurang enak badan"
"Afkan sakit!? "
"Ya... Habis kehujanan sakit ma dan belum sembuh"
"Kamu buatin sop ayam ya, itu makanan kesukaan afkan. Biasanya dia akan lumayan mendingan"
"Oh ya? Oke ma.. Makasih buat infonya"
"Iya... Tolong jaga dia ya sayang, dia cukup kesepian . Nanti mama share resepnya,Byee"
"Byee "
Tut
"Beneran sop ayam!? mungkin ini bisa mbebasin gue dari sikap manjanya pak bos. Oke.... Mari kita coba! " Fidira menuju ke arah dapur.
Di tempat lain...
"Fidira lama banget sih? Katanya cuma ke kamar mandi" Gumam afkan menatap foto di dalam bingkai kecil.
"Manis juga" Afkan mengambil bingkai yg berada di atas nakas. Afkan memandang foto tersebut dengan seksama, ia juga mengusap wajah seorang gadis yg tengah tersenyum manis di sana.
Afkan menaruh bingkai kecil di atas dadanya lalu memeluknya. Ya gadis di dalam bingkai itu adalah fidira, entah mengapa afkan memeluk foto itu. Mungkin biar bisa nempel terus di hatinya, cieee,😂
Di dapur..
Seorang gadis sedang bergelut dengan beberapa bumbu masakan, sekali-kali ia juga melihat ponsel yg berada di atas meja kompor.
"Huuhh kok susah ya, ibuk lagi ama melati kemana sih? Pas di butuhin gini malah gak nyampek nyampek. Mama juga ni ngasih resep kok aneh aneh" Fidira menatap layar ponselnya " Masak ada beginian nya, 1 ons cinta, 2 ons kasih sayang. Tu ngaco kan.... Nggak masuk akal banget gitu, kata katanuya juga alay lagi. Hadeuhhh" Fidira bingung semdiri.
"Terserahlah, yg penting gue cemplungin gitu aja deh" Fidira sudah dengan mode bodo amat nya.
Kurang dari 1 jam akhirnya masakan fidira pun jadi "hadeh akhirnya jadi juga, gini doank dari tadi gak bisa bisa huuuhhh. Sekarang waktunya merasakan masakan pertama gue" Fidira beralih mengambil sendok lalu mengambil kuah dari sop tersebut.
Ia meniup pelan pelan kuah panas yg berada di dalam sendok tersebut lalu memasukan ke dalam mulutnya. Fidira termenung sejenak, tiba-tiba ia berubah ekspresi. "Gilaaa asinnn bangett" Fidira mengambil air putih dan segera meminumnya.
"Gila... Berapa karung ni garemnya tadi" Fidira berdecak kesal. "Bisa mati ni orang makan. Hmm...Au ahhh ambil ayam nya aja terus gue buang deh kuahnya. Oke nice ide" Fidira segera mengambil ayam ayam di dalam kuah. Namun suara seseorang menghentikan aktivitas nya.
"Kamu ngapain? " Tanya afkan berada di belakang fidira.
Fidira secara bergantian memandang afkan dan sop di sampingnya. "Eumm... Cuma iseng aja"
"Oh ya? " Tanya afkan mengintrogasi dan mendekat.
"Hmm... Terserahlah... Bodo amat. Dan... Kenapa pak bos keluar? Katanya masih sakit! Katanya masih lemah lesu! Dasar pembohong" Fidira membuang muka.
"Oh ya? " Afkan bersedekap dada "apa gadis di depanku ini bukan pembohong? "
"Apa maksudmu? Saya nggak bohong " Fidira membela dirinya.
"Hmm... Lihatlah sekarang dia tidak mau mengaku" Ucap afkan semakin membuat fidira bingung. "Ingat 1 jam yg lalu kamu bilang sama saya kalo kamu hanya sebentar keluar. Ternyata lihatlah! Kamu malah main main di sini"
Fidira tersenyum kecut " Heh...Hanya begitu saja! Manja sekali" Fidira membuang muka
"Kenapa? Apa tidak boleh? Kamu kan istri saya! " Ucap afkan spontan membuat fidira terdiam.
*apa maksudnya?* batin fidira di tengah tengah lamunannya.
Menyadari fidira terdiam karena ucapannya yg spontan, afkan segera membenahinya dengan alasan apapun walau gak masuk akal. "Mak-maksudnya saya kan masih sakit" Afkan bingung.
"Baiklah baiklah saya minta maaf, lalu kenapa pak bos keluar kamar? " Fidira mengalah.
"Saya pengen nyobain ini" Afkan mengambil sedok lalu mengambil kuah panas tersebut.
Fidira melotot "eitsss! Please! Jangan dimakan atau pak bos bakal nyesel" Fidira memperingati.
"Why? "
"Jangan pokok nya jang-" Ucapan fidira terpotong saat afkan telah memasukan sendok ke dalam mulutnya.
Afkan terdiam.
Hening sesaat.
Tiba-tiba afkan mengangguk angguk pelan, lalu ia mengambil gula dan menambahkan bumbu-bumbu yg lain. Entah itu bumbu apa fidira tidak tau, fidira masih bingung dengan keadaan di sekitarnya. 'Apa dia nggak keasinan?' pikirnya keras.
Afkan kembali menyruput kuah untuk yg kedua kalinya "oke, nice. Sekarang cobain! " Afkan menyodorkan sesendok kuah sop di hadapan fidira.
Tanpa berpikir panjang fidira menerima suapan tersebut, seketika ekspresi fidira berubah total. Ia masih belum yakin, fidira mencicipi kuah itu kembali ternyata benar rasanya berubah.
"Gila sih parah, ini enak banget pak bos" Fidira menatap afkan senang. Afkan hanya tersenyum kecut.
"Gila sih pro parah. Ngeri ngeri ngeri, baiklah ayo kita makan" Fidira gercep mengambil nasi dan kuah sop, sangking semangat nya fidira sampai lupa tidak menyiapkan juga untuk afkan.
"Kau melupakan ku? " Ucapan afkan, seketika membuat fidira teringat, lalu mengambilkan juga untuk afkan.
"Maaf" Fidira memberikan semangkuk sop bonus senyuman manis. Afkan pun ikut tersenyum dengan menerima mangkuk tersebut.
__ADS_1
*cakep bener senyumnya* batin fidira saat melihat afkan pertama kali tersenyum sampai seganteng ini.