Perjanjian Cinta

Perjanjian Cinta
63


__ADS_3

"Siapa juga yg cengar cengir... Eh tak bilangi ya... Senyum itu ibadah tau.... Emang kayak pak bos yg wajahnya datarr terus" Sindir fidira masuk ke rumah meninggalkan afkan sendiri di teras.


Afkan berbalik dengan senyum tipisnya mengikuti fidira masuk ke dalam rumah.


Terlihat fidira menaruh sesuatu di meja makan dan berlalu di kamarnya. Entah mengapa afkan kepo sekali dengan isi kantong itu.


Afkan membuka katung tersebut, ternyata isinya makanan. Afkan segera mengambil nasi dan makan.


Fidira yg baru selesai bersih bersih mendapati afkan yg tengah menikmati makanan yg di bawanya tadi, fidira tersenyum menghampiri.


"Laper pakek banget ya? " Goda nya duduk di hadapan afkan,membuat afkan keselek.


Ukhuk ukhuk


Fidira dengan sigap mengambilkan air minum. Afkan segera meminum airnya dengan cepat.


"Udah makannya? Enak gak sih? " Fidira beralih mengambil nasi.


"Biasa aja" Dingin afkan.


"Beneran?" Tanya fidira dengan tatapan menggoda.


"Ngapain gitu banget? " Afkan sedikit merasa terusik.


Fidira hanya tersenyum menanggapi. "Bi sini! makan bareng sama kita...Gak usah masak... Fidira udah bawa makanan" Teriaknya membuat bi inah menghampiri ke meja makan.


"Beli non? " Tanya bi inah ikut mengambil nasi.

__ADS_1


"Enggak" Singkat fidira memakan makanannya.


"Enak non" Bi inah berbinar binar.


Mereka menikmati makanan bersama dengan penuh canda tawa dan tak luput dari pertengkaran kecil tapi heboh antara fidira dan afkan.


Bi inah yg berprofesi sebagai penonton pertengkaran mereka, hanya tersenyum melihat seorang fidira yg bar bar mampu mengubah afkan yg dulunya pendiam banget sekarang sudah mulai suka banyak ngomong, ya walau masih dengan wajah datar.


"Alhamdullillah kenyang" Fidira meminum air putih.


"Tapi bibi penasaran sih non... Beli di mana? " Tanya bi inah sembari mengambil piring kotor bekas makan.


"Ini gak beli bi.... Ini dari mama" Jawabnya membuat afkan sedikit berbeda ekspresi.


"Kok nggak bilang kalo dari mama? " Afkan dengan nada kesal dan muka datarnya.


"Emang kenapa? Harus banget ya ngomong" Jawaban fidira membuat afkan makin kesal.


Fidira tersenyum menyeringahi "maaf ya pak bos,beberapa waktu kedepan fidira mu ini akan sedikit bertingkah" Batinnya dengan menatap punggung afkan yg semakin menghilang.


Flasback on


Di dapur terlihat dua wanita kompak sedang bergelut dengan api dan beberapa bahan makanan di sana.


"Oiya... Tadi afkan makan bekal yg mama kasih nggak? "


"Hmm... Maaf ma tadi afkan nggak mau jadi fidira makan sama temen fidira" Ucapnya dengan nada bersalah.

__ADS_1


"Gak papa.... Mama udah menduga kok jadi kamu jangan ngerasa bersalah ya! " Mama nanda menepuk bahu fidira.


"Menduga gimana ma? " Fidira sedikit terusik dengan kata kata yg diucapkan mertuanya tersebut. "Afkan belum cerita ke kamu sayang? " Tanya nya balik


"tentang apa? " Fidira semakin heran dengan pertanyaan mertuanya itu. "Mama cerita tpi jangan ngomong ke afkan ya? Ini rahasia! " Ucap nya menutup mulutnya dengan satu jari, fidira pun mengangguk mengerti.


"Sebenarnya mama bukan mama kandung afkan sayang... Mama kandung afkan sudah meninggal sejak afkan SMA, dan setahun setelah mama afkan meninggal, papanya afkan menikahi mama... Sejak saat itu afkan menjadi seorang yg dingin, suka menyendiri dan tidak suka sama mama. Dia merasa mama udah jadi penyebab kematian mamanya.... " Jelasnya dengan air mata yg sudah hampir tumpah.


Fidira tersentak kaget, ia tidak percaya dengan apa yg di katakan mama mertuanya itu. Fidira pun jadi mengerti apa penyebab bos nya itu selalu dingin pada semua orang, terutama mama nanda. Bahkan afkan tidak pernah sekalipun berbicara ataupun bejabat tangan dengan mama nanda jika bertemu.


"Tapi... Apa penyebab kematian mama kandung nya afkan ma? " Lirih Fidira memberanikan diri untuk bertanya


"Mama kandung afkan meninggal karena punya penyakit yg tidak ia beri tau kepada papa indra maupun afkan. Ia menyimpan penyakitnya sendiri hanya dia dan dokter pribadinya yg tau... Dia tidak ingin afkan dan indra menjadi khawatir tentangnya... Tapi ternyata cara itu malah salah... " Ungkap mama nanda yg sudah tidak tahan dengan kesedihanya air mata pun membasahi pipinya dengan deras.


"Kalau boleh tau, siapa nama ibu kandungnya afkan ma? " Tanya fidira lirih


"Namanya sarah nak... Dia sosok orang yg sangat baik, suka menolong orang, ramah,dan murah senyum. Dia juga tipe orang yg tidak sombong dan suka becanda. Dia adalah wanita sangat baik yg mama kenal... " Jelasnya sembari mengingat ingat kebaikan masa lali sarah.


"Tapi bagaimana mama bisa kenal dengan mama sarah? " Pertanyaan kembali terlontar dari mulut fidira, kali ini jiwa ingin taunya benar benar berkobar.


"Karena.... Mama... Adalah teman baik mama sarah, makanya afkan sangat membenci mama. Karena mama adalah salah satu temen baik sarah. Mama udah dianggep bibi sama afkan, tapi mama malah memgecewakannya. Mekipun mama nggak bermaksud untuk menyakitinya... " Air mata pun tumpah dengan derasnya namun mama nanda segera mengendalikannya dia tidak ingin terlarut dalam kesedihan masa lalunya.


"Gak bermaksud gimana ma? " Fidira benar benar ingin tau kebenaran tentang sosok afkan yg sangat dingin itu.


"Sebenarnya papa indra dulu nggak berfikir untuk menikah, tapi karena wasiat dari sarah untuk menikahi mama, ya... Kami berusaha untuk memenuhi itu walau kosekoensinya afkan akan sangat membenci mama. Tapi sarah mempercayakan afkan dan indra pada mama, dia yakin hanya mama yg bisa ngurus dua laki-laki yg sangat dia cintai itu. Dan kebetulan juga mama belum pernah menikah saat itu." Jelas nya dengan nada sayu.


"Tapi mama udah jelasin kan ke afkan? Alasan mama menikah sama papa? " Tanya fidira menatap mertuanya dengan tatapan iba.

__ADS_1


"Belum sayang, setiap mama mau jelasin dia pasti ngehindar dari mama, dan dia gak mau denger penjelasan mama. Kau tau sayang... Sejak mama dan papa menikah.. Afkan memilih tinggal sendiri di apartemen nya.saat menikah dengan kamu, ia baru tinggal di rumah itu. Rumah itu adalah rumah keluarga kecil sarah waktu dulu, afkan belum merubahnya sekali pun, tata letak maupun warnanya masih sama seperti dulu. Ia sangat menyayangi mamanya sarah....mama mohon fi jaga afkan baik baik,mama hanya bisa menyayanginya dari jauhh. Mama percaya bahwa kamu yg dapat merubah afkan dan menjaganya." Mama nanda menyeka air matanya.


Fidira mengangguk dan langsung memeluk mama nanda.ia menjadi ikut terbawa suasana hingga ia juga ikut meneteskan air mata mendengar penjelasan mertuanya itu. Namun fidira


__ADS_2