Perjanjian Cinta

Perjanjian Cinta
87


__ADS_3

"Kita udah muter muter lo ini? Masa satu aja belum? " Kali ini ester ikut nimbrung saja. Fidira hanya menggeleng pelan.


"Kamu kenapa? Apa afkan... " Ester segera memotong perkataan mama nanda yang belum selesai.


"Jangan bilang afkan nggak ngasih lo duit?itu kebangetan banget tau gak. Biar gue telpon dia" Ester mengeluarkan ponselnya. Namun dengan cepat fidira menahannya.


"Enggak! Pak bos ngasih gue uang kok" Fidira merogoh i sakunya, dan sebuah kartu atm pun keluar. "Percaya kan? "


"Terus kenapa kamu nggak beli? " Mama nanda heran sendiri.


"Afkan nyuruh lo ngirit? " Entah kenapa ester prasangka nya buruk sekali terhadap afkan. Padahal kan ada mamanya.


Fidira menggeleng cepat " Enggak ester. Pak bos malah nyuruh beli semau gue. Cuma gue aja yang nggak pengen" Fidira meyakinkan.


"Gue gak percaya kalo lo gak pengen. Walau lo terkesan tomboy, tapi jiwa lo tu cewek yang bakal haus belanja" Ester tetap bersikeras. Aiss! Setan apa yang ada di dalam ester, hingga fidira memilih diam saja. "Enggak enggak pokok nya lo harus beli! Minimal 3 juta"


"WHAT? " fidira memekik keras. What tiga juta? Itu duit lo. Duit yang kalo fidira beli baju di toko langganannya bisa dapet 10 pasang baju. Dan itu udah bagus.


"Bener kata ester. Sekali kali habisin duitnya afkan" Aduh! Mama apaan ini? Mendukung orang boros. Okey! Jujur fidira memang pelit,dan nggak mungkin bisa ngabisin duit begitu aja. Walau fidira cewek yang juga suka belanja.


"Tapi.. Baju fidira masih banyak maaa" Fidira tetap berusaha ngeles.


"Okey! Kalo lo gak mau, gue bakal nyimpulin kalo afkan udah nekan lo tentang duit. Dan gue bakal omelin dia! " Ester malah mengancam.


Fidira menghela nafas panjang. Astaga! Kuatkan hamba mu ini ya allah. Kalo sampai ester ngomel ke afkan, maka secara otomatis fidira juga kena omel suami nya itu. Tapi kenapa juga ester ngikut ngikut urusan orang sih.okey!Baiklah kita coba! Sehari tiga juta harus habis. Tapi kayaknya mudah deh ngabisin duit tiga juta, kalo tempat belanjanya yang bermerk seperti saat ini.


Setelah beberapa menit berputar putar mencari baju yang cocok untuknya, fidira segera berjalan ke kasir. Walau tadi sempat bingung, karena harga yang ada di bandrolnya sangat fantastis. fidira tidak setega itu untuk membuang uang 300ribu nya hanya untuk satu kaos. Padahal itu harga wajar kan? Kalo di tempat nya orang terpandang, bahkan mungkin kurang mahal. Di dalam ranjang fidira hanya ada lima baju jenis kaos cowok dan sepasang sepatu sneakers yang mungkin akan ia nobatkan sebagai sepatu paling mahal yang pernah ia beli. 1 juta 125ribu sepasang.


Dirasa cukup mendekati angka tiga juta, fidira bergegas ke kasir untuk membayar. Penjaga kasir itu dengan sopan memberikan kembali atm juga paper bag besar kepada fidira setelah selesai transaksi.okey! Lumayan. Tiga juta kurang lima puluh ribu. Itu artinya fidira bisa memenuhi syarat ester yang kebetulan tadi meminta ijin bersama mama nanda untuk membeli makanan di restoran depan.


Tiba tiba hasrat kepo fidira pada isi kartu atm yang di beri afkan berkobar. Sebenarnya fidira ingin mengeceknya di atm umum tadi. Tapi...biasalah,bukan hanya antri yang membosankan tapi fidira aslinya lupa.Tanpa ragu fidira meminta tolong kepada sang kasir untuk mengeceknya, awalnya penjaga kasir itu bingung. Tapi 'pembeli adalah raja lo?' perkataan fidira yang berhasil membuat penjaga kasir cantik itu mengangguk cepat, dan langsung melihat sisa saldo atm dari layar komputernya.


"Tujuh belas juta lima puluh lima ribu rupiah"


"WHAT? " fidira membelalakkan matanya, bahkan memekik kencang untuk kedua kalinya. Enggak enggak,ini gak mungkin.tapi... Masa tukang kasirnya bohong sih. Fidira masih terpaku, termenung di tempatnya. Nominal ini seakan membuat jantung fidira mau loncat saja. Fidira kembali bertanya pada sang kasir untuk mendapat kepastian. Fidira takut penyakit pendengarannya kumat. Tapi ini beneran,jawaban yang di dengar tetap sama. Baiklah!jadi pendengaran fidira gak salah kan? Tujuh belas juta lima puluh lima ribu rupiah? Nominal yang jika di gabungin sama baju yang di belinya tadi mencapai angka 20 juta. Wow.. Saldo awal 20 juta.


"Mbak mbak?" Panggilan karyawan kasir itu membuat fidira tersadar dari lamunannya. "Ada yang bisa saya bantu lagi? " Tanya nya dengan mengembalikan kartu atm. Fidira menggeleng cepat. Fidira segera pergi dari sana setelah mengucapkan terima kasih pada sang kasir.


***


Dengan langkah tegas fidira memasuki rumahnya. Fidira menaruh paper bag dengan asal di atas sofa. Tujuannya saat ini adalah mencari afkan untuk meminta penjelasan. Uring uringan fidira mencari afkan yang entah ada di mana. Di kamar tidak ada, di taman belakang tidak ada, di ruang cuci pun nggak ada. Bahkan fidira sudah berteriak heboh mengucap kata 'pak bos' berulang kali, tapi tetap saja tidak ada sahutan. Eitttss! Fidira menghentikan langkahnya ketika melihat pintu ruang baca terbuka. Okey! Emang belum ngecek sih tadi, maka dari itu fidira segera masuk saja. Dan benar saja lelaki tampan yang sekarang berstatus menjadi suaminya itu sedang tertidur pulas dengan kepala di atas meja dan buku untuk bantalan.


Fidira menghela nafas panjang juga geleng geleng kepala. Oh tidak! Afkan benar benar tampan.Bagaimana bisa fidira melewatkan momen ini. No no no fidira menggeleng cepat untuk menyadarkan dirinya. Sebelum berubah pikiran,untuk terus memandanginya fidira segera menghampiri afkan. Menepuk nepuk pelan bahunya dan memanggilnya.


"Pak bos! Pak bos! " Fidira mengguncang bahu afkan lebih keras. Afkan bergerak, tapi tidak bangun,malah mengganti posisi yang lebih nyaman. Ouuhh! Sial! Afkan semakin tampan saja. Fidira berdecak sebal dalam hati. Bohong kalo dirinya tidak terpesona. Astaga! Sadarkan dirimu fidira. Tamparan kecil mengenai pipinya, uuhhh hanya cara itu yang bisa di lakukan fidira untuk bangun dari lamunannya yang ngaco.


Sudah tidak tahan, akhirnya fidira terpaksa melakukan kekejaman. Dari pada dirinya jatuh terlalu dalam pada pesona afkan, fidira tidak mau ambil resiko. Dengan keras fidira langsung mencubit hidung afkan sampai terperanjat kaget. Fidira hanya bisa ngakak melihat wajah afkan yang tampak berkeringat dingin karena terkejut. Afkan mengelus dadanya, berkali kali ia menghembuskan nafas untuk menetralkan jantungnya. Di rasa cukup, afkan menoleh kepada fidira yang terlihat masih tertawa walau kecil. Lirikan tajam yang berhasil membuat fidira bungkam, bahkan gugup dan salah tingkah.


"M-maaf" Sebuah cengiran lebar dan juga tanda peace di persembahkan untuk afkan. Dari cengiran juga sorot mata fidira, afkan bisa menangkap ada sebuah permohonan maaf yang tulus di dalam diri fidira.


"Ada apa?" Tanya afkan masih dengan suara serak. Astaga! Pesona Seorang afkan indra saat tidur bahkan baru bangun membuat fidira....ahh lebih tepatnya semua ciwi ciwi akan melayang.


Fidira tersentak saat afkan sudah berdiri di hadapannya. Dengan jarak yang Astaga!deket banget. Tiba tiba saja jantung fidira berdegup kencang. Sikap salting sudah menggelayuti nya. Bahaya bahaya, fidira harus segera menjauh. Jika tidak bisa,di jamin akan ada ledakan besar.


"Stop! " Fidira menggeser tubuhnya sedikit mundur saat tangan afkan ingin menyentuh kepalanya. Afkan mengerutkan dahinya, rasa heran pun muncul. "Stop pak bos. Stop! Disitu aja, jangan deket deket" Fidira memberi batas dengan kedua tangan yang di majukan. Apa yang harus dia lakukan? Sementara jantungnya semakin tidak terkontrol dan sekarang perutnya ikut ikutan mules karena terlalu panik. Ouh! Baiklah kita kabur. Belum sempat lari afkan malah memegang tangan fidira. "Huuuuuuuaaaaaaaa" Dengan sekuat tenaga,fidira melepas genggaman afkan dan lari keluar dengan cepat.


Afkan mematung di tempat. Kenapa fidira seperti melihat hantu? Eits! Tunggu apa dia menyamakan dirinya dengan hantu? Dengan cepat afkan mengikuti fidira keluar dengan terus memanggil nya. Fidira yang tadinya sudah merasa aman kini kembali berlari. "Hati hat-"


Brukk


"AWW!"


Fidira terjatuh saat menuruni tangga. Ouh! Sial! Padahal tinggal satu pijakan, tapi kenapa harus terlewat. Arrgghh! Fidira geram sendiri. Selain afkan kini menggendongnya, fidira juga harus merasakan nyeri di pergelangan kakinya. Udah malu,sakit lagi. Dan jantung nya, Aiss! Tetap saja berdisko. Rasanya fidira ingin menghilang secepatnya.


Afkan merebahkan tubuh fidira di atas sofa. Dari tadi mulutnya tidak henti hentinya mengomel. Entah sejak kapan afkan jadi se cerewet ini, yang pasti fidira pusing mendengarnya.


"Kenapa lari lari?" Kata yang sudah terlontar lebih dari tiga kali tidak bosan afkan tanyakan. Dan fidira tetap menjawab dengan jawaban yang sama 'gak papa'.


"AWW! Sakit sakit" Fidira meringis menahan sakit saat afkan mulai memijat kakinya dengan minyak urut. Afkan malah semakin memperkuat pijatannya. Dan ekspresi fidira sudah tidak bisa di deskripsikan lagi. Meringis sampai ingin menangis,berteriak mengumpat untuk melampiaskan kesakitan nya dan menendang nendang agar afkan melepaskan kakinya. Namun sayang fidira terlalu lemah untuk itu.


"Mendingan?" Tanya afkan saat jeritan fidira berakhir. Fidira hanya mengangguk pelan. Kemudian afkan mengambilkan minum untuk fidira. "Makanya jangan lari lari!" Afkan masih saja ngomel dengan mendudukkan dirinya di samping fidira. "Lagian kenapa sih kamu tadi lari lari? " Astaga! Afkan tidak bosan menanyakan hal yang sama.


Fidira memutar bola matanya jengah,lalu menghela nafas dalam "olahraga" Jawab fidira asal. Afkan mengerenyitkan dahinya. Mana ada olahraga siang siang, pakek panik segala lagi.


"Tadi kamu nyariin saya kenapa?" Afkan yang tidak mau ambil pusing, memilih mengganti topik pembicaraan. Fidira berpikir sejenak. Ahh iya! Atm.


Fidira menatap afkan yang juga menatapnya. "Berapa saldo yang ada di atm ini?" Fidira mengeluarkan kartu atm dari sakunya. Afkan tampaknya bingung, dia juga lupa sebenernya.


"Masih kurang? " Fidira melotot. What? Dia pikir fidira cewek matre. Cubitan keras berhasil membuat afkan meringis kesakitan. "Maaf maaf" Afkan sadar kalo pertanyaannya membuat fidira tersinggung.


TAK!


Fidira menaruh kartu atm di meja dengan kasar. Sebelum bangkit fidira melirik tajam afkan yang bingung dengan sikap yang baru saja ia tunjukkan. Dengan langkah tertatih fidira berjalan menuju kamarnya. Afkan yang menyadari fidira tersinggung dengan ucapannya, segera mengikutinya.


"Fi maafkan saya. Saya nggak bermaksud mengatakan seperti itu" Afkan berusaha membantu fidira, namun fidira dengan kasar menepisnya. "Fidira.. Jangan paksa kaki kamu! " Afkan terus berusaha membantu fidira. Namun lagi lagi tepisan kasar terarah padanya.


Melihat wajah fidira yang di tekuk juga bibir yang sudah maju lima centi, mau tidak mau afkan tersenyum geli. Kemudian tanpa aba aba afkan menggendong fidira dari belakang, sampai sampai fidira memekik kencang karena terkejut. "Pak bos! Turunin! " Fidira memukul pelan dada afkan.


"Diam! Atau kita akan jatuh" Fidira hanya diam. Berulang kali dirinya menghela nafas dalam. Mungkin untuk merendam emosi nya yang sudah penuh di dalam dadanya.

__ADS_1


"Istirahatlah!" Afkan merebahkan tubuh fidira di kasurnya. "Dan maafkan saya! Bukan saya bermaksud menyinggung kamu. Tapi saya hanya ingin tau, apa segitu cukup untuk kamu sebulan?" Astaga! Ucapan afkan kembali membuat fidira jengkel.


Fidira menghembuskan nafas beberapa kali. "Itu berlebihan" Jawaban sesingkat singkat nya.


Afkan tersenyum,mengacak rambut fidira gemas."Tidak papa, kamu boleh pakai semuanya. Semau kamu"


Mungkin jika wanita lain akan loncat kegirangan mendengar kata 'semau kamu' dalam menggunakan uang. Tapi tidak dengan fidira yang malah pusing dengan uang sebanyak itu. Harusnya kan bersyukur di kasih uang jajan banyak sama suaminya. Bukannya gak senang, tapi fidira tidak mau berhutang budi terlalu banyak pada afkan. Mengingat beberapa bulan lagi mereka mungkin akan berpisah. Walau masih cukup lama sih.


"Pak bos! 20 juta itu banyak. Dan hanya untuk saya? Menurut saya itu berlebihan. Lebih baik pak bos simpan! Atau kalo enggak pak bos buat kebutuhan rumah. Atau yang lain lah. Pokoknya saya nggak akan pakek uang itu lagi. Cukup hari ini. Bisa-bisa saya pusing menanggung hutang budi sama pak bos. Cukup hari ini saja. Terima kasih. Dan atm nya silahkan pak bos sim-" Belum sempat fidira menyelesaikan kata katanya, jari telunjuk afkan sudah mendarat di bibirnya.


"Fidira cukup. Sekarang istirahatlah! Jangan pikirkan hal itu. Ingat! Nanti malam kita harus pergi. Tapi jika kondisi kamu tidak memungkinkan kita tidak jadi pergi" Jelas afkan dengan memijat kembali kaki fidira.


"Tapi kan saya yang sakit. Pak bos bisa kan pergi kesana sendiri? "


"Tidak jika tanpa kamu" Afkan masih bersikeras.


"Tap-"


"Istirahat ya! " Afkan kembali mengacak rambut fidira. Lalu pergi keluar kamar. Astaga! Manis sekali. Fidira memekik dalam hati.


***


Fidira mengerjap perlahan. Tangannya meraba raba di sekitar dirinya yang sedang berbaring. Terpampang angka 16.12 menit di layar ponselnya. Huuuhh ternyata sudah hampir 3 jam dirinya tertidur. Fidira mengganti posisi dari berbaring menjadi duduk. Jangan tanya kalo dia lagi Ngumpulin nyawa? Ya pasti lah. Mana ada yang namanya fidira langsung bangun gitu aja. Kalo nggak ngedumel di kasur dulu, pasti tidur lagi.


Akhirnya dengan langkah semalas malasnya fidira beranjak dari kasur. Kakinya sudah tidak merasakan sakit atau nyeri lagi. Untung nggak sampek bengkak. Langkah fidira terhenti saat melihat paper bag di atas meja komputernya. Bukan hanya satu, tapi tiga paper bag yang ukurannya berbeda.


Karena penasaran fidira mendekati paper bag itu. Ya kalau ada di kamarnya 99% pasti untuknya kan? Bodo amat yang penting buka aja. Siapa tau isinya hp baru gitu, yakalii.


"Astaga!" Fidira terkejut saat mengeluarkan semua isi dari paper bag itu. Bahakan hampir memekik, untung dia tahan.Ada satu set alat make up lengkap dengan semua brush,serum,dan semua apalah.Sebuah gaun berwarna navy yang panjangnya diatas mata kaki dan sebuah heels dengan tinggi 12 cm. Wadauw! Fidira sampai rela mengambil penggaris untuk mengukurnya. Niat banget.


Kalo sudah seperti ini fidira tau siapa yang memberinya. Fidira menyambar ponsel yang tergeletak di atas kasur. Matanya menyipit saat membaca pesan dari afkan.


Pak bos galak : fi saya ada meeting dadakan. Kita berangkat jam setengah 7. Nanti saya pulang langsung berangkat. Kamu pakek baju yang saya kasih. Maaf, saya nggak sempet bawa kamu ke salon nya rani. Kalo kamu bisa make up sendiri ya?:) kalo nggak bisa, saya bisa suruh ester datang buat bantu kamu. Atau kamu langsung ke rani aja!


Fidira terkekeh kecil. What? Apa pikir fidira tidak bisa berdandan? Hei! Afkan.. Walau fidira tidak pernah memakai riasan di wajah, bukan berarti fidira gak bisa. Kalo cuma pakai bedak ama lipstik aja mah gampang. Batin fidira kesal. "Dasar meremehkan. Lihat saja! Gue bisa sendiri" Fidira segera membalas pesan afkan dengan kata 'nggak perlu :(' Aisss! Ini tidak boleh di biarkan penghinaan besar. Fidira segera bangkit menuju kamar mandi. Ya.. Terpaksa bersiap lebih awal. Untuk lihat tutornya juga kan. :)


***


Pukul 18.25 malam. Afkan baru saja memarkirkan mobilnya di garasi. Dengan langkah cepat afkan masuk ke dalam rumah. Langkahnya terhenti saat melihat seorang perempuan cantik tengah duduk di ruang tamu dengan bermain ponsel. Seakan sadar dengan kehadiran afkan, perempuan itu menoleh dan tersenyum padanya. "Fi-di-ra? " Gumam afkan lirih saat fidira beranjak mendekatinya.


Gaun navy itu benar benar pas di badan fidira, memperlihatkan pinggang ramping miliknya. Dengan riasan wajah yang tidak terlalu tebal dan rambut yang tergerai panjang hampir sepinggang. Tak lupa heels yang membuatnya lebih tinggi. Membuat afkan terpaku, bahkan sampai tidak bisa mengatakan apapun.


Fidira mendekat, tiba tiba saja memeluk afkan erat tanpa mengatakan apapun. Afkan hanya mampu diam. Bahkan saat fidira menuntunnya untuk duduk di sofa. Afkan hanya mengikuti kemauan istrinya itu, namun matanya tidak bisa lepas dari wajah gadis yang sekarang sudah berada di pangkuannya. Tiba tiba saja fidira menarik dasi afkan hingga kini wajah mereka berdekatan. Ohh no! Bibir yang kali ini di poles dengan lipstik merah itu terlihat begitu menggoda. Afkan menelan silva nya dengan susah payah. Fidira mendekatkan bibirnya.. Sampai...


TIIIIINNNN!


Afkan terkejut hingga dirinya gelagapan. Terdengar suara teriakan dari luar. Afkan menoleh, terlihat mobil lamborgini milik dua sahabatnya itu telah terparkir di halamannya. Anehnya afkan masih berada di ambang pintu. Dirinya menatap ke depan, terlihat fidira yang sedang melambai lambaikan tangannya. Dan sekarang sudah mendaratkan tamparan kecil di pipi afkan. Ohh! Sial! Itu hanya khayalan. Afkan geleng geleng kepala.


Afkan hanya mengangguk salting,lalu meninggalkan fidira tanpa sepatah katapun. Fidira yang melihat hanya mengangkat kedua bahunya. Tidak peduli dengan sikap gelagapan yang baru di tunjukkan oleh afkan. Ia memilih menghampiri ester dan elo yang sudah menunggu mereka.


Sesampainya di acara reunian. Fidira hanya mengikuti langkah afkan yang sedari tadi hanya diam dan terus saja gelagapan saat beberapa temannya bertanya padanya. Astaga! Setan apa yang merasuki afkan kali ini. Fidira juga tidak tau.


"Ini acara reuni kok kayak kondangan sih? " Gumam fidira yang heran dengan interior acara kali ini. Berbeda sekali dengan reuni di tempatnya. Disini harus pakek jas lah, gaun lah. Di tempat fidira pakek kaos doang juga nggak bakal di hujat.Fidira menepuk jidatnya. Ah!lupa, ini kan perkumpulan orang terpandang.


Fidira menoleh pada afkan yang sedari tadi tidak mau berhadapan dengannya. "Pak bos? "


"Hah? " Tu kan kaget lagi.


Fidira menghela nafas dalam. Tanpa meminta persetujuan dari afkan, fidira menarik salah satu kursi dan duduk manis di sana. Afkan juga ngikut duduk begitu saja. Fidira menoleh pada afkan yang sedari tadi melirik lirik padanya. Astaga! Fidira sudah tidak tahan dengan sikap diam afkan. Walau dia lebih suka afkan diam, tapi ternyata nggak seru kalo nggak ngomel.


"Pak bos! " Kali ini fidira benar benar menarik dasi afkan hingga wajah mereka berhadapan. Pandangan mereka bertemu. Ini real ya bukan khayalan kayak tadi. Afkan terkejut, namun sesaat menikmati manik mata fidira yang saat ini terfokus padanya. "Pak bos kenapa sih? " Pertanyaan fidira membuyarkan lamunan afkan.


Afkan mengernyit bingung. Namun pandangannya tak lepas dari manik mata fidira. Fidira menghela nafas kasar. "Pak bos malu ya? Bawa saya ke sini? Atau mungkin riasan saya ketebelan. Kayak badut ya? Ya saya emang baru belajar sih. Tapi kalo berlebihan biar saya hapus ajalah" Fidira bercermin dengan ponselnya. Perasaan nggak tebal tebal banget. Astaga! Fidira baru sadar dirinya kali ini memoles bibirnya dengan warna yang sangat mencolok. Merah. Oh! No! Fidira segera mengambil tisu yang ada di meja mereka. Baru saja ingin mengelap bibirnya, sebuah tangan kekar menahannya.


Fidira menoleh. "Ja-jangan di hapus! " Afkan terbata. Fidira semakin bingung. Afkan hanya diam sembari merebut tisu dari tangan fidira, dan malah mengelap bibirnya dengan tisu tadi. Fidira melongo. Afkan malah tersenyum padanya. Gila, pikir fidira tidak percaya.


Ditengah tengah aktifitas debat fidira dan afkan, tiba tiba ada seorang wanita cantik duduk di meja mereka tanpa izin. Reflek fidira dan afkan mengakhiri perdebatan mereka dan menatap wanita yang sekarang sedang tersenyum kearah mereka. Parasnya yang cantik, tubuh mulus, putih dan tinggi. Rambut lurus yang di curly di bagian ujung, Mini dress putih yang malam ini membalut tubuh rampingnya,di padu dengan heels yang memiliki tinggi sama seperti punya fidira. Membuat wanita ini menjadi sorotan pada reuni tahun ini. Dan parahnya afkan juga menjadi sorotan malam ini. Populer sekali,fidira mencibir dalam hati.


Fidira memandang wanita itu dengan raut wajah tak suka, sedangkan afkan malah terkejut, jantungnya berdetak kencang. Namun ia berusaha memasang ekspresi sedatar mungkin. "Dia datang" Afkan membatin.


"Apa kabar afkan? " Wanita itu mengulurkan tangannya dengan senyum yang di buat semanis mungkin. Fidira memaki dalam hati. Afkan membalas uluran tangan tersebut "baik" Jawaban singkat tanpa ekspresi dengan cepat afkan menarik tangannya.


"Ku dengar kau sudah menikah afkan? Maaf waktu itu aku tidak sempat datang" Wanita itu terkekeh kecil sambil meminum jus yang tersedia di meja. Basa basi, fidira kembali mencibir dalam hati. Ada perasaan jengkel di hati fidira terhadap wanita cantik itu.


"Tidak masalah" Lagi lagi afkan mempersingkat jawabannya. Fidira melirik afkan yang juga meliriknya dengan ekspresi datar. Sedatar waktu pertama kali fidira mengenalnya.


Pandangan wanita itu kini beralih pada fidira yang sejak tadi hanya menjadi penonton setia. Wanita itu tersenyum sinis, begitu pula fidira yang memasang ekspresi secuek mungkin.


"Dia istri ku" Wanita itu secara bergantian memandang afkan dan fidira. Ada gurat kekecewaan tersirat dari matanya saat afkan memperkenalkan fidira sebagai istrinya. Namun tiba tiba ia berganti dengan senyum menyeringahi.


"Aku anita, mantan pacar afkan semasa sekolah" Ucap anita bangga. Afkan terkejut dengan perkataan anita yang secara terang terangan memamerkan masa lalu mereka. Afkan menoleh pada fidira yang hanya santai dan malah tersenyum sinis.


" Fidira, dan aku yang berhasil memilikinya" Fidira menyambut uluran tangan anita dengan senyum sinis. Beberapa saat pandangan mereka bertemu. Pandangan sinis bak melihat musuh. Seketika jabatan tangan mereka terlepas dan saling membuang muka. Afkan juga terkejut dengan sikap aneh fidira, yang mengatakan kata kata yang biasanya anti banget untuk di keluarkan.


"Apa kau benar benar mencintainya? Seperti kau mencintaiku dulu afkan? " Anita melirik fidira yang sudah mati matian menahan emosi.


Fidira menyerobot "Setidaknya suamiku tidak memilih mu untuk menjadi istrinya"


Anita menatap tajam fidira, begitu pula sebaliknya. Ada kobaran amarah Yang tertahan di kedua mata mereka. Afkan menjadi bingung. Kenapa fidira terlihat tidak suka? Mengapa mereka seperti memendam seatu hal?Apa mereka sudah saling kenal?

__ADS_1


" Apa kau bahagia afkan? " Tanya anita tanpa melirik fidira sedikit pun. Fidira sudah hampir menyerobot omongan afkan lagi. Namun ia urungkan saat merasakan ada genggaman erat di jarinya.


"Tentu" Jawab afkan cuek.


Anita terkekeh kecil. "Afkan afkan... Lihatlah dirimu! Wanita yang kau bilang istrimu ini, bahkan tidak bisa merubah sikap mu yang dingin. Tapi saat dulu kau bersamaku, kau selalu ramah dan bersikap manis pada siapapun. Terutama padaku. " Anita berucap bangga.


Afkan kali ini menyinggung senyum sinis "itu hanya masa lalu" Afkan bangkit, ia merapikan jas nya lalu mengecup mesra kening fidira dan membelai rambutnya sekilas,sebelum berlalu dari sana. Fidira dan anita terkejut, namun sama sama mereka berusaha menyembunyikannya.


Pandangan fidira dan anita tak terlepas dari sosok afkan yang kini sedang berada di atas panggung dengan sebuah gitar. Afkan mengecek suara microfon agar menyala dengan lancar. "Maaf ya teman teman sekalian, izin kan saya menghibur kalian lewat sebuah lagu. Lagu ini saya persembahkan untuk seorang wanita, ups! Ralat. Untuk wanitaku yang malam ini sangat cantik dengan dress navynya. Wanita sederhana yang mampu menggoyahkan hatiku. Terima kasih sudah mau menerima diriku sebagai pendamping hidupmu" Fidira membelalakkan matanya. Antara sedikit senang, malu dan juga kesal terhadap sikap afkan yang dadakan seperti ini. Astaga! Wajah fidira sudah seperti kepiting rebus sangking malunya. Semua tamu malah bersorak gembira apalagi ester dan elo yang sangat heboh.


Afkan mulai memetik gitarnya, melantunkan sebuah nada yang sudah tak asing bagi orang orang jaman sekarang.


(Awalku mengenalmu


Tersita seluruh hatiku


Oh indahnya dirimu


Ku jatuh hati padamu)


Suara afkan membuat semua orang bersorak heboh. Fidira hanya bisa melongo melihat afkan dengan lihainya bermain gitar dan parahnya lagi suaranya... Aduhhh! Bikin baper. Jangan lupakan pesonanya. Arrgghh! Juga tatapannya yang tidak terlepas dari fidira.


(Tak terasa waktu berlalu


Kini kau t'lah jadi milikku


Betapa bahagianya aku


Saat kau ada di sisiku


Kini tiba saatnya


Kita harus melangkah


Temani diriku di sisa waktumu


Genggam Lah tanganku bersamaku


Kau kan menentukan arah


Bersama diriku yang kan slalu


Menjaga dirimu


Yakinkan hatimu temaniku


Di setiap langkah-langkah ku


Ku di sini di sampingmu


Ku kan slalu ada untukmu)


Lagu yang berjudul Ada Untukmu milik Tyok Satrio, berhasil di nyanyikan oleh afkan dengan baik. Dari awal bernyanyi hingga akhir, tatapan afkan tak sedikit pun teralihkan dari fidira yang menatapnya tidak percaya. Dan kini wajah fidira merona merah, saat afkan datang memberinya setangkai mawar merah. Setelah fidira menerimanya, afkan memeluknya erat. Fidira terkejut, namun kehangatan yang di salurkan membuatnya juga membalas pelukan itu, hingga afkan juga terkejut. Dan jangan lupakan teriakan dan tepuk tangan para tamu yang baper sendiri.


"Afkan sangat romantis" Ucap ester antusias.


"Kau mau seperti itu? " Tanya elo mengedipkan salah satu matanya. Dan berhasil membuat rona merah di wajah ester.


Ohh ya! Bagaimana kabar anita? Yang menyaksikan adegan peluk pelukan afkan dan fidira di depan matanya. Jangan heran jika sekarang wajahnya berubah merah padam karena menahan marah. Tanpa pamit, anita pergi begitu saja dari meja afkan dan fidira.


"Tetap ingin seperti ini? " Bisik afkan menggoda. Fidira yang reflek langsung melepas pelukan dan menunduk malu. Astaga! Sebentar lagi fidira mungkin akan terkena serangan jantung. Dari tadi jantungnya udah mau loncat keluar dengan bebas.Afkan tersenyum melihat fidira yang masih salah tingkah, bukan senyum sembarangan!ini senyum kebahagiaan.


***


"Astaga! Ini sangat melelahkan" Fidira melepas heelsnya dan memijat bagian betisnya yang terasa sangat pegal. Tumben nggak langsung ke kamar. Dan benar saja, fidira menuju dapur untuk mengambil setoples kripik kentang dan membawanya ke meja ruang tamu.


Baru saja ingin membuka toplesnya, tangan kekar afkan berhasil menghentikannya. Fidira memutar bola matanya jengah saat afkan menyuruhnya mencuci tangan terlebih dahulu. Dengan sedikit terpaksa fidira akhirnya menurut. Dari pada gak bisa makan kripik ya kan?


"Nggak mau ganti baju dulu? " Tanya afkan saat fidira dengan nikmat memasukkan satu per satu kripik ke dalam mulutnya. Fidira menggeleng. Mau jawab gimana coba? Mulutnya sudah penuh dengan kripik.


"Jangan penuh penuh! " Afkan merebut toples kripik menaruhnya di atas meja, lalu duduk di samping fidira dan menyalakan tv. Fidira melirik afkan dengan sebal. Tanpa dosa sekali tampangnya. "Kenapa lirik lirik? " Tanya afkan tanpa menoleh kearah fidira.


Fidira mencebikkan bibirnya. "Reuni di sini sangat aneh menurut saya? " Afkan menaikan sebelah alisnya. "Ya aneh gitu.. Reuni nya kayak orang mau kondangan tau gak? " Fidira mencibir.


"Kamu aja yang nggak pernah tau" Afkan mematikan tv,lalu menghadap ke arah fidira. "Kamu kenal sama anita? " Fidira mengernyitkan dahinya lalu tersenyum kecut.


"Sebenernya saya nggak pengen kenal sama tu nenek sihir sih. Tapi ya.. Namanya takdir" Afkan tertawa saat mendengar panggilan yang di berikan fidira untuk anita. "Jadi itu pacar pertama yang buat pak bos gamon? " Afkan mengangguk, fidira memutar bola matanya jengah. "Untung pak bos di putusin. Pak bos harus bersyukur, kalo perlu buat syukuran sekalian. Undang ni satu komplek"


"Kenapa kamu nggak suka banget sama dia? "


Fidira menarik nafas berkali kali seperti menahan emosi agar tidak meledak. Huuuuuhhhh! "Kau tahu pak bos... Saya pengen banget cakar wajah dia yang sok baik itu" Fidira memperagakan niatnya dengan penuh semangat. Afkan malah semakin tertawa. "Diamlah! Nenek sihir itu dulu mantan model di tempat pemotretan saya. Nah, berhubung saya masih bocil ni ya junior gitu baru...dan dirinya itu senior. Dia tu suka iri dengki banget ama saya yang cuma anak polos aja. Dia itu kan cantik,kenapa harus iri sih? Padahal waktu itu saya cuma di suruh jadi model iklan buat gantiin dia gitu loh, soalnya bayinya itu nggak mau diem kalo sama dia" Fidira menghentikan ceritanya saat melihat ekspresi bingung afkan.


"Bayi? " Fidira mengangguk. "Iklan apa sih? "


"Iklan sabun bayi" Mendengar jawaban itu akhirnya mau tak mau afkan kembali terbahak. "Nahh, ternyata sabun yang saya model in itu, laris manis di masyarakat. Saya jadi dapat honor yang lumayan dan kelas pemotretan gratis. Sejak saat itu dia tu suka nginjek nginjek saya mulu, apalagi saya selalu dapet jatah motret dia. Dia tu banyak mau nya, katanya kurang cerah lah, kegelapan lah, kurang estetik lah. Sampai suatu saat saya udah gedek ama dia, dan saya marah ama dia."


"Terus? "


"Dia nangis. Arrgghh! Saya pengen banget banting dia waktu itu. Tapi yaudahlah saya yang kalah, dia banyak yang belain. Saya cuma punya bang lele dan temen se team yang dukung saya karena juga udah gedek ama tu nenek sihir" Fidira meremas bantal sofa dan melemparnya asal. "Ngapain sih tadi harus ketemu dia, sok songong lagi. Dengan bangganya ngaku matan pacar pak bos. Ya emang gue panas gitu,ya enggak lah. Beruntung pak bos nggak milih dia jadi bini. Dia itu...mata duitan,songong,sok cantik..emang cantik sih,suka marah marah,lebay, ratu drama,playgirl lagi.." Fidira menyerocos panjang lebar.

__ADS_1


"Jadi maksud kamu, saya beruntung dapetin kamu? " Afkan menaik turunkan alisnya menggoda.


Seketika rona merah mewarnai wajahnya " Ya nggak gitu,mak- maksudnya tu....Aiiss!Au ah! Males ngomongin dia, mau tidur" Fidira bergegas menuju kamarnya meninggalkan afkan yang masih terbahak melihat sikapnya. "Manis sekali" Afkan masih terkekeh kecil sembari berlalu dari sana.


__ADS_2