
Pukul 05.30 pagi
Fidira dengan santainya masih terlelap di sofa panjang yg berada di kamar afkan. Sedangkan sang pemilik kamar baru saja bangun dari tidurnya. Sebelum mandi afkan selalu mengecek laptop dan ponselnya, entah mengecek agendanya hari ini maupun email yg masuk padanya.
Setelah beberapa menit afkan pun menutup laptop dan mematikan ponselnya. Afkan beranjak dari tempat tidur, sebelum pergi ke kamar mandi ia menyempatkan diri untuk menatap gadis yg sedang tertidur pulas di atas sofa.
Afkan tersenyum, mengingat kejadian kemarin. Fidira ngambek sepanjang malam bahkan sampai rela tidur di sofa. Karena afkan yg tidak sengaja memeluk fidira saat terlelap sebelum makan malam. Dan saat terbangun fidira reflek menampar afkan hingga pipinya kemerahan.
Fidira kembali ngambek saat ingin meminjam kaos dan celana afkan, karena semua bajunya berada di kamar fidira.Namun afkan malah mengomelinya bahkan melarangnya. Dengan alasan yg menurut fidira nggak banget,yaitu "jangan pakek nanti bau ketek kamu" Tapi namanya fidira ya... Pasti ngeyel dan bodo amat.
Alhasil mereka bertengkar di kamar bahkan sampai turun ke meja makan. Lucu juga! Pikir afkan setelah mengingat kejadian itu. Setelah beberapa saat menatap fidira, afkan pun berlalu ke kamar mandi.
"Fidira" Panggil mama nanda saat melihat fidira turun ke bawah menuju kamarnya.
"Iya? " Langkah fidira terhenti di depan pintu kamar.
"Kamu mau kemana? Oiya kamar itu... Kemarin mama mau taruh barang di situ tapi ternyata kok kayak di tempati orang. Siapa? " Tanya nanda penasaran.
"Ahh... " Fidira berpikir keras.
*mati gueeee* pekik fidira dalam hati
"Ini maa... Sebenernya ini kamar buat fidira kerja. Kalo pas malem gitu...streaming game, atau ngedit ngedit foto" Jelas fidira sedikit panik
Mama nanda mengangguk angguk mengerti, fidira mulai sedikit lega.Baru saja fidira mau pamit masuk, ucapan mama nanda sudah terlontar dahulu.
"Tapi di lemari tadi mama lihat banyak baju, baju kamu ya? " Fidira kembali berfikir.
"Hehe... Sebenernya di atas lemarinya itu harus berbagi sama afkan. Fidira nggak sukaa karena baju fidira kan banyak. jadi... Fidira milih taruh di sini aja" Jelas fidira dengan keringat dingin.
"Jadi kamu mau ambil baju nih? " Fidira mengangguk " Gini sayang... Mama mau minta tolong.. Sebenernya mama pengen jelasin semua ke afkan dalam waktu seminggu ini. Jadi tolong kamu bujuk afkan untuk mau dengerin mama ya" Terlihat tatapan memohon dari pandangan mama nanda.
Fidira pun tersenyum lalu mengangguk "fidira pasti bantu ma...nanti sepulang kerja kita susun rencana gimana? " Fidira mengedipkan salah satu matanya.
"Kamu mau kerja? Katanya sakit" Tanya mama nanda yg sedikit bingung.
"Fidira udah sehat maa... Okey? Nanti kita urus rencana" Mama nanda pun mengangguk lalu pamit untuk menemui papa indra yg berada di belakang rumah.
"Huuhh sok punya ide lo fi... Bakal pusing lo! " Fidira menggerutu pada dirinya sendiri yg berlagak sok jago, Dengan berlalu masuk ke kamar nya.
***
"Kamu beneran udah sembuh sayang? Kalo belum nggak usah ke kantor" Ucap mama nanda seraya menuangkan air putih ke dalam gelas.
"Fidira udah sehat maa... Beneran" Fidira tersenyum
"Afkan apa kau sudah memastikan kondisi istri mu? " Tanya papa indra dengan mengangkat sebelah alis nya.
"Dia sudah sembuh" Jawab nya dingin. " Baiklah aku berangkat" Afkan beranjak dari duduknya.
"Dan istrimu kau tinggal? " Tanya papa indra saat afkan sudah berada di ambang pintu.
Afkan mendengus kesal, lalu ia terpaksa berbalik menghampiri fidira yg masih enak makan. "Fii.. Bisakah di percepat? Kita akan ada meeting pagi" Tanyanya lembut sangking lembutnya fidira sampai mati matian menahan tawa.
***
Suasana di kantor hari ini tak jauh berbeda dari biasanya. Ramai dan membosankan, begitu kata fidira. Tapi hari ini semua karyawan di kejutkan dengan pemandangan yg berbeda. Yaitu bos mereka datang bersama bu bos mereka. Dan ini untuk pertama kalinya mereka berangkat bersama.
Para karyawan yg melihat mulai juga bergosip, tentang apa yang mereka baru sadari sekarang. Ya... Kenapa dari dulu gak berangkat bareng ya?pertanyaan yg muncul di benak para karyawan saat ini.Mungkin karyawan di sana sebelumnya masih melupakan bahwa bos nya sudah punya bu bos kali, jadi ya masih masih belum terbiasa dan gak inget juga. Maklum tak ter anggap. Dan sadarnya sekarang kalo ada pak bos dan bu bos. Padahal udah sekitar 4 bulan loohhh, nikahnya!
"Kek beda ya? " Fidira bergumam sendiri saat melewati para karyawan yg beberapa menatapnya terang terangan. Jadi salting sendiri, pikir fidira malu.
"Pak bos pak bos" Fidira memanggil afkan saat sudah masuk ke dalam ruangan.
"Hm? " Afkan bebalik, fidira yg sibuk dalam pikirannya sediri. Hanya bisa nyengir kuda, saat dirinya menubruk afkan.
"Maap maap ya! " Fidira menepuk nepuk manja dada bidang afkan yg sempat membentur kepalanya. Afkan dengan tiba tiba mencengkram tangan fidira yg sedang menepuk nepuk. Fidira memandang afkan dengan tatapan bingung.
"Ada apa? " Tanya fidira bingung.
Terlihat afkan sedikit terkejut, buru buru ia melepaskan tangan fidira. "Ada apa? " Afkan balik bertanya.
Fidira mengerutkan dahinya "kok tanya balik? "
"Tadi kamu yang manggil saya" Afkan mengalihkan pertanyaan.
"Emm... Gak jadi deh" Fidira bergegas duduk di mejanya.
"Buang buang waktu" Gerutu afkan sambil masuk ke ruangannya.
***
Di kantin, seperti biasa fidira dan ian menghabiskan waktu istirahat bersama. Fidira juga sempat meminta ian untuk memberinya ide atau masukan lah, untuk membuat rujuk mama nanda dan afkan. Tapi tanpa menyebutkan nama kepada ian.
Akhirnya ian memberi jawaban yg memuaskan walau memang sedikit ekstrem menurut fidira. Tapi okelah di coba. Kata ian "kalo gak bisa dengan yg halus,sekali kali pakek yg agak ekstrem" Motto dari ian itu yg sampai sekarang di pegang oleh fidira.
Fidira sudah merencanakan semuanya sejak 2 hari setelah ian memberi ide, fidira juga sudah memberi tau mama dan papa mertuanya soal rencana ini. Mama dan papa mertuanya sempat tidak setuju dan meragukan rencana ini. Fidira sebenernya juga sempat ragu,tapi entah mengapa hati fidira yakin bahwa ini akan berhasil.Akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan rencana hari ini.
Pukul 09.00 pagi
Fidira menghampiri afkan yang tengah berada di dalam kamar. Afkan masih saja berkutat dengan laptopnya, padahal ini kan hari cuti bersama. Sekantor semua cuti, bahkan para satpam akan di gantikan dengan satpam sewaan pada hari itu. Budaya ini sudah di lakukan perusahaan afkan dari pertama berdiri.
Setiap 3 bulan sekali mereka akan mendapat 1 hari libur secara cuma cuma. Ini di buat oleh ayah afkan yaitu indra, agar karyawannya juga bisa menghabiskan waktu bersama keluarga walau cuma sehari. Biasanya cuti ini di lakukan di hari sabtu agar terhubung dengan hari minggu yg juga off.
"Pak bosss! " Panggil fidira dari balik pintu kamar yg hanya menampakkan kepalanya saja.
"Hmm? " Afkan sekilas melirik fidira lalu beralih ke laptopnya lagi.
"Masih sibuk? " Entah mengapa fidira malah menanyakan hal yg biasanya ia tidak pedulikan.
Afkan menghentikan aktifitas jemarinya yg berada di atas keyboard, sekarang afkan fokus melihat fidira yg masih berada di balik pintu. "Ngapain di situ? " Tanya nya sedikit sinis.
Fidira hanya bisa nyengir, entah mengapa ia sangat bingung memulai rencananya ini. Fidira menghampiri afkan yg sedang duduk bersandar di tempat tidur sambil menatap nya dengan tatapan mengintimidasi.
"Hehe.. Pak bos.... Punya novel gak? " Tanya fidira dengan nyengir konyol andalannya.
Afkan mengerutkan dahinya " Kenapa? "
"Pengen pinjem aja" Fidira to the point.
Afkan terdiam sejenak, lalu tiba tiba ia bangkit. Dan itu benar benar mengagetkan fidira. "Ikut saya! "
"Keman-a? "
"Katanya mau pinjem tadi" Ucap afkan sembari keluar kamar.
Fidira yg tadinya terlihat cengo, setelah kepergian afkan senyum mengembang terukir di wajah nya. Bahkan ia sampai melompat lompat sangking girangnya. Bergegas ia mengikuti afkan sebelum semua berantakan.
Langkah afkan menuju suatu ruangan yg terdapat di bagian pojok lantai atas. Sebelum itu afkan juga sempat berhenti di meja yg berada di depan tangga untuk mengambil kunci.
Sampainya di depan pintu fidira sudah mulai berdoa, agar afkan tidak marah padanya terlalu lama karena perbuatannya kali ini. Fidira mulai bersiap siap.
Ceklek
Pintu ruangan terbuka, terdapat pemandangan banyak buku di sana. Afkan melangkah masuk dengan santai, fidira yg masih berada di ambang pintu berusaha mengatur nafasnya.
"Pak bos"
"Hm? " Afkan berbalik menoleh pada fidira yg masih berada di depan pintu.
"Please! Maafin saya, ini saya lakuin demi pak bos" Teriak fidira kencang.
Afkan terlihat bingung "maksu-"
__ADS_1
Brraakkk
Ceklekk
Pintu terkunci, afkan sempat menggedor gedornya namun fidira sudah menghilang dari sana.
"Brengsek!" Umpat afkan dengan menendang keras pintu tersebut.
"Afkan? " Panggil seseorang dari arah ruang baca, membuat afkan menoleh dengan ekspresi terkejut.
"Kau? " Afkan mengerutkan dahinya.
***
Fidira dengan cepat menuruni tangga dan bersembunyi di dalam kamarnya. Tangannya terus memegangi dadanya yg berdetak kencang. Mulut fidira pun tak henti hentinya berkomat kamit meminta maaf kepada afkan. Ya walau gak denger sih.. Tapi biarin lah.
"Aduhhh! Pak bos, maaf in saya semoga dia gak marah besar dah. Dan semua berhasil" Fidira meremas erat hpnya dengan memejamkan mata.
"Tapi kalo gue di baku hantam gimana ya? Ahhh kan pak bos nggak sekasar itu... Tapiii tetep aja kalo emosi kan bisa jadi... Uuuuhhhh" Fidira menggerutu pada dirinya sendiri,sambil berguling guling di tempat tidur ke sana kemari.
Di ruang buku
Afkan menyinggung senyum sinis "ohh jadi kalian sudah merencanakan ini semua? " Kata itu terlontar saat afkan melihat mama nanda sedang berdiri di sana.
"Afkan.. " Panggilnya lembut. "Ada yg harus mama jelasin sama kamu sekarang! " Jelasnya
"Apa? Apa Yg akan kau jelaskan? Bukannya semua sudah jelas? " Tanyanya sinis.
" tolong dengarkan mama, walaupun untuk sekali ini saja" Pintanya
"Kau bukan mamaku! " Bentak afkan kasar.
Mama nanda tersenyum lembut " Kau anak yg baik. Walaupun afkan, kamu tidak menganggap mama sebagai mama mu. Tidak masalah! Tapi hari ini juga mama harus jelasin semua sama kamu"
"Tidak perlu! " Afkan acuh tak acuh
"Afkan.. Ini pesan terakhir dari mendiang sarah. Dia menyuruhku untuk memberikan mu ini saat kau sudah menikah. Dan ini saat nya kan? " Mama sarah memberi sepucuk surat yg terbungkus amplop berwarna merah yg di desain khusus dari mama sarah. Terdapat simbol mawar merah di sana, dan itu yg membuat afkan menerima surat itu. Karena ia tau mamanya selalu memberi amplop berdesain sama di setiap ulang tahunnya dulu.
*Dear Afkan sayang
Jika kamu sudah menerima surat ini, mama yakin kamu sudah memiliki wanita yg amat kamu cintai. Bahkan mungkin lebih dari cinta mu ke mama, haha... Enggak! mama tau kok kamu pasti menyayanginya sama seperti kamu menyayangi mama. Harus adil kan ya?
Maka dari itu mama pengen ngucapin HAPPY WEDDING sayang, semoga kalian selalu bahagia. Sudah lama mama merindukan suara tangisan bayi di rumah,pertama dan terakhir kali juga tangisan mu afkan. Tapi sayang.. Mama tidak bisa mendapatkan kesempatan itu. Nggak papa, mama akan melihatnya dari jauh saja.
Tapi jangan pernah tinggalkan istrimu afkan, jika tidak mama akan marah padamu. Dia sudah rela menyerahkan hidupnya untukmu kan? Jadi buat dia selalu tersenyum dan bersikaplah hangat dan perhatian. Mama yakin istrimu akan sangat senang.
Mama juga memiliki hadiah untuk menantu mama,tolong carikan ya afkan. Mama menaruhnya di rak buku mu waktu itu, ada sebuah kotak di sana. Tolong berikan padanya ya. Oiya... Jangan lupa kenalkan dia pada mama, mama yakin dia gadis yg baik karena mama sangat tau tipe anak mama ini. Jadi jangan pernah lepaskan dia! Ingat Itu ya!
Dan... Mama titip papa mu afkan, jaga dia, sayangi dia dengan tulus. Karena dia hanya punya kamu sayang. Kau tau, papa mu itu kan selalu merasa kesepian,apalagi kalo punya masalah pasti terlihat sangat gelisah. Maka dari itu tolong jaga dia,terutama perasaannya.Mama juga mohon jangan membenci bibi nanda ya.. Semua yang terjadi tidak ada yg bersalah, hanya saja takdir yg sudah tergaris.
Jika kamu membencinya, mama akan sangat merasa bersalah di sini sayang. Karena semua terjadi karena mama, mama menyuruh mereka bersumpah untuk membesarkan dan merawatmu bersama sebagai orang tau mu. Karena mama tau bibi nanda lah yg bisa ngertiin kamu, dan juga menjaga papa. Maka dari itu mama berharap kamu bisa menyayangi nya seperti biasa.
Mama egois ya? Mama tau itu, mama mungkin nggak mikirin perasaan kamu. Tapi mama berusaha menyiapkan sesuatu yg terbaik untuk mu. Maaf mama nggak bisa memberitahumu tentang penyakit mama. Karena mama nggak mau kamu terlalu khawatir. Mama lebih senang melihat senyummu yang selalu menghangatkan hati semua orang. Terima kasih afkan!
Mama akan selalu menjagamu dari sini. Maaf sekali lagi! Dan ingat pesan mama ya...! Mama menyayangimu!
Berjanjilah jangan menangis setelah membacanya, mama membenci itu!
Mama mu :sarah*
Afkan memandangi tulisan tangan mamanya dengan kristal bening yg sudah lolos mengalir di pipinya. Dadanya sesak saat berusaha menahan tangis yg ingin keluar. Perasaanya bingung harus bagaimana, selama ini ia sudah salah paham terhadap papa dan bibinya yg sekarang menjadi mama sambungnya.
Terasa tangan lembut menyentuh punggungnya, terlihat wanita paruh baya sedang tersenyum hangat menatapnya. Seakan memberi semangat afkan untuk melupakan semuanya. Tanpa membalas senyum itu, afkan langsung menghambur pelukan pada nya.
Nanda menyambutnya dengan hangat, sepertinya ia sudah menemukan afkan yg dulu. Afkan kesayangannya yang selalu memeluknya dan merengek padanya.
"Maaf, maaf, maafkan aku bibi" Ucap afkan di sela sela tangisnya.
"Tolong maaf kan aku" Ucap afkan lagi
"Iyaa" Nanda mengangguk pelan. Nanda merenggangkan pelukannya, ia menatap mata afkan dengan lekat begitupun sebaliknya. "Bibi selalu menyayangimu afkan, maafkan bibi ya? " Nanda mengusap air mata yg mengalir di pipi afkan.
"Aku yg seharusnya meminta maaf bibi, selama ini afkan yg tidak pernah mendengarkan penjelasan kalian. Aku ini memang bodoh" Afkan menyesali perbuatannya selama ini. Ia sudah begitu kasar, sikap pun tidak pernah sopan. Melupakan semua kebaikan dari dua insan itu dan membencinya.
"Afkan... Bibi mohon.. Ijinkan bibi menjadi mama mu ya? " Pinta nanda seraya mengelus rambut afkan.
"Terima kasih, sudah mau menjadi mamaku" Afkan tersenyum lembut. Nanda yg sudah tak kuasa menahan air mata bahagia membiarkan lolos begitu saja. Nanda pun memeluk erat afkan.
Di sisi lain
Fidira yg sedari tadi berada di kamar hanya guling guling gak jelas, memutuskan untuk keluar. Ya siapa tau negonya afkan dan mamanya sudah selesai lalu fidira bisa cepat kabur untuk menghindari amukan bos nya itu.
Fidira clingak clinguk di balik pintu kamarnya, masih sepi. Tiba tiba fidira teringat tentang tanaman stroberi yg sudah 2 hari tidak ia kunjungi. Akhirnya fidira pergi ke kebun belakang rumah. Dan benar saja tanamannya pun layu kekeringan. Segera saja fidira menyemprotkan air dari slang yg terdapat di sudut rak miliknya.
Sedang asik menyiram, tiba tiba terdengar suara lelaki paruh baya memanggilnya. Fidira tersenyum mendapati papa mertuanya berjalan menghampirinya. Mereka bercerita banyak tentang hobi mereka yg sama sama suka berkebun. Bertukar informasi tentang perawatan dan waktu pemupukan setiap jenis tanaman.
Fidira jadi tau tanaman yg berada di rumah besar mama papa mertuanya itu, adalah hasil penanaman papa indra. Fidira terkagum, ada juga laki laki yg telaten dalam merawat tanaman.
Mereka larut dalam percakapan yg seru, bahkan papa indra juga menceritakan tentang masa lalu nya. Saat mama sarah masih hidup, mereka dan afkan sering mengunjungi lahan lahan desa mereka saat liburan. Di sana diceritakan afkan sangat senang bermain di desa. Bermain layangan sendiri, memeras susu sapi, bahkan saat afkan berumur 12 tahun,katanya pernah tak sengaja menyentuh kotoran sapi. Dan afkan malah menangis, sejak saat itu afkan tidak mau dekat dekat dengan sapi lagi.Mendengar cerita papa mertuanya itu, fidira tak bisa menahan tawa jahatnya.
Pernah juga katanya, saat afkan berusaha menerbangkan layangan sendiri malah layangannya terbang duluan karena tertiup angin kencang. Dan naas nya benang nya malah putus. Alhasil afkan menangis tersedu sedu saat pulang ke rumah. Fidira tertawa terbahak bahak mendengar cerita dari papanya itu, sampai ia melupakan rasa takutnya tentang afkan yg mungkin hari ini akan ngamuk besar padanya.
"Lucu sekali" Fidira masih dalam tawanya.
"Ya... Dia anak yg lucu, kau tahu fidira... Dia itu suka sekali menangis. Dikit dikit nangis, dan meminta mama atau bibinya untuk mengelus kepalanya saat tidur. Afkan juga ngambek an." Jelas papa indra juga tertawa.
"Ohh ya... Itu jelas terlihat saat dia marah" Fidira menimbrungi.
"Tapi di balik sikap manjanya, dia lelaki yg kuat. Lelaki sejati yg akan selalu melindungi semua keluarganya, terutama seseorang yg dia sayang. Dia rela berkorban apapun untuk melindunginya" Jelas papa indra menatap fidira dalam.
Mendengar pernyataan papa mertuanya tentang afkan,fidira terdiam. ya memang benar... Afkan juga selalu berusaha melindunginya, walaupun fidira bisa sendiri sih.
"Oiya.. Apa menurut mu ini akan berhasil? " Papa indra mengalihkan perhatian.
"Fidira yakin ini pasti berhasil. Kan papa sendiri yg bilang kalo afkan itu mudah sekali luluh dan memaafkan" Fidira memutarkan balik ucapan papa indra beberapa menit lalu.
"Hahaha papa percaya padamu" Papa indra merangkul pundak menantunya itu. Fidira juga ikut tertawa, setidaknya dengan tertawa ia bisa menghilangkan sejenak keraguan dalam dirinya.
"Ekhmm.. Dalam rangka apa ini kok peluk peluk? " Terdengar suara dari arah dalam. Fidira dan papa indra dengan kompak menoleh. Terlihat mama nanda dan afkan sudah berdiri di sana. Terlihat senyum mengembang di wajah mama nanda. Begitu dengan afkan yg saat ini juga tersenyum. Senyuman yg asing dari afkan, belum pernah fidira melihat senyuman semanis dan sehangat ini dari afkan.
Tiba tiba saja afkan langsung menghambur pelukan kepada sang papa. Afkan terus mengucapkan kata maaf kepada indra. Indra mengelus pelan punggung anak semata wayangnya itu dengan penuh ketulusan. Fidira menjadi terharu dengan pemandangan yg berada di depannya.
Tangan halus memegang bahu fidira lalu memeluknya. "Terima kasih" Ucap mama nanda dengan penuh kebahagiaan. Fidira hanya tersenyum menanggapinya.
***
Fidira merebahkan tubuhnya di tempat tidur afkan. Setelah sekian lama drama yg terjadi, akhirnya fidira berhasil menyatukan keluarga kecil itu lagi. Fidira tersenyum, mengingat ian yg telah mengusulkan ide ekstrem ini. Dan berkat kepercayaannya kepada ian, akhirnya semua selesai.
Tut... Tut... Tut
"Hallo? " Sapa seorang di sebrang telpon.
"Yannnn makasihhhh, gueee sayang sama loooo! Thanks banget" Fidira berteriak kegirangan di depan telpon nya itu.
"Ih apaan sih lo? Alay deh. Gue gak ngerti apa apa juga? " Omel ian yg kupingnya masih mendengar suara bising, selepas teriakan fidira yg bikin jantungnya hampir keluar.
"Hehe... Gak papa.. Makasih pokok nya. Makasih makasih makasih iannn. Lo tu bener bener is my life"
Tak terasa senyum kecut tersinggung di wajah ian "iya iya... Apa ajalah. Penting lo seneng. Tapi btw ada apasih? "
"Eits! No no no ini rahasia." Fidira berbicara manja
"Hmm... Mulai rahasia rahasia an ni ye? " Cibir ian tak terima.
__ADS_1
"Sorry abang iann... Fidira mungil ini gak bisa cerita... Utututu jangan marah ya! " Fidira menggodanya
"Ihhh gemesss pengen bunuh" Ian menirukan suara manja fidira.
"Haisss..udah deh. Bye ian gue mau bobok siang dulu! Makasih" Fidira berpamitan, karena memang matanya sudah tak tahan.
"Hemm, mimpi in gue ya! " Ian terkekeh
"Dasar! " Cibir fidira.
Tut
Panggilan telepon pun terputus. Dengan terus menyinggung senyuman tak terasa fidira pun terlelap.
Afkan yg baru masuk ke kamarnya, tiba tiba menyinggung senyum. Hari ini benar benar menjadi hari terbaiknya, sebab gadis yg sedang tertidur pulas itu berhasil menyatukan keluarganya.
Afkan mendekati fidira yg tengah tertidur pulas dengan memeluk guling. Afkan berjongkok di samping tempat tidurnya, memandangi wajah gadis cantik itu dari dekat. Entah mengapa jantung afkan malah deg deg an, seperti ada sesuatu di dalam jantungnya.
Entah apa yg menjadikan afkan menjadi berani. Seperti saat ini, tanpa sadar afkan berani mencium kening fidira, bahkan cukup lama. Saat tersadar afkan segera menjauh dari fidira yg sedikit bergerak, bergegas afkan berlalu ke kamar mandi. Menenangkan dirinya di sana.
Pukul 18.30 malam
Keluarga kecil yg sudah kembali utuh sedang makan malam bersama. Kini semua menjadi beda dari biasanya, fidira melihat pemandangan baru dalam diri afkan. Mulai dari banyak bicara sampai tertawa lepas,keluar dari dalam dirinya yg mungkin sudah lama tidak di lepaskan.
Sekarang yg kikuk malah fidira, sangat canggung rasanya melihat perubahan drastis di keluarga ini."emm... Fidira udah selesai, fidira duluan ya.. Mau live game dulu ma pa" Pamit fidira ingin segera pergi.
"Ahh iya... Jangan malem malem ya tidurnya" Ucap mama nanda.
"Ma pa.. Afkan juga duluan. Ada masih ada kerjaan " Afkan juga ikut pamit
"Iya sayang jangan kecapekan ya kalian" ucap mama nanda benar benar terlihat sangat senang.
***
Fidira terlihat sangat serius menatap layar komputernya, dengan earphone yg terpasang di kepalanya. Setelah kurang lebih 2 jam ia melakukan live, akhirnya fidira mengakhiri permainannya.
"Huuuuuuhhhh" Fidira meletakkan earphone nya di atas meja komputer. Fidira mengadahkan kepalanya ke atas, ia memejamkan matanya. Ia melirik jam dinding yg masih menunjukan pukul 9 kurang 15 mnt.
Fidira bangkit dari duduk nya, ia merebahkan tubuhnya ke kasur empuk yg sudah lama ia rindukan. Sebenarnya ia sudah sangat lelah dan mengantuk, tapi apa daya ia masih belum siap menghadapi afkan sendirian. Fidira sangat takut jika afkan marah besar padanya. Males banget pikirnya.
Tanpa di rasa fidira mulai terlelap,Bahkan sudah nggak inget apa apa.
Pukul 10.15 malam
Afkan meletakkan laptop nya di atas meja lalu mematikannya. Pandangannya masih terarah pada pintu kamar yg tak kunjung terbuka. "Masih streaming? " Afkan bergumam sendiri.
Afkan keluar dari kamarnya, ruang tamu terlihat begitu sepi. Sepertinya papa dan mamanya sudah tidur. Afkan menghampiri kamar fidira yg pintunya sedikit terbuka. Terlihat fidira sudah tertidur pulas di kasurnya dengan nyaman.
"Pantesan nggak ke atas... Molor di sini ternyata" Afkan menghampiri fidira.
Huuuuufffff
"Kenapa dia sangat lucu? Hah? Kenapa kau begitu lucu sampai aku ingin memakan mu? " Afkan berdecak kesal, ingin sekali ia mencubit pipi fidira yg gembul itu. Tapi afkan nggak setega itu.
Pukul 07.00 pagi
Fidira mengerjapkan matanya saat sinar matahari pagi masuk ke dalam kamar. Perlahan dirinya duduk termenung di atas tempat tidur dengan masih mengumpulkan nyawa untuk beranjak. Malas sekali pikir fidira mengacak kesal rambutnya yg sudah berantakan.
Ceklek
Suara pintu terbuka menyadarkan fidira, terlihat afkan masuk dengan bekas keringat yg sudah menempel di tubuhnya. Tanpa melirik fidira, ia berlalu begitu saja ke kamar mandi.
Tangan fidira menepuk nepuk kasur, mencari benda pipih kesayangannya. Beralih ke atas nakas samping tempat tidur, namun tangannya belum juga menemukan benda pipih itu. Fidira segera melompat turun dari kasur, mengobrak abrik semua yg ada di sana. Mulai selimut, bantal, guling semua ia buang ke lantai. Tapi juga tidak ketemu.
"Pak bos! Pak bos! " Fidira sedikit berteriak dengan terus menggedor gedor pintu kamar mandi. "Tau hp saya nggak? " Teriaknya lagi.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, menampakkan sosok afkan yg bertelanjang dada hanya memakai handuk yg melilit pinggangnya.
"Kyaaaaa!" Fidira berteriak kencang, afkan segera membekap mulut fidira dan mengisyaratkannya untuk diam. Fidira akhirnya pun diam dan menepis tangan afkan dengan kasar.
"Kenapa nggak pakek baju dulu sih? " Omel fidira berjalan keluar kamar dengan kaki yg di hentak hentakkan.
"Apa yg dia lakukan dengan kamar ku? " Gumam afkan melihat kamarnya yg seperti kapal pecah.
Fidira segera berlari menuruni anak tangga untuk menacari ponselnya.tapi langkahnya terhenti saat suara yg sangat di kenalnya memanggilnya. Mama nanda.
"Ya? " Fidira berbalik
"Apa hari ini kamu sibuk? " Tanyanya dengan meletakkan tumis kangkung di meja makan.
Fidira teringat dengan jadwalnya hari ini untuk melihat perkembangan kafenya,sudah lama juga ia tidak membantu teman temannya. "Fidira berencana keluar sih ma" Fidira membetulkan ikatan rambutnya yg tidak rapi. Bahkan ia lupa tidak mencuci muka dulu.
"Kemana? "
"Fidira mau ke tempat temen temen. Emang ada apa ma? " Tanya fidira balik.
Mama nanda tersenyum "sebenernya untuk tanda keberhasilan rencana kita. Mama pengen ngerayain aja! Kita shopping, tapi kamu sibuk"
"Maaf ya ma... Lain kali kita rayain... Mungkin Weekend depan. Gimana? " Tawar fidira, yg langsung mendapat jawaban 'ya' dari sang mama. Setelah selesai, Fidira meneruskan misi untuk mencari ponselnya.
Dan benar saja, di atas meja komputernya tergeletak lah ponsel yg terbalut cassing berwarna hijau. "Kau membuatku jantungan" Fidira mendekap ponselnya erat.
Fidira membuka ponselnya, matanya membelalak saat melihat beberapa panggilan dan juga pesan dari ian yg mengajaknya joging. Aaaiiisss! Bagaimana ponselnya bisa tertinggal tadi malam. Fidira mengacak rambutnya kesal. Harusnya ia bisa melihat senyum ian saat pagi, atau seenggaknya badan ian yg atletis. Arrgghhh kotor sekali pikirannya.
Eiiitttsss! Wait wait wait.. Fidira termenung, seperti ada yg mengganjal di pikirannya. Seingatnya tadi malam fidira tidur di kamar ini? Tapi... Kok bangunnya di kamar afkan. Apa dia terbang? Mungkin teleportasi? Atau dia mengigau saat tidur?
"Sanyangg... Ayo sarapan! " Teriak mama nanda dari luar kamar, dan berhasil menyadarkan fidira dari lamunannya.
"Iyaa" Fidira sedikit berteriak. Uuhhh hampir saja ia lupa, dia kan belum mandi. Bagaimana ia bisa makan tanpa mandi tau sekedar cuci muka. Bahkan bangun tidur saja kesiangan. Hiisss sungguh memalukan.
***
Setelah acara sarapan pagi yg memalukan tadi, fidira bersiap untuk pergi ke kafenya. Ya memalukan...pasalnya, afkan secara blak blakan menceritakan bahwa ia telah menggendong fidira ke kamarnya saat dia sedang tertidur. Uuhhh bodoh! Runtuknya kembali, harusnya tadi ia tidak usah bercerita jika ada keanehan saat tadi malam ia tertidur. Di duga ia mengigau sampai ke kamar, ternyata memang ada yg memindahkannya. Ya... Afkan menggendongnya.
Dan parahnya lagi, mama dan papa nya selalu menggoda nya. Hiiihhh, bad morning jadinya. Tapi kenapa afkan harus menggendong nya segala sih, kan dia bisa bangunin. Atau lebih baik di biarin di kamar itu saja, no problem kan?, fidira terus saja menggerutu di depan cermin yg sekarang memantulkan bayangan dirinya.
"Kamu sebenarnya mau ke mana sih? " Tanya afkan yg dari tadi mendengarkan omelan omelan fidira dengan secangkir kopi di tangannya.
"Kepo" fidira acuh tak acuh, tanpa mengalihkan pandangannya dari cermin. "Oke, selesai pakek topi nggak ya? Bagusan pakek topi nggak sih? Nggak usah deh ribet"
"Tapi cantik kalo pakek topi" Afkan mengambil topi hitam bertuliskan 'mine' di depannya. Lalu memakaikannya pada fidira.
"Emang iya? " Tanya fidira polos dengan terus menatap cermin yg memantulkan bayangannya dengan afkan yg berdiri di belakangnya. Afkan mengangguk.
"Baik saya akan pakek topi. Tapi bukan yg ini" Fidira baru akan melepas topi yg telah terpasang di kepalanya, namun dengan cepat afkan menahannya. Fidira menatap mata afkan dari cermin, begitu pun sebaliknya.
"Apa maksudmu?" Tanya afkan masih menatap manik mata fidira dari cermin. "Apa aku menyuruhmu melepasnya? "
"I-ini kan punya pak bos" Fidira yg salting hanya mampu menunduk. Sejak kapan afkan menyebut dirinya sendiri dengan kata 'aku'. Mungkin lupa! Batin fidira.
"Aku berikan padamu! Jadi jangan di lepas" Afkan membenarkan posisi topi yg sedikit geser.
"Tap-i ini pasti berharga kan buat pak bos. Tulisannya aja 'mine' pasti kenangan dari pacar pak bos?" Fidira berbalik dan menatap afkan yg memang lebih tinggi darinya.
"Sudah, cepatlah pergi!" Ucapan afkan segera mendapatkan anggukan semangat dari fidira. Fidira dengan senang melangkah meninggalkan kamar afkan.
"Fi!" Fidira menoleh, afkan berjalan mendekat padanya. Afkan mengambil tangan kanan fidira lalu menggenggam nya erat. Fidira sedikit bingung tapi ia membiarkannya.
"Jangan lupakan ini" Afkan menaruh sesuatu dalam genggaman fidira. Fidira membuka tangannya saat genggaman tangan afkan sudah lepas dari tangannya. Sebuah kartu atm.huuuuuhh baiklah fidira mengangguk.
"Pin nya tanggal pernikahan kita" Ucapan afkan kali ini benar benar membuat fidira membelalak. Whattt? Afkan ngebuat tgl pernikahan, jadi pin atm. Apa maksudnya? Apakah afkan ingin fidira terus mengingat tgl itu? Mungkin.
__ADS_1