Perjanjian Cinta

Perjanjian Cinta
88


__ADS_3

"FIDIRAAA!" Pekik seseorang dari sebrang panggilan telepon. Fidira mendekatkan kembali ponselnya yang tadi sempat ia jauhkan karena lengkingan suara dari orang tersebut.


Fidira memutar bola matanya jengah. "Biasa aja bisa nggak sih raf? " Astaga! Rafa. Kalo sudah teriak suaranya jauh lebih melengking di banding suara wanita.


"Lo udah cek ig belum? " Tanyanya tergesa gesa. Rafa berdecak sebal saat fidira mengatakan 'belum'. "Ada berita yang lagi viral tauu! Cepet buka ig lo. Kalo nggak! di jamin nyesel dah" Setelah fidira mengatakan 'iya' dan kiss bye alay mereka dengan malas, akhirnya sambungan telepon itu berakhir.


Fidira menuruti perintah rafa untuk segera membuka aplikasi kesayangan, yang biasa di buat update hasil potretnya. Mata fidira melotot saat melihat laman utamanya yang memperlihatkan foto dirinya dengan afkan yang saling berpelukan. Wait! Ini kan waktu di reunian kemarin. Ya ampun!Bukan hanya satu, tapi 3 foto lainnya juga ikut di update. Jelas saja! Waktu Itu saat keluar dari acara, ada seorang fotografer yang menghadang mereka dan meminta foto. Di tag segala lagi akun fidira. Di jamin semua fans game fidira bakal DM.


Fidira berganti melihat semua komentar para netizen yang... Ya ampun alaynya. Fidira yakin kebanyakan yang komen di sini adalah para penggemar alay nya itu.


*Kak fidira udah punya pacar? *


*ya ampun mesra banget. Mauuu ;) *


* Kak fidira aku sakit hati lohhh :(*


*tega ya kamu kak, gak kabar kabar kita kalo udah nikah :(*


Wait! Fidira menatap kata kata itu dengan mata yang menyipit. Bagaimana mereka tau? Kan fidira nggak pernah update foto pernikahannya. Atau orang orang di kampung nya ya? Bisa jadi sih. Mata fidira terfokus dengan komentar yang di sematkan oleh sang akun. Mata fidira melotot untuk ke dua kalinya, astaga! Akun seseorang yang sangat ia sayangi. Ian. Ikut juga berkomentar, lebih parahnya lagi di jejali dengan foto bersama saat pernikahan fidira. Tidakkk! Semua udah tauu donkk! Fidira mendumel di meja kerjanya. Kakinya bahkan sampai menendang meja dengan keras. Jangan pikir kalo dia gak kesakitan ya! Dia mengaduh sampai hampir nangis kok.


Fidira bergegas bangkit keluar dari ruangan. Dengan langkah cepat dirinya menuju ruangan tempat ian bekerja. Namun sayang ian nya nggak ada. Kemana? Ini kan masih jam kerja, walau kurang 15menit sih untuk makan siang. Tapi ian bukan tipe orang yang nggak tertib aturan.


Fidira kembali melangkah cepat kali ini di iringi dengan larian kecil. Fidira menaiki lift untuk menuju lantai teratas gedung. Setelah itu ia menaiki satu persatu anak tangga yang membawanya ke atap gedung. Dengan nafas ngos ngosan akhirnya fidira sampai juga.


Fidira menatap sudut atap dengan senyum. Ya.. Laki laki itu, laki laki itu sedang berdiri memandang indahnya kota dari ketinggian. Fidira senang, ya dirinya selalu merasa senang saat memperhatikan laki laki itu dari kejauhan. Laki laki yang selalu mengisi hari harinya, mewarnai jalannya, semangatnya, dan laki laki yang selalu ada di hatinya. Ian Ramadhan. Nama yang selalu ada di setiap doanya sepanjang hari. Berharap ia tau bahwa dirinya selalu menunggu, menunggu laki laki itu datang padanya dan berkata 'i love you'. Hanya itu!


"YAAA! APA MAU MU?"


Ian menoleh, sesaat dirinya terdiam tak lama kemudian tersenyum. Ia menghampiri gadis di hadapannya, yang saat ini sedang berkacak pinggang dengan ekspresi menantang. Ian menebak pasti gadis kecil ini sudah mengecek instagramnya.


"Jangan sok baik ya! " Ketus fidira menepis kasar tangan ian yang ingin menyentuh rambutnya. Ian tersenyum, dengan cepat ia mencubit keras kedua pipi fidira sambil berkata " I dont care"


"IAAAANNNN! " Fidira memekik keras, dengan cepat dirinya berusaha mengejar ian yang sudah kabur terlebih dahulu. Namun sayang ian bingung jalan keluarnya yang mana, alhasil main kejar kejaran di atas gedung.


Dirasa sudah lelah kejar kejaran fidira dan ian memutuskan untuk berlapang dada dan berdamai. Mereka duduk selonjoran di pinggiran pagar gedung dengan menikmati terik matahari yang sangat, aduuhhh panassss! "Kenapa lo nyebarin itu? " Tanya fidira dengan menyeka peluh yang mulai bercucuran.


Ian tersenyum tanpa menoleh ke arah fidira. "Biar mereka semua tau, kalo queen kita udah punya king" Cubitan keras berhasil mengenai pinggang ian. Setelah dirinya memekik kencang barulah fidira melepaskan cubitan itu.


"Harusnya kan ini rahasia" Ketus fidira


"Sampai kapan lo bakal nyembunyiin ini semua? " Kali ini ian menatap fidira dengan satu alis terangkat. Fidira menghela nafas dalam, terlihat kepasrahan di dalam diri gadis itu. Ian juga ikut menghela nafas dalam, membuang rasa sakit yang ada dalam hatinya.


"Apa yang lo lakuin jika lo jadi gue? Maksudnya jika lo nikah nggak sama orang yang lo suka? "


"Ada dua kemungkinan, kalo nggak kabur dari rumah. Mungkin lari ama pacar gue" Ucap ian sambil mengelap keringatnya yang juga mulai bercucuran.


"Kalo lo nggak punya pacar? " Fidira kembali bertanya.


Ian terdiam sejenak, lalu tersenyum "mungkin gue bakal berusaha mencintai dan menerima pasangan gue. Walau butuh perjuangan" Fidira terdiam, dirinya sudah tidak ingin bertanya lagi. Mereka sama sama terdiam, terhanyut pada pikiran masing masing.


'Apa itu artinya gue harus berusaha nerima pak bos? Secara gue nggak punya pacar buat gue ajak lari. Dan... Menunggu ian... Apa mungkin dia punya perasaan ke gue. Dia aja dengan senang hati mamerin ke semua orang kalo gue udah nikah. Nggak mungkin dia punya rasa ke gue. Kalau pun iya,apa dia mau nerima gue setelah pisah sama pak bos? Mengingat status gue setelah itu 'janda' ouuhhhh! Tapi kenapa? hati gue selalu berkata kalo ian tu punya perasaan yang sama ke gue! Sial!' Pikir fidira bingung.


'Andai lo tau fi, ingin rasanya gue ngajak lo lari meninggalkan ini semua dan kita rangkai hidup kita yang baru. Bersama.Hanya elo fi, nama yang selalu ada di dalam hati gue. Bohong! Kalo gue gak cemburu lihat foto itu. Bahkan kalo lo tau, gue sakit kemarin,gara gara liat lo pakek kalung yang di beri pak bos. Sakit fi! Sakit! Andai gue di suruh untuk menunggu, gue akan selalu nunggu lo fi. Sampai kapan pun, tapi sialnya itu nggak mungkin. Mengingat kondisi gue. Sorry fi, udah buat lo bimbang sama hati lo sendiri' Ian berkata dalam hati dengan menahan sesak di dadanya.


Mereka terdiam, kalut dengan pikiran mereka sendiri sendiri. Keringat yang mulai berjalan bercucuran di dahi mereka. Di teriknya matahari ini, mereka tidak merasakan apapun. Hanya merasakan sakit yang ada di dada mereka masing masing. Meratapi nasib mereka yang penuh dengan rahasia satu sama lain.


***


"Mas bil nya? " Wanita paruh baya itu mengangkat sebelah tangannya. Beberapa saat kemudian seorang lelaki dengan nampan juga nota di tangannya datang.


"Eh kamu...? " Mama nanda memperhatikan pelayan itu dengan intens. Pelayan itu tersenyum, lalu dengan hormat mencium punggung tangan mama nanda dan papa indra.


"Iya tante, saya rafa temennya fidira" Rafa tersenyum ramah.


"Ohh kamu kerja di sini?" Rafa mengangguk. Terlihat mama nanda celingak-celinguk memperhatikan sekelilingnya. "Kalian semua kerja di sini? Itu temen temen kamu juga kan? " Mama nanda melirik beberapa pelayan yang tak lain adalah jojo, nando, dan elma yang sedang mondar mandir melayani pelanggan.


Rafa mengangguk "sebenernya ini punya fidira tante, tapi kita yang urus" Mama nanda dan papa indra terlihat terkejut. Mereka saling pandang.Bukan terkejut kecewa, tapi terkejut bangga.


"Jadi menantu papa itu juga punya cafe?" Papa indra terlihat sangat bangga. "Cafe nya lancar? "


"Alhamdullillah sampai saat ini lancar, om"


"Aduhh. Afkan emang nggak salah pilih istri ya pa" Celetuk mama nanda dengan nada riang. Rafa hanya tersenyum menanggapi. "Em.. Gini rafa, tante pengen. Kapan kapan kita masak masak bareng gimana? Semua temen temen kamu yanga ada di sini, fidira, afkan, ester, elo dan... Siapa itu... " Mama nanda terlihat berpikir keras.


"Ian maa.. " Papa indra menyahut.


"Ah iya. Ian. Gimana? Tante bakal atur jadwal dan info in lewat fidira." Mama nanda terlihat sangat antusias.


"Iya nanti rafa kasih tau temen temen ya"


"Yaudah, om sama tante pamit dulu. See you next time" Mama nanda melambaikan tangannya.


"Om bakal sering ke sini" Papa indra menepuk bahu rafa, kemudian berlalu.


"Lo beruntung fi,dapet mertua yang baik kayak mereka" Gumam Rafa seraya membersihkan meja dan kembali bekerja.


***


Dengan wajah yang masih di tekuk dan juga mood yang acak acakan. Fidira melangkahkan kakinya ke halaman belakang rumah mertuanya. Terlihat semua orang dengan sangat antusias membantu persiapan lomba yang di selenggarakan oleh mama dan papa mertuanya.


Semua peserta sudah bersiap di mejanya masing masing. Sudah tersedia kompor, panci, piring, wajan, pokok semua alat dapur udah di pindah ke sana dah. Udah kayak toko klontong aja. Di tambah semua bahan bahan masakan lengkap yang tertata rapi di meja besar, sudah Seperti pasar yang pindah dari asalnya,atau malah mau buka cabang. Fidira mengela nafas dalam, lalu mengikat cempol rambutnya.


Lomba hari ini bertema 'masakan keluarga tercinta' dan per kelompok terdiri atas dua orang atau lebih simplenya sepasang gitu ya... Kek sandal. Fidira mendapat pasangan dengan... Ya tentu saja sama afkan, kan mereka sepasang. Pokoknya yang suami istri harus gandeng ama pasangannya. Seperti ester bersama elo dan mama nanda bersama papa indra. Yang lain acak sih.Elma sama nando, rafa sama melati, jojo sama ibu tria, dan ian jadi komandonya. Lihatlah! Akrab sekali melati dan rafa apalagi ibu tria dan jojo yang terlihat sangat kompak. Fidira berdecak sebal. Mengingat betapa paniknya kemarin saat tahu melati dan ibunya sudah berada di bandara soekarno-hatta. Dan nggak ngabarin kalo mereka mau dateng,parahnya mereka minta di jemput secepatnya. Di kira deket apa gimana sih? Untung fidira nggak terlalu panik dan heboh. Ya walau cuma mecahin gelas aja sih,waktu mondar mandir mencari afkan.


"Fi! Cepetan dah!" Suara ian membuyarkan lamunan fidira. "Halu mulu" Ian mengedipkan sebelah matanya,dan berlalu melihat lihat para peserta lomba lainnya.Dengan langkah gontai fidira menghampiri afkan yang tengah mempersiapkan alat alat yang di butuhkan. Fidira bersedekap dada, sangat aneh pikirnya. Semua cewek yang ada di sini harus menggunakan dress. Aneh kan? Dan anehnya lagi, semua nya setuju. Ya.. Kecuali fidira, tapi tetep aja kalah. Dan sekarang fidira memakai mini dress yang panjangnya sebatas lutut. Parahnya warnanya pink dengan motif bunga bunga, seperti anak ABG. Fidira terlihat cantik kok, pas di badan kecilnya apalagi di padukan dengan heels setinggi 10 centimeter. Ouhh!fidira sangat tidak nyaman. Kakinya sakit,alay kan? Entah kapan mertuanya membelikannya dress mini ini. Tau tau suruh ganti aja.


"Jangan di tekuk mulu ah" Afkan mencolek hidung fidira yang gelagapan karena kaget. Afkan hanya menyinggung senyum termanis yang kali ini bikin fidira mau mati ajahhh.


"Kita masak apa? " Fidira mengalihkan perhatian. Afkan terlihat berfikir. Astaga! Fidira tidak tahu lagi, kenapa setiap gerak gerik afkan sekarang,selalu mempesona di matanya. Apalagi sekarang afkan sedang menjelaskan konsep masakannya, sumpah! Fidira nggak bisa dengerin apa yang lagi di jelasin afkan. Fidira hanya fokus ke manik mata yang indah itu.


Fidira tersadar saat afkan berkata 'oseng kangkung' di iringi tudingan pisau yang mengarah padanya. "Gimana?" Tanyanya lagi.


"Terserahlah" Fidira yang tak mau ambil pusing hanya ngikut saja. Tohh yang masak paling juga afkan, dirinya pasti bagian rusuh aja.


Suara heboh ian sudah mulai terdengar. Dalam hitungan tiga, pertandingan di mulai. Mereka hanya di beri waktu 30 menit untuk membuat masakan simple. Astaga! Di kira masak mie apa telur gitu ya? Singkat banget. Semua peserta begitu serius dalam memasak. Ian sang komando juga menambah ke heboh an dengan menyetel kan musik dari sound yang tersedia.


Fidira hanya mampu mengupas bawang merah dan putih,itu pun lamanya minta ampun. Pakek acara kepedesan juga lah tu mata. Jadi ngrepotin afkan yang sekarang lagi niupin matanya. Astaga!fidira benar benar beban ya. Tapi manisss!!


"Fi cepet donk waktunya tinggal 15 menit! " Seru ian saat melihat fidira yang sedang menikmati tugasnya mengelap piring. Fidira hanya membalas dengan sorotan mata tajam nya. Dan itu berhasil membuat ian ngakak. "Fi..! " Fidira menoleh.


CEKREK


"Ihhh... Dari tadi gitu mulu tugas lo! " Fidira melempar batang kangkung ke arah ian. Ian hanya nyengir kuda. Ya.. Emang dari tadi tugas ian cuma memprovokasi para peserta lomba agar panik,Juga mengabadikan momen momen seru alias memotret semua aktifitas peserta dengan kamera milik fidira tentunya.


Terdengar kehebohan semua ketika waktu memasuki menit ke 20. Ada yang berteriak memarahi, ada juga yang saling nyemangatin, ada juga yang serius tanpa suara. Tapi rata rata semua heboh sih. Apalagi melati dan rafa, suaranya udah ngalah ngalahin yang pakek microfon. Kalo si ester, marah marah mulu kasian deh elo nya. Si elma ama nando malah beradu argumen, yang satu bilang kurang manis, yang satu bilang kemanisan. Arrgghh! Puseng. Team yang santai tu.. Team nya jojo sam bu tria, sama sama kompaknya. Gak peduli asin apa enggak, yang penting menurut mereka enak dan jadi. Team mertua fidira agak panas sih, soalnya papa indra malah numpahin semua sambel, jadi harus buat ulang deh. Dan itu tentu membuat mama nanda memanyunkan bibir sepanjang 7 centi. Kalo team fidira sendiri, gak bisa di pastikan kalo mereka kerja team. Soalnya yang kerja cuma afkan. Fidira cuma ngeliat dan bilang semangat doank. Enggak deh canda, fidira juga numis nih sekarang. Di ajarin sama suaminya.

__ADS_1


Tangan fidira bergetar saat memegang sudip. Gimana nggak tremor coba? Soalnya bukan tangan fidira aja, tapi juga tangan afkan yang menggenggam sudip itu. Bareng gitulahhh. Afkan berada di belakang fidira, mengajarinya cara menumis yang benar. Dengan tangan yang terus di genggam juga mulut yang nggak bisa berhenti menjelaskan,perlakuan afkan membuat fidira mau pingsan.


Fidira memegangi rok dress nya. Angin yang bertiup cukup kencang ini membuat dress selutut itu berluangkali terangkat. Afkan melirik fidira yang seperti tidak nyaman. Afkan mendekat dari belakang fidira hingga mereka saling bersentuhan. Fidira yang bingung mendongak menatap afkan intens, seakan menanyakan 'ada apa?' tapi afkan malah menyuruhnya menaruh masakan mereka ke piring dan menghiasnya. Cukup lama fidira merasakan keanehan di diri afkan. Dari tadi afkan terus mepet mepet dirinya. Bukannya ke GR an ya.. Tapi fidira risih.


Tinggal menunggu waktu habis, fidira menyempatkan diri bertanya pada afkan,kenapa dirinya melakukan itu?."Dress kamu keangkat kan?" Fidira mengangguk. "Saya nggak bawa kemeja, jadi gini aja biar nggak kelihatan" Penjelasan afkan membuat fidira mangut mangut mengerti.


"Tapi jangan nempel juga" Ketus fidira sedikit menjauh. Tapi lagi lagi rok nya terangkat. Entah kenapa angin hari ini niupnya kenceng banget. Semangat sekali, pikir fidira menyalahkan keadaan.


"Keangkat lagi kan kalo nggak mepet? " Fidira mengangguk malu. Afkan hanya menyinggung senyum, dan merapatkankan dirinya kembali pada fidira. Aarrgghh! Bukannya nggak mau. Tapi fidira dag dig dug tauuu!


"Gimana pasangan yang dari tadi sweet banget? Udah selesai? " Ian mengedipkan sebelah matanya. Dan jangan tanya ekspresi fidira yang udah mau nerkam mangsanya. Afkan hanya diam, mengamati pertengkaran kecil dua sahabat itu. Ya.. Fidira dan ian, sahabat sejoli yang akan terus beradu mulut jika salah satu dari mereka mancing duluan. Dan semua itu nggak akan selesai dengan singkat, karena nggak ada yang mau ngalah. Sampai akhirnya...


"AWW!" pekik fidira saat jari telunjuknya mengeluarkan darah segar. Baru saja ian ingin meraih dan menyesap jari fidira, namun niatnya terhenti saat afkan telah melakukan itu terlebih dahulu. Afkan menyesap jari fidira cukup lama,sampai sampai fidira melongo. Lalu afkan meminta tolong kepada ART yang kebetulan sedang melintas untuk mengambilkan kotak P3K. Sembari menunggu, afkan mencuci jari fidira menggunakan air.


"Emm.. Ini gak papa kok pak bos. Entar juga baikan, nggak perlu kayak tadi. " Fidira merasa tidak enak.


"Apa maksud mu? Jika tidak segera di obati, ini bisa menimbulkan infeksi! " Afkan berkata dengan tegas sambil membersihkan luka fidira menggunakan antiseptik setelah kotak P3K datang. Fidira terdiam. Melihat nada bicara afkan yang tegas membuat nyalinya menciut. Ia hanya menatap afkan yang dengan telatennya memasangkan plester luka di jarinya.Ya, fidira akui akhir akhir ini afkan selalu perhatian padanya.


PRIIIT


Fidira terkejut. Afkan menoleh pada fidira lalu tersenyum "selesai. Lain kali hati hati ya" Ucap Afkan lebut dengan mengacak kecil puncak kepala fidira, Kemudian kembali menatap ian yang kini sedang berbicara panjang lebar karena waktu sudah habis. Kau tahu apa yang di rasa fidira saat ini? Seperti ingin menghilang langsung dari sana.


Fidira mengambil segelas air lalu menyodorkannya pada afkan. "Minum aja! Buat ngilangin rasa darahnya, nggak usah begitu ya lain kali! " Fidira membuat nada bicaranya se cuek mungkin, barangkali rasa GR nya bisa ilang. Afkan menerimanya dengan senyum yang aduh manisnya, ditambah kata kata 'terima kasih' yang keluar dari bibirnya,udah deh fidira nggak tau lagi. Yang pasti sekarang dirinya benar benar ingin meledak.


***


Di sepanjang perjalanan pulang fidira terus saja ngedumel sendiri. Dirinya tidak terima karena kalah dalam lomba memasak sore tadi di rumah mama dan papa afkan.


"Udah deh mbak, jangan nggak sportif gitu! Biasanya mbak selalu ikhlas dalam segala hal kan? Ini cuma lomba masak" Melati yang sudah tidak tahan dengan ocehan fidira yang mempermasalahkan hal sepele.


"Ya.. Gak percaya aja gitu lo, elma sama nando yang menang? Itu seperti nggak masuk akal" Fidira terkekeh pelan.


"Di dunia ini nggak ada yang mungkin fi. Itu kan kata kata andalan mu kan?" Bu tria menimpali dengan terkekeh kecil.


Fidira mengangguk. "Aduuhhh. Tiket makan gratis di restoran jepang melayang" Mulai kan alay nya. "Ramen... Aku ingin ramen" Afkan melirik fidira yang sedari tadi ngoceh terus. Kadang dirinya tersenyum kecil, menyaksikan istrinya yang adu mulut dengan adiknya. Melati.


"Ngomong -ngomong kamu cantik fi pakek dress gitu" Puji ibu tria dengan terkekeh pelan saat mendengar ******* pasrah dari sang putri.


"Dingin tau buk" Ketus fidira yang mendapat ejekan dari sang ibu dan adiknya. Namun perdebatan kecil itu terhenti saat mobil afkan berjalan dengan pelan lalu berhenti di lantaran parkir. "Kok berhenti? " Fidira memandang afkan yang melepas sabuk pengamannya.


"Kita makan dulu ya" Ajak nya menoleh ke belakang tersenyum pada melati dan ibu tria. "Ayo turun" Afkan turun terlebih dahulu setelah mengacak kecil rambut fidira. Disusul ibu tria dan melati yang senyum senyum sendiri. Sedangkan fidira masih melongo di dalam mobil.


***


Afkan mengajak mereka duduk di salah satu meja yang menyediakan 4 kursi dalam satu meja. Malam ini cukup ramai dengan para pelanggan. Berhubung ini malem minggu juga, banyak para pasangan, maupun keluarga yang menghabiskan malam mereka di sini.


Afkan memanggil pelayan, beberapa saat kemudian pelayan datang dengan nota kecil di tangannya. " Ibuk Mau makan apa? " Tanya afkan sambil memberikan daftar menu kepada ibu tria.


"Apa aja, ibuk nggak terlalu ngerti makanan jepang" Ibu tria tersenyum.


"Kamu melati? " Afkan beralih pada melati yang mulutnya siap untuk memesan.


"Aku shushi sama teoppoki aja kak"


Lalu afkan bertanya kepada fidira yang wajahnya di tekuk. Entah mengapa dirinya sangat bad mood, mengingat malam ini dirinya harus tidur di sofa kamar afkan. Aiss! Sungguh menyebalkan. " Ramen dengan kuah tom yam level 10" Fidira berkata tanpa melihat afkan.


"Nggak! Level 5 aja mbk" Afkan memberikan daftar menu itu kembali pada sang pelayan.


"Level sepuluh mbk"


"Sepuluh"


"Lima fidira!"


"Sepuluuuhhh"


Melati, ibu tria bahkan pelayan yang akan mencatat pesanan mereka jadi bingung. Orang orang yang sedang berada di sana pun ikut memandang ke meja mereka. Huuhhh, memalukan.


"Ekhem... " Fidira dan afkan berhenti mereka memandang bu tria yang sedang menatap mereka tajam. "Jadi makan atau enggak? " Tanya bu tria penuh penekanan.


"Emm.. Level lima aja mbak" Pelayan itu segera mencatat pesanan mereka dan segera berlalu setelah afkan mengatakan pesanan semuanya. Fidira melirik afkan tajam, yang di lirik hanya cuek saja.


"Mbak fidira masih keras kepala ya? " Melati terkekeh kecil. Fidira hanya memutar bola matanya jengah, dirinya harus rela di ejek sang adik yang dia tebak sedang tertawa jahat di dalam hati. "Mas afkan sweet banget ya? Mbak fidira pengen ramen langsung di turutin. Idaman" Melati tersenyum halu.


Fidira menonyor kepala adiknya agar tidak terlalu halu. Sang adik hanya bisa menggerutu dengan mengelus kepalanya yang tak begitu sakit. Afkan menyinggung senyum kecil sementara bu tria geleng geleng kepala.


***


Fidira merebahkan dirinya diatas kasur empuk milik afkan. Sehari ini terasa begitu melelahkan, dari pagi fidira sangat sibuk, di suruh ke pasar, mengatur acara lomba, ikut lomba. Di tambah hells yang membuat kakinya terasa pegal sekarang.


Afkan yang baru keluar dari kamar mandi sudah berganti baju dengan kaos polos putih dan celana hitam selutut, menghampiri fidira dan ikut bergabung di atas kasur.


"Pak bos, malam ini saya ya yang di kasur. Besok janji saya di sofa dahhh. Ya? " Fidira memohon dengan memberi peace janji pada afkan yang duduk di sebelahnya.


"Nggak ah, saya mau tidur di sini" Tolak afkan dengan merebahkan dirinya ke kasur dan menata bantal dengan nyaman. Fidira cemberut, sebenarnya semua sudah terprediksi sih, afkan bakal nolak.. And true.


Fidira melirik ke sudut kamar yang membuat pandangannya terkunci. Matanya seketika berbinar, dirinya beralih menatap afkan yang sudah memejamkan matanya. Fidira tau afkan belum tidur, jadi...


"Pak bos, pak bos" Fidira menepuk nepuk pipi afkan yang hanya menyahut dengan deheman tanpa membuka mata. "Pak bos, main gitar yuk! Satu lagu aja deh" Ajak fidira antusias, namun afkan hanya diam tidak menyaut. Fidira kembali menggoyang goyangkan lengan afkan dengan terus memanggilnya.


"Saya capek fidira... Besok harus ke kantor" Tolak afkan dengan mata yang masih terpejam. Fidira cemberut. Bosan sekali, pikirnya. Ya walau sekarang sudah jam 9 malam, ibu dan adiknya pasti juga udah tidur karena kelelahan. Fidira sebenarnya juga lelah, tapi akibat minum kopi tadi sore,matanya jadi gak bisa merem.


"Yaudah" Ketus fidira keluar kamar setelah mengambil sebuah gitar cokelat dari gantungannya. Fidira berjalan menuju balkon belakang yang menghadap langsung ke kebun rumahnya. Dirinya duduk di kursi kayu panjang sembari memandangi kebunnya yang terlihat terang karena beberapa lampu taman yang terpasang di setiap sudut kebun. Ahh, kenapa dirinya tidak kesini dari dulu. Fidira menarik nafas dalam sebelum akhirnya memetik pelan gitar yang sudah berada di pangkuannya.


Dengan hati tulus dan menghayati fidira mengalunkan nada beberapa lagu yang kerap ia dengar. Seperti 'ghost' milik justin biber, ' let me down slowly milik alex Benjamin, 'Nothing gonna change my love for you' milik George Berson, Orange 7, 'first love' nikka costa, dan beberapa lagu milik band yang ada di indonesia. Sampai dirinya menitihkan air mata saat menyanyikan lagu 'aku bukan jodohnya' milik Tri suaka. Entah apa yang membuatnya sesedih ini. Yang pasti dirinya sedang merindukan ian.


Fidira memandang jari jarinya yang mulai bergaris dan terasa sakit karena menekan senar senar gitar untuk membentuk kunci. Mengingat dirinya yang lumayan lama tidak bermain gitar, jadi jari yang sebelumnya sudah ngapal,jadi sakit lagi. Fidira memandang langit malam ini yang terlihat cerah sebab ada bulan, bintang dengan kompak menghiasinya. Fidira tersenyum "Aku mencintaimu.. " Ucapnya dengan memandang salah satu bintang yang paling terang diantara yang lain.


Di tempat lain


Ian duduk di sebuah tong yang terdapat di atap gedung yang memiliki sekitar 50 lantai. Sama, malam ini dirinya juga tidak bisa memejamkan matanya. Hatinya sedang merindukan sosok gadis konyol yang selalu menghiasi harinya. Pikirannya masih terbayang jelas senyuman juga tawa ngakak yang selalu membuatnya deg deg an jika duduk berdua dengan sang gadis. Peduli, kocak dan kadang sedikit pemalu, sifat gadis itu benar benar meluluhkan hatinya. Namun tiba tiba saja bayangan gadis itu tergantikan dengan adegan yang tadi sore ia saksikan. Gadis yang selalu menjadi pujaan hatinya, yang selalu ingin ia lindungi, telah memiliki pelindung sejati yang jauh lebih baik darinya.


Ian tersenyum lalu mendongak menatap bulan yang hari ini masih belum sempurna namun sangat indah di pandang. "Aku juga mencintaimu... " Seakan bisa merasakan yang sedang di rasakan sang pujaan hati. Ian mengutarakan perasaannya pada sang bulan, berharap bulan dapat menyampaikan pesannya kepada sang pujaan melalui cahayanya yang indah.


"Aku merindukanmu.. "


"Aku juga... Rindu.. "


"Aku menunggumu... "


"Maafkan aku... "


"Kau yang terbaik.."


" Aku nyaman dengan mu..."

__ADS_1


"Aku berharap suatu nanti... "


"Semua mustahil bagiku... "


"Salahkah aku mencintaimu?.."


"Aku sangat mencintaimu... Fidira.. Bagaikan aku adalah matahari dan kau bulannya, kita tidak akan bisa bersama. Walau aku tau kau juga mencintaiku.Andai aku bisa menjadi bintang yang selalu menemani bulan dari manapun. Tapi apalah dayaku, nyatanya yang menjadi bintang adalah afkan suamimu. Itu tidak masalah,dirinya akan selalu menjagamu.Dan Aku akan selalu mengisi hati ku dengan namamu... Fidira.. "


***


Fidira mengerjapkan matanya, perlahan dirinya bangun karena suara alarm yang sudah berbunyi lebih dari tiga kali. Fidira menebar pandangan ke seluruh penjuru ruangan yang kini ia tempati. Terlihat laki laki yang berstatus menjadi suaminya itu masih tertidur di atas sofa dengan manis. Ahh... Mulai kan. Mata fidira menyipit saat melihat sebuah gitar sudah tergantung rapi di tempatnya. Seingatnya tadi malam dirinya kan tertidur di balkon. Astaga! Pasti afkan telah menerbangkannya hingga bisa tidur di kasur ini. Beban sekali diriku, runtuk fidira pada dirinya sendiri.


Fidira clingak clinguk dari atas tangga. Tidak ada siapapun. Bi inah juga belum terlihat di dapurnya, ibu dan adiknya juga tidak terlihat, mungkin masih di kamar. Dengan secepat kilat fidira menuju kamarnya dan mengambil beberapa baju untuk di jadikan stok di kamar afkan. Biar gak bolak balik dan nggak bikin curiga, masak dari dulu alasannya karena lemari gak cukup, ya nggak masuk akal juga sih. Setelah selesai, fidira segera kembali ke kamar afkan untuk bersiap.


Pukul 06.15 pagi


Afkan beberapa kali mengerjap pelan, rasa lelah dan mager masih menyelimuti dirinya. Ingin rasanya ia kembali ke alam mimpi, namun afkan di tuntut untuk segera bangun dan bekerja. Dengan rasa malas afkan mengganti posisi dari berbaring menjadi duduk. Dirinya tak langsung beranjak, sayang sekali dirinya melewatkan momen yang jarang ia temui. Seperti saat ini, memandang gadis yang sekarang berstatus menjadi istrinya itu, tengah berdiri di hadapan cermin dengan sisir di tangannya. Gadis itu bersenandung ria dengan terus menyisir rambut nya yang cukup panjang. Beberapa saat kemudian fidira menguncir rambutnya seperti biasa. Afkan yakin bahwa rambut fidira belum halus seluruhnya, afkan melihat dengan jelas saat fidira kesusahan menggapai rambut bawahnya untuk disisir. Alhasil fidira menggerutu dan langsung berlanjut dalam tahap finishing.


"Selamat pagiiiiii" Sapa fidira dengan nada yang dibuat buat saat melihat afkan yang sudah bangun. Gadis itu terlihat sudah rapi dengan kaos hijau gelap panjang di padu dengan jeans hitam juga sneakres putih sebagai pijakan kakinya. Sederhana. Hanya kata itu yang mampu terdengar dari dalam hati afkan. "Cepatlah! Kau sudah terlambat kan? " Ketus fidira dengan Berlalu dari sana. Afkan tersenyum, ia menduga pasti fidira telah memakai sisir, dan juga sabun mandinya. Afkan hafal betul aroma sabun mandinya. Ahhh... Harum sekali.


Fidira duduk di meja makan, terlihat beberapa masakan sudah terhidang kan. Ya seperti inilah, bi inah suka sekali masak banyak dan macam macam dalam sehari,kadang fidira jadi bingung mau makan yang mana. Terlihat bu tria dan melati juga bergulat di dapur untuk membantu bi inah. Seketika ekspresi fidira berubah menjadi sendu, kalo di pikir pikir hanya dirinyalah yang tidak bisa memasak. "Sudah siap aja? " Suara bu tria terdengar. Fidira hanya nyengir, kalo di ingat ingat ini kali pertama fidira ready sepagi ini.


"Mas afkan mana? " Melati dan bu tria ikut bergabung bersama fidira.


"Masih siap siap" Fidira melirik ibu nya yang juga meliriknya. "Kenapa? "


"Kamu ke kantor gini? " Ibu tria terheran. Fidira mengangguk dengan meneguk segelas air.


"Emang kenapa? " Melati juga ikut bertanya.


"Setau ibuk ni ya.. Kalo di kantor, pakaiannya formal lo. Kayak pakek jas, rok, atau celana yang kain bukan jeans kayak fidira. Dan biasanya atasan nya itu kemeja, bukan kaos begini" Jelas bu tria membuat fidira dan melati mengerutkan dahi mereka.


"Dari dulu fidira begini"


"Lagian buk, ini kan kantornya mas afkan. Suaminya mbak fidira sendiri. Jadi bebas donk" Timpal melati cengengesan.


"Ya.. Bukan begitu. Kita kerja tu juga harus profesional. Walaupun itu perusahaan milik kita, milik suami atau milik orang tua. Kalo standartnya formal, kita juga harus taat in donk." Jelas ibu tria membuat kedua anak perempuannya mengangguk angguk mengerti. "Emang afkan nggak nglarang?" Fidira menggeleng.


"Ya mana berani buk, lihat mbak fidira kan keras kepala bangetttt" Ingin sekali fidira membekap mulut adiknya yang selalu menginjak injak harga dirinya. Ya walau fidira juga selalu mengejeknya sih. Sama aja deh tu berdua.


"Kamu nggak pernah masak fi? " Tanya ibu tria membuat fidira gelagapan. "Ngaku! " Cecar bu tria.


"Anuu.. Fidira sibuk buk.. " Fidira membela diri. "Fidira kadang juga bantu bi inah kok"


Melati tiba tiba tertawa ngakak "kadang? " Tanyanya mengejek dengan terus melanjutkan tawa jahatnya. Astaga! Fidira habis,salah sendiri juga sih pakek janji janji segala.Dulu waktu fidira masih duduk di bangku SMK dirinya selalu di paksa untuk belajar masak, tapi berhubung ni orang keras kepala banget!!! dia nggak pernah mau belajar. Cuma jawab besok besok.. Tapi nggak ada buktinya. Sampai fidira berjanji pada sang ibu, kalau dirinya akan belajar memasak dengan seiring waktu. Dan berjanji kalau saat dirinya sudah menikah dia pasti sudah bisa. Tapi.. Hasilnya yaa... Begitulah.


"Fidira.. Ingat! Sesibuk apapun kamu. Jangan pernah tinggalkan kewajiban mu sebagai seorang istri. Kalo kamu nggak bisa ngurus rumah dan kerja.. Lebih baik kamu nggak usah kerja. Ibuk yakin afkan bisa kok nyukupin kamu walau kamu nggak kerja" Jelas bu tria memberi saran.


"Nggak bisa buk, ibuk tau kan cita cita fidira yang belum kecapaian. Afkan selalu cukup nafkah in fidira, maka dari itu ini kesempatan fidira buat nabung dan ngewujud in semuanya. Lagian... Fidira yakin bakal gabut kalo di rumah terus. " Tolak fidira terang terangan.


Ibu tria menatap anak gadisnya itu dengan intens " Yaudah kalo itu pilihan kamu. Yang penting satu, rubah sikap kamu. Jangan pernah sekali kali kamu kurang ajar sama suamimu. Oke? " Fidira mengangguk malas. "Dan soal teman teman kamu yang rata rata sekarang kebanyak cowok,kamu jangan kayak dulu. Jalan seenaknya,pulang malem,rubah kebiasaan kamu. Dan kalo bisa jaga jarak aman lah." Lagi lagi bu tria mewanti wanti anak gadis nya yang keras kepala itu.


Fidira mendesah perlahan. "Bukk.. Mereka itu temen temen aku lo.. Nggak mungkin fidira ngejauh. Lagian afkan juga nggak ngelarang" Lagi lagi fidira membantah sang ibu. Jujur saja, fidira paling nggak suka hidup di atur atur. Apalagi buat ngejauhin temen sendiri, dapetnya aja susah. Dia tu udah gede, udah tau mana yang baik dan buruk buat dirinya.


"Tapi fi... " Ucapan ibu tria terhenti saat melihat afkan yang turun dari atas. "Yaudah kamu yang bisa nentuin yang terbaik buat kamu" Akhir bu tria sebelum menyambut afkan dengan kata 'selamat pagi' plus senyum. Fidira memutar bola matanya jengah.


Afkan tersenyum "selamat pagi" Balas afkan ikut bergabung di sebelah fidira.


"Pagi juga mas, aduuhhh seger banget" Puji melati dengan mengedipkan sebelah matanya, tingkahnya sempat membuat afkan, fidira, dan bu tria terkejut. Namun afkan segera menggantinya dengan ekspresi seperti semula.


"Iya baru mandi jadinya seger" Balas afkan ramah. Astaga! Sok ramah sekali,biasanya juga muka datar. Pikir fidira mencibir."ibuk di sini berapa lama? "


"Besok mungkin, melati kan sudah mau ujian. Jadi nggak bisa lama lama"


Afkan mengangguk angguk paham "melati lulus tahun depan kan? Rencana selanjutnya mau ngapain? "


"Rebahan" Cibir fidira.


"Iihhh... Enggak mbak. Melati mungkin ikut mbak fidira di jakarta ajahh" Melati menaik turunkan alisnya.


"Lah lah.. Nggak nggak boleh. Ngapain juga di jakarta sih? Surabaya dulu kan bisa" Tolak fidira nggak terima.


"Apaan sih fi? Kalo di sini, melati malah ada yang jagain kan? " Ucapan afkan membuat fidira terinjak injak oleh sang adik. Lihatlah! Sekarang melati sedang menjulurkan lidahnya. Bangga sekali mendapat pembelaan. Fidira memasang wajah jutek berat. "Nggak mau kuliah aja mel? " Tanya afkan membuat melati, fidira, dan bahkan ibu tria melotot.


Melati nyengir "otak melati kan nggak seencer otak mbak fidira. Jadi ya nggak bisa dapet beasiswa"


" Kalo mau, mas bisa biayain kamu kok. Sayang lo, kalo bakat masak kamu nggak di finishing sekalian" Tawar afkan semakin membuat fidira dan bu tria terkejut, sedangkan melati sudah terbang melayang layang berimajinasi.


"Nggak! Nggak perlu" Ucap bu tria dan fidira berbarengan. Melati dan afkan secara bergantian memandang bu tria dan fidira.


"Mak-maksud nya.. Kan lo mau ke malaysia kan? " Fidira mencari alasan.


" Lagian kamu udah daftar kerja ke malaysia kan?" Tambah bu tria.


"Kan itu belum tentu keterima buk" Melati cemberut. "Lagian kakak kakak melati semua kuliah, masak melati sendiri yang enggak" Curhatnya.


"Makanya kerja dulu" Timpal fidira cuek.


"Kamu kalo mau kuliah bilang aja ke mas, nanti mas cariin kuliah yang bagus" Entah tersambar apa afkan tadi sampai baik seperti ini. Melati juga bikin malu lagi, pikir fidira kesal.


"Haha.. Makasih maaasss. Baik banget sih, beruntung deh punya kakak ipar sebaik mas afkan. Lagian melati masih lama kok lulusnya. Baru tahun depan. " Melati tersenyum gembira.


"Nggak usah afkan,nanti nak afkan jadi repot" Tolak bu tria merasa tidak enak.


"Enggak buk, selama afkan bisa bantu. Afkan pasti usaha in" Afkan lagi lagi tersenyum. Ramah sekali, fidira mencebikkan bibirnya. Sedangkan sang adik sudah memuja muji afkan dengan kalimat kalimat alay.


"Ngomong ngomong kalung mu cantik fi" Puji bu tria tiba tiba, membuat fidira salting. Afkan melirik dengan tersenyum.


"Tumben mau pakek, biasanya nolak nolak" Cibir melati.


"Paan sih? biasa aja" Cuek fidira berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya.


"Gitu donk, biar keliatan cewek nya. Lain kali pakai rok kalo bisa" Bu tria tersenyum mengejek.


"Hahha... Nggak diakuin kalo cewek" Jangan tanya ini adalah suara jahat melati yang sedang ngakak tanpa dosa. Fidira cemberut, dirinya harus rela di hujat ibu dan sang adik yang sangat tragis ini.


"Fidira tetep cantik kok walau terkesan cowok" Afkan bersuara, bu tria dan melati terdiam saling pandang.


"Ekhemm... Adoohhh...Adooohhh....Mau lelehhh" Teriak melati alay. Fidira menunduk malu sekali rasanya. Bu tria dan melati malah kembali ngakak.


"Silahkan" Suara bi inah menghentikan perbincangan."Maaf agak lama ya" Bi inah menaruh sepiring tahu goreng di meja.


"Terima kasih bibi" Sambut Fidira tersenyum senang. Kalo boleh jujur, perutnya sudah meronta ronta sejak tadi. Dan buat ngalihin perhatian juga.


"Ayo kita sarapan" Ajak afkan mempersilahkan.

__ADS_1


"Bi inah.. Sarapan dulu" Cegat fidira saat bi inah mau kembali ke dapur. Sempat menolak, tapi jangan pikir fidira nggak pakek ancaman. Akhirnya bi inah ikut bergabung. Bu tria dan melati hanya geleng geleng kepala, afkan malah senyum senyum sendiri. Akhirnya mereka sarapan bersama di selingi dengan berbagai pertanyaan pertanyaan seputar pekerjaan, dan lain lain. Random lah. Yang pasti banyak ejekan ejekan menggoda dari sang ibu dan adik.


__ADS_2